
"Yo, beraninya kamu bermain dengan kekasihku. Apakah kamu sudah bosan hidup?" Suara dingin nan datarnya bagaikan sedotan penyelamat untuk Anggi.
"Adit!" Teriak Anggi semakin menangis.
Revan terkejut. Untuk sesaat dia kesulitan mencerna situasi di sini dan tanpa sadar melonggarkan cengkeraman tangannya di tangan Anggi.
Tunggu, kekasihnya?
Sejak kapan Adit dan Anggi bersama?
Mengapa dia tidak tahu?
"Kekasihmu?" Tanya Adit kosong.
Wajah Adit sangat muram. Tanpa perlu menjawab pertanyaan Revan, dia langsung menarik Anggi dengan mudah dan membawanya ke sisinya untuk dilindungi.
Beberapa saat yang lalu dia sempat memiliki kecurigaan bila Revan akan mencari Anggi ke toilet. Dan kecurigaannya ini semakin menguat saat Anggi tidak kunjung-kunjung keluar dari toilet.
Adit cemas dan membawa langkah kakinya ke toilet wanita. Dan benar saja. Ada suara teriakan Anggi di dalam tapi tidak ada yang berani menolong karena ada beberapa penjaga di luar. Untungnya, dengan identitasnya sekarang para penjaga itu tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya sehingga dia dengan mudah mendobrak pintu dan masuk.
"Adit... Adit..." Anggi ketakutan. Dia memeluk Adit sekuat mungkin untuk mencari perlindungan.
Adit menggosok lengan Anggi untuk menenangkannya.
"Pakai ini, di sini dingin." Adit melepaskan jasnya dan melingkarinya di tubuh Anggi.
Anggi masih memeluk Adit. Dia takut memberikan Revan ruang untuk menerornya lagi.
"Berikan dia kepadaku." Geram Revan setelah tersadar mangsanya telah diambil.
Adit menatap muram,"Kekasihku hanya bisa menjadi milikku." Klaim Adit tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
Jantung Anggi berdebar. Rasanya sangat nyaman dan pada saat yang sama manis, tapi dia tahu dan menyadari fakta bila Adit melakukan ini untuk menyelamatkannya.
Adit tidak bersungguh-sungguh dengan kata lain, ini hanyalah kepura-puraan.
Adit tersenyum tipis, tangan besarnya menarik Anggi masuk ke dalam pelukannya dengan gerakan posesif- untung saja dia sering melihat Davin melakukannya kepada Rein. Jadi dia mendapatkan pelajaran tambahan dan sangat berguna disaat genting seperti sekarang.
"Perjanjian kalian hanya setengah bulan dan Anggi sudah memenuhinya jadi dia tidak punya hutang lagi kepadamu."
Tubuh Anggi menegang. Dia tidak menyangka jika rahasianya sudah diketahui oleh Adit. Jika rahasianya diketahui, maka Adit harusnya tahu langkah apa yang dia gunakan untuk melunasi hutang suaminya, kan?
Hati Anggi sakit. Dia merasa lebih kotor.
Revan menggertak kan giginya menahan amarah.
"Bahkan walaupun hutangnya sudah lunas, dia masihlah mainan penghangat ranjang ku-"
Bugh
Belum selesai dia berbicara, Adit tiba-tiba melayangkan bogem mentah ke wajahnya hingga dia jatuh tersungkur ke lantai. Anggi sangat ketakutan melihat gerakan Adit yang begitu tiba-tiba. Dia shock juga panik karena gara-gara dirinya Adit harus melawan Paman kecil Davin!
Adit menyinggung keluarga Demian hanya karena membelanya!
"Beraninya kamu-"
"Apa? Kamu ingin mengadu kepada tuan besar? Silakan, aku tidak akan takut. Seperti kamu, aku juga memiliki tuan. Coba pikirkan dengan baik apa yang akan tuan Davin lakukan kepadamu ketika tahu tamu kehormatannya hampir kamu lecehkan?" Potong Adit tanpa ampun.
"Adit, ayo berhenti. Kita harus kembali sebelum tuan mencari kita..." Bisik Anggi lemah tapi diabaikan oleh Adit.
"Hah, Davin hanyalah bocah-"
"Kudengar dari tuan Davin, jika kamu membuat masalah dan mempermalukan keluarga Demian lagi, maka tuan besar tidak akan ragu mengusir mu dari rumah ini. Tidakkah kamu, takut?" Potong Adit sekali lagi, namun kali ini dengan nada mengejek.
Revan mendengus dingin. Kedua tangannya mengepal bertekad membalas Adit dan Anggi suatu hari nanti.
"Dengar, masalah ini belum selesai. Anggap aku mengampuni mu hari ini tapi tidak dengan hari lain." Ancam Revan sebelum membawa langkah beratnya keluar dari toilet.