My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
134. Undangan Dari Keluarga Dirgantara



3 hari kemudian Davin dan Aska sudah bisa dipulangkan. Mereka telah menyelesaikan segala macam prosedur rumah sakit untuk memastikan bahwa tidak ada komplikasi apapun di masa depan nanti. Terutama pada tubuh kecil Aska. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain menghentikan Aska minum minuman energi dari wanita pengasuh itu.


Oh, berbicara tentang wanita pengasuh itu aku sudah membicarakannya dengan Davin dan dia bilang wanita itu akan segera ia urus setelah semua pekerjaannya rampung. Aku tidak lega mendengarnya dan berkali-kali mengingatkannya untuk jangan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Dia menyanggupinya setiap kali aku mengingatkan tapi aku merasa sulit mempercayainya karena Davin adalah orang yang pendendam.


Dia telah melalui banyak hal agar sampai di posisi ini. Dikhianati, disakiti, dan dijatuhkan, Davin sudah pernah melalui semua itu. Itulah sebabnya dia tidak akan mudah memaafkan seseorang karena pengalamannya bertahun-tahun sudah memberitahunya dengan baik bahwa manusia adalah mahluk yang sangat pandai memainkan pisau tajam nan tumpul di tangan. Sedetik saja berpaling kita tidak akan pernah tahu jika pisau itu sudah di arahkan tepat di depan dada atau mungkin telah menusuk daging punggung. Bukankah ini sudah biasa terjadi?


"Sayang, besok malam ada jamuan di rumah Tuan Sam Dirgantara untuk merayakan kesembuhan tunangan putranya yang baru saja melakukan operasi ginjal." Suara magnetis Davin menarik ku dari lamunan panjang.


Aku mengernyit ketika mendengar nama yang Davin sebutkan. Pasalnya nama ini terdengar tidak asing dan aku pikir sering mendengarnya ketika masih bekerja sebagai office girl dulu.


Dirgantara..


Bukankah mereka salah satu keluarga raksasa yang memiliki pamor baik di negeri ini?


Pengaruh keluarga ini hampir sama dengan keluarga Demian. Mereka menginjakkan akar kekuasaan mereka sampai sedalam-dalamnya hingga bisa mempengaruhi pemerintah. Keberadaan mereka juga sangat disegani di negeri ini dan aku dengar keluarga Demian dan keluarga Dirgantara memiliki persahabatan yang sangat baik.


Beberapa kerabat mereka melakukan pernikahan untuk mempererat hubungan persahabatan. Mengerikan, dua perusahaan raksasa menjalin sebuah persahabatan sehingga posisi mereka semakin sulit digoyahkan.


"Apa yang kamu pikirkan, hem?" Bisikkan lembut Davin kembali menarik ku dari lamunan panjang.


Aku mengangkat kepalaku spontan ingin mengatakan sesuatu tapi langsung dibuat terkejut dengan wajah tampan Davin yang berada tepat di depan wajahku. Jika saja aku tidak mundur secepat mungkin, maka kami pasti tadi sudah berciuman- ah, mungkin lebih tepatnya aku yang mencium Davin.


"Dav, jangan terlalu dekat!" Kataku seraya mendorong wajahnya menjauh dari wajahku.


Dia tertawa rendah dan dengan patuh mundur ke belakang sehingga meninggalkan jarak di antara kami berdua. Nah, bila seperti ini maka aku tidak akan sungkan berbicara dengannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Jangan katakan kepadaku jika kamu masih memikirkan sepupuku?" Tuduhnya cemburu seperti anak remaja di luar sana.


Ya Tuhan, usia kami sudah tidak remaja lagi tapi mengapa dia sangat suka bertingkah kekanak-kanakan?


Ugh, tapi sayangnya aku senang melihatnya bertingkah kekanak-kanakan karena sikap kekanak-kanakannya ini hanya bisakah dilihat oleh diriku seorang. Sedangkan wanita-wanita di luar sana yang sangat mengagumi kekasihku pasti sering bermimpi melihat layanan spesial ini.


Sayang sekali, tapi aku masih bahagia di atas penderitaan mereka!


"Jangan asal menuduh, Dav. Aku sedang memikirkan keluarga Dirgantara yang kamu bicarakan tadi. Aku dengar bila putranya sudah menikah dengan wanita lain tapi kenapa dia masih memiliki tunangan?" Tanyaku heran.


Beberapa bulan yang lalu sempat tersiar kabar bila putra kebesaran keluarga Dirgantara, yaitu Deon Dirgantara telah mengkhianati tunangannya dan memilih menikah dengan wanita lain. Saat itu kabar ini santer dibicarakan. Meskipun tidak ada konfirmasi dari pihak manapun tapi orang-orang sangat yakin jika kabar ini benar.


Di tambah lagi muncul kabar mengejutkan lainnya jika wanita yang Deon nikahi adalah Kakak kandung tunangan Deon. Berita mengejutkan ini menjadi panas dimana-mana. Berbagai macam kecaman dan tuduhan orang layangkan kepada wanita itu untuk melampiaskan betapa marahnya mereka atas pengkhianatan yang wanita itu lakukan kepada adiknya sendiri.


Mereka beramai-ramai membela tunangan Deon dan menuntut keadilan untuk tunangan Deon. Sekarang akan ada perjamuan besar untuk merayakan kesembuhan tunangan Deon, jadi apakah ini artinya berita itu tidak benar dan selama ini Deon tidak pernah menikah dengan siapapun termasuk dengan Kakak dari tunangannya sendiri?


"Jangan dengarkan gosip di luar sana, sayang. Kabar buruk yang berterbangan di luar sana mengenai Deon tidak lah benar. Dia tidak pernah mengkhianati tunangannya dan kabar baiknya mereka akan menikah sebentar lagi. Hei," Deon mencubit hidungku dengan kekuatan kecilnya.


"Daripada memikirkan mereka, kenapa kamu tidak memikirkan tentang kita saja? Pikirkan sampai kapan kamu harus menahan ku seperti ini dan pikirkan kapan waktunya aku akan mendapatkan gelar suami dari dirimu."


Nah, Davin sangat suka membicarakan topik mengenai hubungan kami akhir-akhir ini. Dia sangat ingin menikahi ku dan aku pun tidak jauh berbeda dengan dirinya. Aku ingin menikah dengannya dan memiliki Davin seutuhnya. Tapi aku tahu bila situasi kami saat ini benar-benar tidak mendukung. Keluarganya masih sangat mengkhawatirkan sehingga aku pikir belum saatnya kami menikah.


"Davin, kamu tahu jika aku juga menginginkan apa yang kamu inginkan. Tapi aku tidak ingin egois, aku tidak ingin menyulitkan posisimu di mata keluarga mu. Mereka pasti menunggu kamu lengah, menemukan kelemahan mu agar bisa menjatuhkan dirimu dan aku tidak menginginkan hasil buruk ini. Aku tidak ingin kamu jatuh lagi Davin, jadi mungkin untuk saat-saat ini kita lebih baik menunggu waktu yang baik saja. Tapi kamu tidak perlu khawatirkan, sayang," Kataku sambil meraih tangan besarnya.


Kedua tangan kami saling bersentuhan, merasakan suhu hangat dari sentuhan kulit masing-masing sebelum bergerak untuk saling menggenggam.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi. Kita akan melaluinya bersama-sama di masa depan nanti, duka ataupun suka, kita tidak akan pernah berpisah lagi." Ini adalah janji untuk diriku sendiri.


Mulai dari saat ini aku harus memupuk diriku menjadi orang yang kuat agar memiliki jiwa yang pantang menyerah sampai badai di dalam hubungan kami segera berlalu.


Tenaganya sungguh kuat!


Aku memejamkan mataku di lehernya, menghirup sepuasnya wangi tubuh Davin yang telah menjadi candu untukku dalam hidup ini.


"Aku berjanji, Davin." Bisik ku sambil melingkari leher kuatnya.


Kami berpelukan bersama, hanya berpelukan saja tanpa melakukan kegiatan apapun yang memiliki nilai ambigu. Kami juga tidak berbicara setelah itu dan hanya menenggelamkan diri di dalam manisnya perasaan hangat di hati masing-masing.


Rasanya begitu menyenangkan dan damai- tapi ini hanya sebentar saja karena beberapa menit kemudian suara teriakan Aska dan Tio langsung menghancurkan momen indah kami.


"Mommy, Tio lapal!" Tio berteriak nyaring dari ruangan sebelah.


Tio dan Aska saat ini sedang bermain di ruang tamu bersama Adit. 2 hari yang lalu Adit pulang dari negara A dengan berbagai macam hadiah yang dibeli sendiri oleh Adit. Untuk anak-anak Adit sangat suka menghambur-hamburkan uang, apalagi aku dengar jika bulan ini dia mendapatkan gaji yang fantastis, maka tidak heran dia membeli banyak hadiah untuk anak-anak.


Oh ya, ini bukan rahasia lagi jika Adit sangat menyukai anak-anak. Setiap hari kerjaannya akan bermain dengan anak-anak jika tidak mendapatkan perintah apapun dari Davin. Anehnya, anak-anak juga sangat senang bermain dengan Adit. Padahal wajah Adit sangat datar dan dia adalah orang tidak pandai menggunakan berekspresi di wajahnya. Hampir-hampir aku mengira jika dia adalah orang yang mengalami wajah lumpuh jika tidak pernah melihat Adit tertawa sebelumnya.


"Aska mau makan, Mom!" Aska ikut-ikutan berteriak dari ruang tamu.


Aku tersenyum senang dan segera menyingkir dari pelukan Davin. Tapi Davin tidak mau melepaskan ku dari pelukannya.


"Dav, lepas. Aku harus memasak sesuatu untuk anak-anak." Kataku kepadanya.


Davin berdecih jengkel,"Cih, dasar anak-anak manja!" Tapi aku tahu dia tidak benar-benar marah terhadap anaknya sendiri.


Tapi meskipun mengeluh, dia masih mau melepaskan aku dari pelukannya. Sebelum turun aku mencubit kedua pipinya dulu dan berkata,"Ini karena kamu terlalu memanjakan mereka." Kataku puas melihat ekspresi cemberut di wajahnya.


Tanpa menunggu reaksi Davin, aku lalu melarikan diri dari kamarnya dan segera ke ruang tamu untuk menyapa anak-anak sebentar. Di belakang Davin datang menyusul ku untuk menyapa anak-anak dan ingin bermain dengan mereka.


Aku tersenyum puas dan memutuskan untuk memasak sesuatu di dapur. Meskipun sudah beberapa hari tidak berada di rumah tapi dapur vila Davin tidak pernah kotor dan selalu terisi oleh bahan-bahan makanan segar. Aku dengar dari Davin jika selama kami berada di rumah sakit Davin telah memerintahkan bawahannya untuk membersihkan rumah dan mengisi ulang semua bahan-bahan dapur.


Ugh, Davin memang yang terbaik!


Ekhem, berbicara tentang memasak hari ini aku berencana membuat makanan rumahan yang sederhana dan sudah pasti memiliki rasa rindu akan rumah bila menyantapnya. Aku sangat bangga, huh!


Karena setiap makanan yang aku buat selalu dimakan dengan lahap oleh Davin dan Adit, tidak hanya tidak lahap tapi mereka juga sering meminta tambah setiap kali makan di sini.


Yah, hati wanita mana yang tidak akan senang jika masakannya dimakan dengan lahap dan mendapatkan penilaian yang baik!


Aku adalah salah satu wanita yang sangat bahagia setiap kali mendapatkan pujian dan respon yang baik!


Ini membuatku semakin mencintai dapur.


"Rein," Davin memanggil ku.


Tanpa menoleh aku menjawab,"Sebentar lagi, Dav. Aku masih belum membuat hidangan yang lain." Kataku sambil tersenyum.


Aku baru saja membuat satu hidangan dan belum menyiapkan hidangan yang lainnya tapi Davin sudah memanggil ingin segera makan!


Ugh, dia sangat tidak sabaran!


"Yah, sebenarnya aku memang sangat kelaparan tapi urusan hari ini sangat mendesak sehingga aku tidak memiliki waktu yang cukup untuk menunggu mu selesai memasak."


Dia bilang apa?