My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
247. 19



Davin tersenyum lembut ketika membayangkan wajah tampan dan cantik si kembar. Seperti yang Rein duga, suaminya ini sangat menyukai anak-anak. kecemasannya segera menguap saat topik ini disebut. Jadi betapa beraninya dia meminta Rein untuk tidak hamil lagi?!


"Si kembar tidur di kamar bayi bersama kedua Kakaknya." Jawab Davin jauh lebih rileks daripada sebelumnya.


Rein senang mendengarnya bila anak-anak sudah mulai akrab dengan si kembar. Hanya saja sampai dengan detik ini dia benar-benar tidak menyangka jika selama ini dia mengandung bayi kembar. Dia pikir hanya ada satu bayi di dalam perutnya karena setiap kali pergi cek up ke dokter, dokter selalu mengatakan jika bayinya sehat tanpa ada tanda-tanda bayi kembar.


Jadi saat melahirkan bayi kembar dalam selang waktu satu atau dua menit, Rein benar-benar terkejut dan tak mampu berkata-kata selain berharap diberikan kesempatan untuk melihat si kembar dalam hidup ini.


"Si kembar... apakah baik-baik saja?"


Satu ketakutan Rein dalam hidup ini yaitu bila anak-anaknya mengikuti gen dalam dirinya. Dia lahir spesial maka dia tidak mau anak-anaknya lahir spesial pula. Sebab perjalanan hidup tidak akan mudah dilalui dan laki-laki seluar biasa Davin tidak mungkin lahir dua kali dalam hidup ini. Dia takut anak-anaknya tidak seberuntung dirinya. Beruntung ada Davin yang mau mengulurkan tangan, menerima dia apa adanya dan bersedia menjadi pusat dunianya.


Rein memiliki ketakutan ini dalam hidupnya.


"Si kembar baik-baik saja, kamu jangan khawatir. Mereka lahir sehat dan normal, dokter bilang jika mereka tidak kekurangan fisik sedikitpun. Namun yang paling penting dari semua itu adalah anak-anak lahir dengan gen kita berdua. Mereka sangat tampan seperti aku dan sangat cantik seperti kamu. Siapapun yang pernah melihat mereka sangat enggan mengalihkan pandangan dari si kembar dan berharap ingin menyentuhnya."


Tapi Davin menolak orang-orang itu, Davin tidak mengatakannya kepada Rein. Dalam hati Davin sebelum Rein bangun maka tidak ada satupun yang diizinkan untuk menyentuh anak-anaknya kecuali Adit dan Anggi yang bertugas sebagai asisten pribadi di rumah ini. Maka bila anak-anak ingin ganti pampers atau semacamnya yang belum dikuasai Davin, dia secara alami akan menyerahnya kepada mereka berdua untuk ditangani.


"Seperti aku?" Gumam Rein tidak bisa membayangkannya.


Davin mengusap sudut mata persik milik istrinya sayang,"Benar-benar seperti kamu. Kalian berdua sangat mirip kecuali alisnya. Alis yang perempuan lebih menonjolkan milikku, namun sisanya dia mengambil sepenuhnya darimu." Kata Davin menegaskan.


Dia tahu apa yang dikhawatirkan istrinya dan dia mengerti mengapa istrinya mengkhawatirkan masalah ini. Sebab istrinya telah melalui hari-hari yang sangat sulit untuk meraih posisi ini.


"Mereka baik-baik saja, sayang. Mereka semua baik-baik saja. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan mereka berdua karena yang terpenting sekarang adalah kondisi kamu. Aku ingin kamu segera sembuh dan terlepas dari obat-obatan medis ini." Kata Davin risih.


Karena selang-selang medis ini dia tidak bisa memeluk istrinya dan hanya bisa menyentuh. Dan karena selang-selang medis ini pergerakan istrinya dibatasi. Walaupun dia tahu ini demi kebaikan istrinya tapi tetap saja, dia tidak menyukainya. Dia ingin istrinya segera dibebaskan.


"Aku tahu. Terima kasih, Mas. Tapi apa aku boleh bertemu dengan anak-anak?" Rein bertanya hati-hati.


Dia ingin sekali bertemu dengan si kembar, anak-anak yang lahir dari dalam rahimnya dengan sekuat tenaga dan semampu yang dia bisa. Dan karena si kembar ini pula Rein bisa merasakan bagaimana rasanya tubuh serasa diremukkan dan tulang-tulang di dalam tubuhnya secara kompak dipatahkan. Tentu saja ini hanya perumpamaan saja untuk menggambarkan betapa sakit yang Rein rasakan ketika melahirkan anak-anaknya.


Sakit yang mungkin dirasakan hampir semua wanita di dunia ini ketika sedang melahirkan.


"Boleh, sayang. Tapi jangan sekarang, yah."


Rein cemberut.


"Kenapa, Mas?" Padahal dia ingin melihat anak-anak.


Keadaannya memang akan mempersulitnya untuk memeluk anak-anak tapi itu tidak masalah selama Rein bisa melihat anak-anaknya.


"Ini sudah dini hari. Lihat jam dinding, sebentar lagi akan segera pukul 3." Kata Davin sambil mengarahkan matanya menatap jam dinding di depan mereka.


Rein melihatnya dan langsung merasa mencelos di dalam hatinya.


"Kamu masih terjaga sampai jam segini?" Tanya Rein tidak senang.


Segila apa orang ini bekerja sampai harus begadang semalaman?


Perasaan kebiasaan ini telah lama menghilang semenjak Davin menikah dengannya. Iya sih iya Davin gak begadang untuk bekerja lagi tapi malah begadang untuk sesuatu yang sangat melelahkan dan sebagai istri, Rein lah yang menjadi korbannya.


"Aku enggak kerja, sayang. Tapi aku ngurus anak-anak. Mereka baru saja tidur lagi setelah tadi bangun menangis ingin minum susu." Bantah Davin melihat pikiran istrinya.


Dan mungkin karena kehilangan momen Tio, dia berusaha sebisa mungkin untuk selalu ada di samping si kembar. Mengurus si kembar dengan sabar dan tulus seolah menjadi penebusan untuk waktu-waktu yang terlewatkan beberapa tahun yang lalu.


"Kamu terlihat kelelahan, Mas." Rein ingin menyentuh wajah lesu suaminya tapi jarum infus di pergelangan tangannya membuat semua pergerakannya di batasi.


Ini sangat tidak nyaman.


"Aku baik-baik saja dan aku menikmatinya. Mengurus anak-anak memang sulit tapi aku masih bisa menerimanya. Dan jika aku menganggur sedikit saja, maka aku akan mulai kepikiran kamu. Aku tidak bisa berpikir jernih setiap kali memikirkan situasi mu jadi aku harus menyibukkan diri agar jangan terlalu stres."


Davin tidak menutupinya. Dia memang melakukan semuanya, menjaga anak-anak dan mengurus anak-anak, tapi dia melakukan itu juga untuk mengalihkan pikirannya yang terus menerus cemas memikirkan istrinya.


Dia tidak tahan dengan segala pikiran negatif yang menghantuinya beberapa waktu ini.


"Okay, sekarang tidurlah di sampingku. Ayo istirahat, Mas." Rein menepuk ranjang sisi kirinya.


Davin menginginkannya tapi dia takut menyakiti istrinya.


Melihat kekhawatiran suaminya, Rein kemudian tersenyum.


"Mas Davin enggak usah tiduri tanganku tapi cukup berbaring di sisiku. Aku sangat merindukan Mas Davin, apa Mas Davin tidak merindukan ku?" Pancing Rein berpura-pura terlihat menyedihkan di depan suaminya.


Davin tubuh kuasa menahannya. Dia langsung naik ke tempat tidur di sisi kiri istrinya. Membaringkan dirinya dengan hati-hati di samping Rein, dia tidur menyamping, diam-diam mengawasi wajah pucat Rein yang menggetarkan hatinya ketakutan.


"Sekarang tidurlah." Bujuk Rein lembut.


Davin masih menatap istrinya enggan terpejam.


"Jika Mas Davin tidak mau tidur maka aku akan memaksakan diri pergi melihat anak-anak di kamar bayi-"


"Jangan, nakal! Aku tidak mau kamu kenapa-kenapa!" Cegah Davin tidak senang.


Dia mengenal baik seperti apa karakter istrinya dan dia juga tahu betul betapa keras kepala istrinya bila sudah menginginkan sesuatu.


"Maka tidurlah. Aku ingin melihat Mas Davin beristirahat." Bujuk Rein masih menginginkan hal yang sama.


Davin enggan tapi mau tidak mau menuruti kemauan istrinya. Namun meskipun merasa enggan, rasa kantuk yang telah lama tidak menghampiri akhirnya datang menguasai tubuhnya. Perlahan tubuhnya menjadi rileks dan kelopak matanya pun menjadi berat. Mungkin karena terlalu lama begadang atau karena Rein akhirnya bisa bangun, Davin dengan mudahnya jatuh tertidur.


Sebelum tertidur dia masih memperingatkan istrinya untuk jangan macam-macam.


"Jangan nakal...akan ada hukuman jika kamu menolak untuk mendengarkan ku...Hem... cctv..."


Rein yang tidak bisa berkata-kata di tempat,"...." Sangat ketat, ah!


Rein tidak berani macam-macam dengan peringatan Davin sebab hukuman suaminya itu tidak main-main dan dia telah melalui malam-malam melelahkan karena hukuman tersebut. Jadi dia tidak mau mengalami hal yang sama sehingga diam sebentar saja tidak akan sia-sia!


Toh matahari juga tidak akan lama lagi muncul!


"Jangan lelah, Mas..." Bisik Rein lembut.


"Karena jika kamu lelah kamu akan mudah jatuh sakit dan aku tidak ingin melihat orang yang aku cintai jatuh sakit. Aku enggak mau kehilangan kamu...dan kamu harusnya tahu kehilangan kamu itu berarti aku kehilangan duniaku. Aku kehilangan dunia yang selalu ada untukku, memperhatikan ku, dan menerimaku apa adanya... bayangkan betapa sedihnya aku saat itu, jadi...jangan lelah, okay?" Bisik Rein lembut namun hanya direspon oleh suara nafas teratur suaminya yang tertidur.


Tidak apa-apa, Rein masih bisa tersenyum mendengarnya dan dia malah lebih lega bila suaminya bisa beristirahat.