My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
27. Kesal



Rein berjalan malas menuju pantry. Wajahnya ditekuk karena kesal, membuat Mbak Anggi yang sedari tadi menunggu kedatangan Rein menjadi panik. Dia menduga jika Rein habis dimarahi oleh Pak Davin karena telat mengantarkan kopi.


"Rein, lo habis dimarah ya sama, bos Davin?" Mbak Anggi dengan pengertian mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Rein.


Ini jelas salahnya karena tidak bisa menjalankan tugas dengan baik sehingga Rein mendapatkan imbasnya.


"Makasih, Mbak." Kebetulan Rein agak haus.


Dia meneguk habis air putih itu sampai menyisakan beberapa tetes air tidak terjangkau.


"Rein, lo dimarahi sama, bos Davin, yah gara-gara gue?" Mbak Anggi masih menanyakan topik yang sama.


Mood Rein hari ini langsung hancur karena pertemuannya dengan Davin. Apalagi dia tadi mendapatkan kata-kata tajam dan pedas dari Davin sehingga moodnya yang sudah buruk karena masalah Tio kini semakin memburuk.


"Gue emang dimarahi tapi bukan karena lo, Mbak." Jawab Rein tidak menutupi.


Dia meletakkan gelas kosong yang ada di tangannya ke tempat cucian agar bisa dibersihkan.


"Terus lo dimarahin karena apa sama dia?" Mbak Anggi tidak percaya.


Rein menghela nafas panjang. Dia mengusap wajahnya pelan untuk menenangkan emosinya.


"Dia marah karena kopi buatan gue gak enak, Mbak. Dia bilang lain kali gue gak perlu nganterin ataupun membuat kopi untuk dia. Jadi ini bukan salah lo, Mbak. Ini salah gue sepenuhnya." Rein tersenyum tipis.


Mbak Anggi tidak merasa lega mendengar jawaban Rein. Dia pikir ini murni salahnya karena jika dia tidak ceroboh tadi Rein mungkin tidak akan kena marah.


"Gue minta maaf, yah." Mbak Anggi tidak enak hati kepada Rein.


Rein tersenyum kecil, dia menggelengkan kepalanya tidak peduli.


"Gak apa-apa, Mbak. Gak ada yang perlu dimaafin. Udah ah..gue mau lanjut kerja dulu biar gak kena marah lagi. Lo juga ya, Mbak. Jangan kebanyakan santai biar gak kena marah dari bos kita yang nyebelin itu." Rein masih kesal setiap kali mengingat sikap angkuh Davin tadi.


Hah,


Untung saja hari itu Tuhan memberikannya sebuah petunjuk tentang pengkhianatan Davin malam itu. Jika tidak, dia mungkin terus terjebak dalam pemikiran jika Davin adalah laki-laki yang sempurna padahal nyatanya dia tidak berbeda dengan laki-laki kurang ajar diluar sana.


Dia membersihkan gelas kopi yang tidak diminum Davin dan gelas air putih yang diberikan oleh Mbak Anggi. Setelah bersih dia menaruhnya kembali ke dalam laci.


"Dah, Mbak." Rein segera pindah ke lantai lain untuk mengerjakan tugas yang lain. Dia ingin menyibukkan dirinya sebentar saja agar bisa menghilangkan bayangan wajah Davin dari kepalanya.


...🌼🌼🌼...


"Rein! Kamu kok ngelamun sih?" Teriak Revan entah sejak kapan sudah berdiri di samping Rein.


Rein tersadar, matanya tampak linglung.


"Eh, Revan.." Rein segera mengusap wajahnya yang kusut.


"Nih, ambil." Revan memberikan Rein sebuah kantong plastik putih.


"Ini apa?" Rein enggan mengambilnya.


Revan tersenyum lembut,"Udah ambil aja. Liat sendiri di dalam ada apa."


Revan tetap mendorong kantong plastik itu ke depan Rein.


Rein enggan tapi tidak punya pilihan lain. Dia dengan berat hati menerima pemberian Revan.


"Eh, coklat?"


Di dalam ada kotak coklat dari merek terkenal dan Rein tahu harganya tidak murah. Untuk Rein harga coklat ini bisa mengambil setengah gajinya.


"Aku dengar dari Mbak Anggi kalau kamu baru aja di marah sama bos Davin. Mood kamu pasti buruk banget sekarang jadi aku sengaja beliin coklat ini biar kamu bisa enak kan lagi." Revan menjelaskan secara singkat.


Revan hari ini tidak seagresif kemarin. Dia jauh lebih santai dan lembut ketika berbicara dengan Rein. Membuat Rein kian tidak nyaman berada di dekat Revan.


"Ini kemahalan, Rev. Aku gak mau." Rein mengembalikan coklat itu ke tangan Revan.


Melihat coklat ini saja Rein tidak berani menerima apalagi menyentuhnya. Ini mahal dan orang miskin seperti mereka tidak akan mampu membelinya kecuali Revan memang orang kaya.


Hah..


Rein memang punya rasa antisipasi terhadap kedekatan Revan. Dia tidak yakin Revan mendekatinya karena alasan suka atau karena ada maksud tertentu. Karena dibanding dengan Rein yang biasa-biasa saja dan tidak punya bentuk tubuh wanita 'normal', ada banyak sekali wanita cantik di kantor ini. Apalagi mereka lahir dari keluarga kaya yang tidak memalukan seperti Rein. Namun Revan mengabaikan mereka dan tetap mendekati Rein yang tidak punya kelebihan apa-apa.


Bukankah ini aneh?