My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
6. (6)



"Aku... " Anggi menundukkan kepalanya.


Bagaimana mungkin dia menjawab bila alasan kenapa dia mau bekerja di mansion Demian adalah karena Adit sendiri. Dia menyukai Adit dan sudah hukumnya bila orang yang sedang jatuh cinta memiliki keinginan untuk tetap dekat dengan orang yang dia sukai tidak terkecuali Anggi sendiri. Dia memiliki keinginan untuk melihat Adit semua saat, berada di jarak yang dekat dengannya dan ingin berbicara sepatah dua patah pula dengannya.


Anggi memiliki ambisi ini karena itulah dia berani bekerja sebagai asisten pribadi Rein. Tapi dia tidak sangka ketekunan telah di apresiasi oleh Rein dan Davin, mereka memutuskan menjadikan Anggi sebagai asisten pribadi Rein sekaligus kepala pelayan di mansion Demian.


"Dengan jejak masa lalu mu, aku akan mengatakannya secara jelas bila kamu akan selalu dibayangi dan masa lalu kelam itu menjadi senjata terampuh orang lain untuk menyakiti mu. Bila kamu lemah, kamu tidak akan melawan dan diam-diam menderita seperti kejadian malam ini. Karena itulah aku sarankan kamu lebih mundur sekarang sebelum kamu terluka lebih dalam lagi. Selamat malam." Ucap Adit mengakhiri kalimatnya.


Dia berjalan melawati Anggi dan keluar dari kamar. Meninggalkan Anggi di tempat yang masih terpaku dengan mulut tertutup serapat mungkin.


Dia mengusap wajahnya putus asa, menatap pintu kamarnya lelah, beberapa saat kemudian dia berpaling. Merebahkan diri di atas ranjang empuknya yang baru, terdiam, kelopak matanya bergerak ringan, tepat kedipan ketiga sebuah cairan hangat menggenangi pelupuk matanya. Berkedip lagi, cairan itu merembes keluar dari sudut matanya, membasahi bantal putih tak bernoda di bawah.


"Aku enggak mau pergi... Aku enggak mau berhenti bekerja di sini. Jika aku berhenti maka mungkin aku tidak akan memiliki persimpangan hidup lagi dengan Mas Adit. Aku tidak mau menyesal...aku harus tetap bekerja dan menjadi seseorang yang Mas Adit inginkan.." Gumam Anggi menolak pergi.


Dia tidak mau pergi maka dia harus bertahan di sini dan jika dia ingin bertahan maka satu-satunya jalan adalah menjadi wanita yang kuat, tidak mudah ditindas, jangan mudah mengalah.


"Aku enggak mau mas Adit marah!" Anggi buru-buru bangun dari kasur.


Keluar tanpa alas kaki, dia mencari beberapa pelayan yang telah menggosipkannya tadi. Dia tidak perlu berkeliling karena kedua pelayan itu masih berada di tempat mereka sebelumnya. Tertawa bersama tanpa menyadari keberadaan Anggi di belakang mereka.


"Aku pikir kalian lebih cocok jadi tukang gosip daripada kerja di sini." Suara dingin Anggi mengagetkan mereka berdua.


Punggung mereka berdua kaku, perlahan sebuah perasaan dingin mulai mengaliri punggung mereka berdua yang telah menjadi kaku.


Kedua pelayan itu sangat ketakutan. Mereka lantas membuang pekerjaan mereka dan buru-buru berbalik menghadap kemarahan Anggi.


Anggi jarang marah kepada para pelayan oleh karena itu mereka seringkali menganggap remeh Anggi sebab hanya bisa mengancam tapi tidak pernah benar-benar melakukannya.


Anggi tersenyum datar,"Kalian dipecat." Vonis Anggi segera membuat lutut mereka lemas.


"Kenapa, mbak? Apa salah kami?" Dia berteriak kaget sehingga menarik perhatian para pelayan yang lain.


Alhasil para pelayan mulai berkumpul melihat situasi menegangkan rekan kerja mereka.


"Masih bertanya? Kalian pikir perilaku kalian menggosipkan dan menjelek-jelekkan ku tadi bukan kesalahan? Dan betapa beraninya kalian sampai-sampai membawa nama nyonya Rein dalam acara gosip murahan kalian. Jika tuan Davin tahu, yakinklah hidup kalian tidak akan pernah tenang!"


Mendengar penjelasan Anggi, akhirnya para pelayan mengerti apa kesalahan rekan kerja mereka. Sekarang situasi sudah begini dan kesalahan ini juga disebabkan oleh mereka sendiri sehingga tidak ada yang mau mengangkat suara untuk menyelamatkan mereka. Pasalnya apapun yang menyangkut nyonya besar adalah tabu yang tidak bisa dibicarakan dengan mudah di mansion Demian. Dan aturan ini sudah mendarah daging sejak keluarga Demian terbentuk.


"Mbak Anggi.. Tolong jangan laporkan masalah ini kepada tuan Davin-"


"Kalian dipecat. Ini sudah menyelesaikan semua masalah yang kalian buat sendiri. Selamat malam." Setelah memberikan kedua pelayan itu kompensasi Anggi kemudian pergi.


Dia tidak kembali ke kamarnya melainkan pergi keluar dari vila untuk menghirup udara segar.


Malam ini pantai cukup ramai karena ada banyak tamu yang keluar menikmati angin laut atau sekadar duduk di pasir melihat pemandangan pantai ketika malam berawan yang sangat indah. Bahkan Anggi harus mengakui bahwa malam ini cukup indah.


"Minum?" Sapa Adit entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya.


"Ah," Anggi terkejut,"..terima kasih, mas." Anggi mengambil teh hangat di tangan Adit sambil menundukkan kepalanya.


"Kerja bagus, lain kali kamu harus melakukannya langsung agar mereka tidak berulah lagi."


"Ah.. " Pujian ini begitu tiba-tiba.