
Tapi sebelum dia bisa menyentuh tangan Ail, suara teriakan Dimas menghentikan aksinya.
"Ail, ayo pulang!" Teriak Dimas beberapa meter jaraknya dari Ail dan Roni.
Ail mengejang kaget, satu detik kemudian dia membawa langkahnya mundur ke belakang. Karena sangat shock, Ail tidak sadar telah mengambil langkah mundur terburu-buru dan lupa jika di belakangnya ada sawah. Kaki kirinya terperosok ke dalam sawah sehingga keseimbangan tubuhnya goyah dan dia pun jatuh ke sawah tanpa sempat ditolong. Semuanya begitu tiba-tiba.
Entah itu Dimas, Fani, ataupun Roni langsung membeku melihat pemandangan ini.
"Ugh..." Seluruh tubuh Ail menjadi basah dan tertutupi lumpur.
"Aku..." Ail melihat langit biru di atasnya linglung, lalu melihat ke samping kiri dan kanan yang dipenuhi oleh tanaman kangkung berlumpur, kaget, dia kian linglung saat menangkap wajah kosong Roni di seberangnya.
Roni terpaku melihat betapa kacau penampilan Ail sekarang. Kepalanya lambat beroperasi dan merespon pergerakan tiba-tiba Ail yang sudah masuk ke area tanaman kangkung saja.
"Hahahaha.." Keheningan semua orang langsung pecah ketika mendengar suara renyah Fani.
Fani kaget melihat Ail masuk ke dalam lumpur, akan tetapi semua keterkejutannya digantikan oleh rasa gatal di mulutnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menahan diri melihat kesialan Ail di atas lumpur. Anak pungut ini terlalu sering mengganggu waktu bersamanya dengan Dimas jadi ketika dia benar-benar mendapatkan bencana kesialan, Fani langsung merasakan sebuah sensasi kepuasan yang melegakan.
"Ail.. Ail!" Dimas langsung berlari menuju Ail.
Tidak hanya Dimas saja, namun Roni yang paling dekat dengan Ail pun langsung bergerak turun ke sawah membantu Ail. Namun ini sangat aneh. Saat Roni akan menyentuh Ail untuk membantunya bangun, Ail tiba-tiba menepis tangannya kasar dengan kepala tertunduk sama seperti sikapnya beberapa saat yang lalu.
"Jangan malu, Ail. Tidak apa-apa pulang ke rumah nanti kamu bisa mandi dan bersih-bersih lagi." Hibur Roni mencoba membantu Ail bangun lagi.
Tapi sebelum tangan Roni memegang pundak Ail, tangan besar Dimas telah bergerak cepat menghentikan tangan Roni. Roni terkejut, menatap Dimas dengan tidak nyaman.
"Maaf menyusahkan kamu tapi aku bisa sendiri mengurus Ail." Kata Dimas mengucapkan maaf tapi ekspresi wajahnya memiliki rasa sentuhan yang dingin.
Roni bingung dengan sikap Dimas yang tiba-tiba tidak ramah karena biasanya Dimas adalah laki-laki yang sopan dan mudah bergaul dengan anak-anak desa sekalipun dia telah menghabiskan banyak tahun-tahun di kota. Bagaimana menjelaskannya, entah mengapa Roni merasa jika Dimas memiliki sentuhan marah di bola matanya.
"Oh iya, aku sangat panik dan tanpa sadar ingin membantunya." Kata Roni malu.
Tangannya dilepaskan oleh Dimas dan dia dengan canggung naik kembali ke tanah. Membiarkan Dimas membantu Ail bangun dari lumpur.
"Terima kasih atas bantuan mu. Tapi selama ada aku, dia tidak membutuhkan bantuan siapapun." Kata Dimas dengan nada suara yang masih tidak ramah.
Canggung, Roni tidak tahu harus membalas apa jadi dia memutuskan hanya diam di pinggir sawah sambil menyaksikan Dimas membujuk Ail.
Ail tidak berani menatap Dimas karena malu tapi tangan kecilnya entah sejak kapan meraih kain celana Davin yang kotor karena berjongkok di atas lumpur.
"Ail mau pulang, Paman." Kata Ail seperti suara nyamuk saking kecilnya.
Dimas mengangguk mengerti. Tangan besarnya mengusap wajah lembut Ail yang telah dinodai tanah berlumpur. Meskipun tidak bersih tapi setidaknya Ail tidak terlalu kotor dengan lumpur mendampel di wajah cantiknya.
"Baju kamu basah." Kata Dimas masam ketika melihat baju kotor Ail yang telah dinodai air berlumpur menunjukkan lekuk tubuh Ail yang istimewa.
Kesal, Dimas tanpa mengatakan apapun langsung melepaskan pakaiannya hingga menyisakan kaos tipis dan membantu Ail memakai pakaiannya itu.
"Paman tidak punya baju lagi." Kata Ail masih tidak berani menatap Dimas.
Dimas tidak mengatakan apa-apa, tampak masih kesal. Sikap diamnya ini secara sadar mengabaikan Ail. Ail tahu jika Dimas sedang marah padanya karena sejak dibully dan dilecehkan bertahun-tahun lamanya, hatinya mulai mengembangkan kepekaan terhadap emosi seseorang jadi ketika dia merasakan emosi kesal Dimas, dia tidak lagi bersikap cerewet dan membiarkan Dimas melakukan apapun kepadanya. Bahkan saat Dimas duduk berjongkok di depannya Ail tidak lagi menolak dan langsung naik ke punggung Dimas.
Setelah Ail akhirnya naik punggungnya, Dimas segera berdiri tapi tidak langsung naik ke atas. Pertama-tama dia menebalkan wajahnya meraba pinggul Ail, untuk sesaat tubuh Ail langsung menegang, namun ini hanya sesaat karena setelah Dimas menemukan ujung bajunya yang sedang dipakai Ail, dia menariknya ke bawah untuk menutupi area pantat Ail yang basah. Setelah benar-benar tertutup, Dimas menyingkirkan tangannya dan langsung naik ke atas.
"Mas Dimas..." Panggil Fani masam.
Fani menurutnya masih kecil tapi entah kenapa dia selalu merasa bila keberadaan anak ini sangat mengancam hubungannya dengan Dimas.
"Pakaian Mas..." Fani melirik Ail tidak puas dan memiliki keinginan untuk menjauhkan Ail dari Dimas.
Tapi...rasa asam dihatinya agak berkurang ketika melihat bentuk tubuh proporsional Dimas yang sangat menggiurkan. Heh, orang-orang di desa sangat jarang memiliki bentuk tubuh seseksi ini. Kalaupun ada, milik mereka pasti tidak sebagus Dimas. Karena Dimas adalah laki-laki tinggi yang tampan dengan kulit putih yang tidak terlalu pucat seperti wanita. Sudah begitu, dia juga memiliki bentuk tubuh yang sangat seksi dan menawan, gadis manapun pasti akan terpesona melihatnya.
"Aku harus pulang dulu. Ini sudah petang." Kata Dimas sambil memimpin jalan ke depan, meninggalkan Roni dan Fani di belakang.
Roni ingin berbicara tapi Dimas sudah lebih dulu pergi jadi dia buru-buru mengambil karung sayuran yang belum selesai dia ikat dan mengangkatnya ke punggung dengan mudah. Fani juga tidak ingin kalah, dia langsung mengikuti Dimas dari belakang sambil menatap cemburu tubuh kurus Ail yang menempeli punggung kokoh Dimas.
"Anak pungut ini... sangat menyebalkan." Gumam Fani cemburu.
Di jalan Fani berusaha mengajak Dimas berbicara tapi selalu dibalas dengan singkat dan dingin oleh Dimas. Rupanya Dimas sedang dalam keadaan tidak mood untuk berbicara jadi Fani dengan berat hati tidak bertanya lagi.
Sementara Roni dan Fani sedang dilanda perasaan masam di hati mereka, Ail yang tengah digendong oleh Dimas juga memiliki perasaan tidak aman di dalam hatinya. Selama Dimas membawanya pulang ini pertama kalinya Ail melihat Dimas sangat marah kepadanya. Biasanya Dimas hanya menegurnya dengan kata-kata yang lembut tapi kali ini, kata-katanya tidak hanya tidak lembut tapi sikapnya pun acuh tak acuh.
"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya untuk pergi bersamaku?" Suara Dimas dingin.