My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
125. Gaji Dan Bonus!



"Davin, kurasa ada sesuatu yang salah dengan minuman energi yang pengasuh Aska berikan." Kata Rein serius.


Davin di seberang sana tidak menyangka Rein akan membicarakan masalah minuman pengasuh itu. Dia pikir Rein akan membicarakan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sekolah Aska ataupun masalah hubungan pertemanan Aska di sekolah yang kerap kali meresahkan pihak sekolah karena sikapnya yang dingin.


"Rein, katakan dengan jelas kenapa kamu berpikir jika minuman energi Aska bermasalah?" Davin bertanya serius, otot-otot di tubuhnya menegang dengan tidak nyaman.


"1 jam yang lalu aku memberikan Aska minuman energi yang pengasuh itu berikan dan dia langsung jatuh tertidur setelah meminumnya. Ini sangat mencurigakan Davin, karena aku tadi sempat mengguncang tubuh Aska dan bahkan menepuk pipinya, tapi dia sama sekali tidak terganggu. Tidak hanya tidak terganggu, tapi tidur Aska terlihat sangat damai seolah-olah dia telah meminum obat tidur. Dav, aku pikir Aska harus dibawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Aku takut di dalam minuman itu ada obat berbahaya yang tidak bisa ditanggung oleh tubuh Aska." Rein menjelaskan dengan serius dan hati-hati, mengatakan kepada Davin apa yang sedang ia pikirkan saat ini mengenai situasi Aska dan apa yang sedang ia khawatirkan saat ini.


Apapun yang Rein rasakan dan khawatirkan dapat Davin mengerti dengan baik. Sejujurnya, dia juga pernah berpikir jika Aska sangat aneh setelah meminum minuman buatan pengasuh, tapi pengasuh bilang ini adalah efek baik dari minuman tersebut. Aska yang awalnya rewel tidur malam bisa tertidur dengan patuh dan tanpa membuat masalah.


Davin menerima begitu saja penjelasan pengasuh dan melupakan masalah ini karena kesibukannya di perusahaan. Saat itu dia sedang berperang dengan beberapa Pamannya yang sangat berambisi ingin mendapatkan hak waris Kakek. Jujur, Davin tidak terlalu suka kekuasaan dan ia bisa saja melepaskan semua kekayaan yang ia pegang kepada Paman-pamannya, namun Kakek tidak memberikannya izin untuk melakukan ide itu. Daripada menyerah, Kakek terus saja mencambuknya agar tetap bekerja keras di perusahaan, bersaing dengan putra-putra berambisi Kakek yang haus akan uang.


Karena hal itu pula Davin tidak sempat memikirkan ada kemungkinan bila Paman-pamannya akan menggunakan Aska sebagai tawanan samar.


"Bisakah kamu membangunkan Aska, lagi?" Tanya Davin dalam suasana hati yang buruk.


Saat ini segala kemungkinan telah menghantui pikirannya. Dia marah, gelisah, dan juga cemas memikirkan hidup orang-orang tersayangnya yang ia duga sebelumnya aman dan baik-baik saja.


"Aku bisa. Aku akan mencoba membangunkannya sekarang." Kata Rein sambil membawa langkahnya mendekati Aska di atas kasur.


"Rein, aku ingin melakukan video call dengan mu." Kata Davin kepada Rein.


Rein menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tahu jika Davin pasti ingin melihat bagaimana keadaan Aska secara langsung dengan video call.


"Aku mengerti." Setelah itu dia mematikan sambungan.


Beberapa detik kemudian ia mendapatkan panggilan video call dari kontak Davin, segera, Rein langsung menjawab panggilan video Davin dan mengarahkan kamera belakang menyoroti pose tidur damai Aska yang tidak pernah mengalami perubahan.


"Dia sudah seperti ini semenjak aku masuk ke dalam dan belum pernah membuat gerakan apapun sampai dengan detik ini." Kata Rein menjelaskan kepada Davin.


Wajah Davin di seberang sana terlihat agak kelelahan tapi meskipun begitu ia sama sekali tidak mau menunjukkan perasaan letih tubuhnya kepada Rein. Dia akan berusaha mengenyahkan perasaan letih nya di hadapan Rein, apalagi bila kini sudah menyangkut masalah serius. Davin tentu saja akan mengerahkan semua kemampuannya untuk menyelesaikan masalah ini.


"Bangunkan Aska untukku." Kata Davin di seberang sana.


Rein menurut.


Dia duduk di samping Aska dan mengguncang tubuh Aska seringan mungkin. Namun, Aska tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera bangun dan tubuhnya pun tidak membuat gerakan apapun. Dia masih bernafas dengan tenang dan terlihat tidak terganggu oleh gangguan yang Rein buat.


Untuk meyakinkan Davin, dia mengguncang tubuh Aska berkali-kali tapi masih tidak mendapatkan reaksi apapun.


"Ada apa, Rein?" Davin sontak bangun dari mejanya sambil mengguncang layar ponsel.


Seolah-olah ia sedang mengguncang tubuh Rein.


Adit yang berwajah datar di samping,"...." Mulutnya bergerak-gerak ingin mengatakan sesuatu tapi karena alasan yang diketahui semua orang ia dengan bijaksana menahan suaranya.


"Rein, apa kamu mendengar ku?!" Sementara itu Davin masih bergelut dalam ketidaknyamanan hatinya.


Dia khawatir terjadi sesuatu kepada Rein. Di dalam kepalanya segala macam kemungkinan buruk telah berselancar dengan indah. Di saat seperti ini ia merutuki pintu kemana saja milik Doraemon yang hanya bisa diakses oleh Nobita dengan teman-temannya. Dan ia juga merutuki kecanggihan teknologi zaman sekarang yang tidak bisa menjangkau pengetahuan Doraemon, padahal jika pintu kemana saja Doraemon ada di sini maka Davin tubuh perlu bersusah payah pulang pergi bertemu Rein menggunakan pesawat terbang, menghabiskan banyak waktu yang dirasa cukup merugikan.


"Aku...aku akan segera pulang Rein!" Davin mengumpulkan semua dokumen di atas mejanya dengan tangan kiri.


"Pak, tolong tenangkan diri Anda-" Adit belum selesai berbicara tapi sudah dipotong oleh suara dingin Davin.


"Aku ingin pulang!" Potongnya tidak bisa diganggu.


Adit memejamkan matanya, menghela nafas panjang ia pun mengalah mencegah Davin pergi. Toh, Davin juga sudah menyelesaikan urusan penting yang seharusnya diselesaikan dan sisanya, mereka bisa menunggu waktu yang tepat untuk diselesaikan, tidak perlu terburu-buru.


"Baik Pak, Anda bisa pulang tapi tolong tenangkan diri Anda." Kata Adit tidak mempersulit Davin.


Davin tidak mengatakan apa-apa. Dia mengambil mantel coklat di sandaran kursinya sebelum membawa langkahnya ke depan pintu. Adit, sebagai bawahan yang cekatan segera mengambil semua dokumen yang ada di atas meja kerja Davin dan mengikutinya dengan patuh di belakang.


"Kau tinggal di sini." Kata Davin tanpa melihat ke belakang.


Adit tercengang, ia meragukan pendengarannya sendiri,"Maaf, Pak?"


Davin dengan datar berkata,"Diam di sini dan selesaikan semua pekerjaan yang belum diselesaikan. Kamu hanya boleh kembali ke Indonesia setelah aku mendengar hasil yang aku inginkan." Dan,


BAM


Davin menutup pintu kamar apartemennya tepat di depan wajah Adit. Dia berdiri mematung di sana menatap dingin sisi pintu coklat yang hampir saja menyentuh sisi wajah tampannya.


"Bos, bulan ini kamu harus menaikkan gaji ku dua kali lipat dan aku juga harus mendapatkan bonus!" Teriak Adit meraung dari dalam kamar apartemen Davin.


Sejak bertemu dengan Rein, pekerjaan mereka dipercepat dari jadwal rencana mereka.