My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
182



"Mom, Mommy?" Suara kekanak-kanakan Tio mengusik petualangan Rein di dalam dunia mimpi.


Mengerjap pelan, tangan kanannya terangkat mengusap kedua matanya yang terasa gatal.


"Hem?" Rein melihat bayangan tubuh gembil Tio di depannya, terlihat agak samar.


Bingung dengan situasinya, Rein berusaha mengepaskan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya, menyentuh sudut sensitif bola mata Rein hingga dia akhirnya menjadi terbiasa.


Rein melihat putranya yang jauh lebih besar dan tinggi dari satu setengah tahun yang lalu sekarang sedang berdiri di samping sofa dengan ekspresi cemberut di wajahnya.


"Kenapa, sayang?" Rein menarik tubuhnya dari pelukan Davin dengan pelan-pelan agar tidak membangunkan kekasihnya tersebut.


Sofa tidak seluas kasur jadi Rein terpaksa tidur miring di samping Davin. Dia mengabaikan fakta bila tangan kirinya akan mengalami masalah jika mengambil posisi miring. Baru setelah melepaskan diri Davin lah dia menyadari bahwa tangan kirinya sudah mati rasa karena sudah lama ditekan oleh tubuhnya sendiri. Memang tidak sakit tapi tetap saja rasanya tidak nyaman dan aneh.


"Mommy," Tio mengambil tangan Rein untuk bersikap manja.


"Tio lapar, Mom. Tio mau makan." Keluhnya dalam keadaan perut kosong.


Tahun ini Tio hampir berusia 6 tahun dan sudah bisa mengucapkan huruf 'R'. Awal pertama kali mendengarnya, Rein dan Davin sangat terkejut, jujur, daripada senang mereka malah lebih merasa bersalah karena terlalu sibuk sehingga tidak menyadari kemajuan putra mereka. Mereka melewatkan fase pertumbuhan putra mereka yang sangat berkesan di negara A selama masa perawatan Davin.


"Okay," Rein turun dari sofa dan membawa putranya masuk ke dalam dapur dengan langkah pelan-pelan.


"Tio tunggu Mommy masak di sini, yah, dan jangan berbicara keras karena Daddy sedang tidur di sana," Rein menunjuk posisi sofa Davin dengan tangan kanannya.


Tio mengikuti arah jari telunjuk Rein dan mengangguk tanda mendengarkan. Tio memang masih kecil tapi dia sudah lama mengerti jika Davin sedang sakit dan baru keluar dari rumah sakit. Daddy nya itu membutuhkan waktu untuk istirahat seperti yang Mommy yang lakukan ketika dia ataupun Aska jatuh sakit. Setelah sembuh, Mommy pasti tidak mengizinkan mereka keluar bermain untuk alasan keamanan pemulihan tubuh. Kalau tidak, mereka akan kembali sakit dan membuat Mommy semakin sedih.


"Daddy harus banyak-banyak istirahat agar bisa bermain lagi dengan Tio dan Aska." Kata Rein dengan sabar.


Dia ingin memberikan pemahaman kepada putranya jika Davin sedang dalam kondisi yang tidak baik dan alangkah baiknya jika Tio memahami apa yang dia sampaikan.


"Mom, Kak Aska bilang Daddy sudah sembuh dan sudah bisa bermain dengan Tio."


Rein tersenyum, dia mengelus puncak kepala Tio pelan dengan perasaan lembut dihatinya.


"Daddy memang sudah sembuh tapi masih memerlukan istirahat yang buku agar bisa bermain dengan Tio seperti dulu lagi. Tio mau kan Daddy main sama Tio dan Aska kayak dulu lagi?"


Tio mengangguk cepat secara alami. Sejak Daddy sakit mereka tidak pernah bermain seperti dulu lagi karena Daddy selalu tinggal di rumah sakit. Meskipun akan ada kesempatan untuk menemui Daddy ke rumah sakit, Tio dan Aska hanya bisa berdiri patuh di sisi ranjang rumah sakit karena Daddy tidak bisa melakukan apa-apa saat itu.


Oleh karena itu ketika disebutkan Tio langsung bersemangat ingin kembali seperti dulu lagi. Dia sangat merindukan pelukan hangat Daddy ketika membawanya melarikan diri dari kejaran Aska. Itu adalah momen kecil yang sangat berkesan di dalam kepala Tio.


"Okay, jangan terlalu bersemangat. Mommy akan masakin Tio dan Aska makanan yang sangat lezat hari ini." Hatinya meleleh melihat sikap menggemaskan putranya.


"Mommy masakin Daddy juga, ya?"


Rein mengangguk pasti. Dia mengusap puncak kepala putranya sebelum memulai acara memasaknya di dapur.


Rein memasak hidangan sederhana dan mudah dibuat. Hanya tumis sayuran, sup ayam, dan beberapa lauk lainnya. Tidak lupa juga dia mengeluarkan kue kesukaan anak-anak dari kulkas dan menghidangkannya di atas meja sebagai dessert. Setelah itu, kedua tangan dengan telaten mencuci buah segar yang baru saja Adit pesan pagi ini dan mengupasnya dengan hati-hati. Setelah buahnya bersih, dia memotong buah-buah itu dengan potongan yang lucu-lucu. Ada yang berbentuk dadu, kelinci, bundar, irisan memanjang biasa. Ketika disajikan di atas piring, penampilannya sangat menarik dan menggoda untuk disentuh.


Rein puas.


"Saatnya membangunkan Davin dan memanggil anak-anak." Kata Rein setelah memastikan tidak ada yang kurang di atas meja makan.


Saat memasak tadi Tio memang menemaninya dengan patuh tanpa membuat masalah. Namun, karena merasa bosan tidak bisa melakukan apa-apa Tio akhirnya memutuskan untuk keluar dari dapur dan mencari Aska.


"Lho, Davin kemana?" Heran Rein melihat sofa yang ditiduri Davin sebelumnya kini tidak ada sosok Davin di atasnya.


Dia menduga Davin sudah lama bangun dan mungkin sedang melanjutkan tidur di dalam kamar mereka. Kakinya sudah melangkah ke arah kamarnya dan Davin, akan tetapi suara tawa renyah anak-anak dari arah taman belakang menghentikan langkah kaki Rein.


"Aku juga, Dad! Aku juga mau, Daddy!" Teriakan nyaring Tio terdengar sangat cemas dan bersemangat di luar sana.


Rein tertegun. Davin dan anak-anak sedang bermain di taman belakang pikirnya. Jadi tanpa ragu dia langsung menghampiri mereka di taman belakang. Dan lihat apa yang dia lihat.


Davin membawa Aska di atas pundaknya seperti memanggul karung berat. Berlari cepat melarikan diri dari kejaran Tio di belakang. Suara tawa mereka sangat menyenangkan untuk di dengar dan sudah lama sekali kebahagiaan ini tidak terjadi. Rein terbengong. Hatinya yang cemas tanpa sadar melembut dan mulai mempercayai apa yang Davin katakan jika dia baik-baik saja. Lihat saja situasinya sekarang. Davin terlihat sangat bahagia dan lebih lepas dengan anak-anak tanpa wajah tertekan sedikitpun.


"Daddy, berhenti! Sekarang giliran Tio yang naik. Tio mau digendong Daddy!" Tio berteriak putus asa sambil mengejar Davin.


Tangan rampingnya yang panjang melambai-lambai ingin menyentuh pakaian Davin, tapi orang yang dia kejar justru mempermainkannya. Ketika lari Tio melambat, Davin juga akan melambat agar putranya terpacu mengejarnya lebih cepat. Dan ketika Tio mempercepat larinya seperti yang Davin inginkan, Davin malah menambah kecepatan larinya sehingga Tio tidak bisa menggapai. Sementara Aska yang di panggul Davin juga menikmati permainan Davin. Dia melambai-lambaikan tangannya di depan Tio untuk memprovokasinya semakin cepat mengejar Davin.


"Tio harus menangkap Daddy dulu kalau mau naik... hahaha.."


"Daddy!" Anehnya Rein merasa lucu melihat putranya dianiaya seperti ini.


"Ekhem." Rein berdehem ringan menarik perhatian mereka.


"Saatnya makan." Lanjut Rein berbicara.


Davin tersenyum lebar. Wajah tampannya telah lama dibasahi oleh keringat dan rambut hitamnya pun ikut basah karena keringat. Davin terlihat sangat tampan dan agak... menggoda, tentunya.