My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
6. Tio, Anak Mommy



"Dia brengs*k!" Dia hanya melampiaskan kemarahannya saja.


Dia benci laki-laki yang sudah melukai sahabatnya sampai sesakit ini. Jika dia tahu sahabatnya akan diperlakukan seperti ini Dimas pasti tidak akan pernah membiarkan Rein menjalin hubungan dengan Davin.


"Si brengs*k itu gak pantas dapetin lo, Rein! Dia gak pantes miliki orang sebaik dan setulus lo."


Karena sahabatnya hanya pantas dimiliki oleh orang yang juga mencintainya dengan tulus.


"Gue malah bersyukur Tuhan ngasih lo petunjuk betapa brengs*knya si Davin. Gue bersyukur Tuhan ngasih lo alasan untuk lepas dari cowok sialan itu!"


"Tapi rasanya sakit, Dim.." Keluh Rein tidak berbohong, perasaan sesak di dalam dadanya itu sungguh tidak nyaman.


Dimas tersenyum tipis,"Gak apa-apa Rein, ini lebih baik daripada terlambat dan lo harus berakhir ngerasain rasa sakit yang lebih hebat lagi."


"Sekarang.." Dimas melonggarkan pelukannya.


"Lo harus memulai hidup baru dan melupakan tentang cowok brengs*k itu. Ingat, sekarang lo gak sendiri karena ada malaikat kecil di dalam perut lo."


Dimas menarik mangkok yang berisi mie telur itu ke depan Rein untuk segera dimakan sebelum mengembang.


"Untuk malam ini lo cuma bisa makan ini karena bahan makanan di dapur gue cuma ini aja. Tapi besok gue pastiin lo bisa makan makanan bergizi yang lebih baik dari ini untuk pertumbuhan lo dan bayi lo. Gak apa-apa'kan, Rein?"


Dimas udah kehabisan bahan makanan di dapur. Yang tersisa hanya beberapa biji telur dan mie instan kuah yang sangat cocok dimakan saat sedang musim hujan tapi tidak bagus untuk orang hamil.


"Gue gak lapar, Dim." Rein sedang tidak ***** makan.


"Gue tahu situasi ini mungkin ngebuat lo sedih dan kehilangan ***** makan, tapi lo harus inget, Rein, sekarang diperut lo ada siapa. Seenggaknya, pikirin keadaan anak lo, Rein. Dia harus hidup, paham?" Dimas berusaha membujuk.


Rein untungnya terbujuk.


"Okay.." Rein mengalah untuk anaknya.


Dia memaksakan diri untuk memasukkan beberapa suap ke dalam mulutnya. Rasanya memang sudah berbeda karena dibiarkan terlalu lama sehingga membuat mienya mengembang.


"Lo harus kuat, Rein, demi anak lo." Bisik Dimas menghibur.


"Dim?" Rein tiba-tiba memikirkan sesuatu.


"Kenapa, Rein?"


Dimas tanpa ragu menjawab kegelisahan hatinya,


"Dia pasti terlahir normal kok, Ibunya'kan lo." Dimas ikut sakit mendengarnya.


Rein tidak senang.


"Ih, justru karena Ibunya gue, Dim! Gue takut dia lahir cacat kayak gue." Berbeda itu menyakitkan dan berbeda itu 'cacat' di dunia ini.


Sambil mempertahankan senyumnya dia sekali lagi membujuk sahabatnya.


"Percaya sama gue, Rein. Dia pasti disayangi Tuhan."


🌼🌼🌼


5 Tahun kemudian


"Tio.. jangan lari-lari sayang, sini mandi sama Mommy." Suara tawa khas anak kecil yang ceria dan bersemangat memenuhi apartemen sederhana itu.


Langkah kakinya yang kecil bergerak lincah sibuk menghindari tangan kurus yang berkali-kali ingin menjeratnya. Mulut kecilnya akan meledakkan sebuah tawa yang lebih keras apabila pemilik tangan kurus itu gagal menangkap.


"Kalau Tio gak mau mandi juga, Mommy, tinggalin nih. Mommy gak bakal izinin Tio ikut sama Mommy ke sekolah, gak boleh ketemu sama Ibu guru cantik lagi!" Pemilik tangan kurus itu menyerah mengejar Tio.


Dia berkacak pinggang, mengamati pergerakan daging lembut dan putih yang terus berusaha menjaga jarak darinya. Terkadang mata kecilnya mengintip dari balik sofa bobrok yang dia jadikan tempat persembunyian dadakan, terkadang juga mata kecil itu menatap cemas dari balik pintu dapur yang sudah berkapur di makan oleh usia.


Mahluk kecil ini memang tidak mempunyai kaki yang panjang tapi meskipun begitu dia sangat lincah ketika bergerak. Lari kesana kemari membuat pemilik tangan kurus itu khawatir bila Tio sampai jatuh tersandung atau menabrak benda yang keras.


Kulit Tio masih lembut dan tulangnya juga sangat muda sehingga benda-benda keras itu akan melukainya bila tidak sengaja tersandung ataupun menabrak.


Tio segera menghentikan langkahnya ketika menyadari tidak ada orang lagi yang mengejar, dia berdiri angkuh menatap pemilik tangan kurus yang sedang berkacak pinggang itu dengan ekspresi cemberut.


"Mommy ailnya dingin.. Tio gak suka!" Adunya menolak.


"Tio kan udah besar jadi harus belajar mandi air dingin yah.." Dia membujuk.


"Gak mau! Tio gak suka Mommy!" Tolak Tio semakin cemberut.