My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
76. Milikku Bukan Milikmu, Paham?



Laki-laki yang selama ini berperan sebagai sahabat terbaik Rein, laki-laki yang selama ini berperan sebagai orang berhati malaikat untuk Rein adalah orang yang telah menghancurkan hubungan Rein dengan Davin.


Terdengar mustahil, kan? Mengingat semua pengorbanan yang Dimas lakukan untuk menjaga dan melindungi Rein selama tahun-tahun ini, tapi inilah rencananya.


Membawa Rein dan berperan sebagai tempat terbaik untuk pulang, lalu perlahan mulai memasuki hati Rein dan menggantikan posisi Davin, inilah yang Dimas rencanakan selama ini tanpa perlu membuang banyak rencana untuk berpikir.


Dia hanya perlu mengatakan kepada orang-orang kaya itu jika Davin telah menjalin kasih dengan orang miskin nan cacat, dengan begitu masalah selesai dan ia bisa menikmati hasilnya.


"Hahah...tapi sekarang apa?" Dimas menatap Davin dengan ekspresi mencemooh.


"Dia sudah terlanjur membenci lo! Membenci pengkhianatan yang lo lakuin. Lagipula, bukanlah lo sangat menikmatinya? Bersanding dengan model terkenal yang jauh lebih baik daripada Rein-"


Bugh


"Diam, sialan!" Davin menendang perut Dimas agar berhenti berbicara.


Sontak saja ini membuat Dimas kembali batuk merasakan sakit diperutnya. Tendangan Davin tidak main-main, seolah-olah dia mengeluarkan banyak tenaga untuk menghancurkan isi perutnya.


"Lo pikir gara-gara siapa gue harus ngelakuin semua itu, hah! Itu semua gara-gara, lo! Gara-gara lo gue harus menerima perjodohan yang telah direncanakan oleh Kakek! Dan gara-gara lo..." Davin mengusap wajahnya kasar menahan sesak.


"Gara-gara lo...dia untuk yang pertama kalinya menangis. Dia menangis karena gue... karena ketidakmampuan gue untuk melindunginya. Gue sakit melihatnya menderita tapi gue juga gak bisa berbuat apa-apa, gue terjebak di antara dua pilihan itu semua karena lo, karena lo, brengs*k!"


Dimas tersenyum tipis, dia adalah orang yang menyaksikan langsung betapa hancurnya Rein tahun-tahun itu tapi...dia tidak bisa menghentikan rencananya karena hatinya egois, dia juga menginginkan Rein, menginginkan hidup dan hati Rein.


"Davin," Adit menepuk pundak sahabatnya itu.


"Ayo kita pulang, dia pasti khawatir menunggu kepulangan mu di rumah." Ajak Adit tanpa menggunakan nada formal seperti biasanya.


Kali ini dia berperan sebagai sahabat yang selalu ada di setiap Davin butuhkan.


Adit merasa jika pembicaraan ini tidak akan ada artinya lagi karena Davin sudah meluapkan semua emosinya.


"Gue belum puas, gue ingin menghajar wajah sok baiknya itu!" Davin menolak.


"Tapi Rein gak akan suka kalau tahu sahabatnya lo gebukin sampai sehancur ini." Adit mengingatkannya dengan hati-hati.


"Dia bukanlah orang yang baik dan dia pantas mendapatkan semua ini!"


Adit menghela nafas panjang.


"Tapi Rein hanya tahu dia adalah sahabat yang paling baik dan bukan orang jahat yang telah menghancurkan hubungan kalian." Ini adalah faktanya dan Davin tidak bisa mengatakan apa-apa.


"Bawa gue pergi." Pada akhirnya Davin mengalah, berbicara dengan Dimas tidak akan merubah apapun.


Lagipula Rein sekarang sudah ada bersamanya jadi ia tidak perlu susah-susah membuang emosinya untuk laki-laki brengs*k yang ada di depannya ini.


"Baik, Pak." Adit kembali dalam mode formalnya.


"Gak, lo gak bisa pergi sebelum lo balikin Rein ke gue!" Dimas tidak terima. Ia langsung bangun dari duduknya, berlari dengan langkah tertatih-tatih ingin meraih pundak Davin. Namun, sebelum ia bisa menyentuhnya Davin sudah lebih dulu membalikan badannya dan menghadiahi Dimas dengan sebuah bogeman di pipi.


"Jangan bermimpi, Rein tidak akan pernah kembali kepada lo sekalipun dia menginginkannya karena gue gak akan biarkan itu terjadi untuk yang kedua kalinya." Ucap Davin dingin dan bertekad.


Cukup sekali saja ia kehilangan Rein, cukup sekali saja Rein menghilang dari dunianya karena sekarang ia sudah menjadi laki-laki yang kuat, laki-laki yang bisa melindungi Rein dan orang-orang tercintanya.


Luka dan penyiksaan di masa lalu, dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


"Gak bisa, Rein adalah milik gue! Dia adalah milik, gue! Lo gak bisa mengambil Rein dari hidup gue!" Teriak Dimas keras kepala.


Dia masih belum menyerah, padahal cairan hangat sudah mulai keluar dari sudut matanya. Dia sangat mencintai Rein dan dia tidak akan pernah tahan berpisah darinya.


"Rein adalah milik gue dan bukan milik lo, entah itu di masa lalu ataupun sekarang." Setelah mengatakan itu Davin kemudian masuk ke dalam mobilnya sedangkan Adit masuk ke dalam mobil pribadinya karena ia datang ke sini sendirian.


Untung saja ia mendapatkan kabar dari bawahannya jika Davin malam ini tiba-tiba keluar dari kawasan vila dengan kecepatan tinggi. Ini jelas mencurigakan dan Adit tahu pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Davin karena itulah ia datang menyusul Davin setelah mendapatkan rincian alamat dari bawahannya.


"Pak, kemana kita akan pergi?" Tanya Adit dari panggilan telepon begitu melihat mereka telah melewati jalan yang menuju area Vila Garden.


"Club' Edelweis." Jawab Davin singkat yang langsung disambut oleh helaan nafas panjang dari Adit.


"Aku harap setelah ini dia baik-baik saja." Gumamnya perihatin.


Bersambung...


Udah ketebak?


Bodoh?


Yum😏


Hem, malesin banget.