
"Tunggu saja, pak. Bila sudah waktunya aku pasti akan menikah." Kata Dimas santai.
Jangankan bapak, dia sendiri juga ingin segera menikah tapi usia Ail terlalu rendah sekarang dan dia harus menunggu dua tahun lagi agar bisa menikahinya.
"Bapak sama ibu sudah gak sabar, nak." Kata bapak jujur.
Tapi dia tidak mau terlalu mendesak anaknya untuk terburu-buru menikah jika belum siap. Takutnya pernikahan yang tidak siap tidak dapat dipertahankan lebih lama.
"Oh iya, bagaimana kabar hubungan kamu dengan anak juragan Romlah? Bapak dengar dari ibu tadi sore kamu dan Fani sempat jalan-jalan ke sawah. Nak, perempuan itu ingin disenangi jadi jangan ajak dia jalan-jalan ke sawah karena tempat itu bukanlah tempat yang menyenangkan. Tapi bawa dia ke kota untuk jalan-jalan dibeberapa tempat makan yang cocok untuk kencan." Saran bapak dengan ekspresi serius di wajahnya.
Pasalnya perempuan di jaman sekarang dan di jaman dulu memiliki perbedaan yang besar. Perempuan dulu mungkin tidak terlalu menuntut karena perkembangan jaman masih lambat, tapi tidak dengan perempuan sekarang. Jaman sudah berkembang pesat dan mereka pasti memiliki ambisi yang dalam untuk datang mengunjungi kota.
Meskipun hanya jalan-jalan sebentar atau makan di kafe-kafe kecil itu bukanlah masalah selama berada di kota.
"Pak, hubungan ku dengan Fani tidak seperti yang bapak dan ibu pikirkan. Aku hanya menganggapnya sebagai saudara sedesa saja dan tidak lebih." Kata Dimas menjelaskan dengan singkat.
Dia dan Fani tidak memiliki hubungan apa-apa dari sejak awal. Dan dia juga tidak pernah mengambil inisiatif untuk dekat dengan Fani karena dia sendiri tidak menaruh hatinya kepada Fani sekalipun disebut sebagai kembang desa. Namun orang-orang desa salah paham terhadap mereka berdua karena Fani selalu mengambil inisiatif untuk datang mendekatinya. Fani akan menawarkan dirinya kepada Dimas dan bahkan secara terus terang menunjukkan ketertarikannya kepada Dimas.
Tapi Dimas selama ini berpura-pura tidak tahu dengan apa yang Fani tunjukkan. Dia bersikap normal dan berusaha menjaga jarak ketika bersamanya.
"Kamu gak suka Fani?" Bapak heran.
Dimas dengan jujur mengangguk.
"Bagaimana bisa kamu tidak menyukainya? Fani kan cantik dan rajin membantu kedua orang tuanya di sawah. Karena kecantikannya ini bapak dengar dia disebut sebagai kembang desa di sini dan diperebutkan banyak laki-laki. Selain itu Fani juga orangnya sangat sopan kepada ibu dan bapak, jadi bapak pikir dia tidak memiliki kekurangan apa-apa." Terang bapak tidak habis pikir dengan jalan pikiran anaknya.
Padahal semua orang di desa tahu jika Fani adalah calon menantu mereka dan bapak sendiri pun juga tidak keberatan karena Fani adalah kandidat terbaik di desa ini. Keluarga Fani juga berasal dari keluarga yang baik-baik dan ramah kepada sesama warga jadi Dimas seharusnya tidak memiliki alasan untuk menolak Fani.
"Pak, selera orang itu berbeda-beda. Mungkin bapak menyukai perempuan seperti dia tapi aku tidak, pak. Aku mengikuti apa yang hatiku inginkan dan bukan mendengarkan apa yang orang lain katakan. Bahkan sekalipun dia dijuluki sebagai tuan putri, jika hatiku tidak menginginkannya maka aku juga tidak akan menginginkannya. Aku tidak akan memaksakan hatiku untuk urusan pernikahan karena menikah itu urusan penting, pak. Ini sakral dan merupakan ibadah yang paling banyak pahalanya." Ujar Dimas sama sekali tidak goyah dengan pendapat hatinya.
Jika dia tidak mau maka dia tidak akan mau. Jika mau maka orang itu harus menjadi miliknya apapun yang terjadi. Sama seperti waktu dia memperjuangkan cinta Rein, saat itu dia melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan Rein tapi kasih kalah oleh Davin. Dia kalah telak dan harus mengalah.
"Baiklah, itu terserah kamu." Bapak menggelengkan kepalanya kecewa.
"Tapi tidak ada salahnya mencoba dengan Fani dulu. Siapa tahu kamu akan menyukainya seiring waktu berjalan." Kata bapak menyarankan.
Dimas hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Berakhirnya pembicaraan ini juga bertepatan dengan selesainya tugas merapikan isi lemari kulkas.
Dia lalu izin kembali ke kamarnya kepada bapak. Bapak juga ingin tidur kembali jadi mereka berpisah di dapur dan kembali ke kamar masing-masing.
Di kamar, Dimas mengambil baju ganti dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa meniti kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang sudah segar dan harum.
Setelah mengeringkan rambutnya yang basah, Davin melihat waktu di jam dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
"Benda ini.." Gumam Dimas melihat beberapa benda di atas nakas dengan perasaan rumit di dalam hatinya.
"Mungkin aku akan memberikannya saat subuh nanti karena yang terpenting sekarang aku harus segera tidur."
Melemparkan handuknya ke atas keranjang kotor, Dimas mengambil benda-benda itu dan membawanya keluar dari kamar. Di luar, dia melihat ke kiri dan ke kanan untuk memastikan orang tuanya sudah tidur apa belum.
Sepi. Kedua orang tuanya telah tidur.
Setelah memastikannya aman dia lalu pergi ke kamar Ail, membuka pintu dengan mudah dan langsung menutup pintu kamar setelah dia benar-benar masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Ail, lampu menyala redup menampilkan sisi lembut dan tidak berdaya Ail yang telah lama jatuh ke alam mimpi.
Hati Dimas melembut. Dia dengan hati-hati menaruh benda itu di atas nakas samping lampu tidur sebelum ikut naik ke atas tempat tidur.
Dimas menarik selimut Ail dan ikut bergabung kedalamnya. Nyaman, tangan besar Dimas lalu menarik Ail agar lebih dekat lagi dengannya dan memeluk tubuh mungil nan kurus itu lembut.