
Tapi tangannya masih sakit. Setiap kali digerakkan pasti akan terasa nyeri yang mengigit.
"Jangan membuat masalah..." Kata Rein seraya menjangkau tangan Davin, membawa ke wajahnya.
"Maka dari itu lihatlah aku." Pinta Davin membujuk.
Rein perlahan mengangkat kepalanya menatap Davin. Kekasihnya tampak sangat pucat dan menyedihkan, tapi meskipun begitu dia masih menatapnya dengan senyuman.
Hati Rein sekali lagi serasa diremas-remas oleh tangan tak kasat mata. Dia tidak tega dan tidak tahan, tapi dia juga tidak mau menjauh dari Davin. Dia tidak ingin meninggalkan Davin.
"Kondisiku sangat buruk." Kata Davin agak berat. Dia jelas tidak terima dengan kondisinya saat ini. Dia sama sekali tidak puas.
"Aku melihatnya..." Lirih Rein pelan.
Mengusap wajah basah Rein dengan jari-jarinya, Davin semakin membenci dirinya yang payah dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dokter bilang kakiku mengalami cidera fatal dan kemungkinan besar aku akan cacat di masa depan. Rein, inilah mengapa aku memintamu untuk pergi ke hotel. Karena kondisiku ini, aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi untuk bertemu denganmu. Aku tidak mau bertemu dengan kamu dalam kondisi yang sangat payah, membuat kamu bersedih dan khawatir, aku tidak bisa melakukannya. Oleh karena itu aku memutuskan untuk mengirim kamu pergi-"
"Mau sampai kapan?" Potong Rein tidak puas.
Air matanya kembali menguap karena sedih mendengar betapa tidak berdaya kekasihnya saat ini.
"Mau sampai kapan kamu akan bersembunyi dariku? Apa kamu akan seperti ini dalam waktu yang lama? Bersembunyi di sini tanpa takut aku akan diambil oleh Dimas?" Sambung Rein menakut-nakuti.
Davin marah,"Kamu berani?"
"Lalu mau sampai kapan kamu akan bersembunyi dariku?!" Tuntut Rein meminta penjelasan.
Davin tidak langsung menjawab dan diamnya ini semakin membuat Rein tidak puas. Mereka sudah melewati suka dan duka bersama hingga berada di fase ini jadi Rein sama sekali tidak keberatan mengahadapi cobaan yang lain asalkan Davin bersamanya. Apapun itu, dia tidak takut menghadapinya selama Tuhan membiarkan Davin tetap berada di sisinya.
"Dav, aku menerima kondisi mu, apapun yang terjadi. Sama seperti kamu menerima kondisiku yang tidak menguntungkan dulu, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Lagipula kamu masih memiliki peluang untuk sembuh dan bisa berjalan lagi karena cidera fatal bukan berati kamu benar-benar telah kehilangan kakimu. Kamu masih memiliki peluang dan kesempatan untuk sembuh." Mengatur nafas sesaknya, Rein mencium kuat punggung tangan Davin dengan sayang, lalu berkata,"Dengar Dav, aku sangat mencintai kamu. Aku sungguh sangat mencintai kamu jadi jangan paksa aku menjauh dari kamu apalagi keadaan kamu seperti ini. Aku ingin selalu bersama kamu, merawat kamu dan menemani kamu menjalani perawatan di sini, aku tidak akan pernah keberatan. Jadi Davin, demi anak-anak dan aku serta semua orang yang selalu setia kepadamu, jangan menyerah. Kamu pasti bisa melalui semua ini karena aku, anak-anak, dan mereka akan mendukung mu. Oleh karena itu biarkan aku dan anak-anak tinggal bersama kamu di sini. Kami tidak akan pernah kembali ke Indonesia sebelum kamu benar-benar sembuh dan bisa berjalan lagi." Tekad Rein keras kepala. Dia bahkan tidak berkedip saat mengatakan tekadnya karena dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakan.
Davin tertegun. Dia menatap wajah basah istrinya yang baru saja berbicara dengan keras kepala. Walaupun air matanya belum mengering, namun sorot mata yang dimiliki Rein tampak sangat serius.
"Rein, kamu benar-benar..." Davin tidak tahu harus berkata apa.
Ada rasa senang, sedih, dan marah melihat betapa keras kepala kekasihnya ini. Namun, walaupun begitu rasa syukur di dalam hatinya lebih mendominasi perasaannya sekarang. Davin tidak tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan betapa bersyukurnya dia memiliki kekasih setulus Rein. Satu-satunya tempat terkuat untuk Davin bersandar.
"Ini adalah permintaan ku, Davin. Dan aku tidak mau menerima penolakan." Kata Rein mengancam, untuk yang kesekian kalinya.
Davin menghela nafas panjang, mengusap pipi kekasihnya dengan ibu jari sebelum memberikan persetujuannya.q
"Baiklah, kamu dan anak-anak akan menemaniku menjalani perawatan. Demi kalian aku akan berusaha mengikuti perawatan dengan baik agar aku bisa berjalan lagi. Tapi selama waktu itu kamu masih memiliki kesempatan untuk menyesal dan kembali-"
"Tidak dibutuhkan. Aku hanya akan kembali ke Indonesia bila bersama kamu." Tegas Rein sekali lagi.
Davin tersenyum lebar dan merasa sangat manis dengan perhatian kekasihnya. Jika tubuhnya tidak ditempeli alat medis, mungkin dia sekarang sudah mendekap Rein ke dalam pelukannya seerat mungkin.
"Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?" Pernikahan tidak hanya dibatalkan tapi harus ditunda mengikuti kondisi Davin.
"Kamu meremehkan ku."
Rein tersenyum,"Maka dari itu kamu harus cepat sembuh agar bisa menikahi aku dengan percaya diri."
"Tapi Davin..." Rein mulai menguap.
Baru sekarang dia merasakan kepalanya pusing dan mengantuk.
"Aku ingin tidur sebentar." Kata Rein sambil melirik tempat kosong di samping Davin.
Dia ingin tidur di sana tapi rasanya sangat tidak mungkin karena kondisi Davin tidak mengizinkan. Jadi dia membuang jauh-jauh ide itu dan memutuskan untuk tidur di sofa saja.
"Kembalilah ke hotel untuk beristirahat. Kamu bisa kembali lagi ke sini setelah cukup beristirahat." Kata Davin prihatin.
Rein melambaikan tangannya tidak mau,"Tidak dibutuhkan. Aku bisa tidur di sofa." Katanya menolak.
Davin ingin membujuknya sekali lagi tapi dipotong oleh Rein dengan sebuah kecupan ringan di bibirnya.
"Selamat tidur, sayang." Katanya dengan senyuman manis.
Lalu dia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa karena tubuhnya benar-benar lelah dan membutuhkan istirahat yang cukup. Tidak lama setelah menyentuh sofa, Rein akhirnya jatuh tertidur. Meninggalkan Davin di atas ranjang yang masih terbengong dengan aksi kekasihnya. Jika dipikir-pikir lagi, hari ini Rein sangat manja dan lengket kepadanya, bukankah ini kabar baik?
Ini seharusnya kabar baik tapi dengan kondisi seperti ini, itu sama saja kabar buruk karena dia tidak bisa menyentuh kekasihnya sesuka hati, ah!
"Sial, aku harus segera sembuh jika ingin memuaskan diri." Tekad Davin mulai terpacu.
Dia kemudian melihat kaki kanannya yang terbalut perban tebal dengan mesin penyangga di bawah. Sebelum ini dia sangat putus asa saat mengetahui kakinya memiliki cidera serius. Dia merasa bahwa hidupnya akan sangat hancur dan membosankan karena kakinya yang cacat. Akan tetapi pikiran itu segera berubah saat melihat Rein menangis hebat di depannya tadi. Kekasihnya datang jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk menemuinya, menemaninya dengan keras kepala untuk menjalani perawatan. Hati Davin rasanya sesak. Keinginannya untuk sembuh terpacu demi kekasih dan anak-anaknya. Dia harus tetap kuat, karena jika dia tidak kuat, maka siapa yang akan melindungi kekasih dan anak-anaknya?
Jadi, dengan pikiran ini Davin memutuskan akan menjalani semua perawatan yang memungkinkannya bisa kembali berjalan dengan normal.
"Adit." Panggil Davin dari alat pengirim suara di sampingnya.
Cklack
Adit masuk ke dalam kamar Davin dan melihat Rein sudah tertidur lelap di atas sofa. Dari wajah sembab Rein karena kelelahan menangis, Adit dapat menyimpulkan jika situasi di sini pasti sangat menyedihkan.
"Ya, tuan?"
Davin mengarahkan matanya ke arah Rein,"Siapkan Rein selimut yang hangat dan pakaian ganti. Jangan lupa juga siapkan makanan Indonesia untuk Rein, usahakan makanan itu harus lembut dan sedikit cair agar pencernaan tidak terganggu." Perintah Davin tidak berniat mengungkit kesalahan Adit membawa Rein ke sini.
Hah, dia saja yang telah lama menjadi kekasihnya masih bisa dibuat kewalahan oleh sikap keras kepala Rein apalagi Adit yang hanya sebatas teman saja.
"Baik, tuan."
Setelah itu Adit pergi dari kamar Davin dan baru kembali setengah jam kemudian. Karena Davin tidak bisa bergerak, dia dengan enggan meminta Adit menyelimuti Rein.