My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
107. Syarat



"Lepaskan aku dulu, aku ingin berbicara serius kepadamu!" Kataku agak kesal.


Padahal Davin adalah laki-laki dewasa dan sudah bekerja- oh, pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan! Dia adalah penerus Demian dan kini tengah menjabat sebagai CEO perusahaan cabang besar di kota ini.


"Tidak melarikan diri lagi?" Tanyanya memastikan.


Aku menganggukkan kepalaku cepat, mencubit punggung tangannya gemas sehingga ia buru-buru melepaskan tangannya dari perutku. Menghela nafas panjang, aku lalu berbalik menghadapnya, menatap kedua matanya langsung yang sedang memancarkan sorot mata sendu di bawah cahaya redup bulan. Samar, samar-samar aku bisa melihat bila Davin melihatku dengan tatapan gugup sarat akan kegelisahan. Dia tidak ada bedanya dengan anak kucing menyedihkan, sekeras apapun hati akan lunak jadinya.


"Davin, aku bersedia memulai semuanya dari awal kembali." Kataku membuat wajahnya spontan mengembangkan senyuman lebar.


"Sungguh-"


"Tapi," Potongku cepat.


Dia sungguh tidak sabaran, berbeda dengan citra angkuh nan acuh tak acuh yang selalu ia tampilkan di kantor atau di depan karyawannya. Uh, kemana semua itu pergi?


"Dengan satu syarat." Kataku membuatnya menahan nafas.


Dia benar-benar seperti anak kecil.


"Apa syaratnya? Katakanlah, Rein!" Dia bertanya panik dan tidak sabar.


Syaratnya...


Aku memejamkan mataku untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa inilah jalan yang aku inginkan. Ini adalah jalan yang aku harapkan.


"Bila suatu hari kita menemukan masalah yang sama seperti 5 tahun yang lalu, aku harap...aku harap kamu tidak memendamnya sendiri dan menyelesaikan masalah itu sendirian. Davin, jika kamu melakukannya lagi maka aku tidak akan pernah kembali kepadamu. Aku tidak akan pernah mau melihatmu lagi dalam hidup ini, apa kamu sanggup?"


Dia terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan rumit yang tidak bisa ku baca. Melihatnya seperti ini membuatku bertanya-tanya apakah ia menyerah?


Apakah ia menolak melakukannya?


Apakah ia tidak bersedia-


"Aku sanggup, Rein. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Jika suatu hari kita mendapatkan masalah yang sama dengan tahun itu...aku tidak akan memendamnya sendirian lagi dan aku bersedia membicarakannya dengan mu. Aku berjanji."


Dia melakukannya, dia benar-benar melakukannya.


Aku memejamkan mataku menahan isak tangis. Lalu, beberapa detik kemudian sebuah pelukan hangat kurasakan di malam dingin ini. Davin memelukku dengan erat, berkali-kali mencium puncak kepalaku sambil melambungkan permintaan maaf untuk tahun-tahun menyakitkan itu.


Aku tersenyum tipis, itu sudah menjadi masa lalu sekalipun menyisakan luka di hati kami- tapi lihat sekarang kami telah bersama lagi dan bertekad untuk memperbaikinya kesalahan di masa lalu.


Awalnya aku merasa ragu tapi ketika aku mendengar suara husky Davin,


"Hem?"


Tiba-tiba semua keraguanku hilang. Aku langsung melingkari punggung lebar Davin dan memeluknya erat, sangat erat.


Ya Tuhan, betapa rindu hatiku kepadanya. Laki-laki yang selalu menjadi duniaku bahkan disaat melewati tahun-tahun sulit itu.


"Ayo kita pulang, Tio pasti sudah menunggu kita di penginapan." Ajak ku kali ini tidak ditolak oleh Davin.


"Ayo pulang dan temui putra kita." Katanya terdengar jauh lebih semangat dari sebelumnya.


Dengan memeluk pinggangku tidak ingin jauh, Davin membawa ku kembali ke penginapan. Kami menyusuri jalan hutan yang sangat panjang dan beberapa kali membuat Davin kebingungan. Aku khawatir kami tersesat dan berakhir bermalam di tengah hutan, tapi Davin selalu meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.


Ketika aku bertanya bagaimana caranya menemukan ku, Davin mengatakan jika dia berhasil melakukannya setelah dijelaskan secara singkat oleh polisi hutan dan sisanya ia menggunakan nalurinya saja. Bukankah jawabannya ini terkesan dibuat-buat?


Lalu, ketika aku bertanya kenapa ia tidak datang mencariku bersama polisi hutan itu agar tidak tersesat saat pulang, Davin dengan mudahnya menjawab bahwa ia sengaja melakukan itu agar bisa berduaan dengan ku.


Hah, betapa konyolnya laki-laki ini.


Hampir 1 jam lamanya atau entahlah tapi menurutku kami berjalan hampir 1 jam lamanya!


Kami akhirnya sampai di penginapan dengan suasana yang sangat menegangkan- setidaknya, itulah yang aku rasakan ketika masuk ke dalam halaman luas penginapan. Entah sejak kapan semua karyawan berkumpul di halaman ini padahal aku ingat sebelumnya bila mereka masih tertawa-tawa bahagia karena jurit malam.


Tapi sekarang mereka semua berkumpul di sini dengan ekspresi panik di wajah masing-masing. Membuatku bertanya-tanya apa yang sedang terjadi di sini ketika aku dan Davin tidak ada di sini?


"Mommy hiks... Mommy..." Tangisan nyaring Tio menarik kebingungan ku.


Di sana, di atas podium Adit sedang berdiri sambil menggendong putraku. Di dalam pelukannya Tio menangis sesenggukan seperti anak yang teraniaya. Dia menatapku dengan tatapan menyedihkan, kedua tangan kecil nan gembil nya terentang ingin memeluk ku.


Panik, segera aku berlari mengambil Tio dari pelukan Adit.


Tio langsung memelukku erat, badannya gemetar ringan karena ketakutan entah untuk alasan apa. Aku khawatir tapi tidak lupa untuk menenangkannya agar berhenti merasa takut.


"Apa yang terjadi?" Tanya Davin dingin kepada Adit.


Davin sepertinya sangat marah.


"Bos, Tuan muda tiba-tiba menangis mencari Nyonya- maaf, maksudku Tuan muda menangis karena mencari Rein. Dia berteriak-teriak ingin bertemu dengan Rein dan tidak mau berhenti meskipun kami memberikan banyak mainan atau makanan kepadanya." Anehnya, Adit mengatakan ini dengan wajah datar yang membuat sembelit.