
"Ya Tuhan, Mbak! Kalau bukan karena anak gue lagi ada masalah di rumah penitipan anak, gue mana mungkin izin pulang lebih cepat dari jadwal. Ini keadaan darurat, Mbak. Pengasuh anak gue tadi nelpon minta gue segera ke sana!" Rein masih kukuh mendebat Mbak Anggi.
"Kan lo bisa ke sana setelah kita pulang kerja, biasanya selalu gitu'kan?" Mbak Anggi bersikeras Rein tidak bisa pergi.
"Kenapa lo masih belum ngerti juga ya Tuhan!" Rein rasanya ingin menangis saja.
Suasana diantara mereka berdua menegang, bahkan rekan-rekan kerja yang diam-diam menonton perdebatan tidak berani bersuara. Mereka tidak bisa ikut campur urusan Rein dan Mbak Anggi karena itu bukanlah urusan mereka.
"Rein, ada apa?"
"Dimas!"
Dimas masuk ke dalam pantry ketika mendengar suara perdebatan Rein dan Mbak Anggi. Awalnya dia turun ke lantai 3 untuk membuat kopi, tapi begitu sampai di sana dia tidak mengira akan mendengar suara pertengkaran dan salah satu suaranya adalah milik Rein!
Tanpa menunggu waktu Dimas langsung masuk ke dalam.
"Rein, lo kenapa?" Wajah Rein terlihat sangat merah dan bahkan kedua matanya juga ikut memerah. Ada riak-riak tipis dari air mata yang coba ditahan.
"Dim," Rein langsung meraih tangan Dimas seerat mungkin.
"Lo kenapa?" Dimas masih belum mendengar jawaban dari pertanyaannya.
"Tadi pengasuh nelpon gue. Dia bilang Tio ada masalah di rumah penitipan anak dan meminta gue untuk segera ke sana. Gue mau ke sana tapi gak diizinin. Dim, tolongin gue.." Mohon Rein.
Dimas mengeratkan genggaman tangan Rein merasa marah. Rein sudah seperti ini tapi Mbak Anggi tidak mau mengizinkannya keluar?
Bukankah ini sudah keterlaluan.
"Lo keluar sama gue." Kata Dimas tanpa mempertimbangkan keberadaan Mbak Anggi.
"Pak Dimas perusahaan-"
"Gue yang tanggung jawab." Potong Dimas dingin menahan amarah.
"Perusahaan memang punya peraturan tapi bukan berarti gak punya perasaan. Untuk kasus-kasus seperti ini perusahaan akan meringankan aturannya agar pekerjanya bisa lebih nyaman dan ini juga berlaku untuk Rein atau siapapun itu selama dia bekerja di sini. Masalah ini..gue gak akan mempermasalahkannya tapi lain kali kalau lo mengulangi kesalahan yang sama, percaya atau enggak gue akan ngebuat lo diberhentikan dari perusahaan ini." Ancam Dimas sebelum menarik Rein pergi.
Mbak Anggi tiba-tiba menyesali keputusannya mempersulit Rein tadi. Jika dia tahu Dimas akan ikut turun tangan maka bukannya Rein yang dipersulit tapi justru kebalikannya, dia yang akan dipersulit di sini.
"Mbak Anggi, lo ternyata gak sebaik yang gue kira. Lo udah ngecewain gue." Revan entah sejak kapan sudah berdiri di samping Mbak Anggi.
Revan mengangkat bahunya tidak perduli,"Gak perlu, Mbak. Sekarang gue udah tahu warna asli lo, gue gak bisa percaya lagi sama lo. Mengenai kesepakatan kita hentikan sampai di sini aja, bantuan lo udah gak berarti apa-apa buat gue." Lagian dia bisa mendapatkan Rein tanpa perlu menggunakan jasa Mbak Anggi.
Hah, hanya saja dia cukup terkejut dengan fakta yang dia dengar hari ini bahwa Rein sudah punya anak dan laki-laki yang bernama Dimas tadi.. apakah laki-laki itu adalah suaminya atau bukan?
Untuk saat ini Revan harus memendam semuanya.
"Rev, kita bisa..."
Revan segera pergi tanpa melihat ke belakang. Meninggalkan Mbak Anggi yang dilanda frustasi karena masalah ekonomi dan permasalahan pekerjaannya di sini. Dia takut Dimas akan menggunakan kuasanya di perusahaan ini untuk memecat Mbak Anggi yang sejujurnya tidak punya posisi penting.
Dia hanya wakil pengawas di office girl karena itulah dia bisa berbuat sewenang-wenang kepada Rein.
"Rein pasti tidak mau berteman denganku lagi."
...🌼🌼🌼...
"Dim, lo bolos?" Rein sudah duduk di belakang Dimas.
Dimas tidak punya mobil, hanya motor tinggal tulang yang sudah menemaninya sejak masa SMA 5 tahun yang lalu.
Bukannya Dimas gak mau beli motor baru atau beralih membeli mobil seperti rekan-rekan kerjanya yang lain. Dimas adalah tipe orang yang hemat. Selama motornya masih bisa digunakan lalu kenapa harus membuang-buang uang untuk membeli yang baru?
Dimas memikirkan masa depannya kelak dan lebih suka menabungnya.
"Enggak kok, tadi diparkiran gue udah telepon manager bilang kalau gue izin pulang duluan." Jawab Dimas enteng.
"Dim, makasih. Gue cuma lo doang di dunia ini."
Dimas tersenyum.
"Bukan apa-apa, Rein." Tapi gue sangat berharap posisi ini tidak akan pernah digantikan oleh siapapun, termasuk Davin.
Mereka kemudian pergi ke rumah penitipan anak yang tidak terlalu jauh dari perusahaan Davin. Ini hanya sebentar karena 5 menit kemudian mereka akhirnya sampai di depan halaman rumah penitipan anak, tempat yang dibangun sangat bersahabat untuk anak-anak.
"Gue duluan, Dim."