My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
133. Tetap Bersama



Keesokan harinya Davin demam dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Beruntung mereka ada di rumah sakit sehingga Rein tidak perlu panik karena Davin segera ditangani langsung oleh dokter Adit.


Dokter Adit berkata bahwa Davin mengalami demam karena kurang beristirahat dan terpapar cuaca dingin di negara A. Untungnya demam Davin tidak serius dan langsung ditangani, jika terlambat sehari saja demam yang tadinya tidak serius pada akhirnya akan menjadi serius.


Davin dirawat di dalam ruangan Aska agar Rein tidak terlalu sibuk ke sana kemari untuk menangani mereka berdua. Aska sendiri sudah bangun dan menjalani pemeriksaan tambahan untuk memastikan jika tubuh Aska tidak mengalami komplikasi apapun. Meskipun Aska merengek tidak ingin disuntik, Rein menolak mentah-mentah keinginannya untuk melarikan diri. Rein mengirim Aska kepada tim medis dokter Adit agar segera ditangani. Agar tidak membuat masalah, Tio mengajukan diri menangani Kakaknya selama melakukan pemeriksaan. Untungnya mereka mengizinkan Tio pergi dan Aska juga tidak rewel lagi di depan para medis.


Dia dan Tio secara bahu membahu pergi ke ruangan pemeriksaan bersama tim medis dokter Adit. Meninggalkan Davin dan Rein berduaan di dalam kamar. Tidak ada suasana ambigu ataupun romantis di antara mereka berdua karena Davin sudah jatuh tertidur karena efek obat.


Dia harus banyak tidur untuk memulihkan kesehatan dan energi tubuhnya.


Cklack


Pintu kamar dibuka oleh seseorang. Rein menoleh singkat ke belakang sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya menyiapkan makanan untuk kedua putranya. Ini adalah makanan yang dikirim dari restoran kelas atas untuk Davin dan anak-anak. Tampilan setiap makanan sangat lezat dan menggugah selera. Makanannya pun sengaja dibuat ringan agar mudah dicerna oleh pasien. Rein mengacungi mereka jempol karena menyajikan makanan dengan refrensi yang tepat untuk para pasien. Dengan begini Rein tidak akan kewalahan memasak karena makanan dari restoran ini diterima dengan baik oleh mereka bertiga.


"Apa saya mengganggumu, Nyonya?" Dokter Adit masuk ke dalam ruangan.


Menutup pintu dengan pelan sebelum masuk dan mendudukkan dirinya di atas sofa. Atensi tajamnya sekarang sedang fokus memandangi wajah pucat Davin di atas ranjang rumah sakit. Dia tertidur dengan baik dan nyaman setelah minum obat yang diresepkan.


"Dokter Adit, tolong jangan terlalu formal. Panggil saja aku Rein jika tidak keberatan." Kata Rein sopan sambil menyiapkan makanan ringan dan menaruhnya di atas meja depan dokter Adit.


Rein juga menyiapkan air putih dan jus buah untuk dokter Adit, bersikap ramah seolah mereka adalah teman lama.


Dokter Adit adalah sepupu dari kekasihnya sehingga Rein berpikir bahwa tidak sepatutnya ia memberikan rasa jarak kepada keluarga kekasihnya.


"Yah, maka aku tidak akan terlalu sopan lagi." Dokter Adit membawa tatapannya beralih melihat Rein yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Rein duduk di salah satu sofa setelah memastikan Davin tidur dengan nyaman di atas ranjang rumah sakit.


"Terima kasih, Rein." Kata dokter Adit tiba-tiba.


Rein terkejut dengan ucapan terima kasih dari dokter Adit yang begitu tiba-tiba. Dia merasa heran karena seharusnya dia lah yang berterima kasih kepada dokter Adit karena telah merawat Aska dan Davin dengan baik.


"Tidak dokter, seharusnya aku yang berterima kasih kepada mu karena telah merawat Davin dan Aska dengan baik." Kata Rein tidak pelit senyum.


Tapi dokter Adit tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia terdiam, kedua matanya memperhatikan permukaan air putih di depannya dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Entah apa yang dokter Adit pikirkan saat ini karena bibirnya tertutup rapat tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Rein tidak terganggu dengan keterdiaman nya. Dia duduk nyaman di sofa dengan pikiran yang sudah melanglang buana memikirkan kedua putranya di ruangan berbeda. Dia senang Aska akhirnya bangun dan bertindak agresif seperti biasanya, tapi bukan berarti dia merasa lega. Dia masih menunggu dan membutuhkan laporan akhir pemeriksaan Aska untuk memastikan bahwa putranya baik-baik saja.


Berderit~


Dokter Adit tiba-tiba bangun dari duduknya. Dia berjalan menuju ranjang yang ditiduri oleh Davin. Setelah berada di depan Davin, dokter Adit tidak melakukan gerakan yang pasti. Hanya berdiri di tempat dengan atensi tajam yang tidak pernah lepas dari wajah tampan pucat sepupunya.


"Terima kasih, Rein." Kata dokter Adit lagi mengulangi kata-kata yang sama.


Rein heran dan lebih heran lagi karena sudah dua kali dokter Adit mengucapkan terima kasih kepadanya.


Kali ini tanpa menunggu Rein membalas dokter Adit lebih dulu membuka mulutnya untuk berbicara.


"Aku berterima kasih kepada mu, Rein. Terima kasih karena kamu tidak memberitahu Davin mengenai kehamilan mu waktu itu." Kata Adit kali ini membuat Rein sangat terkejut.


Rein bergerak tidak nyaman di tempat duduknya. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi otaknya menyarankan agar ia tutup mulut dulu dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan dokter Adit selanjutnya.


Menyadari kegelisahan Rein, dokter Adit melanjutkan kembali apa yang ingin dia katakan kepada Rein. Tentang masa-masa pahit tahun itu.


"Jika kamu memberitahu mengenai kehamilan mu kepadanya, aku takut dia akan menyerah dengan rencananya sendiri. Memutuskan untuk mempertahankan kamu dan Aska pada waktu yang bersamaan, ketahuilah dia akan kalah telak pada waktu itu. Tidak hanya mengalami kekalahan tapi dia juga akan dihancurkan oleh Kakek. Namun, untungnya semua itu tidak terjadi karena kamu bersedia menutup mulut mu dan bahkan melarikan diri dari kota itu, Rein, aku sungguh berterima kasih kepadamu." Katanya sembari membawa pandangannya menatap wajah penuh kejutan Rein.


Malam itu, malam dimana Rein pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi tubuhnya dokter Adit sebenarnya juga ada di sana. Malam itu dia mengetahui tentang kehamilan Rein tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tidak ingin ikut campur dalam prahara rumah Demian lagi.


Dia masih belum melupakan betapa besar kebenciannya terhadap Kakek. Laki-laki egois yang menolak melepaskan Davin sebagai ahli warisnya. Padahal jika Kakek tidak egois maka ia dan Davin tidak akan mendapatkan penderitaan, tidak akan kehilangan kedua orang tua mereka, apalagi sampai berjuang sendirian untuk menghadapi para orang tua serakah itu.


Tapi sayangnya Kakek tidak perduli. Dia membiarkan Davin berjuang sendirian selayaknya seekor rusa yang sedang dikepung oleh sekelompok serigala lapar. Bukankah itu menakutkan?


"Kamu..." Rein ingin mengatakan sesuatu tapi dokter Adit tidak menunggunya untuk menyelesaikan apa ingin dia katakan.


"Aku tahu karena malam itu aku juga berada di rumah sakit yang sama dengan dirimu. Aku melihatmu keluar dari ruangan temanku. Jadi aku memutuskan untuk bertanya mengenai dirimu kepadanya." Kata dokter Adit menjawab apa yang ingin Rein ketahui.


Tidak heran dokter Adit mengetahui kehamilannya saat itu. Ternyata itu bukan tanpa alasan dokter Adit mengetahuinya. Dokter Adit adalah seorang dokter dan mungkin saja saat itu dia sedang bertugas di rumah sakit yang Rein kunjungi untuk melakukan pemeriksaan.


Yah, mungkin saja.


"Davin sangat beruntung masih memiliki kamu dan anak-anak." Gumamnya sarat akan kecemburuan tapi masih bisa didengar oleh Rein.


Dokter Adit juga ingin memiliki orang yang mencintainya dengan tulus. Bukan karena harta atau kekuasaan, tapi karena hati sepenuhnya. Sayang sekali, sampai dengan detik ini dia belum bisa menemukannya.


"Ada apa, dok?" Rein melihat dokter Adit tenggelam dalam lamunannya.


Dokter Adit tersadar, ia menatap wajah kebingungan Rein singkat sebelum beralih menatap wajah sepupunya.


"Rein, apapun yang terjadi nanti jangan pernah tinggalkan sepupuku. Mungkin dia adalah laki-laki yang arogan dan menyebalkan, tapi kamu harus tahu bahwa dia seperti ini juga karena tekanan keluarga Demian. Jika dia tidak belajar menjadi kuat maka kamu, Aska dan Tio tidak akan memiliki hidup yang baik. Maka tetaplah bersamanya dan dengarkan apa yang dia katakan kepadamu karena yakinlah, semua yang dia katakan pasti memiliki akhir yang baik untukmu." Setelah mengatakan ini dokter Adit keluar dari bangsal Davin tanpa mengucapkan pamit kepada Rein.


Sejak hari itu pula Rein tidak pernah lagi melihat keberadaan dokter Adit di rumah sakit. Davin bilang dokter Adit pindah tugas ke rumah sakit di luar kota. Sangat disayangkan dia pergi tanpa mengucapkan pamit kepada mereka.