
Malam harinya vila kembali terasa kosong untuk Rein. Dia kini sedang duduk termenung di depan jendela kamarnya, memperhatikan beberapa mobil mewah lalu lalang di depan vila Davin. Mereka pasti pemilik vila di sebelah, pikir Rein.
Sendirian di sini, Rein tidak tahu apa yang harus ia kerjakan karena ia masih belum mengenal tempat ini. Di samping itu putranya sudah lama jatuh tertidur karena tidak sempat tidur siang dan kelelahan bermain, Rein hanya bisa mendesah tidak berdaya melihat kebiasaan putranya yang perlahan mulai berubah.
Sedangkan Davin, kecuali keluar untuk makan siang dan malam, ia selalu mengurung diri di dalam kamar dengan kacamata kerja yang selalu membebani pangkal hidungnya. Rein tidak tahu mengapa tapi ia selalu merasa jika Davin sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ditambah tempramen Davin jauh lebih baik dibandingkan saat berada di perusahaan, membuat Rein sering kali merasa bingung bagaimana merespon Davin.
"Apa yang sedang aku pikirkan," Dia mengusap wajah berusaha mengenyahkan pikiran aneh yang sedang menggelayuti kepalanya.
"Ini hanya perasaan mu saja Rein, dia masihlah orang yang sama."
...🍃🍃🍃...
Rein tidak bisa tidur karena Dimas dari sore sampai malam ini terus saja menghubunginya. Ia merasa seperti sedang diteror dan ia pun tidak berani mengangkat telponnya. Ia hanya mengirim pesan balasan bahwa mereka akan bertemu bila ada waktu luang. Setelah itu Rein tidak membalas pesan apapun yang Dimas kirim maupun mengangkat telpon darinya.
Dimas kecewa, ia mengerti. Tapi posisinya di sini sulit. Jika ia keras kepala ingin mengambil Tio maka Davin bisa menggunakan banyak cara untuk mengambil Tio ataupun memisahkannya dengan Tio. Rein kesulitan.
Sebagai seorang Ibu ia jelas lebih memilih mempertahankan putranya dibandingkan harus tetap mendengarkan sahabatnya.
Mengecewakan, bukan?
Ya, Rein tahu dia sudah sangat mengecewakan sahabatnya.
"Ah, aku haus." Dia kemudian bangun dari duduknya, memastikan Tio tidur lelap di samping sebelum keluar untuk mengambil air minum di dapur.
Sekarang sudah pukul 11 malam dan Rein perhatikan vila yang lain sudah mematikan lampu sebagian pertanda jika mereka mulai beristirahat.
"Di sini tidak ada bedanya dengan di apartemen, semua orang sibuk dengan dunia masing-masing." Gumam Rein di sela-sela menyesap minumannya.
Tiba-tiba perhatiannya teralihkan ketika mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa di ruang tamu. Bahkan, Rein juga sempat mendengar ada benda keras yang tidak sengaja menabrak meja. Apa yang sedang Davin lakukan?, Pikirnya.
"Oh, apa aku mengganggumu?" Davin bertanya dengan tangan yang sedang memegang betis sebelah kanan.
Tampaknya dia tidak sengaja menabrak meja.
"Tidak, lagian aku hanya minum di dalam dapur saja." Jawab Rein kian merasa aneh dengan Davin.
Meskipun nada acuh tak acuhnya tidak bisa dihilangkan tapi Rein merasa jika Davin jauh lebih baik daripada sebelumnya. Dia tidak lagi melontarkan kata-kata dingin nan tajam seperti di kantor.
Membuat Rein bertanya-tanya apakah Davin memiliki kepribadian ganda atau sejenisnya?
"Apa kamu baik-baik saja?" Rein asal bertanya.
Davin kembali berdiri tegak setelah merasa lebih nyaman. Rein baru menyadari jika Davin membawa mantel hitam di tangannya dan sebuah kunci mobil. Davin akan pergi keluar diwaktu yang menurutnya cukup larut. Tapi kemana?
"Aku baik-baik saja." Kata Davin sambil memakai mantel hitamnya.
Memasukkan kunci mobil ke dalam sakunya, ia lalu buru-buru memasang sepatu dibawah pengawasan mata ingin tahu Rein. Entah mengapa rasanya begitu canggung malam ini berada dan tinggal di atap yang sama lagi dengan Davin.
"Tidurlah, dan jangan tunggu aku pulang. Ada urusan penting yang harus aku selesaikan di luar jadi mungkin aku akan pulang sedikit terlambat." Pesannya sebelum keluar dari pintu vila.
Bam
Davin menutup pintu tidak sabaran, meninggalkan Rein yang masih diam mematung dengan segelas air putih di tangan.
"Sedikit terlambat? Hah, dia masih belum berubah. Sudahlah, lagipula ini bukanlah urusanku." Katanya tidak perduli.
Masuk kembali ke dapur untuk mencuci gelas yang ia gunakan minum dan masuk kembali ke kamar untuk beristirahat.