My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
42. Amukan Davin



"Gue mau bawa Tio kerja setelah pulang sekolah besok." Jawab Rein hati-hati.


"Lo gila, Rein!" Panik Dimas bercampur marah.


"Lo tahu sendiri kan di perusahaan ada siapa? Lo tahukan kalau ada Davin di sana! Kalau Davin ketemu sama Tio gimana? Kalau dia curiga sama Tio gimana?. Lo gak takut Davin bakal apa-apain Tio?" Teriak Dimas mencerca Rein dengan berbagai macam pertanyaan.


Dia gak mau Rein dan Tio disakiti lagi oleh Davin. Dia gak mau, dan dia lebih gak mau lagi kalau Davin tiba-tiba ingin mengambil Rein darinya.


Rein menghela nafas panjang. Dia memukul paha Dimas kesal.


"Sakit, Rein!" Dimas mengusap-usap pahanya yang menjadi korban.


"Sakit? Kuping gue lebih sakit lagi dengar lo teriak-teriak! Lo juga lihat kan Tio lagi tidur? Kalau lo teriak-teriak kayak tadi bukan hanya Tio bisa bangun tapi dia juga bisa nangis ketakutan kirain ada dinosaurus nyasar masuk ke sini!" Amuk Rein sudah seperti emak-emak di kampung.


"Iya maaf-maaf, habisnya lo nakutin, Rein. Gue kan takut terjadi apa-apa sama lo dan Tio." Dimas sudah seperti anak kecil yang tertangkap basah membuat kesalahan.


"Lo gak usah khawatir, Dim. Keputusan gue ini udah dipikirin matang-matang. Lagipula di kantor nanti Tio gak bakal kemana-mana kok. Dia akan nungguin gue di dalam ruang office girl sampai kerja gue selesai. Lagian Davin juga gak akan mikir aneh-aneh seandainya ketemu sama Tio nanti. Karena baginya gue bisa hamil itu cuma ada di dalam mimpi jadi lo gak perlu khawatir, Dim."


Rein sejujurnya tidak yakin ketika mengingat pertanyaan Davin tadi siang mengenai siapa Tio. Apalagi saat itu Davin mencoba menghubungkan Tio dengan masa lalu mereka berdua. Rein sangat panik dan gugup.


Tapi apa yang harus dia lakukan?


Dia tidak tahu harus menitipkan Tio kemana karena dia tidak punya kenalan ataupun kerabat di kota ini.


Tetangga?


Jangan terlalu berharap. Di gedung apartemen ini mereka semua tidak ada bedanya dengan orang asing yang kebetulan tinggal di gedung yang sama. Mereka tidak bertegur sapa dan terkesan saling menjauhi. Istilahnya mereka adalah orang-orang asing yang tidak suka diganggu atau dicampuri kehidupannya.


Jadi, Rein tidak punya pilihan selain membawa Tio ke kantor sambil berharap-harap cemas agar Davin tidak bertemu dengan Tio.


"Tapi gue gak yakin dengan keputusan lo, Rein."


Rein melambaikan tangannya santai sebelum dengan hati-hati mengangkat badan gembil Tio yang sudah tidak ringan lagi. Dia tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini dan ingin segera tidur karena agak capek setelah beraktivitas seharian.


"Mau gue bantu, enggak?" Dimas bangun ingin membantu.


Rein menolak.


Rein kemudian masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan Tio dengan hati-hati di atas kasur sebelum menutup pintu dan mematikan lampu kamar.


"Sayang, mimpi indah. Semoga hari esok tidak semenyakitkan hari ini." Bisik Rein ringan, membawa Tio ke dalam pelukannya dan mulai memejamkan mata untuk memasuki dunia mimpi.


...🌼🌼🌼...


"Tio tunggu Mommy di sini, yah. Nanti kalau Tio lapar atau haus tinggal buka tas sekolah, okay?" 


Tio masih belum terbiasa dengan tempat baru. Kedua mata kekanak-kanakannya melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu.


"Mommy kita lagi dimana?"


Rein mengusap kepalanya.


"Kita lagi di tempat Mommy kerja jadi Tio jangan nakal, okay, biar Mommy gak dimarahin sama orang."


Kedua mata Tio membesar terlihat sangat menggemaskan. Pada saat ini dia benar-benar terlihat seperti anak kecil murni tanpa ada sentuhan rasa dewasa.


"Okay, Mommy! Tio janji tidak akan pelgi kemana-mana." Dia berjanji dengan mudah.


Rein puas. Dia mengusak-usak puncak kepala Tio sayang sebelum pergi untuk bekerja.


"Rein, lo akhirnya datang!" 


Rein baru saja keluar dari ruang office girl tapi sudah dipanggil oleh seseorang. Itu adalah rekan kerja Rein, dia berlari kecil tampak terburu-buru ingin segera menjangkau Rein.


"Ada apa, Mbak?" 


"Pak Davin..Pak Davin dari pagi kerjaan ngamuk-ngamuk terus gara-gara lo gak datang bawain dia kopi. Dan lo harus tahu hampir semua departemen dimarahi sama Pak Davin, para karyawan jadi stres dan tidak ada yang berani istirahat siang ini!"


Rein,"...." Bukankah dia tidak menyukai kopi buatan ku!


Bersambung..