My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
40. (40)



Mas Adit menarik tanganku pergi masuk ke dalam lift khusus presiden. Seingat lift ini khusus digunakan oleh presiden dan asisten pribadinya. Bila ada keadaan khusus orang lain masuk, maka aku percaya orang-orang itu adalah tamu ataupun klien kehormatan perusahaan ini.


Aku beruntung dapat masuk ke dalam lift ini bersama mas Adit. Karena di dalam lift ini kami hanya berdua saja tanpa keberadaan orang lain. En, bukan berarti aku memikirkan yang aneh-aneh. Enggak kok, jangan salah paham. Aku Gaby senang saja bisa melihat mas Adit dan berada di dekatnya.


Saat masuk ke dalam lift, mas Adit menekan lantai kantornya, lantai 24. Tepat berada di bawah lantai kantor tuan Davin. Sebelum pintu lift tertutup, mataku tanpa sadar menangkap mata-mata penasaran di luar sana. Mereka pasti bertanya-tanya siapa aku dan bagaimana mungkin aku bisa diizinkan naik lift ini.


"Mas Adit sudah lama kita-"


Tepat saat pintu lift tertutup mas Adit langsung menarik ku ke dalam pelukannya. Kata-kata ku langsung tersangkut di dalam tenggorokan ku. Gawat, irama jantung ku menjadi berantakan dan tidak terkendali. Aku tidak bisa mengendalikan reaksi tubuhku dengan jarak yang begitu dekat dengan mas Adit. Namun anehnya kegelisahan ku segera ditekan saat merasakan suhu hangat dari wangi pohon pinus segar mulai melingkupi tubuhku. Aku seketika merasa rileks. Hidungku mengendus nyaman pakaian mas Adit, memanjakan indera penciuman ku yang telah lama berpuasa sejak mas Adit menjadi sangat sibuk.


"Suka, hem?" Kupingku langsung terasa panas karena nafas mas Adit mengenai cuping telinga ku.


Aku sangat malu dan ingin menjaga jarak. Sayangnya lengan mas Adit terlalu kuat melingkari pinggang ku. Jadi aku tidak bisa berbuat banyak selain menyerah dan mau-mau saja dipeluknya.


En, bagaimana mungkin aku tidak senang. Tidak aku malah sangat senang kini bisa bersama dengan mas Adit.


"Mas?" Panggil ku berusaha senormal mungkin.


"Hem?" Responnya dengan suara rendah.


Mas Adit mungkin tidak tahu dia sangat seksi bila menggunakan intonasi suara yang rendah. En, kebanyakan aku membaca di novel-novel bila tokoh wanita akan langsung meleleh bila mendengar sang protagonis laki-laki menyalakan mood suara bernada rendah. Ugh, aku kira ini hanya ada di dalam imajinasi saja. Tak ku sangka jika apa yang tertulis di sana adalah sebuah fakta karena aku sudah sering menjadi korban mas Adit!


Okay, Anggi, ayo tenang!


Aku langsung menarik diri dari pikiran ku.


"Itu, mas. Di sini ada cctv. Apa yang kita lakukan sekarang pasti juga dilihat dari cctv oleh orang lain. Apa mas Adit tidak masalah jika mereka melihat kita?" Tanyaku hati-hati.


Biasanya orang yang setinggi mas Adit akan sangat menjaga citranya di depan publik. Mereka akan bersikap formal dimana pun mereka berada, seolah-olah mereka akan selalu dipantau kemanapun mereka pergi. Memang benar tidak semua orang seperti ini tapi yang aku temui rata-rata seperti ini. Apalagi kalau posisi mereka setinggi mas Adit.


"Apa yang perlu dikhawatirkan? Memangnya kita berbuat mesum di sini?" Tanya mas Adit kepadaku.


Oh, apakah berpelukan seperti ini dikategorikan sebagai tindakan mesum?


Bukankah iya?


Soalnya kami kan belum menikah.


"Itu..." Aku ragu menjawabnya.


"Anggi," Panggilnya, disusul dengan pundak kananku yang terasa berat.


"Ya, mas?"


"Aku hanya sedikit lelah. Aku ingin tidur sebentar saja." Katanya lemah.