My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
24. (24)



Pagi ini rumah agak panas karena AC sudah rusak dan belum diperbaiki sehingga tidak berfungsi lagi. Sebenarnya AC sudah sangat sering diperbaiki sampai-sampai membuat kinerjanya merosot drastis hingga benar-benar tidak bisa diperbaiki lagi. Para penghuni rumah duduk di atas sofa dengan kipas murah ditangan masing-masing. Ini baru jam 8 pagi tapi suhunya sudah sepanas ini lalu bagaimana jika jam 12 siang nanti?


Mereka tidak bisa membayangkan betapa panasnya waktu itu.


"Ibu, gerah! Aku mau berendam di kolam air dingin buat ngilangin gerah." Widia, gadis yang paling gemuk dan kelebihan di rumah ini mengeluh kepada Ibu.


Leher dan dahinya telah bercucuran keringat seperti orang yang sedang sauna. Membasahinya kain bajunya yang baru saja diganti hingga memperlihatkan lekukan-lekukan tubuhnya yang terbentuk karena lemak. Kondisinya sangat tidak nyaman dan Ibu bisa melihat bila dia segera membutuhkan udara dingin. Tapi kemana harus mencari udara dingin disaat ini karena berita dimana-mana menginformasikan bila dunia sekarang sedang diserang oleh suhu panas yang ekstrim. Dampak suhu panas ekstrim ini menyebabkan beberapa negara di Eropa harus mengeluarkan alarm bahaya, meminta warganya agar tidak keluar rumah dan sekolah di liburkan selama beberapa hari untuk mencegah jatuhnya korban lagi.


"Sabar, Wid. Cuaca lagi enggak baik jadi kita harus begini dulu sampai semuanya kembali normal." Kata Ibu menghibur putrinya.


Widia juga sudah bersabar tapi suhu yang abnormal telah membuatnya benar-benar kehabisan sabar. Dia merasa gerah, keringat ada dimana-mana dan yang paling penting adalah karena suhu tinggi membuatnya jadi mudah emosi.


Perkara sepele yang menyinggung hatinya pasti akan menjadi masalah besar di dalam kepalanya.


"Sabar, sabar! Ibu enggak lihat aku udah sabar dari kemarin?! Aku tuh capek tahu, Bu. Badan aku semuanya basah tiap hari dan harus ganti baju terus padahal bajunya belum lama aku pakai. Kalau begini terus semua bajuku yang ada di dalam lemari pasti'habis karena kebanyakan ganti baju terus. Lagian, Bu, apa susahnya sih beli AC lagi? Harga AC kan enggak mahal-mahal amat? Aku lihat kemarin ada tetangga yang beli AC karena enggak tahan kegerahan. Enggak cuma beli satu tapi dia justru beli dua AC! Aku dengar satu AC nya ditaruh di dalam kamar anaknya yang masih SMA. Hah...apa Ibu mau dipandang rendah sama mereka? Padahal menurutku tetangga itu enggak sekaya kita. Dibandingkan mereka kita jauh lebih baik tapi kok bisa kalah saing sama mereka. Mereka yang miskin aja beli AC, masa kita yang keluarga PNS enggak bisa?!" Kata Widia menyulut kecemburuan Ibunya.


Dia paling tahu orang seperti apa Ibunya. Ibunya itu paling tidak suka diremehkan dan suka pamer kepada para tetangga. Apa yang dia miliki dan beli akan segera sampai ke telinga para tetangga di sini. Dan apabila dia mendengar ada tetangga yang memiliki sesuatu atau barang yang lebih dari dirinya, maka Ibu pasti tidak akan tinggal diam. Dia akan pergi membeli barang yang lebih mahal untuk membuktikan bahwa dia memiliki banyak uang untuk dibelanjakan.


Nah, Widia sengaja memanfaatkan kecenderungan Ibunya untuk pamer yang tidak bisa kalah bersaing dari tetangga lain. Dia menyulutnya dengan kata-kata yang berlebihan, membuat Ibu terbakar cemburu dan menumbuhkan perasaan krisis seperti sebelum-sebelumnya.


"Ibu tahu, Nak. Ibu juga melihatnya sendiri toko elektronik itu mengantarkan dua AC ke rumah tetangga kita." Kata Ibu cemberut.


Widia melihat reaksi cemberut Ibu segera menahan bahan bakar.


"Makanya Ibu juga beli dong, Bu. Masa sih Ibu bisa kalah saing sama mereka? Padahal kan di tempat ini kita yang paling mampu, Bu, karena Bapak bekerja sebagai PNS."


PNS atau sebut saja pegawai negeri sipil sering kali menjadi acuan drajat kemampuan hidup suatu keluarga di beberapa tempat. Pekerjaan ini sangat mewah bagi beberapa tempat karena mendapatkan jaminan langsung dari pemerintah. Seringkali pekerjaan ini diklasifikasikan sebagai patokan untuk mencari suami di beberapa tempat. Dan pemahaman salah ini juga tidak bisa lepas dari gaya hidup para PNS yang menganggap diri mereka sendiri sebagai orang yang istimewa. Jadi tidak salah bila masyarakat meyakini bahwa menikah dengan PNS sama dengan memiliki jaminan hidup yang memadai.


"Kamu ngomong apa, sih? Siapa bilang Ibu enggak mau beli! Ibu sudah ngomong sama Bapak kemarin untuk beli AC dan beberapa peralatan rumah tangga lagi tapi Bapak menolak. Bapak bilang setengah dari gajinya untuk melunasi hutang di Bank dan setengahnya lagi untuk simpanan rumah. Kita enggak bisa menggunakan simpanan rumah secara acak karena uang itu akan kita gunakan untuk hal-hal yang lebih penting di masa depan nanti. Makanya Ibu enggak pergi beli AC dari kemarin padahal mah Ibu pengen banget beliin kalian AC." Kata Ibu tertekan.


Melihat tetangganya membeli AC, sifat Ibu yang tidak mau kalah langsung berkobar. Dia kemudian bertanya kepada suaminya apakah bisa membeli AC tapi Bapak menolak karena uang tidak cukup sekarang. Dan sebenarnya Ibu tadi tidak menjelaskannya dengan benar kepada Widia. Dia sengaja menyembunyikan beberapa hal dan salah satunya adalah uang rumah tidak cukup. Bukan karena mereka rajin menyimpan uang tapi karena mereka memang tidak memiliki banyak uang. Mereka masih memiliki hutang di Bank yang harus di cicil setiap bulannya, belum lagi untuk kehidupan sehari-hari mereka selama sebulan, Ibu tahu betapa boros anak-anak sehingga keuangan mereka merosot hingga mendapatkan label krisis. Tapi sebagai seorang Ibu dia tidak mungkin menjelaskan kekurangan keluarga mereka. Dia lebih suka berbohong kepada anak-anaknya daripada mengatakan yang sebenarnya.


"Yah, kok gitu. Ac penting tahu, Bu. Harganya juga enggak mahal-mahal amat, kok." Kini Widia yang cemberut karena Ibu tidak bisa memenuhi harapannya.


Lihat saja ekspresi tertekan Ibunya. Dia tahu mungkin masalah keuangan mereka mengalami masalah. Tapi ego di dalam hatinya berteriak-teriak ingin segera dimanjakan. Dia telah kehilangan sabar menghadapi panas ekstrim ini setelah beberapa hari bersabar.


Tiba-tiba Tina keluar dari kamar. Dia masuk ke ruang tamu dan menyapa Ibu. Saat matanya menangkap keringat lengket yang membanjiri dahi dan leher Widia, ekspresi nya segera berubah. Dia menatap jijik Widia dan ogah duduk bersamanya jadi dia duduk di samping Ibu namun tetap berhadapan langsung dengan Widia.


"Bajunya udah basah gitu. Kamu enggak risih, apa? Enggak mau ganti?" Tanya Tina bertanya baik-baik tapi terdengar menjengkelkan untuk Widia sendiri.


Apalagi saat melihat ekspresi jijik Tina, hati Widia langsung membara karena kemarahan. Dia sendiri juga tidak mau seperti ini dan agak malu dilihat dengan penampilan seperti ini tapi apa yang bisa dia lakukan?


Dia tidak bisa mengontrol semua keringatnya!


"Bisa diam, enggak? Rese banget sih jadi orang." Gas Widia merajuk.


Tina memutar bola matanya malas. Tampaknya bola lemak berjalan ini tidak bisa diajak bicara secara normal untuk saat ini jadi dia segera menutup mulutnya tidak berbicara lagi. Tolong jangan salahkan reaksinya barusan karena siapapun pasti akan merasa jijik melihat tetesan-tetesan keringat orang lain hingga membanjiri pakaian yang dikenakan. Walaupun orang itu adalah saudaranya sendiri tapi tetap saja rasanya agak menjijikkan. Huh, daripada duduk di sini mengeluarkan sari-sari lemaknya, ada baiknya Widia masuk ke dalam kamarnya sendiri agar sari-sari lemaknya tidak mengganggu penglihatan orang rumah.


"Bu, kenapa kita tidak meminta bantuan ke rumah Paman dan Bibi saja? Mereka sekarang kan sudah kaya dan banyak uang jadi memberikan kita uang sedikit saja harusnya tidak merugikan mereka." Tina tiba-tiba mengangkat topik tabu yang sudah beberapa hari ini mereka tidak bicarakan.


Tina sempat mendengarkan pembicaraan Ibu dan Widia tadi dari dalam kamar. Dia juga kepanasan karena cuaca ekstrem dan mana tahan berlama-lama di dalam rumah tanpa AC. Karena Ibu dan Bapak tidak punya biaya untuk membeli AC maka kenapa tidak mereka minta bantuan kepada orang tua Anggi saja?


"Minta bantuan sama mereka? Apa kamu gila!" Bentak Ibu marah.


Masih segar di dalam ingatannya tentang malam itu. Mereka diusir oleh Anggi tanpa sempat duduk di dalam rumah sekedar untuk beristirahat atau minum teh. Anggi bahkan tidak memandang mereka sebagai keluarga malam itu apalagi menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramah, Anggi tidak sebaik itu dan justru langsung mengusir mereka semua. Itu adalah sebuah penghinaan yang tidak mungkin Ibu lupakan. Dia diusir! Sungguh, tidak pernah dia mendapatkan penghinaan sekejam ini sebelumnya dan itu semua gara-gara Anggi yang sok kaya.


Mentang-mentang dia sekarang kaya jadi dia melupakan hubungan kekeluargaan mereka, sungguh menyebalkan!


Widia di seberang rasanya ingin melemparkan bantal sofa di sampingnya.


"Skin care! Skin care! Udah betapa lama kamu pakai skin care tapi kok hasilnya gak ada? Kulit kamu enggak berubah-ubah. Buluk tetap aja buluk, muka kamu enggak ada perubahan sama sekali." Ejek Widia sinis.


Jika Widia punya kekurangan lemak menggumpal dimana-mana maka Tina justru punya kekurangan pada warna kulitnya. Dia kurus tapi kulitnya gelap, bibirnya juga menggelap dan tipis, kalau dipakai kan lipstik jatuhnya aneh.


"Enak aja, enggak ada perubahan kamu bilang? Jelas-jelas muka aku jauh lebih baik setelah pakai skin care." Tina benar-benar marah karena kelemahannya disinggung.


"Baik dari Hongkong! Muka kamu tambah putih, enggak. Jadi glowing, juga enggak. Malahan yang ada muka kamu makin buluk juga iya. Udah deh enggak usah habis-habisin uang buat beli skin care lagi karena enggak ada gunanya!" Ucap Widia kejam.


Faktanya kulit Tina emang lebih bersih tapi masih kalah jauh dengan pengeluaran yang dihabiskan untuk membeli skin care. Harga skin care yang Tina beli hampir menyentuh angka 400 ribu, sangat mahal dan boros karena karena isinya hanya sedikit. Benar-benar enggak sebanding dengan pengeluaran uang mereka.


"Dasar lemak bola! Bilang aja kamu sewot sama aku. Daripada ngurusin kulit aku lebih baik kamu urusin lemak kamu tuh yang menggumpal dimana-mana. Jijik banget tahu enggak." Tina sakit hati dan langsung membalas dengan kejam pula.


Berawal dari masalah AC Tina dan Widia mulai bertengkar. Mereka saling membuka kelemahan masing-masing, mengejek satu sama lain, dan saling membandingkan diri masing-masing.


Cuaca panas, rumah terasa panas, dan pertengkaran panas mereka membuat Ibu mendidih marah.


Pa!


Ibu memukul meja untuk menghentikan pertengkaran mereka berdua. Melihat kemarahan Ibu, mereka langsung tutup mulut dan melanjutkan pertengkaran dengan tatapan sinis di mata masing-masing.


Ketika Tina dan Widia tutup mulut, barulah Ibu menjadi tenang. Dia menyandarkan punggungnya di sofa untuk mengatur pikirannya saat ini. Lalu beberapa menit kemudian dia akhirnya berbicara.


"Jangan bertengkar lagi. Ibu pusing mendengarnya. Daripada bertengkar lebih baik kalian buat es batu saja di dapur biar nanti kita bisa buat air es." Kata Ibu memberikan perintah.


Cuaca panas-panas begini enaknya minum yang dingin-dingin.


"Ibu enggak mau ke rumah kak Anggi?" Tina masih mengingat topik yang sama.


Ibu mengusap keningnya yang pusing.


"Ibu enggak mau. Anggi enggak suka sama kita, dia enggak mau mengakui kita sebagai keluarganya. Terutama kesalahan yang kamu perbuat, dia masih mengingatnya sampai sekarang." Kata Ibu menolak gagasan Tina.


Tina juga tahu dia bersalah dan dia menyesalinya sekarang. Bila dia tahu suatu hari nanti Anggi akan menjadi orang kaya, maka mungkin dia tidak akan pernah melakukan hal konyol itu kepada Anggi.


"Bu, kita bisa bicara dengan Paman dan Bibi dengan baik-baik. Aku yakin mereka mau memaafkan kita dan memberikan kita kesempatan lagi karena biar bagaimanapun Bapak adalah adik Paman. Mereka pasti bisa menerima kita lagi karena hubungan persaudaraan kalian." Bujuk Tina kepada Ibunya.


Ibu juga sempat berpikir seperti itu tapi dia ragu selama beberapa hari ini karena masih sakit hati. Tapi situasinya sekarang benar-benar berbeda. Dia membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk keperluan anak-anaknya. Dan cara yang paling ampuh dan cepat adalah meminta uang kepada kedua orang tua Anggi.


"Benar, Bu. Ibu enggak usah khawatir soal kak Anggi karena dia jarang pulang jadi kita bisa melobi Paman dan Bibi agar berada di sisi kita." Widia mau tidak mau ikut membujuk.


Impiannya akan uang Anggi masih belum menghilang apalagi setelah dihina-hina oleh Tina tadi, dia malah semakin bersemangat ingin segera memiliki banyak uang dan pergi ke dokter kecantikan untuk melakukan sedot lemak.


Mendengar bujukan anak-anaknya, Ibu mau tidak mau terbujuk juga. Toh Anggi juga tidak ada di rumahnya jadi mereka bisa leluasa berbicara dengan orang tua Anggi. Orang tua Anggi juga orang yang lembut jadi kali ini mereka pasti berhasil berbicara.


"Bu.." Panggil Tina berharap.


Ibu memejamkan matanya membuat keputusan.


"Baiklah, Ibu akan mencoba berbicara dengan Bapak nanti. Jika Bapak bersedia, kita bisa pergi tapi kalau Bapak enggak mau, maka kita tidak akan pergi. Sudah, sekarang pergilah membuat es batu. Kalau kalian tidak mau maka anggap saja kita tidak akan pergi ke rumah Anggi."


Tina dan Widia buru-buru bangkit dari duduk mereka. Berjalan dengan tergopoh-gopoh ke dapur untuk menjalankan tugas yang Ibu mereka berikan.