My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
10. (10)



"Lho, kak Anggi?!" Seorang wanita memanggil Anggi dari kejauhan.


Anggi menoleh ke arah wanita itu, mengernyit bingung, dia tidak memiliki kesan apapun dari wanita ini. Dengan kata lain dia tidak mengenali wanita ini.


Wanita itu sangat senang melihat Anggi. Dia langsung berlari menghampiri Anggi dengan lemak menggumpal di sekeliling tubuhnya. Di belakang wanita itu seorang gadis ramping juga berjalan tergesa-gesa mengikuti.


"Kak Anggi kemana aja? Aku cari kok enggak ketemu-temu." Matanya berkilat aneh saat melihat kalung berlian Anggi dan perhiasan Anggi yang lainnya.


Semua perhiasan ini adalah pemberian Rein jadi Anggi selalu menggunakannya kemana-mana. Dan karena dia adalah ketua pelayan di mansion Demian, segala sesuatu kebutuhannya akan terpenuhi termasuk beberapa bonus perhiasan yang sering dialokasikan oleh Rein sendiri. Sedangkan Anggi sendiri agak enggan membeli perhiasan semacam ini. Bukan karena tidak mampu membeli tapi karena terlalu mahal. Orang-orang seperti dirinya lebih baik menabung untuk masa depan anak-anaknya karena di rumah hanya dialah tulang punggung keluarga.


Namun yang paling dia syukuri adalah Tuhan selalu punya jalan untuk hidupnya. Dia juga seorang perempuan dan sangat menyukai perhiasan tapi karena harus menabung, dia tidak berani memikirkan perhiasan. Untungnya orang-orang di sekitarnya adalah orang yang baik dan penyayang. Dia diberikan pekerjaan dan beberapa gram perhiasan bertahtakan berlian yang sungguh sangat tinggi nilainya.


Anggi sangat senang dan berjanji akan menjaga perhiasan ini dengan hati-hati.


"Kamu adalah?" Anggi samar-samar mulai mengingat dua orang ini.


Kalau tidak salah mereka berdua adalah sepupunya dari pihak Ayah. Sepupu... hubungan mereka harusnya cukup dekat tapi tidak setiap keluarga memiliki hubungan yang hangat. Kedua sepupunya ini cukup beruntung karena Paman bekerja sebagai PNS sehingga kebutuhan hidup mereka jelas tidak seketat milik keluarga Anggi. Sedangkan Anggi sendiri adalah keluarga miskin. Ayahnya bekerja serabutan dan Ibunya tukang cuci baju. Karena nilai kemiskinan ini mereka jarang dikunjungi kerabat maupun keluarga yang lain, dan pada kenyataannya Anggi tahu jika mereka semua menjaga jarak dari keluarganya yang miskin.


Mungkin mereka semua takut bila dia dan keluarganya datang meminta bantuan kepada mereka. Menurut Anggi ini wajar-wajar saja karena kasus seperti ini sudah biasa terjadi di masyarakat.


"Aku Widia, Kak, dan ini adikku Tina. Kak Anggi kok cepat banget lupa sama kami mentang-mentang udah jadi orang kaya sekarang." Katanya dengan makna tertentu.


Sinar serakah di dalam matanya tidak bisa disembunyikan saat melihat penampilan Anggi yang sangat mewah. Menggunakan pakaian bermerek, perhiasan berlian, dan perawatan kulit yang bagus, dia jelas menginginkan apa yang Anggi rasakan.


Anggi tersenyum dingin. Mana mungkin dia tidak tahu apa yang dipikirkan kedua sepupunya ini? Dia adalah manusia yang bodoh bila tidak bisa melihatnya.


"Oh, maaf aku tidak mengenal kalian. Lagipula aku tidak memiliki kerabat ataupun keluarga yang memiliki nama ini." Kata Anggi acuh tak acuh.


Wajah Widia dan Tina langsung berubah merah karena malu. Mereka tidak tahu apakah Anggi mengatakan yang sebenarnya atau hanya untuk mengejek mereka berdua. Tapi karena Anggi adalah bank berjalan yang harus mereka dekati, maka ketidaknyamanan ini dengan paksa mereka telan.


"Tuh kan ingatan kak Anggi benar-benar bermasalah. Aku dan Tina adalah adik sepupu kakak dari pihak laki-laki, apa kakak ingat?" Widia dengan sabar mengingatkan.


Tersenyum dingin,"Tidak, aku tidak ingat. Aku yakin tidak punya keluarga yang bernama Widia ataupun Tina karena setahuku keluargaku hanya terdiri dari kedua orang tuaku dan anak-anak ku." Kata Anggi mengejek.


Mendengar kata-kata penuh ejekan Anggi sekarang mereka mengerti jika Anggi memang tidak ingin mengenali mereka sebagai keluarga. Hanya karena dia menjadi orang kaya sekarang, dia berbalik memunggungi keluarga dan bertindak seolah-olah mereka tidak memiliki hubungan apapun.


Widia sekarang sangat jengkel menghadapi sikap acuh tak acuh Anggi. Dia marah dan tidak mau lagi berpura-pura sok ramah. Mereka adalah keluarga sedarah dan Anggi tidak akan bisa memutuskan hubungan persaudaraan mereka sekalipun dia menolak untuk mengenal mereka berdua.


"Kak Anggi jangan seperti ini. Aku dan Tina adalah sepupu kakak jadi kak Anggi tidak harus berpura-pura tidak mengenal kami berdua. Bahkan walaupun kak Anggi sekarang menjadi kaya raya, kami berdua tetap akan menjadi sepupu kakak dan tidak akan pernah terputus sampai kapanpun." Kata Widia berapi-api.


Oh, Anggi rasanya ingin sekali tertawa. Mengapa orang-orang ini sangat lucu- ah, lebih tepatnya mengapa mereka berdua terlihat sangat tidak tahu malu?


"Kalian sangat lucu." Ucap Anggi dengan senyum mengejek di bibirnya,"Baru setelah aku menggunakan pakaian bermerek dan perhiasan berkelas kalian mau mengakui ku sebagai sepupu atau keluarga kalian. Kemarin saat aku masih menjadi office girl, kemana kalian berdua pergi? Saat Ayah dan Ibuku bekerja serabutan untuk mengais rezeki, aku tidak pernah melihat kalian berdua datang ke rumah untuk bertukar salam. Dan ketika aku melahirkan kedua anakku, aku juga tidak melihat batang hidung kalian berdua. Kalian yang mengaku keluargaku, memiliki hubungan darah denganku, dan tidak akan pernah terputus sampai kapanpun tidak pernah menunjukkan ketulusan ini saat itu. Aku ingat betul saat ayah datang ke rumah paman untuk meminjam uang, pintu rumah kalian tertutup rapat seolah-olah kalian tidak berada di dalam rumah. Padahal saat itu aku melihat kalian dan paman juga bibi sedang menonton televisi bersama dari celah jendela. Tidak mendengar, hah? Jelas-jelas bibi beberapa kali mengintip dari balik jendela untuk memastikan kami telah pergi. Kalian pikir aku dan ayah tidak melihat kelakuan kalian kepada keluarga kami? Aku melihatnya dan berjanji tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku. Sekarang setelah aku menjadi orang yang mampu dan mendapatkan pekerjaan yang sangat baik, kalian tiba-tiba datang untuk mengakui ku sebagai keluarga? Hah, apa kalian aku adalah wanita yang bodoh? Apa kalian pikir aku akan dengan senang hati mengakui kalian sebagai keluargaku setelah semua yang kalian lakukan kepada keluarga ku? Bermimpi lah! Kalian memang keluargaku karena darah di tubuh kita tidak bisa ditampik keberadaannya, tapi untuk hubungan kekeluargaan kita yang sangat asing, aku mengatakannya secara jelas jika kalian tidak ada bedanya dengan orang-orang asing di luar sana." Kata Anggi tajam dan blak-blakan.


Bagaimana susahnya hidup, mana mungkin dia melupakannya?


Keluarga yang mengenalnya hanya beberapa orang, itupun mereka adalah keluarga jauh tapi meskipun begitu masih memiliki hati nurani yang tulus. Sedangkan dari pihak Paman dan Bibinya sendiri, Anggi tahu betul betapa mereka sangat ingin bersembunyi dari Ayah dulu karena keadaan mereka yang miskin dan melarat.


Maka setelah semua, dia tidak akan memberikan wajah kepada keluarga yang menjauhinya dulu bak menghindari wabah penyakit. Dan dia juga akan membalas budi dengan tulus kepada keluarga yang telah mau mengulurkan tangan. Anggi orang yang seperti ini dan memang selalu seperti ini untuk keluarganya.


"Kak Anggi..." Wajah Widia langsung menjadi pucat tanpa bisa berkata-kata.


Kesalahan di masa lalu, dia tidak berharap Anggi masih mengingatnya dengan baik dan bahkan menggunakan kesalahan itu untuk memperjelas hubungan di antara mereka.


"Kak Anggi mungkin salah paham. Aku dan orang tua ku tak mungkin mengabaikan keluarga kak Anggi. Bukankah orangtuaku adalah saudara paman? Jadi mana mungkin mereka menghindari saudaranya sendiri." Tina berbicara dengan nada yang lembut jauh lebih tenang daripada Widia yang memiliki kesabaran rendah.


Menatap Tina yang bersikap sok lembut di depannya, Anggi tersenyum jijik. Wanita sok lembut ini adalah wanita bermuka dua. Kejahatannya di dalam benak Anggi masih terukir jelas dan tidak akan mudah dilupakan. Sebab karena kejahatannya itu dia menikah dengan mantan suaminya yang brengsek, sungguh ironis.


Jantung Tina berdegup sangat kencang karena gugup. Di dalam hatinya dia telah menebak kejahatan apa yang Anggi ingin singgung.


"Kamu memfitnah ku berzina dengan mantan suamiku saat itu, karena itulah aku menikah dengannya di usia yang sangat muda. Menikah dengannya saat itu bukanlah masalah karena aku juga mencintainya, tapi nama baikku yang telah kamu cemarkan sungguh tidak bisa ku lupakan. Gara-gara tuduhan mu, seringkali orang-orang memandang rendah keberadaan ku. Hah, lupakan saja hubungan darah yang kalian agung-agungkan, dengan kejahatan ini saja aku sudah cukup muak berurusan dengan kalian, sungguh memilukan." Sambung Anggi dengan nada jijik di suaranya.


Saat itu dia berpacaran dengan mantan suaminya. Hubungan mereka baik-baik saja dan berjalan dengan baik. Sebagai pasangan kekasih mereka juga tidak melakukan tindakan yang aneh-aneh karena sadar kalau itu tidak pantas. Tapi siapa yang mengira bila sepupunya ini tiba-tiba mengirim kata-kata buruk untuk mencemarkan nama baiknya. Dia tidak berzina tapi karena masalah ini dia dan mantan suaminya sepakat untuk menikah. Toh, saat itu mereka juga saling menyukai. Jadi meskipun sakit hati kepada Tina, dia diam-diam menekan sakit hati itu di dalam hatinya sambil memperingati dirinya untuk tidak berhubungan lagi dengan Tina.


Widia menatap adiknya kesal. Dia pikir pekerjaan adiknya sangat bersih tapi Anggi rupanya telah melihat tindakan kotornya. Dan karena ini mereka tidak bisa memiliki hubungan dekat dengan Anggi. Hei, Anggi sekarang orang kaya. Dia membeli rumah yang sangat bagus di kota dan juga menggunakan barang-barang mewah. Lihat saja apa yang Anggi kenakan saat ini, mata mereka berdua berkilat cemburu.


Memiliki hubungan dekat dengan Anggi memiliki banyak keuntungan. Pertama, mereka bisa menjalin koneksi dengan orang-orang kita yang sebelumnya tidak bisa mereka jangkau. Kedua, uang dan harta bisa dialokasikan dengan mudah karena Anggi bekerja di sebuah keluarga besar, mereka bisa membeli apapun yang mereka inginkan dan pada saat yang sama level mereka akan naik menjadi kelurga terpandang. Bukankah ini sangat menyenangkan?!


Dan terakhir, dengan mengikuti Anggi mereka juga dapat berkenalan dengan laki-laki tampan dan terpandang dari keluarga kaya raya. Ini adalah bagian yang paling penting dari tujuan kedatangan mereka berdua.


Tidak disangka semua harapan mereka langsung pupus karena Anggi sama sekali tidak mau memberikan wajah sedikitpun kepada mereka. Cemas dan panik memenuhi hati mereka berdua. Berpikir keras mencari solusi apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki hubungan mereka sebelumnya.


Widia menggigit bibirnya dan memutuskan untuk berbicara lagi,"Kak Anggi-"


"Mama!" Suara teriakan nyaring anak-anak menghentikan ucapan Widia.


Anggi melihat kedua anaknya berlari keluar dari gerbang. Tidak ingin diam saja, Anggi berlari kecil menghampiri anak-anak, menunduk sedikit seraya merentangkan kedua tangannya bersiap untuk mendapatkan pelukan hangat kedua anak-anaknya.


"Aldi, Aldo! Mama kangen banget sama kalian." Ucap Anggi terharu setelah merasakan suhu hangat dari anak-anaknya.


Aldi dan Aldo memeluk Anggi sangat erat. Di bawah sinar matahari siang, wajah anak-anaknya memerah karena bahagia.


"Mama akhirnya pulang. Aku dan kak Aldo sangat merindukan Mama!" Kata Aldi dengan senyuman lembut di wajah kekanak-kanakannya.


Anggi mengusap puncak kepala putranya dengan ekspresi permintaan maaf,"Maafin, Mama, yah baru pulang sekarang. Pekerjaan Mama tidak bisa ditunda dan Mama juga sibuk mengurus segala macam pekerjaan di sana." Jelas Anggi ala kadarnya.


Anak-anak berpikiran sederhana jadi jawab saja seadanya.


"Em, hei Aldo dan Aldi?" Widia memanfaatkan kesempatan ini untuk menyapa anak-anak Anggi.


Dia tidak akrab dengan anak-anak kecil dan dia juga tidak terlalu suka anak-anak kecil. Tapi karena ini adalah anak Anggi, dia harus memaksakan dirinya bersikap akrab dengan anak kecil.


"Siapa?" Aldi dan Aldo tidak mengenali wanita dengan lemak menggumpal dimana-mana ini.


Dia sangat asing di mata mereka berdua.


Anggi mengabaikan Widia dan Tina yang bersikap sok dekat anak-anaknya. Sebelum kedua anaknya diracuni, dia menarik tangan anaknya dan mengirim mereka masuk ke dalam mobil bahkan tanpa mengatakan sepatah pun kepada Widia.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Anggi menatap mereka berdua dengan ekspresi mengejek sebelum akhirnya masuk. Meninggalkan ekspresi muram di wajah mereka berdua yang terlihat sangat lucu, ah!


Kapan lagi melihat mereka berdua tampak seputus asa ini jika bukan hari ini?


Setelah mobil Anggi menjauh, Widia dan Tina menghentakkan kaki mereka marah.


Tak pelak, semua kata-kata ejekan Anggi sebelumnya telah menampar mereka berdua tanpa sempat untuk melakukan pembelaan. Mereka kesal dan menyumpah serapahi Anggi karena bersikap sombong.


"Sekarang gimana, kak?" Tanya Tina putus asa.


Dia marah tapi tidak mau putus hubungan dengan Anggi. Dan bila dia tahu suatu hari nanti Anggi akan menjadi orang kaya, maka dia tidak akan mungkin bertindak bodoh dengan menyebarkan kata-kata buruk untuk mencemari nama baik Anggi.


Widia merenung, terlihat sedang memikirkan sesuatu. Namun setelah beberapa saat berlalu, dia hanya mengatakan ini,"Ayo pulang dulu, kita akan membicarakan ini di rumah bersama Ibu dan Ayah."


Biar bagaimanapun masalah ini harus dibicarakan dengan kedua orang tua mereka untuk memutuskan langkah apa yang selanjutnya mereka lakukan. Toh, mereka berdua tidak bisa melakukan itu sendirian.