My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
20. (20)



Aku tidak bisa mempercayainya, sungguh tidak bisa! Setelah kami selesai makan malam mas Adit membawaku ke dalam kamar hotelnya. Oh bukan untuk hal yang aneh-aneh tapi untuk membantunya mengemasi semua barang-barangnya ke dalam koper. Karena mas Adit laki-laki aku pikir barang-barangnya akan berantakan tapi dugaan ku salah karena nyatanya mas Adit adalah orang yang sangat teratur dan disiplin jadi mana mungkin barang-barangnya bisa berantakan. Semua pakaian mas Adit tergantung rapi di dalam lemari, beberapa sepatunya juga tersusun rapi di atas rak dengan sekumpulan kaos kaki kotor yang sengaja mas Adit taruh di atas sebuah kantong plastik putih.


Sementara itu di atas tempat tidur beberapa buku bisnis dengan berbagai bahasa ditumpuk rapi di atas nakas dengan sebuah kaca mata baca di sampingnya. Setiap malam menjelang tidur mungkin mas Adit memiliki kebiasaan untuk membaca buku. Tapi ugh, buku yang dia baca memang diluar jangkauan. Hanya orang-orang yang terjun ke dalam bisnis atau orang-orang yang sekolah bisnis bisa membaca buku-buku ini.


Aku perhatikan lantainya juga sangat bersih tanpa ada noda ataupun sampah plastik, tidak seperti kamarku yang memiliki cadangan cemilan tengah malam, kamar mas Adit sangat bersih tanpa ada tanda-tanda keberadaan makanan. Kecuali air putih botolan dari merk tertentu, dia tidak punya asupan apapun di dalam kamar ini. Sejujurnya ini memiliki kesan yang sangat membosankan tapi untuk diriku sendiri, aku memiliki kekaguman pada pola kehidupan mas Adit. Dia sangat disiplin, pembersih, dan juga orang yang bertanggungjawab. Gaya hidupnya yang teratur ini menunjukkan bahwa dia sangat menghargai hidupnya sendiri dan tidak membuat masalah untuk orang lain. Aku yakin, sama seperti diriku, staf pembersih hotel yang masuk ke dalam kamarnya pasti juga kagum melihat betapa apik kehidupan mas Adit.


"Sebentar, aku harus menerima telepon dulu." Mas Adit izin ke balkon untuk menerima telpon dari seseorang.


"Baik, mas." Kataku bersikap normal, ini sudah usaha yang sangat keras.


Mas Adit lalu pergi ke balkon kamarnya untuk menerima telpon. Setelah melihat bayangannya menghilang dari pandangan, jantungku akhirnya bisa bernafas dengan lega. Aku menghirup puas udara di kamar mas Adit kategori kamar ini memiliki wangi khas mas Adit. Ini sangat harum dan meneduhkan, bila aku tidak salah wangi ini tercium seperti bau kayu Pinus yang memiliki rasa dingin dan segar. Cocok dengan orangnya sendiri karena mas Adit adalah orang yang berwajah batu dan minim ekspresi.


"Tenang..tenang...tenang, Anggi! Jangan gugup. Jika kamu gugup maka mas Adit akan melihat ada sesuatu yang salah darimu. Jadi tenangkan dirimu dan bekerjalah depan cepat juga rapi!" Aku menepuk dada kiri sambil menasehati diri sendiri agar bertindak sewajarnya saja tanpa membuat keributan.


Menghirup udara di sini dengan puas, aku lalu mulai bekerja dengan serius. Melipat rapi semua pakaian mas Adit dan menyusunya dengan tapi pula di dalam koper. Lalu sepatu-sepatu mas Adit pertama-tama ku bungkus dengan kain pembungkus sepatu sebelum mulai menyusunnya di dalam koper. Setelah itu semua buku-buku bisnis mas Adit aku taruh di sisi koper yang lain dengan kaca mata bacanya yang aku simpan di dalam kotak dengan sangat hati-hati sebab ini adalah barang yang mudah pecah. Beres dengan semua barang-barang ini, aku memandangi kumpulan kaos kaki kotor di dalam kantong plastik putih. Sesungguhnya itu tidak terlalu kotor karena hanya digunakan sekali saja jadi Anggi bimbang ingin membawanya pulang atau tidak.


"Masukkan saja ke dalam, aku tidak suka membuang-buang barang, apalagi masih bisa digunakan." Suara berat mas Adit masuk ke dalam telingaku.


Mendengar perintah mas Adit, aku menghela nafas lega karena kaos-kaos itu tidak terbuang sia-sia karena masih bisa digunakan.


"Baik, mas."


Segera ku ambil kantong kresek putih itu dari samping rak sepatu, mengikatnya serapi mungkinkah sebelum menaruhnya di sisi pakaian yang agak tersembunyi. Melihat kamar mas Adit dan beralih menatap koper di sampingku, aku tersenyum puas karena semua barang-barang mas Adit bisa ku tangani dengan baik.


"Sudah selesai, mas." Kataku memberitahu.


Dia mengangguk ringan sambil menaruh ponselnya ke dalam saku dan menatapku.


"Terima kasih, bantuan mu sangat berarti." Katanya agak santai.


En, aku mendengar nada suaranya jauh lebih santai daripada waktu-waktu sebelumnya. Sepertinya mas Adit dalam suasana hati yang baik setelah menerima telpon. Aku bertanya-tanya siapakah orang yang menelpon tadi- ah, aku sangat kepo. Bisa saja itu dari bisnis karena mas Adit sendiri ke sini untuk melakukan bisnis.


Apa sih yang aku pikirkan ini.


"Ini bukan apa-apa."


Aku lalu berdiri sambil merapikan gaunku yang sempat kusut karena ku duduki tadi di lantai.


"Hei?"


"Ya, mas?"


"Doni bukanlah laki-laki yang baik." Gerakan tanganku berhenti.


Tersenyum tipis, aku beralih memegang lengan kananku karena tiba-tiba menjadi canggung.


"Aku tahu, karena itulah aku tidak ingin berhubungan lagi dengannya." Kataku mengatakan yang sebenarnya.


Tidak ada yang mau mengulangi rasa sakit dan pengkhianatan yang sama, jika ada maka wanita itu mungkin bukanlah wanita bodoh tapi wanita yang sangat hebat karena masih memiliki kepercayaan terhadap cintanya. Meskipun cintanya dikhianati dan disakiti berkali-kali lamanya, tapi dia masih tetap bertahan dengan sebuah kepercayaan bahwa suatu saat cintanya pasti akan kembali. Namun aku tidak sehebat mereka. Aku memiliki batas kesabaran untuk menghadapi laki-laki kurang ajar seperti itu. Aku tidak mampu menanggung beberapa kali rasa sakit dan pengkhianatan di masa depan. Di tambah lagi sekali pengkhianatan itu dilakukan, aku langsung merasa jijik dan muak. Aku tidak ingin memiliki hubungan lebih lama lagi dengannya.


"Jangan beri dia kesempatan untuk kembali lagi sekalipun atas nama cinta."


Aku menggelengkan kepalaku menolak pemikiran ini,"Aku sudah sangat jijik dan muak kepadanya, maka mana mungkin aku menjebak diriku dalam rasa jijik itu sekalipun atas nama cinta? Maaf mas, cintaku sudah lenyap sejak aku tahu betapa menjijikkannya laki-laki ini."


"Bagus, tapi aku punya kabar buruk untukmu. Apa kamu mau mendengarnya?"


Kabar buru? Namanya saja kabar buruk, isinya pasti bukanlah hal yang baik. Tapi aku masih ingin mendengarkan.


"Kabar buruk apa, mas?"


"Doni melarikan diri lagi. Dia sengaja bercampur dengan kerumunan di pasar tadi untuk mengelabui polisi." Kata mas Adit.


Yah, ini memang kabar yang sangat buruk. Aku jelas merasa terancam dengan situasi ini tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa marah karena polisi pun masih bisa dibuat kelimpungan karenanya.


"Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk itu." Kataku tidak berdaya.


Aku hanya berdoa kepada Tuhan agar anak-anak tidak diganggu oleh Doni karena situasinya saat ini tidak benar. Tidak, aku bukan Ibu yang jahat. Aku tidak bermaksud memisahkan anak-anak dan ayahnya, aku hanya ingin mengamankan anak-anak karena ayahnya masih sangat buruk. Aku takut Doni menjadikan anak-anak sebagai sandera untuk sebuah kebebasan.


"Jangan ragu untuk menghubungi ku bila dia datang mencari mu." Kata-katanya sangat menghangatkan hatiku.


"Aku tahu bila dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi kepadaku karena sekarang aku berada di bawah keamanan keluarga Demian, dia mungkin tidak bisa menyentuhku. Tapi berbeda dengan anak-anak, ibu dan ayah. Mereka masih belum mengetahui tentang masa laluku yang sebenarnya jadi cukup takut bila Doni memanfaatkan ketidakhadiran ku untuk mendekati mereka." Ini adalah kekhawatiran yang sebenarnya.


Anak-anak dan orangtuaku sangat rentan. Tidak ada pelindung yang kuat di dalam keluargaku karena mereka terdiri dari anak-anak dan pasangan lanjut usia. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, aku takut mereka tidak bisa membela diri untuk menyelamatkan diri.


"Jangan khawatir. Aku sudah menghubungi orang-orang ku agar mengawasi rumahmu. Mereka akan menjaga anak-anak, ibu, dan ayah dari niat-niat orang yang buruk jadi kamu tidak perlu khawatir. Tidak hanya Doni, aku juga mengintruksikan mereka agar menjaga keluargamu dari pihak kerabat yang tidak bermaksud baik." Mas Adit memberikan ku sebuah jaminan.


Aku terhanyut dalam kata-katanya yang menjanjikan. Bukan kata-kata yang manis dan bukan dengan nada yang manis pula. Dia hanya mengatakannya dengan nada datar dan ekspresi yang datar pula, tapi...semua kata-katanya langsung masuk ke dalam lubuk hatiku. Seolah menegaskan berulangkali bila semuanya akan baik-baik saja.


Aku...aku sangat senang dan bersyukur karena mas Adit mau menjagaku, menjaga anak-anak, dan menjaga kedua orang tuaku. Ini adalah berkah yang tidak bisa ku temukan dari laki-laki manapun yang pernah ku kenal dalam hidup ini.


"Hei, jangan menangis."


Ah, apa aku menangis?


"Aku.." Tanganku meraba wajahku, dan yah, ada cairan hangat yang mengalir di sana.


Mas Adit lalu berjalan menghampiri ku hingga jarak kami kurang dari satu meter jauhnya.


"Bukankah aku sudah bilang akan melindungi kamu? Jadi ala yang masih kamu tangisi?"


Aku menatapnya kagum dan takjub di saat yang bersamaan. Laki-laki dingin ini begitu berani menjadi tameng terdepan untuk ku. Tuhan lebih tahu betapa senang dan bersyukurnya aku. Buka bisa, aku ingin sekali memeluknya tapi aku takut dan tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan itu.


Alhasil aku hanya bisa tersenyum selebar mungkin untuk mengungkapkan berapa bersyukurnya aku saat ini.


"Aku..aku hanya merasa bersyukur karena mas Adit mau melindungi ku dan keluarga. Aku sangat berterima kasih untuk semua ini. Tapi...tapi aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk membayarnya."


Dia tiba-tiba tersenyum... kepadaku. Senyumannya memang tidak lembut tapi sorot mata gelap itu, aku melihat kelembutan yang sangat menghangatkan di dalamnya.


Aku tersenyum malu dan buru-buru menganggukkan kepalaku berjanji. Artinya aku masih memiliki hutang di sini dan suatu saat harus aku bayarkan. Tapi untuk saat ini aku harus menjadi orang yang kuat agar orang-orang tidak lagi memiliki niat buruk kepadaku. Tidak, sebenarnya aku harus kuat untuk diriku sendiri dan keluarga ku, karena dengan begitu mereka tidak akan bertindak seenaknya kepada kami.


Aku harus kuat.


"Aku mengerti, mas. Aku akan menjadi wanita yang kuat." Untuk keluargaku dan untuk untuk mas Adit, aku berjanji.


...🌪️🌪️🌪️...


"Kamu enggak pulang, Ser? Katanya malam ini udah mau balik ke kota A." Wanita itu dan Sera baru saja keluar dari restoran hotel.


Saat akan keluar dari hotel, Sera tiba-tiba menghentikan langkahnya dan mengatakan ingin tinggal di sini dulu dan meminta wanita itu untuk segera pulang karena sudah larut malam.


Wanita itu merasa bingung karena setahunya Sera akan pulang ke kota A malam ini tapi kok memilih tinggal di hotel dulu.


"Iya, aku malam ini pulang ke kota A tapi bareng sama kak Adit." Kata Sera dengan senyuman manis di wajah cantiknya.


Dia datang ke sini bersama Adit maka pulangnya pun juga harus bersama Adit. Mana mungkin dia kembali tanpa Adit, rasanya agak lucu.


"Aku kan bawa mobil, Ser. Kenapa enggak ikut pulang sama aku aja?"


Dimana-mana pasti lebih menyenangkan pulang sama sahabat karena perjalanan pulang mereka pasti akan lebih ramai dan seru.


"Kali ini enggak deh, soalnya aku udah janjian sama kak Adit." Katanya menolak.


Wanita itu menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Sera itu cantik, memiliki karir yang bagus di dunia medis, dan berasal dari keluarga kaya juga baik. Dengan kemampuan ini harusnya dia memiliki banyak pengejar yang tampan juga tidak kalah baiknya dalam dunia karir maupun keluarga. Tapi Sera menolak setiap kali ada orang yang datang menunjukkan perasaannya dan lebih memilih mengejar Adit, laki-laki tangguh yang lebih banyak memasang ekspresi datar daripada tersenyum. Namun Adit juga tidak mudah dihadapi. Dia sangat dingin kepada siapapun tak terkecuali Sera. Beberapa kali dia memperhatikan betapa acuhnya Adit kepada Sera tapi sahabatnya ini tampaknya tidak takut sama sekali dan tidak jera. Dia terus saja mengejar Adit walaupun diabaikan, diberikan respon acuh tak acuh, dan yang lebih parah lagi adalah ditolak. Berkali-kali ini terjadi namun Sera tidak pernah putus asa untuk mengejar Adit.


Terkadang dia merasa sedih untuk sahabatnya ini.


"Kamu kenapa enggak ikut pulang sama aku aja? Aku pengen curhat tahu sama kamu di dalam mobil." Wanita ini adalah sahabat yang baik dan mengkhawatirkan sahabatnya.


Sera menolak tidak enak, tapi demi Adit dia rela menolak sahabatnya.


"Maaf, mungkin lain kali. Aku harus pulang sama kak Adit biar kedua orang tuaku enggak khawatir." Tolak Sera menggunakan alasan yang sangat bagus.


Wanita itu menganggukkan kepalanya mengerti. Dia tidak lagi memaksa Sera agar ikut bersamanya karena Sera sudah membuat keputusan. Hanya saja memikirkan bagaimana interaksi Anggi dan Adit di restoran tadi, dia tiba-tiba merasa tidak nyaman untuk Sera.


"Baiklah, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Selamat malam." Wanita itu memeluk Sera erat sebelum keluar dari hotel.


Selepas wanita itu pergi Sera langsung pergi ke ruang tunggu untuk menunggu Adit dan Anggi pulang. Rencananya dia ingin langsung naik ke atas untuk mencari mereka tapi dia tidak tahu nomor kamar Adit dan Anggi.


Lama menunggu, Sera benar-benar mulai kehabisan sabar. Dia ingin masuk ke atas untuk mencari mereka namun sebelum dia bisa melakukan itu orang-orang yang dia tunggu sudah turun. Mereka masih menggunakan busana tadi dan Sera pun juga masih menggunakan busananya.


Hasilnya mereka sudah seperti orang-orang yang baru saja menghadiri sebuah pesta.


"Kak Adit, mbak Anggi!" Belajar dari kesalahan sebelumnya, kali ini Sera tidak akan mengabaikan Anggi.


Adit melihatnya dan mengangguk sebagai respon sedangkan Anggi lebih sopan saat meresponnya.


Adit tidak terkejut melihat Sera masih berada di sini dan bahkan menunggu mereka. Karena sejak semalam Sera sudah memborbardir nya dengan banyak pesan, memintanya untuk ikut pulang bersama mereka.


"Bagaimana pengalaman mbak Anggi selama di kota ini? Aku dengar mbak Anggi sangat sibuk." Pertama-tama Sera menghampiri Anggi terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Adit.


Sebenarnya dia mah ogah-ogahan dekat dengan Anggi apalagi sampai berbicara dengannya, tapi demi citranya yang baik di depan Adit, dia terpaksa melakukan itu.


"Beberapa hari ini sangat sibuk tapi aku cukup menikmatinya." Selama bersama Adit, dia tidak pernah mengeluh karena waktu-waktu bersama Adit sangatlah penting. Anggi tidak bisa menyia-nyiakannya.


"Oh," Sera ber'oh ria tidak terlalu perduli.


"Mbak Anggi pasti sangat kelelahan." Sambungnya malas.


Berbicara beberapa patah kata dengan Anggi, dia lalu beralih berbicara dengan Adit. Responnya masih biasa-biasa saja dan bahkan terkesan tidak mood tapi bagi Sera itu adalah sebuah kemajuan besar.


"Kak Adit enggak ada rencana ke kota lain lagi?" Moodnya tiba-tiba berubah menjadi wanita yang riang dan manis.


Adit menggelengkan kepalanya,"Aku tidak tahu. Bila tuan Davin memiliki tugas untuk ku keluar kota maka aku akan pergi tapi bila tidak, maka aku tidak akan pergi." Jawab Adit seadanya.


Sera tidak pernah berhenti tersenyum.


"Wah, kak Adit orang yang sangat sibuk." Mengintip wajah baru Adit yang tidak mengalami perubahan, Sera sama sekali tidak berkecil hati.


"Kak Adit, Mama sama Papa kemarin menghubungi aku. Dia bilang ingin bertemu dengan kak Adit. Jadi bila kak Adit punya waktu luang, mereka bilang kak Adit harus ke rumah untuk bertamu." Sera sama sekali tidak berbohong karena faktanya inilah yang dikatakan oleh kedua orang tuanya selama dia tinggal di kota ini.


Sera sangat senang mendengarnya karena ternyata kedua orang tuanya juga menyukai Adit. Maka dari itu dia tidak perlu mengejar restu jika berhubungan dengan Adit sebab kedua orang tuanya telah memberikan restu.


"Paman dan bibi..." Adit merenung.


Jika ini hanya ajakan Sera maka mungkin dia akan menolak tapi perlakuannya berbeda untuk para tetua. Kedua orang tua Sera adalah orang-orang yang baik karena mereka sangat perhatian kepada Davin saat dia masih belum berkuasa. Bahkan mereka juga sering membantu Davin saat sedang kesusahan sehingga jasa mereka telah terukir dengan baik di dalam hati Adit.


Dan karena inilah dia selalu memperlakukan Sera lebih baik daripada anggota keluarga yang lain. Karena selain Sera berpihak kepada Davin, orang tuanya pun sangat baik kepada Davin.


"Baiklah, bila ada waktu senggang aku akan datang bertamu ke rumah untuk menemui Paman dan Bibi. Setelah sampai di rumah nanti, tolong sampaikan salam ku kepada mereka berdua. Katakan aku akan datang menemui mereka di waktu yang tepat."


Sera hampir saja berteriak kegirangan saking senangnya. Dia tidak menyangka bila Adit akan semudah ini menerima tawaran kedua orang tuanya. Jika dia tahu hal ini akan terjadi, maka dia mungkin sudah menggunakan alasan ini untuk menyita waktu Adit daripada terus terjebak dengan wanita buruk itu.


Menahan gelora kebahagiaan di hatinya, dia lalu berkata,"Aku akan segera menyampaikannya kepada Mama dan Papa. Mereka pasti senang ketika mendengar kabar ini." Kata Sera dengan senyuman yang semakin cerah dan lebar.


Suasana hatinya seketika menjadi baik setelah berbicara dengan Adit. Semua keluhannya di restoran tadi segera tersapu bersih kecuali untuk Anggi, dia masih memiliki ketidaksukaan terhadapnya.


Pasalnya setiap kali dia ingin mendekati Adit, wanita buruk ini terus saja mengganggunya dengan berbagai macam triknya. Ugh, seolah-olah dia bisa mendekati setiap laki-laki yang dia suka saja. Sera agak muak dengannya.


Kesal, dia melirik Anggi yang masih duduk nyaman di samping tanpa menyadari ada sesuatu yang salah dengan Sera.


Setelah mereka mengobrol singkat, mereka lalu keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, Anggi duduk di belakang sedangkan Sera dengan percaya diri duduk di samping Adit.


Adit tidak mengatakan apa-apa namun Anggi jelas agak cemburu. Dia cemburu karena Sera begitu mudah dekat dengan Adit tanpa rasa canggung sedikitpun, sedangkan dirinya? dia butuh banyak usaha untuk melakukannya. Sera sendiri berbeda, dia dalam suasana yang jauh lebih baik malam ini setelah beberapa hari tertekan.