My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
138. Penderitaan Adit



Davin pulang lebih cepat dari yang dia rencanakan setelah mendapat kabar buruk dari pengawalnya di rumah. Dia tidak melanjutkan agendanya ke tempat selanjutnya karena pikiran dan fokusnya telah dipenuhi oleh wajah cantik Rein ketika sedang tersenyum manis menyambut kepulangannya.


Lalu, di sinilah ia sekarang, berdiri tepat di depan sang kekasih yang telah memenuhi pikirannya seharian ini. Sang kekasih menatapnya dengan ekspresi cemberut yang sangat menggelitik isi hati Davin. Dia tidak bisa menahan sebuah senyuman lebar terbentuk dibibir, mengambil langkah tanpa terburu-buru sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang kekasih.


"Syukurlah kamu baik-baik saja." Bisik Davin lega.


Rein ikut tersenyum, ekspresi cemberut diwajahnya seketika menghilang digantikan dengan rona merah yang sarat akan kerinduan.


"Dav, aku membawa orang lain ke dalam vila mu." Kata Rein dengan suara teredam di dalam pelukan Davin.


Davin sudah mendengar detail dari kejadian tadi siang di vila dan dia juga sudah mengetahui bila Rein membawa seorang wanita masuk ke dalam vila. Tapi dia masih tidak senangnya dengan ide ini karena dia takut wanita itu adalah salah satu bagian dari rencana Revan.


"Vila ku juga adalah vila mu, semua yang aku miliki juga menjadi milikmu." Davin mengoreksi dengan tegas.


Rein merenggut tidak setuju di dalam pelukan Davin tapi ia tidak menyuarakannya karena masalah itu tidak penting sekarang.


"Rein, jangan asal membawa orang lain ke dalam rumah kita. Aku tidak ingin kejadian yang menimpa Aska kemarin terulang kembali di sini." Davin mulai kesulitan mempercayai orang asing sekarang dan dia sudah memiliki sikap ini semenjak Aska diberikan obat tidur oleh pengasuh kepercayaannya sendiri. Padahal pengasuh wanita itu sudah mendapatkan kepercayaan Davin akan tetapi malah dikhianati.


Davin belajar dari pengalaman ini dan tidak akan semudah itu lagi mempercayai orang luar karena keselamatan keluarga kecilnya jauh lebih berarti daripada apapun di dunia ini.


"Dia bukan orang asing, Dav. Tapi dia adalah sahabatku selama bekerja di perusahaan mu. Bila dia memang baik-baik saja maka aku juga tidak akan membawanya masuk tapi keadaannya sangat mengkhawatirkan. Dia sepertinya memiliki ketakutan disentuh oleh laki-laki karena tidak ada satupun bawahan mu yang berhasil membujuknya. Padahal kakinya sangat bengkak karena keseleo dan harus segera ditangani." Bantah Rein dengan menggebu-gebu.


Dia sangat prihatin dengan keadaan Mbak Anggi dan ingin membantunya. Walaupun bantuan ini tidak seberapa tapi setidaknya Mbak Anggi akan merasa sedikit nyaman.


"Benarkah?" Nada Davin tanpa sadar melunak.


Ia mengerti kekhawatiran kekasihnya.


"Adit," Panggil Davin.


"Ya, bos?" Entah mengapa Adit mulai merasakan sebuah firasat buruk.


"Masalah wanita itu aku percayakan kepada dirimu." Davin dengan mudahnya melemparkan urusan ini kepada Adit.


Jika wanita itu ditangani oleh Adit, maka kekasihnya bisa ia monopoli tanpa ada yang mengganggu, hehehe.


Rein menatap wajah datar Adit shock,"...." Wajah datarnya sangat menakutkan, aku tidak yakin Mbak Anggi mau disentuh olehnya!


Sementara Adit yang selalu menggunakan wajah datar untuk pertama kalinya spontan membuka mulutnya tidak bisa menahan kejutan,"...." Bos tolong pikirkan kembali perintah mu! Aku tidak yakin bila wanita itu mau mendengarkan ku!


Adit sudah mengalaminya berkali-kali saat bertemu dengan wanita. Wajah tampannya yang dipahat mempesona nyatanya tidak bisa mengalahkan wajah beku di wajahnya sehingga banyak wanita yang tertarik kepadanya diam-diam melangkah mundur dan melarikan diri!


Dia sangat menakutkan untuk seorang wanita, ah!


"Bos, aku pikir-" Dia belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong lebih dulu oleh Davin.


"Gaji dan bonus mu bulan ini dua kali lipat."


Rein yang lagi-lagi dilanda perasaan shock,"...." Adit ternyata mata duitan.


Sedangkan Adit yang diduga mata duitan diam-diam menghela nafas panjang tanpa daya,"...aku akan melakukannya, bos."


Maka dengan begitu Davin dapat menikmati waktunya bersama Rein dan anak-anak tanpa gangguan dari orang luar!