
Dia sangat cemburu!
Tidak bisa menahan rasa sesak dihatinya, Anya kemudian membuka mulutnya,"Aku-"
"Tuan besar sudah datang!"
Seseorang berseru senang melihat kehadiran Kakek Demian yang telah lama ditunggu-tunggu kedatangannya. Kakek Demian adalah tambang harta karun yang sangat sangat penting bagi kebanyakan pebisnis sehingga masalah Davin dan Kakek Anya dengan mudah dilupakan oleh mereka.
"Dav, bagaimana dengan anak-anak?" Bisik Rein mulai menata suasana hatinya karena kali ini dia akan bertemu dengan bos besar, ah!
Dia harus menyiapkan mentalnya bila bos besar ingin memisahkan mereka lagi! Setidaknya dia harus berusaha mempertahankan Davin-nya agar tidak diambil oleh wanita lain. Apalagi sekelas nenek lampir yang ada di depannya ini, dia tidak akan rela melepaskan Davin untuk Anya!
"Jangan khawatir. Anak-anak sudah diurus oleh Adit dan Anggi. Mereka tidak akan membawa anak-anak ke sini sebelum menerima perintah dariku." Balas Davin berbisik seraya meremas pinggang ramping Rein sebagai petunjuk menenangkan- sayangnya gerakan tangan ini agak salah tapi fokus Rein benar-benar telah diambil alih oleh bos besar!
"Kakek, Nenek, selamat malam." Memanfaatkan kedatangan Kakek Demian, Anya langsung bergegas menyapa dengan sopan dan senyum yang lembut.
Nenek- wanita berpenampilan glamor yang kini tengah berdiri di samping Kakek Demian jujur tidak senang dengan panggilan Anya karena biar bagaimanapun usianya tidak setua itu untuk dipanggil Nenek.
Akan tetapi dia hanya bisa menekan ketidakpuasannya karena fakta mengatakan jika dia menikah dengan seorang laki-laki tua bangka yang tidak berperasaan!
"Anya, sudah lama. Bagaimana kabarmu sekarang?" Nenek meraih tangan Anya dan menariknya agar berdiri di sisinya.
Sengaja atau tidak sengaja, Nenek memperlakukan keberadaan Rein sebagai orang yang tidak terlihat.
Anya tersenyum senang. Dia dengan percaya diri memeluk lengan Nenek sambil mencuri pandang bagaimana reaksi Rein melihat saat melihat tindakan ramah Nenek kepadanya. Secara tidak langsung dia ingin mengatakan jika orang yang diakui oleh keluarga Demian sebagai calon istri Davin adalah dirinya, bukan orang lain apalagi seorang wanita tidak tahu diri yang tidak memiliki latarbelakang apa-apa.
"Nenek, tinggal diluar negeri tidak sebaik tinggal di sini." Jawab Anya sambil menarik wajahnya dari Rein.
Nenek tahu pertunjukan apa yang diinginkan oleh Anya.
"Oh ya, Revan bilang hidup diluar negeri khususnya di Eropa itu sangat menyenangkan. Rapi mengapa Anya mengatakan yang sebaliknya?"
Dalam situasi apapun dia tidak lupa menyebut nama putranya untuk mendapatkan citra yang bagus!
"Paman kecil pasti sangat menikmatinya karena dia bisa pulang menemui Nenek jika rindu. Sedangkan aku? Aku sangat merindukan Nenek tapi tidak pernah memiliki waktu luang untuk pulang ke sini. Nenek, rasanya cukup membosankan tanpa mendengarkan suara Nenek!" Ujar Anya menyanjung.
Nenek langsung tertawa kecil. Sangat puas dengan sanjungan manis Anya. Awalnya, Nenek tidak setuju dengan pertunangan Davin dan Anya karena Nenek tidak ingin mereka memiliki keturunan. Bila Davin memiliki keturunan maka pewaris selanjutnya akan jatuh ke tangan keturunan Davin. Dan Nenek tidak menginginkan hasil ini terjadi.
Tapi sekarang Revan tiba-tiba memberitahunya bila Rein kembali ke dalam kehidupan Davin dan telah melahirkan seorang putra! Anak itu adalah darah daging Davin sendiri. Bahkan tanpa menggunakan tes DNA saja orang akan tahu bila anak itu adalah darah daging Davin melihat betapa miripnya mereka berdua.
Nenek sangat marah mendengarnya dan langsung mengubah rencana. Menyegerakan pernikahan Anya dan Davin untuk menghilangkan ruang Davin memenangkan semua harta laki-laki tua bangka itu. Dan bila Davin menikah dengan Anya, maka dia bisa menggunakan segala cara untuk mencegah Anya melahirkan atau hamil. Lalu mengenai putra Davin....Hem, dia tidak keberatan untuk mengenyahkannya dari muka bumi ini atau membuatnya hilang dari kota ini.
Nenek bisa melakukannya asalkan laki-laki tua bangka itu menyetujui pernikahan Davin dan Anya.
"Ayo mulai makan malam." Perintah Kakek Demian mengabaikan Nenek dan Anya.
Tidak hanya mereka berdua saja yang diabaikan oleh Kakek Demian, namun Davin dan Rein juga tidak luput dari pengabaiannya.
"Ayo, Rein." Davin sama sekali tidak perduli dengan sikap Kakeknya.
"Hem."
Davin membawa Rein berbaur dengan anggota keluarga Demian. Sempat beberapakali salah satu anggota keluarga Demian ingin bertegur sapa dengan Davin, tapi mereka segera mengurungkan niat mereka ketika melihat ekspresi datar Davin.
Akan tetapi salah satu anggota sungguh tidak tahan dengan sikap Davin membawa Rein ke meja makan sebab Rein adalah orang asing dan tidak pantas bercampur dengan mereka.
"Kak Davin, orang luar tidak boleh bergabung di meja makan." Cegah sepupu Davin.
Kata-kata sepupu Davin ini sontak membuat Anya diam-diam bersorak di dalam hatinya.
Davin tidak mengubah wajahnya saat membalas,"Dia adalah calon istriku jadi bagaimana mungkin masih dianggap orang luar?"
Anya sekali lagi tercekat apalagi saat melihat Kakek Demian tidak mengatakan apa-apa untuk membantahnya dihadapan banyak orang dan anggota keluarga.
"Itu..." Sepupunya tidak berani berbicara lagi.
Tapi Nenek segera mengambil kesempatan untuk berbicara.
"Anya adalah tunangan mu dan kalian berdua akan segera menikah."
Davin tersenyum yang bukan lagi bisa disebut senyuman,"Pilihanku adalah pilihanku dan tidak ada seorangpun yang bisa mempermasalahkannya."
Semua orang tiba-tiba merasa sulit bernafas. Davin, calon pewaris keluarga Demian benar-benar berani menunjukkan dominasinya di depan Kakek Demian.
"Apa yang coba kamu lakukan di sini dengan mengatakan itu, Davin? Anya ada di sini! Apakah kamu tidak malu telah mempermainkan hati seorang wanita?!" Nenek mulai memainkan dramanya.
Kata-katanya ini memang tidak diragukan membela Anya tapi siapapun yang mengetahui kelicikannya pasti tahu jika Nenek sedang menghitamkan citra Davin dihadapan para tamu.
"Aku dan dia hanya terikat tali perjodohan, bukan perasaan. Jadi aku tidak bisa dianggap menyakitinya karena kalianlah yang memulai perjodohan dan bukannya aku. Lalu berbicara tentang menyakiti hati seorang wanita, bukankah Nenek seharusnya lebih baik memperhatikan Paman kecilku dulu sebelum memperhatikan ku? Aku dengar Paman kecilku baru-baru ini membuat skandal dengan seorang model laki-laki-"
"Omong kosong!" Nenek sangat panik dan malu karena putranya dibawa-bawa di sini.
Entahlah, bukan rahasia umum lagi jika Revan dikenali sebagai seseorang yang haus akan 'sentuhan'. Nama Revan santer disebut-sebut sering mengganti teman main dan bahkan skandalnya tersebar dimana-mana.
"Davin," Panggil Kakek Demian dengan suara tuanya.
Perhatian semua orang kini beralih menatap Kakek Demian, menunggu langkah apa yang akan dia lakukan saat ini.
"Kakek, maaf telah mengganggu kenyamanan mu." Davin berbicara sopan namun matanya lurus menatap Kakek Demian tanpa rasa takut.
Kakek Demian menghela nafas lembut.
"Perkenalkan calon istrimu kepadaku."
Semua orang langsung terkejut dengan permintaan Kakek Demian- tidak, orang yang seharusnya paling terkejut adalah Nenek, Anya, dan anggota keluarga Demian. Mereka pikir Kakek Demian tidak akan menyambut kedatangan Rein tapi mendengar permintaan Kakek Demian tadi, jelas restu telah diberikan dan Kakek Demian juga mengakui identitas Rein sebagai calon istri Davin!
"Kakek..." Davin terhenyak.
Untuk sesaat dia kesulitan mengatakan kata-katanya. Sungguh diluar skenario! Dia pikir Kakek akan memarahinya seperti dulu tapi siapa yang akan tahu Kakek justru mengakui identitas Rein sebagai calon istrinya.
Setelah sekian lama tidak bisa berkata-kata, Davin segera tersadar dan menenangkan dirinya. Tangan kanannya yang masih melingkari pinggang ramping Rein meremas kuat pinggang kekasihnya untuk menyatakan betapa bahagianya dia malam ini.
"Dav," Panggil Rein melayang.
Kedua kakinya sangat lemas. Dia tidak memiliki tenaga dan hanya bisa bersandar di tubuh kekasihnya!
Lagipula reaksinya wajar saja karena dia tidak pernah berpikir Kakek Demian akan menyambut kedatangannya.
"Kakek, perkenalkan Rein Xia adalah calon istriku. Kami akan segera melangsungkan pernikahan beberapa hari lagi dan kedatangan keluarga kecilku di sini untuk memberitahu Kakek maupun anggota keluarga yang lain jika kami akan segera mengadakan pernikahan." Ucap Davin serius dengan suara lantangnya yang memenuhi tempat pertemuan.
Dihadapan semua orang Davin tanpa malu-malu mengumumkan pernikahannya dengan Rein beberapa hari lagi.
"Kakek, selamat malam." Sapa Rein sopan.
Kakek Demian menganggukkan kepalanya kepada Rein sebagai tanda jika dia telah menerima sapaannya.
Lalu fokus Kakek beralih pada topik yang lain.
"Keluarga kecil?" Artinya Davin datang dengan seluruh anggota keluarganya, kan?
Tepat setelah Kakek Demian berbicara, suara manis Tio dan Aska segera menarik perhatian Kakek Demian.
"Mommy, Aska mau makan."
"Daddy, aku lapal." Keluh Aska dan Tio bersamaan.
Aska secara naluriah berdiri memeluk pinggang Rein sedangkan Tio tanpa sadar merentangkan tangannya kepada Davin, minta dipeluk.
Di bawah pengawasan mata, Davin merendahkan tubuhnya dan mengangkat Tio ke dalam pelukannya yang hangat. Setelah itu dia kembali menarik membawa tangannya melingkari pinggang ramping Rein.
Pose mereka ini terlihat sangat manis. Selayaknya keluarga kecil yang harmonis dan bahagia, sungguh membuat cemburu.
"Tio, Aska, ayo sapa Kakek." Ucap Davin kepada anak-anaknya.
Aska sudah mengenal Kakek tapi dia tidak terlalu dekat sehingga meninggalkan rasa jarak. Namun karena Davin memintanya maka dia tidak memiliki hak untuk menolak.
"Kakek, selamat malam." Sapa Aska dengan ekspresi datar di wajahnya.
"Hallo, Kakek." Suara kekanak-kanakan Tio menyapa.
Kakek Demian terdiam. Tanpa sadar kedua tangannya terangkat ingin memanggil kedua anak itu agar segera menghampirinya. Akan tetapi dia tiba-tiba memikirkan sesuatu dan menariknya di bawah meja.
"Yah, selamat malam. Kakek senang bertemu dengan cucu Kakek yang manis."
"Kakek, lalu bagaimana denganku?" Suara parau Anya mengingatkan kembali mereka jika ada tunangan- oh, lebih tepatnya ada mantan tunangan Davin di sini.
Nenek juga mendesak.
"Anya adalah tunangan Davin, sayang. Perasaan Anya tulus kepada Davin." Katanya cemas.
Nenek rasanya ingin sekali mencekik Tio, anak laki-laki yang sangat mirip dengan Davin. Bukan sekedar mirip, tapi lebih tepatnya sama persis!
Dia jelas terkejut melihat wajah putra Davin dan bahkan sangat marah melihat reaksi laki-laki tua bangka itu!
Kakek Demian melirik Anya singkat lalu duduk di tempat duduknya untuk memulai makan malam. Ketika melihat Kakek Demian duduk, semua orang lantas duduk tidak terkecuali keluarga kecil Davin.
Davin menaruh Tio dipangkuan nya dan Rein pun juga menaruh Aska di atas pangkuannya.
Davin keberatan, dia ingin mengambil Aska dan meminta Tio duduk di atas pangkuan Rein karena tubuh Aska terlalu besar.
Tapi Rein menolak dan mengatakan tidak apa-apa.
"Urusan anak muda, aku tidak bisa ikut campur. Jika Davin sudah menentukan pilihannya maka itu adalah haknya. Lagipula Davin sudah memiliki putra jadi siapapun tidak berhak melarangnya menikahi Ibu dari putranya tersebut." Katanya final membuat Anya patah hati juga kecewa.