My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
52. Ketulusan Tidak Bisa Dibayar



Tubuh Rein membeku sepenuhnya. Kedua matanya enggan berkedip dan mulai menimbulkan riak-riak tipis. Ingatan akan masa lalu yang menyakitkan dan melelahkan kembali menghidupkan rasa sakitnya di tahun-tahun itu.


Putus asa?


Ya, dia sangat putus asa di tahun-tahun itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa putus asa nya dia di dunia ini. Dikhianati meskipun sudah berjuang keras, cintanya yang tulus hanya dihargai beberapa lembar cek, dan semua waktu yang ia korbankan ditahun-tahun itu tidak lebih dari sebuah mimpi buruk untuk laki-laki ini.


Setelah semua mengapa laki-laki ini masih bisa berdiri angkuh di depannya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun?


Bahkan laki-laki ini dengan gamblangnya bertanya seberapa murah ia dibayar?


Seolah-olah Rein selama ini sangat mudah menjual dirinya kepada laki-laki mana saja yang mau membayar.


Apakah laki-laki sudah tidak punya sedikit perasaan kemanusiaan di dalam hatinya?


"Anda mungkin tidak tahu, Pak, bahwa orang yang tulus tidak akan meminta bayaran apapun untuk sebuah harga ketulusannya." Ucap Rein sudah merasa muak.


Tapi untungnya dia telah menyelesaikan semua pekerjaannya sehingga ia tidak perlu tinggal lebih lama lagi di sini.


"Pak, aku sudah menyelesaikan semuanya. Jadi apa aku boleh pulang sekarang? Waktu shift ku sudah habis." Rein mengingatkan dengan murah hati.


Davin masih diam dengan mata yang masih berfokus pada Rein. Ditatap seperti ini Rein merasa lebih tidak nyaman lagi. Dia menurunkan matanya tidak ingin melihat Davin.


"Kamu bisa pergi tapi jangan lupa besok pagi ruangan ku sudah bersih dan kopi harus ada di meja pukul 9 siang tepat."


"Aku mengerti, Pak. Permisi."


Tanpa menunggu Davin mengatakan apapun Rein segera keluar dari ruang kantornya. Ketika dia menutup pintu kantor Davin, dia tidak sengaja bertemu dengan Lisa, sekretaris pribadi Davin.


Rein dan Lisa sama-sama terkejut, rasanya agak canggung tapi dia masih bersikap sopan kepadanya. Tapi tidak seperti sebelumnya, Lisa kali ini memandangnya aneh tanpa niat membalas sikap sopan Rein.


"Kenapa masih belum pergi?" Tanya Lisa tidak sabar.


Rein sepenuhnya kehilangan senyum. Dia diperlakukan kasar maka dia juga tidak akan memberikannya sikap yang sopan meskipun Lisa adalah atasannya.


"Jika kamu tidak menghalangi jalanku maka aku sudah lama menyingkir dari hadapan mu." Ucap Rein terbawa emosi.


Dia sudah sangat marah diperlakukan rendah oleh Davin dan sekarang sekretarisnya pun turut mau melepaskannya.


Hah, kenapa orang-orang ini sangat sombong!


"Cih, pegawai rendahan kok sombong." Lisa segera menjaga jarak darinya.


Rein memutar bola matanya malas meladeni. Tanpa menunggu lama dia segera pergi dari hadapan Lisa, masuk ke dalam lift dengan ekspresi acuh tak acuh yang tidak disukai Lisa.


"Padahal dia hanya pelacu*, tapi sikapnya sudah seperti kekasih bos Davin saja."


Lisa sebenarnya tidak berniat menguping pembicaraan mereka berdua. Dia awalnya ingin memastikan jika di dalam baik-baik saja, eh siapa yang menduga jika dia tidak sengaja percakapan Davin dan Rein.


Ini hanya percakapan singkat saja dan sejujurnya terdengar samar-samar. Tapi yang pasti Lisa tidak masih ingat Davin bertanya kepada Rein 'seberapa murah ia dibayar?'.


Intinya, dia harus hati-hati bertemu dengan Rein di masa depan nanti.


Sementara itu di dalam lift, Rein langsung duduk dilantai begitu pintu tertutup. Dia mengusap wajahnya- mungkin lebih tepatnya ia mengusap air mata yang akhirnya bisa bebas dari kekangan.


"Bodoh! Kamu bodoh, Rein! Kenapa kamu tidak melemparkan semua berkas-berkas itu ke wajahnya tadi agar dia tahu bahwa kamu bukan orang yang serendah itu! Kamu, bodoh!" Rein merutuki dirinya sendiri, merutuki kebodohannya yang tidak bisa melawan Davin.


"Tapi...jika aku melakukannya maka laki-laki tidak berperasaan itu akan menyulitkan Dimas di sini, aku... sungguh tidak bisa membebani Dimas lagi!" Sudah cukup selama 5 tahun Dimas menderita karena merawatnya.


Untuk sekarang dia ingin menjadi seseorang yang mandiri dan bisa melewati semuanya tanpa harus meminta uluran tangan Dimas. Dia sudah cukup menyudahi Dimas.


Ting~


Pintu lift terbuka, ada orang yang masuk. Rein segera mengusap wajahnya membersihkan air mata yang sempat membasahi pipi. Dia harus kuat dan dia pasti bisa melewati semua ini karena masih ada Tio yang sangat mencintainya.


"Tidak apa-apa, ini bukan masalah. Aku pasti bisa melewati semua ini." Dia mengambil nafas panjang untuk menghibur dirinya sendiri.


"Ada Tio, masih ada Tio. Selain itu aku tidak membutuhkan siapapun."


...🍃🍃🍃...


Rein mengambil pakaian gantinya terlebih dahulu sebelum pergi mencari Tio. Ketika dia kembali ke ruangan office boy & girl, dia menemukan jika Tio sedang duduk anteng di kursi tunggu dengan beberapa coklat dan mainan baru di tangannya.


Rein heran, dia lantas mendekati putranya untuk bertanya dari siapa permen dan mainan ini.


"Tio," Panggil Rein menarik perhatian putranya.


"Mommy!" Tio sangat senang, sambil memeluk permen dan mainannya ia berlari menghampiri Rein.


"Mommy, Tio punya banyak pelmen dan mainan yang bagus-bagus!" Seru Tio sembari memamerkan barang-barang yang ada di dalam pelukannya kepada Rein.


Rein melihat barang-barang itu, tidak salah lagi ini adalah mainan yang cukup mahal karena Rein sering melihatnya di toko mainan bila masuk bersama Tio.


Jika dia punya uang lebih, membeli satu atau dua tidak akan masalah tapi sayangnya Rein perlu menabung untuk masa depan Tio nantinya.


"Banyak banget, Nak. Ini dari uncle Dimas, yah?" Rein duduk berjongkok untuk mengepaskan tingginya dengan Tio.


Padahal ia tahu jika ini bukan pemberian Dimas tapi masih saja bertanya. Siapa tahu'kan Dimas tiba-tiba banyak uang dan membelikan Tio barang-barang ini.


Tio menggelengkan kepalanya terlihat menggemaskan. Pipinya yang chubby bergerak ringan minta disentuh.


"Ini bukan dali uncle Dimas, Mommy. Tapi ini dali paman baik hati."


Paman baik hati?


"Paman baik hati siapa, Tio?"