My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
122. Pengasuh



Rein terdiam. Dia tidak memberikan reaksi yang berlebihan setelah mendengar kabar ini, namun tetap saja dia pasti terkejut mendengar kabar ini. Bagaimana ia tidak terkejut?


Davin baru pulang kemarin dan harus pergi lagi pagi ini. Jujur, Rein merasa kehilangan. Ia masih ingin berlama-lama dengan Davin.


"Harus pergi hari ini?" Tanya Rein enggan.


Suasana nyaman tadi segera menguap entah kemana digantikan dengan suasana melankolis yang menyedihkan.


"Hem, hari ini. Rencananya aku akan berangkat pagi ini bersama Adit setelah sarapan. Kamu tidak perlu menyiapkan pakaian ku karena di sana aku sudah meninggalkan beberapa pakaian-"


"Dav," Potong Rein seraya melepaskan pelukan Davin dari pinggangnya.


Dia berbalik menghadap Davin. Kedua mata persik nya menyipit menatap Davin tidak puas. Davin merasa jika penampilan Rein hari ini sangat menggemaskan. Tanpa menahan diri ia mengangkat kedua tangannya untuk mencubit pipi lembut Rein.


Rein meringis ringan tapi tidak menyingkirkan tangan Davin dari pipinya.


"Apa aku menyakitimu?" Tangan Davin tidak lagi mencubit pipi Rein tapi kini beralih mengelus pipi Rein yang sudah agak memerah.


Padahal, Davin tidak menggunakan banyak tenaga untuk mencubit pipi Rein tapi hasilnya masih saja meninggalkan rona merah di pipinya.


"Apa kamu harus pergi sekarang? Kenapa tidak besok saja setelah kamu cukup beristirahat atau kenapa kamu tidak mengirim bawahan mu saja pergi?" Rein tidak mengindahkan kekhawatiran Davin, ia ingin berbicara serius mengenai kekhawatirannya sebagai seorang kekasih.


Davin sangat kelelahan karena perjalanan jauh dan ditambah lagi dia kurang beristirahat saat di negara A kemarin sehingga Rein tidak tega membiarkannya pergi.


Davin mengulum senyum, mencuri ciuman singkat di bibir Rein dengan tawa rendah yang menunjukkan bahwa ia sekarang berada dalam suasana hati yang baik.


"Aku harus pergi, Rein, dan aku juga tidak bisa menundanya sampai besok apalagi mengirim bawahan ku untuk mengurusnya. Proyek ini sangat penting untukku dan harus ditangani langsung oleh aku sendiri. Untuk sekarang, aku tidak bisa mempercayai siapapun untuk mengurusnya." Menarik Rein masuk ke dalam pelukannya, ia membenamkan wajahnya di dalam perpotongan leher Rein dan menghirup wangi tubuh Rein yang sangat harum.


"Aku harus memenangkan proyek ini, Rein, agar Kakek tidak memiliki alasan lagi untuk memisahkan kita."


Rein terkejut. Sekarang ia mengerti kenapa Davin sangat mementingkan proyek ini. Rein pikir itu karena proyek ini menghasilkan banyak uang, tapi ternyata proyek ini jauh lebih penting dari apa yang ia pikirkan.


"Berapa hari?" Nada Rein melunak.


Davin tersenyum lebar,"Mungkin 3 hari."


Rein menghela nafas panjang, ia mengeratkan pelukan Davin seraya berkata,"Jaga dirimu baik-baik di sana dan pulanglah dengan selamat, apa kamu mendengarnya?" Rein mengizinkan Davin pergi dengan enggan.


Davin tersenyum,"Aku mendengarnya, istriku." Bisik Davin dengan suara rendahnya yang seksi.


Rein memutar bola matanya, tapi senyuman manis terbentuk indah di sudut bibirnya.


"Siapa yang kamu panggil istri!"


...🍃🍃🍃...


Davin sudah terbang ke negara A pukul 9 siang kemarin dan sudah memberikan kabar jika dia sudah sampai dengan selamat di negara A. Sekarang di rumah hanya ada Rein dan anak-anak. Waktu-waktunya dihabiskan untuk menemani anak-anak bermain sehingga ia tidak terlalu memikirkan Davin.


Dan siang ini Rein harus menjemput Aska pulang sekolah. Kebetulan sekolah Aska dan Tio berdekatan sehingga Rein bisa menjemput mereka berdua sekaligus.


Rein kini tengah berdiri di depan sekolah Aska. Dia memutuskan untuk menjemput Aska terlebih dahulu karena Aska lebih dulu pulang daripada Tio.


Rein berdiri tidak nyaman di sini. Dia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Aska karena sedari tadi ia telah menjadi bahan perhatian dari para orang tua. Mereka menatap Rein dengan pandangan cemburu, sesekali Rein akan mendengarkan bisikan-bisikan mereka mengenai penampilannya hari ini dan mobil apa yang ia gunakan hari ini.


Rein adalah orang yang sederhana dan dia tidak suka kemewahan. Namun, semenjak tinggal dengan Davin segala sesuatu yang ia gunakan adalah barang-barang berkualitas dan cukup menguras dompet Davin.


Padahal Rein sudah menolak tapi Davin tidak pernah mau mendengarkannya. Davin bilang dia layak dan harus menggunakan semua barang-barang pemberiannya.


Bel sekolah berdering nyaring yang disusul oleh teriakan bahagia dari anak-anak sekolah. Rein akhirnya bisa bernafas lega karena orang-orang tidak lagi fokus padanya.


"Yey, pulang!"


Puluhan siswa lari berhamburan dari kelas masing-masing. Mereka berlari antusias mencari keberadaan orang tua masing-masing. Sedangkan Rein berdiri di depan mobil mewah dengan senyuman lebar menyambut kedatangan putranya.


"Mommy!" Aska melemparkan dirinya ke dalam pelukan Rein.


"Apa sekolah menyenangkan?" Tanya Rein sambil merendahkan kepalanya, mengusap rambut hitam Aska untuk menghapus keringat di keningnya.


"Sekolah sangat menyenangkan, Mom! Tapi Aska lebih senang main sama Mommy dan Tio."


Rein tertawa puas. Ia mengecup puncak kepala Aska sayang dan menarik tangannya masuk ke dalam mobil. Akan tetapi sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam mobil, seorang wanita cantik datang mendekati mereka.


"Nyonya Rein," Panggilnya sopan.


Rein menoleh dan mengenali bila wanita ini adalah wanita yang sering hilir mudik di depan vila Davin beberapa hari yang lalu.


"Mom," Aska langsung bersembunyi di belakang Rein ketika melihat wanita ini.


"Hai Aska, Kakak datang ke sini mau ketemu Aska, lho. Emang Aska gak kangen yah sama, Kakak?" Wanita itu menyapa Aska dengan senyuman lebar di wajahnya, bertindak akrab meskipun diabaikan oleh Aska.


Atau mungkin lebih tepatnya tidak disukai oleh Aska.


Rein mengusap puncak kepala Aska sebagai perlindungan.


"Maaf, kamu siapa?" Rein tahu tapi berpura-pura tidak tahu.


Wanita itu tersenyum, ia mengulurkan tangan rampingnya yang dicat kuku indah ke hadapan Rein.


"Nyonya, kenalkan saya adalah pengasuh tuan muda Aska, Karina."


Rein menyambut uluran tangannya singkat, samar, entah kenapa ia merasa bila wanita ini sedikit tidak benar.


"Oh ya, salam kenal. Tapi maaf Aska tidak akan ikut pulang bersamamu karena mulai hari ini dia akan tinggal bersamaku." Kata Rein langsung mengklaim Aska.


Aska sangat senang, ia memeluk Rein dengan semangat di belakang.


Senyuman wanita itu tidak berubah sedikitpun.


"Aku tahu Nyonya, Tuan Davin sudah mengubur ku kemarin. Adapun kedatangan ku ke sini adalah untuk memberikan minuman yang harus Aska minum setiap hari untuk menjaga kesehatannya." Dia memberikan Rein sebuah termos mini.


"Ini minuman apa?"