My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
202



"Mhm! Mhm!" Nenek berteriak dengan tangisan yang semakin deras tapi Davin maupun keluarga yang lainnya tidak perduli.


Saat ini di mata mereka, Nenek tidak ada bedanya dengan monster gila yang haus darah, sangat menjijikkan.


"Aku tidak menuduh." Kata Davin dengan nada main-main, lalu tiba-tiba berubah serius,"Karena aku punya buktinya. Selain rekaman pembicaraan Paman kecil, aku juga memiliki rekaman cctv pertemuan wanita sampah ini dengan pria itu. Tidak hanya itu saja, aku juga memiliki rekaman cctv dari parkiran bawah yang telah aku simpan dengan hati-hati sampai aku akhirnya memiliki kekuatan yang cukup untuk mengungkapkannya, mencari keadilan untuk kedua orang tuaku." Kata Davin penuh akan ambisi.


Saat Rein berpisah darinya, Davin akhirnya benar-benar mengerti jika uang dan kekuasaan dapat mengalahkan musuhnya. Jika dia ingin memberikan keadilan untuk kedua orang tuanya dan membawa Rein kembali, maka satu-satunya jalan keluar adalah menduduki kekuasaan itu sendiri.


"Tidak...kami sudah mengeceknya beberapa tahun yang lalu jika cctv di parkiran bawah sudah rusak dan tidak bisa merekam video." Salah satu Bibi yang memihak Davin bersuara, agak bingung karena Davin tiba-tiba memiliki rekaman video cctv dari parkiran bawah.


"Bibi, cctv itu memang rusak tapi akulah yang merusaknya tepat sehari setelah kecelakaan kedua orang tuaku. Aku juga menghapus semua rekaman cctv untuk memberikan kesan jika cctv di parkiran bawah sudah lama tidak berfungsi. Jadi, tidak ada yang tahu mengenai kebenaran ini selain diriku dan Adit." Akui Davin tertekan.


Dia memendam semuanya bertahun-tahun sembari mengumpulkan kekuatannya agar dapat melawan orang-orang jahat ini.


"Dan kalian," Davin membawa jarinya menunjuk beberapa Paman yang sempat ingin melarikan diri sebelumnya.


"Bagaimana rasanya membunuh saudara kandung sendiri?" Tanya Davin tidak mengerti.


"Kalian...dimana hati kalian? Papaku adalah Kakak kalian, saudara kalian, dan kalian memiliki satu darah yang sama! Tapi demi uang...demi kekuasaan kalian dengan teganya melenyapkan nyawa mereka, dimana hati kalian?!" Raung Davin melepaskan amarahnya.


Dia tidak mengerti, dia sungguh tidak mengerti!


Bagaimana mungkin seorang saudara tega merencanakan pembunuhan terhadap sesama saudaranya sendiri dan bahkan mereka memiliki darah yang sama di dalam diri mereka!


"Davin," Panggil Rein sedih.


Dia meraih tangan kekasihnya dan menggenggamnya lembut untuk menenangkan amarahnya.


"Tenangkan dirimu, okay? Mereka sekarang tidak bisa melarikan diri kemanapun." Hibur Rein melembutkan suaranya.


Davin mengetahui kebenaran ini tapi hatinya sungguh tidak bisa menahan gejolak amarah yang telah dia pendam sejak bertahun-tahun yang lalu.


"Papamu adalah pewaris yang dipilih Kakek mu." Kata salah satu Paman tampak sangat muram.


Jelas dia sangat membenci Papa Davin.


"Dia tidak pernah memintanya." Kata Davin dingin,"Dan bahkan aku tidak pernah meminta tempat ini." Lanjutnya lagi mengungkapkan fakta yang tidak bisa dibantah.


"Papa tidak ingin mewarisi keluarga ini tapi Kakek memaksanya. Lalu kalian membunuhnya kemudian semua beban dijatuhkan kepadaku tanpa ku minta. Melihat aku menjadi ahli waris selanjutnya kalian juga ingin membunuh ku. Sampai kapan? Apa setelah aku mati kalian akan membunuh ahli waris selanjutnya? Hei, jangan terlalu munafik! Kamu tidak pernah menanggung kesalahan apapun sekalipun kalian cemburu melihat kami menduduki tempat yang bergelimpangan harta dan kehormatan. Kami tidak pernah meminta posisi ini tapi mengapa kalian memburu kami seolah-olah kami lah yang merebut tempat kalian dengan sengaja! Seharusnya kecemburuan dan kemarahan dihati kalian diarahkan kepada Kakek! Karena dialah orang memilih kami dan memaksa kami berada di tempat ini! Seharusnya kalian mengarahkannya kepada Kakek dan bukan kepada kami!"


Dia dan Papanya tidak bersalah, mereka sama sekali tidak meminta tempat ini. Tapi mereka... mereka tidak mengerti atau lebih tepatnya berpura-pura tidak mengerti dan mengarahkan semua kemarahan kepadanya dan orang tuanya.


"Apa yang Davin katakan benar. Tidak seharusnya kalian mengarahkan kebencian dan kemarahan kalian kepadanya karena dia juga terpaksa berada di sisi ini. Dia memang tidak pernah mengharapkan posisi ini..." Satu demi satu menyuarakan pendapat mereka.


Kata-kata mereka tulus dan ada kesedihan yang terbentuk di mata mereka. Semuanya sudah seperti ini. Mereka hampir kehilangan ikatan mereka hanya karena sebuah harta. Sebelumnya, ada nyawa yang menghilang dan sekarang, ada nyawa yang terancam hilang. Mereka tidak mungkin hanya diam saja melihat semua orang pergi satu demi satu.


"Seharusnya kita semua tidak lupa dengan apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu saat Davin meminta mundur dari ahli waris yang Kakek tetapkan. Dia rela mundur dan tidak ingin melanjutkan posisi itu lagi tapi Kakek... Kakek tidak membiarkannya pergi. Kakek menekannya agar terus berada di tempat itu jadi bagaimana mungkin kalian menyalahkan Davin untuk tempat yang dia sendiri tidak harapkan? Apalagi sampai berencana untuk membunuhnya, apakah hati kalian sudah tidak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan? Bukankah kita semua saat itu hadir saat Davin memohon untuk mundur dari ahli waris? Tapi kenapa kalian masih memiliki pikiran kejam untuk melenyapkannya?"


"Maaf." Suara tua Kakek Demian menarik semua perhatian orang.


Entah sejak kapan Kakek Demian duduk dengan pose yang sangat serius di kursi kebesarannya. Kepalanya tertunduk tanpa memikirkan sesuatu.


"Maaf, ini semua salahku." Kata Kakek seraya mengangkat kepalanya menatap anak-anak dan cucu-cucunya.


Untuk pertama kalinya dalam hidup ini mereka melihat Kakek Demian begitu menyedihkan. Hanya dalam waktu sesaat wajahnya terlihat 10 tahun lebih tua dari sebelumnya.


"Aku memilih kandidat yang menurutku paling pantas memimpin keluarga ini. Mereka yang ku pilih adalah orang yang paling enggan menatap tempat dudukku bahkan bermimpi untuk mendudukinya. Mereka tidak memiliki ambisi terhadap kekayaan yang aku miliki. Mereka adalah orang yang pantas dan layak untuk memimpin keluarga ini jadi aku langsung memilihnya. Bahkan walaupun mereka tidak mau, aku akan memaksanya memimpin keluarga ini dengan berbagai macam cara walaupun harus... menyakiti mereka sendiri." Suara tua Kakek Demian sangat tenang dengan intonasi yang rendah.


Dulu dia tidak pernah mengatakan apa alasannya memilih Davin untuk menjadi ahli waris. Tidak ada yang tahu sehingga membuat beberapa orang terbakar cemburu karena iri. Mereka yang iri memikirkan berbagai macam cara untuk merebut posisi Davin dan menyampingkan persetujuan Kakek Demian yang menurut mereka tidak terlalu penting. Karena jika mereka bisa mengalahkan Davin, maka Kakek Demian secara alami akan setuju, itulah yang mereka semua pikirkan.


"Sudah terlambat." Ucap Davin dengan kemarahan yang tidak bisa disembunyikan dari matanya.