
Anggi terhanyut oleh kehangatan yang dirasakan hatinya. Mulai dari genggaman tangan Adit yang masih belum terlepas dengan diiringi semburan cahaya matahari pagi yang indah memanjakan mata, Anggi terbuai oleh perasaan manis yang belum pernah dia rasakan dalam hidup ini.
Aneh, manis ini begitu menggetarkan hatinya. Membuat darahnya berdesir nyaman diliputi oleh perasaan manis yang membuncah di dalam hatinya.
"Suka?" Suara berat Adit menginterupsi lamunannya.
Anggi menoleh, wajah cantiknya bersinar lembut oleh sentuhan cahaya matahari pagi. Ada rona merah yang menodai pipinya, membuat Anggi terlihat jauh lebih menawan dari sebelumnya.
Entahlah, mungkin karena sedang bersantai atau karena liburan, wajah Anggi jauh lebih santai daripada waktu-waktu sebelumnya.
Senyuman sumringah terbentuk dengan malu-malu di wajahnya,"Suka, mas. Terima kasih karena sudah membawaku ke sini." Kata Anggi tidak berani menatap langsung ke bola mata gelap Adit.
Adit terkekeh, suara tawanya begitu candu di dalam pendengaran Anggi. Jujur, Anggi sangat menikmati suara tawa berat nan rendah ini.
"Lain kali kita akan datang ke sini bersama anak-anak." Kata Adit seraya membawa pandangannya menatap pantulan sinar matahari yang berwarna keemasan di kejauhan laut.
Anggi terkejut. Hatinya berdebar kencang mulai menebak-nebak apa maksud Adit mengatakan ini. Anak-anak?
Anak-anak mana yang Adit maksud, apakah yang dia maksud adalah Aska dan Tio? Atau,
Bolehkah dia berharap bila Aldo dan Aldi memiliki peluang untuk masuk ke dalam mata sang pujaan hatinya?
"Tentu saja Aldo dan Aldi, memangnya siapa lagi yang kamu pikirkan selain mereka?"
Debar!
Jantung Anggi sepenuhnya berdegup dengan liar, berdetak dalam rasa manis penuh kejutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ah, ingin sekali rasanya dia menangis terisak karena anak-anaknya ternyata memiliki kesan di dalam hati sang pujaan hati. Meskipun ini hanyalah kata-kata janji belaka tapi mendengarnya saja sudah cukup apalagi bila hari itu benar-benar datang!
"Aku...aku pikir anak-anak ku...bukan..." Anggi linglung sejenak, kepala dan mulutnya berjalan tidak sinkron dalam momen ini.
"Bila mereka tahu jika mas Adit ingin membawa mereka datang ke pantai seindah ini, mungkin mereka berdua sangat senang dan tak bisa berhenti tertawa.." Anggi membayangkan betapa renyah tawa anak-anaknya saat itu.
Setelah sekian lama kehilangan sosok Ayah, akhirnya ada seseorang yang menggantikan perannya. Meskipun tidak besar dan tidak bisa berganti sepenuhnya, tapi Anggi bersyukur karena anak-anaknya bisa merasakan sentuhan hangat itu.
"Kamu benar. Anak-anak pasti tidak akan tinggal diam jika kita membawanya ke sini. Mereka akan menghidupkan sifat kekanak-kanakan mereka, berlari ke sana kemari menyentuh pasir, mencari kerang, dan bertindak heroik menantang ombak...aku bisa membayangkan akan seperti apa mereka di sini."
Untuk pertama kalinya Anggi mendengar banyak kosa kata yang keluar dari mulut rapat Adit. Sebab biasanya dia suka berbicara sedikit dengan temperamen yang dingin pula, karena itulah Anggi menjulukinya sebagai manusia batu.
Senyuman Anggi melunak begitu mengingat anak-anaknya,"Yah... mereka berdua pasti sangat heboh."
Lama membicarakan masalah anak-anak, tiba-tiba Anggi tersadar bila percakapan ini umumnya terjadi diantara pasangan suami istri. Suami dan istri, tahap ini akankah dia bisa merasakannya lagi, untuk yang kedua dan terakhir kalinya dalam hidup ini?