My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
45. Tio?



Rein P. O. V


Aku memeriksa lemari esnya, tapi tidak ada apapun yang aku temukan kecuali makanan cepat saji yang tidak pernah dimakan sama sekali dan beberapa daging ayam serta daging sapi. Hah,


Sekali lihat saja aku tahu jika Davin jarang makan dan tidak terlalu menyukai makanan cepat saji. Lagipula untuk apa dia menyimpan daging-daging ini jika dia sendiri tidak bisa memasak.


Dia terlalu menyedihkan. 


Tapi,


"Bukankah dia punya tunangan seorang model? Aku sempat mendengar di kafe beberapa hari yang lalu jika hubungan mereka sudah berjalan 5 tahun. 5 tahun..apa itu dia?"


Wanita seksi yang Davin peluk dan cium di depan hotel malam itu, apakah tunangan Davin yang dibicarakan para karyawan di kafe?


"Tunggu, kenapa aku harus perduli tentang mereka? Ini seolah mereka ada hubungannya denganku."


Aku membuang pikiran ini jauh-jauh dan berhasil menyibukkan diri ketika menemukan kemasan beras putih dari merk tertentu. 


"Bubur ayam sepertinya enak," 


Aku mengambil beras dan mencucinya bersih dan menyiapkan kaldu ayam dengan sabar.


1 jam kemudian aku akhirnya terbebas dari Davin. Dia masih tidur dan aku tidak perlu menunggunya bangun. Oleh karena itu setelah buburnya jadi aku segera keluar dari ruangan Davin. Aku sempat menjelaskan kondisi Davin kepada sekretarisnya agar segala pertemuan atau pekerjaan ditunda untuk sementara waktu sampai Davin bangun.


Ini seharusnya berjalan dengan baik tapi tiba-tiba aku merasa aneh. Benar, mengapa sektretarisnya tidak bertanya apa-apa kepadaku saat keluar dari ruangan Davin tadi?


Apakah dia tidak takut jika pegawai kasar sepertiku mencuri data penting perusahaan?


"Bukankah ini sedikit aneh?"


...🌼🌼🌼...


Nyaman, tubuhnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia tidak tahu jika tidur siang mempunyai efek sebagus ini untuk tubuh-oh, lebih tepatnya dia lupa bagaimana rasanya tidur siang.


Tahun-tahun yang ia lalui selama ini dihabiskan untuk kerja keras dan membangun kekuatan sendiri hingga ia lupa bagaimana rasanya tidur senyaman ini.


"Rein?" Suara serak khas bangun tidur bergema memanggil nama Rein.


Dia tidak mendengar sahutan dari pemilik wajah datar itu.


Dia menoleh ke dapur, tidak orang di sana tapi wangi makanan terus menguar dari tempat itu.


"Dia sepertinya memasak dulu sebelum pergi." Dia bergumam pada entah siapa.


Setelah mengumpulkan sedikit tenaga, dia segera turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam dapurnya. 


Dapur masih bersih seperti semula, peralatan masak yang Rein gunakan telah dicuci bersih dan ditempatkan ke tempat aslinya. Jika tidak memperhatikan tempat sampah, dia hampir mengira jika dapur ini masih tidak tersentuh.


Dengan acuh tak acuh dia mengambil satu sendok bubur ke dalam mulutnya. Wangi kaldu ayam dipadu dengan tekstur bubur yang tidak terlalu lembut juga kasar segera menyapa lidahnya.


"Hem."


Tidak sampai 15 menit bubur ayam itu ia habiskan. Dia membersihkan mulutnya dengan tissue, menaruh mangkuk kotor di wastafel begitu saja tanpa niat mencucinya dan segera pergi setelah memastikan kamar pribadinya terkunci.


"Pak, apa Anda sudah merasa lebih baik?" Sektretaris di depan segera menghampirinya dengan ekspresi khawatir.


Davin melambaikan tangannya dingin,"Jangan khawatir, pekerjaan mu lebih penting daripada mengkhawatirkan ku. Sekarang," Dia melihat waktu di jam mahal yang ada di tangan kirinya.


"Panggil Manajer Personalia, marketing, operasional, dan IT agar segera ke auditorium untuk memulai rapat sesuai rencana. Oh, dan pastikan semua ketua departemen hadir di rapat nanti tanpa ada yang boleh absen kecuali jika situasi mereka benar-benar darurat. Kita akan memulai rapat untuk perencanaan bulanan perusahaan."


"Baik, Pak. Kurang dari 5 menit mereka sudah ada di dalam auditorium." Sektretarisnya segera mengirim pesan ke badan personalia agar segera mengintruksikan semua peserta rapat menuju auditorium.


"Hem, kita lihat saja nanti."


Davin dalam suasana hati yang baik, dan itu bisa dilihat dari sikap santainya saat ini. Melihat itu sekretarisnya segera bernafas lega karena sejak pagi situasi perusahaan terlalu menegangkan setiap kali Davin mengamuk.


Kemudian alasan kenapa suasana hati Davin kembali membaik sekretaris itu tidak berani menebak. Dia percaya, Rein tidak mungkin menjadi alasan kenapa Davin dalam suasana hati yang baik.


Bukannya ingin merendahkan tapi faktanya Rein terlalu rendah untuk orang sekelas Davin. Bukankah begitu?


Setelah memberikan instruksi kepada sekretarisnya, Davin kemudian membawa langkah jenjangnya masuk ke dalam lift khusus presiden dan menekan tombol lantai 7,  menuju ruan auditorium tempat rapat diselenggarakan.


Ting~


Dia sudah sampai di lantai 7 dan langsung di sambut dengan antusias oleh para petinggi perusahaan yang terlalu menjilat.


"Pak Davin, semua orang sudah menunggu di dalam auditorium. Mereka sangat bersemangat untuk memulai rencana bulanan perusahaan kita." Laki-laki botak dengan lemak menggumpal dimana-mana mengambil inisiatif untuk menyapa Davin.


Davin sangat profesional saat bekerja. Dalam waktu singkat dia telah memasang senyum bisnis di wajahnya.


"Hem, ayo pergi-"


"Mommy, Tio ingin tidul!"


Tio?


"Tio!" Davin sontak menoleh ke arah sumber suara. 


Di depan meja administrasi dia melihat Rein sedang menggendong seorang bocah laki-laki di dalam pelukannya.


Tersenyum miring,"Kalian bisa pergi duluan, aku akan segera menyusul." 


Bersambung..