My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
208



"Ngomong-ngomong, aku sudah menghubungi perusahaan wedding yang mengurus pernikahan kita. Mereka bilang pernikahan kita bisa dilaksanakan dua hari lagi. Bagaimana, apakah kamu sudah-"


"Uhuk! Uhuk!" Rein tersedak makanannya sendiri.


Salahkan Davin yang tiba-tiba merubah topik pembicaraan, dan bodohnya lagi, topik pembicaraan yang Davin angkat adalah masalah yang sangat sensitif untuk Rein pribadi. Masalah yang telah menghantui pikirannya selama ini.


"Rein, ya Tuhan." Davin buru-buru membantu Rein minum air untuk melonggarkan tenggorokannya yang tersedak.


"Minumlah air perlahan. Jangan terburu-buru..." Ucap Davin prihatin.


Salah satu tangannya membantu Rein minum dan satunya lagi memijat punggung Rein agar sakitnya bisa diringankan.


Davin sama sekali tidak mengira jika Rein akan tersedak begitu dia membahas topik tentang pernikahan mereka.


"Aku... baik-baik saja.." Kata Rein sambil menyingkirkan gelas air minum itu dari mulutnya.


Tenggorokannya masih sakit tapi jauh lebih baik dari sebelumnya. Untungnya semua makanan itu bisa dia telan, jika tidak, akan sangat memalukan jika dia memuntahkannya di depan Davin.


"Benar?" Davin tidak yakin.


Kedua mata kekasihnya yang basah telah menjelaskan semuanya jika Rein pasti kesakitan saat tersedak.


Rein menganggukkan kepalanya meyakinkan.


"Aku baik-baik saja, Dav. Duduklah, kita harus menyelesaikan makanan kita." Kata Rein sambil mendorong Davin kembali ke tempat duduknya.


Karena tersedak, wajah Rein yang merah semakin memerah. Tampilannya saat ini cukup menggoda Davin, namun karena tidak ingin menghancurkan harapan Rein, dia berusaha menahan diri sebaik mungkin agar tidak menyeret Rein masuk ke dalam kamar.


"Maafkan aku. Apa yang aku katakan pasti membuat kamu terkejut." Memikirkan reaksi Rein tadi, dia bertanya-tanya apakah Rein belum siap untuk melangkah ke jenjang selanjutnya?


Davin tiba-tiba menjadi lemah saat memikirkannya.


"Aku...memang terkejut karena aku pikir kamu telah melupakan masalah ini--"


Tanpa menunggu Rein menyelesaikan ucapannya, Davin langsung membantahnya dengan tidak sabar.


"Bagaimana mungkin?!" Potong Davin membantah.


"Aku...aku selalu memikirkan tentang pernikahan kita tapi karena masalah kakiku, masalah ini terus menerus ditunda sampai akhirnya kita menyelesaikan masalah keluargaku. Sekarang kakiku sudah sembuh dan keluargaku tidak bisa mengganggu kita lagi, maka... tidakkah seharusnya kita melanjutkan rencana pernikahan kita? Aku...aku tahu bahwa aku tidak sabar dan langsung menghubungi mereka terlebih dahulu tanpa menunggu persetujuan mu. Itu... itu, aku melakukan itu karena aku ingin segera menikah dengan kamu. Tapi...aku melakukannya tanpa persetujuan dari mu, jadi apakah kamu belum siap?" Tanya Davin gugup.


Jarang Davin berbicara segugup ini. Ekspresi maupun tingkahnya sangat imut, pikir Rein. Seolah-olah dia melihat gambar putranya yang gugup karena ketahuan membuat masalah. Hati Rein tiba-tiba terasa sangat manis.


"Dav, aku sudah lama menunggumu mengatakan ini jadi mana mungkin aku tidak siap?!" Kata Rein berpura-pura marah.


Rein sungguh tidak berdaya melihat betapa konyol kekasihnya malam ini. Dia tidak bisa menahan diri lagi jadi dia mengulurkan tangannya untuk menjangkau pipi Davin dan meremasnya sekuat mungkin.


"Aduh...aduh, Rein, sakit." Dia memang mengeluh tapi tidak menyingkirkan tangan Rein dari wajahnya.


Dia membiarkan Rein mencubit pipinya meskipun rasanya agak sakit karena Rein sungguh tidak main-main dengan cubitannya!


"Ini karena kamu terlalu lucu, Davin!" Keluh Rein dengan tawa terendam.


"Lucu, Hem?" Suara berat Davin terdengar seksi.


Rein tertegun dan menyadari sinyal berbahaya di mata Davin. Dia tahu Davin pasti sedang memikirkan hal yang aneh-aneh di dalam kepalanya. Jadi, sebelum Davin kehilangan kendali dia segera melepaskan tangannya dari pipi Davin dan mulai bersikap normal seolah-olah dia tidak melihat ancaman di mata Davin.


"Jadi...jadi kita akan menikah dua hari lagi?" Rein memindahkan fokus Davin.


Davin dapat melihat kegugupan kekasihnya. Tapi dia memilih untuk tidak mengeksposnya karena suatu alasan yang tidak bisa dikatakan.


"Benar, kita akan menikah di pulau pribadi ku. Pulau ini baru aku beli satu bulan yang lalu saat kita masih di negara A."


Sangat cepat? Pikir Rein terkejut.


Tapi, bukankah membeli pulau berbeda dengan membeli tanah? Harganya pasti sangat mahal dan menghabiskan banyak uang.


"Lalu bagaimana dengan baju pengantin kita?" Baju pengantin yang telah jadi tahu lalu tidak bisa Rein gunakan karena ukuran badannya sudah berubah. Dia agak kurus dari tahun lalu karena sibuk memikirkan kondisi Davin dan merawat Davin.


"Kamu tenang saja, aku sudah meminta desainer ku untuk membuatkan kamu baju yang baru dengan gaya yang sama. Seharusnya besok pakaian kita sudah jadi dan bisa dicoba." Davin menjawab enteng dan percaya diri.


"Pakaian anak-anak bagaimana?" Anak-anak sudah besar dan jauh lebih tinggi.


Pertumbuhan mereka sangat baik dan mereka pun tumbuh sehat.


"Aku juga sudah meminta desainer ku membuatkan mereka pakaian. Tidak hanya mereka saja, tapi Adit dan Anggi pun juga mendapatkan bagian jadi kamu tidak perlu khawatir."


Rein senang mendengarnya tapi tetap saja... dia merasa agak khawatir dan gugup karena semuanya begitu tiba-tiba!


"Ada apa?" Davin menyadari Rein mulai gelisah, dia sangat lucu, pikirnya.


"Tidak, aku senang kamu telah mengurus semuanya." Kata Rein setengah berbohong.


"Tentu saja, aku adalah laki-laki yang bisa diandalkan." Ucap Davin bangga.