
Kedua tangan Dina mengepal karena cemburu. Dia memaksakan senyum di bibirnya sekalipun itu sulit karena ada suara retakan pahit yang terdengar dari kedalaman hatinya.
Dia bertanya-tanya mengapa harus Anggi?
Mengapa harus wanita ini yang mendapatkan posisi itu?
Bukankah dia selama ini sudah berjuang keras untuk mendapatkan perhatian Adit? Berjuang menjadi sekretaris yang memenuhi syarat dan mematuhi segala perintah Adit tanpa melawan ataupun mengeluh. Dia lelah, dia harus mengakuinya. Menjadi sekretaris Adit terlalu melelahkan karena ini adalah sebuah perusahaan besar. Namun apa yang harus dia lakukan? Dia mencintai laki-laki ini sampai hari terdalamnya tapi respon laki-laki ini masih saja acuhnya.
Dia kira dengan sikap dinginnya itu posisinya jauh lebih penting daripada para wanita di luar sana. Ternyata dia salah karena faktanya dia tidak ada bedanya dengan para wanita itu.
Hah... lucu sekali. Rasanya sangat menggelikan.
"Mbak Anggi mau pulang, ya?" Dina meninggalkan tempat duduknya dan berjalam mendekati Anggi.
Anggi kini sudah memakai masker yang Niko berikan kepadanya dan bisa tampil lebih percaya diri daripada sebelumnya.
"Eh, tidak. Aku akan keluar untuk membuatkan mas Adit segelas teh." Bantah Anggi dengan sudut mata menyipit, jelas sedang tersenyum manis di dalam masker sana.
Dina tersenyum ringan. Dihadapan Anggi dia tiba-tiba menjelma menjadi gadis pemalu dan pendiam yang Anggi lihat beberapa saat yang lalu di lantai bawah. Dan setiap kali Anggi melihat Dina, dia merasa bila Dina adalah gadis yang polos dan berhati murni tapi ini hanyalah kesannya karena jauh di dalam hatinya ada sebuah suara yang mengatakan bila dia bukanlah wanita yang baik atau pantas di dekati.
"Oh membuat air teh. Bagaimana kalau aku saja yang membuat mbak. Kebetulan sebentar lagi pak Adit akan rapat jadi aku harus menyiapkan teh untuk pak Adit dan para peserta rapat." Kata Dina dengan makna tertentu.
Satu sisi dia menawarkan sebuah bantuan, terdengar tulus dan murni. Namun di satu sisi dia ingin memberikan pemahaman kepada Anggi bila sudah waktunya pulang sebab Adit sebentar lagi akan bekerja.
Anggi juga tahu bila Adit sebentar lagi akan bekerja tapi ini masih setengah jam lagi dari waktu yang diminta oleh Adit. Namun tidak apa-apa. Dia tidak perlu mengungkapkan masalah ini kepada Dina karena Niko sudah tahu jadi itu sudah cukup.
"Tidak perlu repot-repot. Mas Adit bilang dia sudah lama ingin minum air teh buatan ku jadi kali ini biarkan aku saja yang menanganinya." Kata Anggi dengan senyuman manis di bibirnya.
Hemph, Adit tidak pernah mengatakan itu. Dia murni berbohong di depan Dina agar wanita ini tidak mencegahnya pergi lagi.
Dina tertegun, sudut mulutnya membeku tidak mengharapkan jawaban ini. Malu, dia lalu menggeser langkahnya menjauh dari Anggi untuk memberi jalan. Dia tidak punya kata-kata lagi untuk mencegah Anggi pergi ataupun mengusirnya dari sini.
"Oh tentu. Mbak Anggi bisa pergi kalau begitu. Ngomong-ngomong pak Adit menyukai teh manis rendah gula, mbak. Jadi jangan salah buat. Takutnya pak Adit nanti ngamuk." Pengingat Dina dengan senyuman simpul di wajahnya.
Senyumnya sopan tapi sesungguhnya dia sangat bangga dengan perkataannya sendiri karena ini menunjukkan bahwa dia lebih mengenal Adit daripada Anggi.
Teh manis rendah gula?
Hahaha... Anggi langsung menguatkan dirinya agar tidak tertawa di depan Dina.
Hei, Adit tidak menyukai gula ngomong-ngomong. Bahkan di mansion dia selalu minta dibuatkan teh tanpa gula, namun teh yang diminum bukan sembarang teh dan jelas memiliki harga yang sangat mahal.
Jika Anggi tidak salah Rein pernah mengatakan bila teh itu disebut teh kaisar sebab di jaman dulu hanya para bangsawan dan anggota kerajaan saja yang bisa meminumnya karena jenisnya yang langka serta harganya yang tinggi.
Ck...ck...saat Anggi mendengarkannya waktu itu, dia tidak bisa bertanya-tanya apa sih manfaat teh itu sampai-sampai membuat orang kaya rela menggocek uang lebih untuk membelinya?
Barulah saat dia meminumnya Anggi akhirnya tahu perbedaan teh tersebut dengan teh yang selama ini dia minum. Em, tidak salah jika teh itu bernilai tinggi dan orang kaya bahkan tidak salah mengambil banyak uang untuk membelinya.
Benar-benar tidak salah.
Melirik Dina lucu,"Teh kaisar sudah enak tanpa gula." Kata Anggi sebelum pergi.
Dia berjalan di depan lift khusus presiden dengan percaya diri, menggesek kartu gold pemberian Adit dan masuk dengan mulus tanpa memperhatikan perubahan wajah Dina ketika melihat semua tindakannya.
Dina tidak berharap bila Adit bahkan memberikan Anggi kartu akses khusus lift presiden kepada Anggi. Padahal kartu itu sangat penting dan hanya beberapa orang yang memilikinya di perusahaan ini.
Tidak...tidak. Mungkin saja nyonya Rein yang memberikan kartu itu kepadanya karena nyonya Rein juga punya akses langsung ke lift ini. Batin Dina menenangkan kebingungan hatinya.
"Tapi apa itu teh kaisar?" Bingung Dina tidak tahu.
Melihat kebodohan Dina yang tidak biasa, Niko mau tidak mau merasa puas karena wanita ini akhirnya dikalahkan langsung oleh Anggi, calon atasannya di masa depan. Memangnya siapa yang memintanya mencari masalah kepada Anggi?
Meskipun itu hanya sebatas kata-kata samar, tapi tetap saja dia mencari masalah.
Akhirnya dengan baik hati dia menjelaskan.
"Teh kaisar adalah teh kesukaan pak Adit dan teh ini biasa diminum pak Adit tanpa gula karena seperti yang mbak Anggi katakan tadi, teh kaisar sudah enak tanpa harus diberikan gula. Sekarang apa kamu mengerti maksudnya?"
Dina terdiam tampak sedang berpikir. Beberapa detik kemudian matanya langsung membola kaget ketika kepalanya selesai mencerna semua informasi yang kepalanya kirimkan.
Baru saja...baru saja Anggi mengolok-oloknya?
Mata Dina memerah karena marah dan sedih. Pantas saja setiap teh yang dia kirim ke kantor Adit selalu kembali dengan utuh seolah-olah tidak pernah disentuh sebelumnya. Pada saat itu Dina selalu berpikir bila Adit terlalu sibuk bekerja di kantor sehingga mengabaikan makanan dan minuman di atas meja. Tapi sekarang setelah mendengar penjelasan singkat Niko dia akhirnya mengerti bahwa Adit tidak pernah minum teh buatannya bukan karena terlalu sibuk bekerja tapi karena memang tidak menyukainya.
Jadi dia baru saja mencemooh ku karena pengetahuan ku mengenai pak Adit tidak sedalam miliknya? Baiklah, aku tidak akan kalah lagi! Batin Dina bertekad.
Dia buru-buru kembali ke tempat duduknya dan mulai mengotak-atik komputer untuk membeli teh kaisar. Karena Adit tidak memberitahunya maka dia sendiri yang akan mengagetkan Adit.
Tapi semua rencananya segera menguap saat dia melihat angka tinggi yang terpapar di layar komputernya. Hanya sekelas teh tapi harganya hampir setara dengan tas branded yang dia beli kemarin.
Sangat mahal.
Dia tidak mungkin menyia-nyiakan uangnya hanya untuk membeli barang tidak berguna ini. Tapi bila dia tidak membelinya, lalu bagaimana dengan Adit?
Dia ingin memberikan kejutan spesial untuk Adit namun dengan pengeluaran sebanyak ini, takutnya dia tidak akan sanggup.
"Hah...apa yang harus aku lakukan sekarang?"
***
Anggi keluar dari lift khusus presiden dengan percaya diri dan langsung menuju ke kantin perusahaan. Di perjalanan menuju ke sana dia berpapasan dengan banyak sekali karyawan perusahaan ini. Mereka menyapa Anggi sopan dan dengan senyuman lebar pula. Anggi langsung menjadi terkenal semenjak Adit menariknya pergi ke kantornya dihadapan banyak karyawan.
Dan nama Anggi kian melambung tinggi ketika identitasnya sebagai asisten pribadi Rein Xia, nyonya keluarga Demian sekaligus kepala pelayan keluarga Demian mencuat. Banyak orang yang ingin menjalin hubungan atau menumbuhkan koneksi dengan Anggi, tapi karena terhimpit waktu mereka hanya bisa bertukar sapa secara singkat saja.
Anggi turun ke bawah untuk meminjam dapur kantin. Dia akan membuat teh hangat untuk Adit dan para peserta rapat di kantor Adit nanti. Untungnya sebelum berangkat ke sini dia sempat menyimpan teh kaisar di dalam tasnya.
"Boleh aku bertanya?" Anggi bertanya pada salah satu karyawati di sampingnya.
Wajah karyawati itu menegang karena malu.
"Boleh, nyonya." Katanya gugup.
"Panggil saja aku mbak Anggi." Kata Anggi santai."Aku dengar mas Adit akan rapat di kantornya hari ini jadi aku ingin membuatkan teh untuk mas Adit dan yang lainnya. Tapi aku tidak tahu berapa orang di dalam rapat nanti. Ngomong-ngomong apa kamu tahu berapa banyak orang yang rapat dengan mas Adit nanti?"
Wanita itu langsung menjawab dengan sopan.
"Biasanya 3 atau 2 orang, mbak." Kata wanita itu yakin.
"Ah...aku pikir mereka lebih dari itu." Makanya Anggi bingung bagaimana bila teh yang dia bawa tidak cukup nantinya?
Setelah mengucapkan terima kasih. Anggi menyiapkan 3 gelas teh kosong dengan teko khusus teh yang dia dapatkan dari kantin setelah lama mencari. Setelah selesai, dia lalu membawa teh hangat itu ke kantor Adit di lantai atas dengan matanya menyudut karena bibirnya tidak berhenti tersenyum menerima sapaan hangat dari banyak karyawan.
"Ayu, kamu tadi sempat ngomong sama nyonya Anggi, yah?"
Ayu, gadis yang baru saja ditanyai oleh Anggi kini dikerubungi oleh banyak orang.
Ayu tersenyum bangga dan tidak malu menunjukkan ekspresi sombongnya kepada teman-teman kerjanya.
"Ya, kenapa?" Tanyanya pura-pura tidak peka.
"Apa yang nyonya Anggi tanyakan kepadamu? Ku perhatikan kalian tadi sempat berbicara." Tanya wanita itu sekali lagi mengungkit apa yang baru saja dia lihat.
Mereka agak iri melihat Ayu dapat berbicara dengan Anggi karena identitas Anggi agak spesial di sini. Di samping itu juga mereka ingin berbagi koneksi apalagi sampai menjadi teman untuk Anggi karena keuntungannya sungguh tidak main-main.
"Ya, kalian tadi memang tidak salah melihat. Aku dan mbak Anggi memang sempat berbicara bahkan sampai bercanda. En, mbak Anggi sangat ramah dan mau tak mau mudah berteman dengan orang lain." Kata Ayu sebagian berbohong.
Mana mungkin dia bersikap akrab dengan Anggi karena saat berbicara tadi saja dia langsung membeku seperti patung. Seluruh tubuhmu langsung menegang karena gugup dan setiap kali Anggi bertanya dia akan menjawab dengan gaya robot. Sangat memalukan.
Namun bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan masalah ini kepada mereka? Tidak, tentu saja dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendirilah dihadapan teman-teman kerjanya. Dia akan menyimpan rahasia ini seumur hidupnya!
"Apa yang sedang kamu bicarakan dengannya?" Tanya yang lain penasaran.
Tidak banyak, ini hanya tentang satu topik saja. Dan semua itu selalu berputar pada topik Adit. Tapi dia tidak mengatakan jawaban ini karena lagi-lagi ingin membuat mereka cemburu.
"Hanya beberapa topik. Oh iya, aku harus kembali bekerja karena masih ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Mengobrol nya nanti saja yah setelah waktu makan siang datang." Kata Ayu kepada teman-temannya.
Dia mengambil kopi hangatnya dan pergi menjauh dari kantin. Sepanjang langkah dia tidak pernah berhenti tersenyum seperti orang yang baru saja memenangkan tiket lotre. Ini aneh di mata beberapa orang, tapi bagi orang yang pernah melihat interaksinya dengan Anggi malah merasa dia adalah wanita yang beruntung.
Sungguh tidak ada yang spesial dari semua ini karena Anggi pun merasa tidak ada yang spesial dengan pertemuan mereka. Hanya para karyawan lah yang melebih-lebihkan semuanya.
***
Ting
Pintu lift terbuka. Niko dan Dina sontak mengangkat kepala mereka melihat Anggi keluar dari lift dengan nampan saji di tangannya.
"Sudah selesai mbak?" Sapa Niko sambil berdiri dari duduknya.
Dia masih saja bersikap sopan dan ramah.
Anggi tersenyum kepadanya. Meskipun Niko tidak bisa melihatnya, tapi bentuk mata Anggi yang menyipit sudah menjelaskan semuanya.
"Ya. Mau minum?" Tawar Anggi kepada Niko.
Niko segera menggelengkan kepalanya menolak. Mana mungkin dia berani mencuri minuman bosnya. Sekalipun Anggi menawarkan, dia tidak akan berani menerimanya karena teh yang dibuat Anggi memiliki penilaian berbeda di mata Adit.
"Tidak, terima kasih, mbak. Silakan mbak, masuk. Pak Adit pasti sudah lama menunggu di dalam."
Anggi tersenyum malu. Dia mengangguk ringan kepada Niko dan langsung masuk ke dalam ruangan tanpa melirik Dina sedikitpun. Dina tadi agak cuek. Dia langsung menurunkan matanya ketika Anggi keluar dari lift. Berpura-pura serius mengetik sesuatu di komputer dan tidak bergerak menyapa Anggi. Walaupun begitu dia masih menajamkan telinganya untuk mendengarkan percakapan mereka berdua dan sesekali menggerakkan batang hidungnya untuk menghirup wangi menyegarkan yang keluar dari teko teh. Sungguh kualitas teh berbeda!
Hatinya mau tidak mau berteriak tidak nyaman.
Cklack
"Mas Adit." Anggi masuk ke dalam kantor Adit.
Beberapa menit yang lalu meja ini dipenuhi banyak makanan saat dia pergi, namun begitu kembali Anggi takjub melihat meja sudah bersih. Semua alat makan di tempatkan dengan rapi di dalam tas paper bag dan bahkan meja pun telah dilap bersih oleh Adit.
"Mengapa lama sekali?" Tanya Adit tidak puas.
Anggi melepaskan masker pemberian Niko dan menaruhnya di dalam tas agar bisa digunakan lagi saat pulang.
"Iya, mas. Tadi di kantin agak ramai jadi Ibu kantin kesusahan cari teko teh buat mas Adit." Kata Anggi sambil duduk di samping Adit.
Adit melirik teko dan 3 gelas gelas teh di atas nampan, keningnya mengkerut heran.
"Kenapa banyak sekali?" Dia memang suka minum teh tapi bukan berarti dia rakus, okay. Dia tidak masalah minum teh satu kali sehari karena teh bukanlah candu untuknya melainkan sebagai hobi dan saran kesehatan pula.
Teh kaisar direkomendasikan langsung oleh Rein dan Davin dua tahun yang lalu saat mereka baru saja kembali bersama. Jika bukan karena kesehatan, Adit mungkin tidak akan menghabiskan uangnya untuk membeli teh ini walaupun harus diakui teh ini sangat berbeda dengan yang lainnya dan memiliki bau yang menyegarkan.
"Aku sengaja buat banyak, mas. Soalnya kan mas Adit sebentar lagi mau rapat jadi biar enak rapatnya dan enggak terlalu tegang aku pikir rapat sambil minum teh ini bisa membantu. Oh iya, teko ini bisa dipanaskan lewat listrik mas. Jadi air masih bisa hangat setelah semua peserta rapat kumpul." Kata Anggi dengan antusias.
Tapi,
"Siapa yang bilang sebentar lagi aku akan rapat?" Niko enggak mungkin ngomongin masalah perusahaan ke orang lain.
Anggi tidak mengetahui perubahan suasana hati Adit.
"Dina, mas. Awalnya dia yang mau buat teh tadi tapi aku menolak karena mas enggak mungkin suka minum teh dengan gula." Kata Anggi lembut.
Dia mengangkat teko ringan, menyiapkan segelas teh hangat untuk Adit dan menaruhnya di depan Adit agar mudah dijangkau.
Hem, wanginya sangat menyegarkan.
"Oh." Adit tersenyum aneh.
"Hari ini aku memang ada beberapa rapat tapi aku enggak akan mau ngasih mereka minum teh kesukaan ku."
Anggi heran,"Kenapa, mas?"
Adit mengangkat bahunya acuh. Dia mengambil teh yang Anggi siapkan untuknya dan menyesapnya ringan. Lalu kedua matanya langsung terpejam ketika merasakan hembusan nafas sejuk yang bergerak di dalam tenggorokan ke bawahnya.
Ini memang obat yang cocok untuk menghilangkan rasa lelah.
"Karena..." Adit membuka matanya mabuk, menatap mata ingin tahu Anggi yang tidak pernah berpaling dari wajah tampannya.
Tersenyum lembut,"Barang-barang ku hanya bisa menjadi milikku. Tidak ada siapapun yang diizinkan menyentuh barang-barang ku." Kata Adit jelas, singkat, dan anehnya memiliki rasa keintiman yang menenangkan untuk Anggi.
Anggi spontan menurunkan matanya untuk menghindari tatapan tajam itu. Berkedip ringan, dia dengan tenang menatap layar ponselnya yang baru saja menyala setelah mendapatkan notifikasi dari seseorang. Berpura-pura bila tindakan menghindar nya tadi tidak pernah terjadi sebelumnya.
Anggi melihat pesan dari Ibunya, hanya menanyakan kabar dan dibalas dengan sopan pula oleh Anggi. Dia bersyukur Ibunya mengirim pesan saat ini. Kalau tidak, entah apa yang harus dia lakukan untuk menghindari tatapan tajam Adit.
Ugh, rasanya aneh tapi anehnya lagi di suka seperti ini.
"Apa yang dikatakan Ibu?" Adit sudah biasa dengan kedua orang tua Anggi.
Selain itu sikapnya dan perilakunya pun sangat sopan kepada mereka. Tanpa rasa canggung ataupun malu seperti orang asing yang baru bertemu dengan keluarga wanita.
"Ibu hanya menanyakan kabarku, mas. Lalu aku jawab baik-baik saja." Jawab Anggi malu-malu.
Setelah menjawab pesan, dia tidak langsung menaruh ponselnya ke bawah. Namun tetap mempertahankannya untuk mengalihkan rasa malunya.
Deg
Tubuh Anggi langsung menegang ketika merasakan sentuhan hangat di puncak kepalanya. Entah sejak kapan Adit mulai mengelus puncak kepala Anggi tapi yang pasti sentuhan itu tidak mengandung rasa jijik ataupun hasrat, ini hanyalah sentuhan ringan untuk sebuah ungkapan intim. Hangat dan menenangkan.
"Ibu dan Ayah pasti merindukan kamu di rumah." Kata Adit dengan suara rendahnya.
Dia mengelus puncak Anggi beberapa kali sebelum menurunkannya. Menyesap air tehnya lagi seperti biasanya seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka berdua.
Anggi mengkerut kan lehernya malu. Tidak hanya wajahnya yang memerah namun cuping telinganya pun tak luput dari sasaran virus merah. Cuping telinga nya terasa panas, di bawah pengawasan Adit, daging tipis namun berisi itu perlahan mengembangkan warna merah muda.
Agak manis dan tidak tertahankan. Jika Adit tidak bisa menahan diri, maka tangannya mungkin sudah terulur menyentuh telinga Anggi dan meremasnya ringan.
Tapi dia tidak mau melakukan itu karena tidak ingin membuat Anggi ketakutan lagi.
"Jika ada hari libur, aku pasti akan langsung pulang ke rumah, mas. Namun untuk sekarang aku enggak bisa minta izin lagi karena dalam waktu beberapa bulan ini aku sudah sering mengambil izin kepada nyonya Rein." Kata Anggi dengan nada malu-malu.
Adit menegakkan punggungnya.
"Oh, lalu bagaimana dengan kabar anak-anak sekarang? Aku ingat Aldi dan Aldo harusnya mengambil raport satu minggu yang lalu di sekolah." Kini topik Adit beralih membicarakan anak-anak.
Jujur, dia tidak pernah berpikir sampai sejauh ini. Dia tidak pernah berpikir bila Adit akan memperhatikan hal sedetail ini disaat anak-anak bukanlah orang terdekatnya. Anggi jujur merasa terenyuh karena anak-anaknya juga diperhatikan oleh Adit.
Sungguh, hatinya tidak bisa menahan perasaan bahagia ketika tahu anaknya juga menjadi fokus laki-laki yang dia cintai. Sebab biasanya laki-laki hanya menginginkan wanitanya saja dan bukan juga anaknya. Hei, ini adalah tragedi biasa untuk seorang wanita janda.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan anak-anak?" Tanya Adit ketika melihat keterdiaman Anggi.
Anggi buru-buru menggelengkan kepalanya membantah.
"Anak-anak baik saja. Mereka memang mengambil raport satu minggu yang lalu dan hasilnya sangat memuaskan. Mas Adit, terima kasih telah menjadi guru anak-anak selama ini. Ibu dan Ayah bilang, anak-anak sangat dipuji oleh para guru di sekolah. Mereka bilang anak-anak sangat bijaksana di usia mereka yang begitu muda. Mereka tidak suka menangis ataupun bertengkar dan mereka juga tidak suka membuli teman di kelasnya. Sikap mereka sepenuhnya terkendali. Apalagi ketika guru mengatakan bila anak-anak punya kebiasaan memecahkan soal matematika di dalam kelas. Mereka berdua senang sekali mengotak atik pensil mereka di atas buku untuk memecahkan soal matematika. Padahal jika aku ingat betul anak-anak dulu tidak menyukai pelajaran matematika seperti anak-anak pada umumnya. Daripada mempelajari matematika mereka malah lebih suka menggambar di buku. Namun semuanya segera berubah ketika mas Adit mengajarkan mereka pelajaran matematika...."
Semakin Anggi bercerita semakin lembut nada suaranya. Matanya berbinar terang memikirkan jejak masa lalu yang dilalui anak-anaknya ketika bersama dengan Adit. Dan dia bahkan memamerkan prestasi anak-anaknya yang mendapatkan pujian dari guru karena pandai mengerjakan soal matematika.
Um, jika dilihat-lihat Aldi dan Aldo entah kenapa seperti mengikuti Adit. Dari tindakannya, sikapnya, dan bahkan matematika.
Anak-anaknya seolah mengikuti laki-laki yang Anggi cintai.
"Anak-anak sangat luar biasa. Mereka seperti itu bukan karena aku tapi karena usaha mereka sendiri. Jika guru mereka orang lain, hasilnya tidak akan jauh berbeda." Kata Adit hangat.
Dia saat ini sepenuhnya dalam suasana hati yang baik. Merasa bangga dengan pencapaian Aldi dan Aldo di sekolah seolah mereka adalah anak-anaknya sendiri.
"Aku tidak setuju, mas. Jelas setiap orang membawa garis takdir yang berbeda. Jika mereka bersama guru yang lain, aku pikir mereka tidak akan segiat ini. Tapi dengan mas Adit, mereka berdua memiliki pencapaian yang luar biasa di sekolah ataupun di rumah. Jadi menurutku perubahan anak-anak dipicu oleh mas Adit sendiri." Bantah Anggi keras kepala.
Adit tertawa rendah. Melambaikan tangannya santai.
"Baiklah jika kamu memaksa." Kata-kata yang sama lagi.
Anggi hampir saja tersedak air liurnya sendiri.
Sepertinya mas Adit sangat suka memakai kata-kata ini. Batin Anggi merasa lucu.
"Setelah makan malam ayo mampir ke toko mainan." Ajak Adit kepada Anggi.
Anggi terkejut.
"Beli mainan, mas?"
"Iya, kita akan membeli mainan untuk anak-anak. Setelah pulang membeli mainan kita bisa pergi ke rumah mu untuk menemui anak-anak." Jawab Adit.
Anggi senang mendengarnya tapi bukankah Adit sangat sibuk sekarang?
"Malam ini?"
"Hem."
"Um..lain kali saja, mas. Aku enggak mau mengganggu waktu mas Adit di kantor." Tolak Anggi tidak ingin menyusahkan.
Adit tersenyum ringan. Dia kali ini tidak menahan diri saat mencubit pipi merah Anggi. Mencubitnya gemas hingga meninggal cap merah terang di sana.
"Jika bukan malam ini lalu kapan? Kita berdua sama-sama sibuk di sini dan akan kesulitan mengambil waktu di masa depan. Dan jika kita terus menunda-nunda maka anak-anak pasti akan kecewa. Mereka tidak akan terlalu bahagia ketika melihat hadiah pemberian kita." Kata Adit setelah mencubit pipi Anggi.
Anggi menggosok pipinya yang dicubit Anggi. Meskipun tidak sakit tapi rasanya tidak terlalu nyaman saat gumpalan dagingnya di cubit.
Tapi apa yang Adit katakan tadi memang masuk akal. Jika tidak sekarang maka kapan lagi mereka bisa menemui anak-anak. Lalu saat mereka menemui anak-anak setelah banyak penundaan, kegembiraan anak-anak pasti sudah lama mereda. Mereka tidak akan terlalu antusias lagi melihat hadiah yang telah mereka persiapkan.
"Apa mas Adit tidak apa-apa?" Tanya Anggi ragu-ragu.
Adit tersenyum simpul,"Kenapa aku harus ragu-ragu? Bukankah aku sendiri yang memintanya?"
Ini adalah jawaban positif.
Bibir Anggi langsung mengembangkan senyuman manis, terlihat cantik dan menggemaskan pada saat yang sama. Jujur Adit tergoda ingin menyentuhnya, menodai bibir itu sekali lagi dan membuat tanda lainnya. Namun dia tidak ingin menakuti Anggi sebab dia bisa merasakan tubuh Anggi selalu menegang setiap kali dia menyentuhnya.
Perasaan yang Anggi hadirkan takut bukan karena malu melainkan takut karena dia memang takut disentuh. Mungkin trauma yang ditinggalkan oleh Revan dan rasa jijik yang ditinggalkan oleh mantan suaminya membuat Anggi menjadi orang seperti ini. Adit tidak terkejut. Dan akan mengherankan bila Anggi tidak memiliki rasa ketakutan yang tersisa.
Malah dengan trauma ini Adit bersyukur karena tidak ada laki-laki yang bisa mendekati Anggi di masa depan. Kecuali dia, tidak ada satupun laki-laki beruntung yang dapat mendekati Anggi karena semua keberuntungan itu telah dia monopoli olehnya seorang.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengikuti rencana mas Adit." Ujar Anggi seraya menundukkan kepalanya untuk mengirim pesan kepada Ibu dan Ayah nya yang ada di seberang sana.
***
Sera dan kedua orang tuanya pergi mengunjungi rumah kedua orang tua Adit- atau lebih tepatnya Paman dan Bibi Adit karena kedua orang tua Adit sudah lama meninggalkan dunia.
Mungkin sejak dia berusia 4 atau 5 tahun. Untuk menggantikan sosok orang tuanya, Paman dan Bibinya bersedia mengangkat Adit sebagai putra mereka. Mereka telah memperlakukan Adit dengan baik dan tulus selayaknya anak sendiri. Bahkan sepupu sepupu yang lainnya pun menyambut hangat kedatangan Adit tanpa ada intimidasi karena bagi mereka Adit adalah anak yang malang.
Hal ini bukan rahasia lagi untuk semua orang di keluarga. Adit pun telah mengetahuinya dan tidak mengatakan apa-apa karena menurutnya semua sudah menjadi masa lalu. Untuk kedua orang tua kandungnya, dia akan menghormati mereka sebagai mana mestinya anak menghormati kedua orang tuanya.
Dan untuk kedua orang tua angkatnya, dia juga akan memperlakukan mereka selayaknya orang tuanya sendiri. Dan pemikiran ini telah lama mengakar di dalam benak Adit.
"Jadi kedatangan kakak ke sini dalam rangka apa ya, ngomong-ngomong. Pasalnya kakak jarang datang ke sini karena kami tahu betul betapa sibuknya kalian berdua." Tanya Mama Adit setelah bertukar basa-basi dengan Mama Sera.
Mama Sera melirik putrinya yang merona malu, tertawa kecil, dia menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Menepuk tangan Mama Adit, dia lalu menunjuk Sera agar dilihat oleh Mama Adit.
"Lihatlah putriku. Tidakkah kamu menebak dari wajah merahnya apa maksud kedatangan kami ke sini?" Kata Mama Sera dengan nada bercanda.
Mama Adit mengalihkan pandangannya menatap wajah cantik Sera yang kini berwarna merah cerah tampak sangat pemalu dan manis. Dia adalah wanita yang cantik dan memiliki pesona wanita feminim yang lemah lembut. Mama Adit sejujurnya menyukai Sera dan berharap bila Adit dapat bersama dengannya. Tapi sekarang...
"Ah...mengenai perjodohan itu." Mama Adit merasa tidak enak hati saat membicarakannya.
"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat tidak benar?" Tanya Mama Sera peka melihat perubahan ekspresi di wajah Mama Adit.
Mama Adit tersenyum canggung. Dia menatap mata penuh harap Sera dengan perasaan bersalah.
"Jika itu dulu, maka kita masih mungkin menjodohkan mereka berdua karena Adit saat itu masih lajang. Tapi sekarang situasi sudah berbeda. Adit sudah memiliki kekasih di hatinya dan kami dengar Adit memperlakukan wanita ini dengan baik. Kami pikir hubungan mereka cukup serius karena kami tahu orang seperti apa Adit. Dia cukup tidak berperasaan kepada setiap wanita yang mengejarnya tapi kepada wanita ini tingkahnya sangat berbeda. Dia mengejutkan kami semua karena kepada wanita ini dia begitu lembut dan hangat. Adit bahkan ikut campur dalam keluarga wanita itu dan sekarang sudah dianggap sebagai anggota keluarga. Sekali lagi aku minta maaf, Kak. Aku tidak bermaksud menolak Sera, tidak, Sera adalah wanita yang sangat baik. Hanya saja Adit sudah menemukan wanita yang dia cintai sekarang dan kami sebagai keluarganya harus mendukung keputusannya." Mama Adit berbicara dengan lembut dan hati-hati agar tidak menyinggung mereka.
Bahkan nada suaranya terdengar bersalah karena ada hati yang terluka di sini dan ada harapan yang dikecewakan di sini.
Penolakan Mama Adit terlalu tiba-tiba. Sera, sebagai calon perjodohan sontak kehilangan senyum di wajahnya. Matanya menatap kaku Mama Adit yang menatapnya dengan permohonan maaf. Ingin sekali dia membantah dan menyalahkan pendengaran telinganya yang tidak becus, tapi faktanya semua ekspresi kedua orang tuanya telah menjelaskan semuanya.
Semuanya!
"Ini...ini enggak benar, kan?" Air mata Sera mulai berjatuhan tidak terkendali dari matanya.
Hatinya sakit dan dia tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Aku minta maaf, nak. Semuanya adalah keputusan Adit sendiri." Kata Papa Adit dengan wajah beratnya.
Daripada Mama Adit yang menyukai karakter Sera, Papa Adit jauh lebih kritis dan dalam. Dia telah melihat seperti apa Sera dan seberapa baik tingkahnya selama ini. Hanya satu kata yang dapat menyimpulkan semua penilaiannya. Yaitu, buruk.
Dia malah bersyukur putranya telah menemukan wanita yang dia cintai karena dia percaya bahwa pilihan Adit pasti lebih baik daripada wanita lainnya.
"Enggak... enggak mungkin. Aku enggak mau..."
"Hus, jangan menangis, nak. Kita masih bisa bicara." Kata Papa Sera seraya menarik Sera ke dalam pelukannya.
Tangis putrinya terlalu memilukan, sebagai seorang Ayah dia tidak mampu mendengarnya lebih lama lagi.
Mama Sera menatap pahit wajah basah putrinya yang ada di dalam pelukan sang suami. Dia menggigit bibirnya cemas dan memutuskan untuk berbicara serius dengan kedua orang tua angkat Adit. Mereka harus menggunakan kartu as yang mereka miliki untuk memenangkan perjodohan ini.
"Apakah wanita itu bernama Anggi?" Tanya Mama Sera berharap.
Bila wanita itu Anggi, maka rencananya bisa berjalan dengan baik.
Mama Adit terkejut. Dia menatap suaminya takjub sebelum menganggukkan kepalanya.
"Namanya memang Anggi. Ngomong-ngomong darimana Kakak tahu namanya? Apakah kalian pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Mama Adit tanpa sadar diliputi senyuman.
Dia sudah sering mendengar laporan supir pribadi Adit mengenai hubungan Adit dan wanita yang bernama Anggi itu. Dia merasa puas dan bangga karena putranya akhirnya bertemu dengan wanita yang dia sukai. Dan yang lebih membanggakan lagi, wanita itu adalah kepercayaan keluarga Demian, relawan terbaik mereka di masa terpuruk. Sejak bangun dari keterpurukan, keluarga Adit berjanji akan mengabdikan hidup mereka untuk membantu keluarga Demian. Jadi bersatunya Anggi dan Adit di sana dapat menjalankan sumpah mereka.
Mama Sera tersenyum kecil, terlihat ragu dan takut-takut di depan Mama Adit.
"Ada apa, kak?" Mama Adit tiba-tiba merasa cemas saat melihat ekspresi pahit di wajah Mama Sera.
"Oh, wanita itu bukanlah wanita yang baik. Dia tidak bisa menikah dengan Adit karena menurutku Adit adalah laki-laki yang baik dan pantasnya bertemu dengan wanita yang baik pula. Sedangkan wanita yang bernama Anggi itu...jangan sebutkan lagi, dia sangat memalukan."
"Kakak jangan asal bicara. Anggi adalah wanita yang baik. Penilaian putraku tidak mungkin salah, kak." Bela Mama Adit lebih mempercayai penilaian Adit daripada mereka.
Mama Sera tidak marah dengan apa yang Mama Adit katakan karena itu wajar saja.
"Dengarkan aku, adik. Anggi adalah seorang janda beranak dua. Sebelum menjadi janda dia memiliki suami yang bekerja sebagai kuli bangunan, gajinya tidak memuaskan dan Anggi juga merasa tidak cukup dengan gaji yang seadanya sedangkan hutang mereka mulai membludak. Untuk mencari uang sampingan Anggi berusaha memutar kepalanya agar hutang-hutang mereka dilunasi sampai akhirnya dia bertemu dengan Revan, adik sepupuku yang terkecil dari istri terakhir Paman. Karena Revan suka bersenang-senang Anggi memanfaatkan kesempatan itu untuk bekerja kepadanya. Dia menawarkan dirinya sendiri sebagai pelayan 'ranjang' Revan dengan bayaran fantastis. Dia berhasil menaklukkan Revan namun kebohongan nya diketahui oleh suaminya. Maka jadilah mereka bercerai dan dia akhirnya menjadi janda dua anak. Kehidupannya seketika berubah menjadi tak tertahankan dan bebas. Dia memiliki-"
"Hentikan." Potong Mama Adit tidak tahan lagi mendengar nya.
Janda?
Memiliki dua anak?
Pernah menjadi pelayan ranjang Revan?
Tentang apa semua ini?
Bagaimana mungkin dia tidak tahu tentang semua ini dan bagaimana mungkin Adit tidak memberitahunya rahasia sebesar ini?
Jika... jika dia tahu lebih awal maka dia bisa mencegah Adit untuk jatuh cinta kepada wanita itu.
"Aku sungguh tidak berbohong, dik. Apa yang aku katakan ini sepenuhnya benar. Bila kamu tidak percaya maka bertanyalah kepada orang-orang di mansion Demian agar kamu dapat memastikan kebenarannya." Kata Mama Sera menekan Mama Adit agar meragukan Anggi.
Melihat Mamanya sudah mulai menjalankan rencana mereka, dia segera ikut berbicara sambil mengandalkan isak tangisnya yang memilukan.
"Benar, Tante...hik...mbak Anggi memiliki banyak kenalan laki-laki dan dia juga pandai merayu. Saat... saat kami pergi ke kota D kemarin, dia juga kedapatan merayu seorang pelayan hotel di kota D dan langsung mendapatkan teguran dingin dari kak Adit." Sera berbicara dengan terbata-bata kepada Mama Adit.
Untuk membuat mereka percaya dengan apa yang dia katakan tadi, Sera memperlihatkan foto Anggi saat berbicara dengan seorang laki-laki tinggi berseragam pelayan hotel. Gesture badan mereka agak menempel karena Sera mengambil foto itu dari sudut yang salah untuk mengelabui siapapun yang melihat foto ini.
Mama Adit kian shock saat melihat foto itu. Dia ingin membuat pembelaan tapi lidahnya tidak kuasa untuk berbicara lagi. Akhirnya dia hanya menyandarkan punggungnya lemahnya di sandaran sofa sambil menenangkan hatinya.
"Anakku tidak mungkin berbohong, dik. Dia mengatakan yang sebenarnya. Awalnya kami tidak ingin mengungkapkan masalah ini tapi setelah mengetahui hubungan Adit dan wanita itu, aku akhirnya memutuskan untuk membuka masalah ini kepada kalian berdua agar masa depan Adit dapat terjamin dan dia tidak memiliki mimpi buruk." Kata Mama Sera dengan ekspresi pahit di wajahnya.
Sandiwaranya sungguh-sungguh sangat meyakinkan. Bahkan suaminya yang tidak tahu apa-apa sampai terhipnotis oleh semua perkataan istri dan putrinya tersebut. Sama seperti mama Adit, dia sungguh tidak menyangka bila wanita yang dekat dengan Adit sungguh bejat dan kasar.
"Baiklah, sampai di sini saja pertemuan hari ini. Istriku sedang tidak sehat dan membutuhkan waktu untuk beristirahat." Papa Adit akhirnya mengambil alih pembicaraan.
Dari awal hingga akhir, ekspresi di wajahnya tidak pernah berubah. Dia bahkan sama sekali tidak terkejut dengan foto yang Sera perlihatkan kepada mereka berdua. Seolah-olah foto itu bukanlah sesuatu yang penting untuk dia lihat.
Mama Sera dan Sera saling melihat, mengangguk ringan, mereka memutuskan untuk berhenti sampai di sini. Mereka tidak bisa terus menerus merangsang perasaan mama Adit karena dampaknya saja sudah seperti ini.
"Dengarkan aku. Wanita itu bukanlah wanita yang baik. Kalian harus menyelamatkan Adit dari pengaruh wanita itu." Mama Sera masih menekan Mama Adit.
Kedua orang tua Adit tidak mengatakan apa-apa. Yang satunya masih shock sedangkan yang lainnya berwajah datar. Persis seperti milik Adit. Adit jelas belajar dari Papa angkatnya ini.
Namun karena kesalahpahaman masa lalu membuat hubungan mereka agak merenggang. Entah sejak kapan dimulai tapi sudah bertahun-tahun Adit tidak pulang ke rumah. Dia lebih memilih hidup di apartemen sendirian daripada pulang ke rumah seperti masa-masa sekolahnya yang membuat hati rindu.
"Mama jangan dengarkan apa yang mereka katakan." Kata Papa seraya mendekati istrinya, mengelus pundak tipis istrinya dengan gerakan lembut dan menenangkan.
"Maksud Papa?"
Papa Adit tanpa ragu menjawab,"Mereka berbohong."
Untungnya Adit sudah menghubunginya beberapa minggu yang lalu dan menjelaskan situasi Anggi yang sebenarnya. Daripada menyebut Anggi sebagai wanita liar, lebih tepat menyebutnya sebagai korban dari mantan suami dan Revan. Jika bukan karena mereka, Anggi mungkin tidak akan menjanda apalagi memiliki bayangan rasa sakit akan masa lalu ini.
Dan betapa bersyukurnya Papa sebab permasalahan ini menghubungkan mereka kembali dengan Adit setelah sekian lama tidak berkomunikasi. Papa lega dan berharap hubungan mereka kembali dekat sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Berbohong, bukankah sudah jelas Anggi bertemu dengan laki-laki lain?" Mama menghapus air matanya tidak percaya.
Papa tersenyum hangat. Dia meraih tangan kurus istrinya dan menggenggamnya hangat.
"Istriku, Adit sudah menghubungi ku sebelumnya dan menjelaskan bagaimana situasi Anggi yang sebenarnya. Dia mengatakan ini kepada ku untuk mengantisipasi gerakan Sera dan keluarganya. Bila Sera membawa masalah Anggi dalam masalah ini maka kita tidak akan langsung mempercayainya karena semua yang mereka katakan sangat bertentangan dengan kebenaran yang sebenarnya." Kata Papa masih dengan nada dan suara yang amat sangat lembut.
Berbanding terbalik dengan sikap dingin dan acuh tak acuh nya saat berhadapan dengan keluarga Sera.
"Adit menghubungi Papa? Kapan?" Tanya Mama tidak sabar.
Dia sangat merindukan putranya itu tapi tidak pernah dapat bertemu karena Adit selalu sibuk dan berhalangan setiap kali ditelpon.
"Beberapa minggu yang lalu setelah dia pulang dari kota D." Kata Papa hangat.
Mama cemas,"Lalu...lalu kapan dia bisa pulang ke rumah? Aku...aku ingin bertemu dengannya dan aku juga sudah sangat merindukannya." Kata Mama sedih.
Matanya mulai basah karena terkekang oleh rasa rindu kepada putranya.
"Jangan cemas. Dia akan pulang ke rumah sebentar lagi setelah semua pekerjaannya selesai."
"Setelah pekerjaan selesai lagi..." Gumam Mama lesu.
Namun sang suami langsung menguatkannya.
"Sayang, kali ini dia akan benar-benar pulang ke rumah karena dia ingin memperkenalkan kamu dengan calon istrinya." Kata Papa tidak pernah kehilangan senyum di bibirnya.
Adit memang mengatakan akan pulang ke rumah dan memperkenalkan mereka kepada Anggi, sang wanita hebat yang telah berhasil meluluhkan hati dingin putra mereka.
"Sungguh, Pa?" Mama kembali mengembangkan harapan di matanya.
Papa mengangguk yakin untuk menghilangkan keraguan istrinya.
"Sungguh, dia akan datang bersama Anggi dan calon cuci kita." Kata Papa sama sekali tidak canggung saat menyebut kedua anak Anggi sebagai calon cucunya.
Malah ada senyuman kepuasan di sana karena mereka akhirnya memiliki tambahan keluarga. Entah itu darah daging Adit atau tidak, selama Adit mengakuinya maka dia juga akan mengakui keberadaannya.
Toh tidak ada salahnya menambah anggota keluarga lagi. Apalagi dia mendengar dari orang-orang suruhannya bila anak-anak Anggi sangat bijaksana dan cerdas. Mereka juga pandai di sekolah dan suka mempelajari matematika sama seperti yang Adit lakukan ketika masih kecil. Em, bahkan sampai sekarang pelajaran kesukaan Adit masih matematika. Pelajaran yang selalu ingin dihindari oleh sepupu Adit lainnya.
"Anggi...jadi dia sudah memiliki dua anak. Maka bagaimana dengan apa yang mereka katakan tadi tentang wanita itu, Pa? Aku takut kehidupan Adit di masa depan tidak terlalu-"
"Dengarkan aku dulu. Jangan terlalu negatif thinking apalagi untuk masalah yang jelas-jelas mereka karang sendiri." Potong Papa gemas melihat ketakutan istrinya.
Istrinya selalu begini bila menyangkut Adit. Mungkin karena Adit adalah putra satu-satunya Kakak kandung istrinya yang membuat sang istri sangat protektif terhadap kehidupan Adit.
Bahkan istrinya jauh lebih perhatian kepada Adit daripada kepada anak-anak mereka lainnya. Papa memakluminya dan tidak mempermasalahkan keputusan istrinya.
Hanya saja dia khawatir dengan tanggapan putra dan putri kandung mereka. Namun syukur lah, sampai dengan saat ini tidak ada satupun dari mereka yang menyuarakan kecemburuan.