
"Jika mereka tidak cocok, maka aku benar-benar tidak punya pilihan selain mengurus mereka." Sesal Adit tidak punya pilihan.
Dia menyentuh kepalanya ringan dan melirik Anggi, diam-diam mengamati perubahan wajah Anggi yang tidak bisa disembunyikan.
Anggi pasti goyah pikirnya.
Sedangkan di pihak Anggi sendiri dia tidak menyangka bila Adit akan mengambil tanggungjawab sebesar itu untuk mengurus anak-anak. Pasalnya Adit pasti sangat sibuk mengurus dokumen perusahaan dan semua tuntutan Davin, lalu ada tambahan tugas menjaga anak-anak...ini adalah penyiksaan sekaligus peluang....
Anggi merasa dia masih memiliki peluang.
"Kalau begitu aku saja." Kata Anggi menawarkan diri sendiri.
Adit akhirnya memiliki senyum sempurna tapi hanya sesaat karena setelah itu dia kembali memasang ekspresi tembok di wajahnya.
"Hem?" Adit dengan sabar mempertahankan image dingin dan sabarnya.
Setidaknya untuk sekarang karena seorang pemburu tidak akan mengambil keputusan cepat dan impuls untuk menarik mangsa. Karena jika demikian, mangsa akan lepas atau melarikan diri diluar jangkauan.
Nah, karena dia memiliki pemikiran selayaknya seorang pemburu, maka bersabar sedikit saja sepertinya tidak masalah. Karena sekali tertangkap, bukankah mangsanya akan memiliki rasa yang sangat manis?
Pikiran Adit berkelana sangat jauh dengan sirkuit otak yang tidak mudah dimengerti. Mungkin bila Anggi tahu apa yang sedang Adit pikirkan saat ini, dia akan sangat menolak untuk mempercayainya.
"Ini..." Anggi meremat kedua tangannya gugup bercampur malu.
"Mas Adit pasti sudah mendengar tentang anak-anak ku. Mereka sekarang tinggal di rumah salah satu kerabat ku dan membutuhkan biaya hidup karena aku tidak mungkin terus menerus menyusahkan mereka. Jadi, karena Mas Adit akan menggaji orang-orang yang akan merawat anak-anak, maka apakah aku bisa mendapatkan pekerjaan ini?" Tanya Anggi hati-hati.
Dia telah berterus-terang mengenai keadaannya sekarang kepada Adit jadi dengan simpati ini Anggi berharap Adit mau memberikannya peluang untuk mendapatkan pekerjaan itu.
Dengan bekerja di sini, dia bisa mendapatkan gaji untuk biaya hidup anak-anak dan di samping itu juga dia bisa tinggal dekat dengan Adit.
"Jadi sebelumnya kamu ingin pulang ke Indonesia?" Tanya Adit masih senang bermain-main.
Anggi sangat malu. Tapi dia masih menjawab.
"Aku tidak punya cara lain. Aku suka merawat Aska dan Tio untuk membalas budi kebaikan kalian. Tapi aku punya anak-anak yang harus dihidupi sebab suamiku yang tidak bisa memberi nafkah karena pergi melarikan diri dengan selingkuhannya. Jadi, aku berencana pulang untuk mencari pekerjaan paruh waktu di Indonesia." Jawab Anggi tertekan.
Bagaimana mungkin Adit tidak tahu masalah ini?
Dia adalah asisten pribadi Davin yang sangat berkompeten. Dia telah lama menyelidiki situasi Anggi dan keluarganya, maka masalah keuangan ataupun anak-anak sudah lama tercetak manis di dalam laporannya. Jika dia tidak tahu kehidupan Anggi, maka Anggi tidak akan bisa bertahan lebih lama di rumah Davin bahkan sekalipun dia adalah teman baik Rein.
"Oh, laki-laki brengsek yang telah melarikan diri dengan selingkuhannya masih kamu panggil sebagai suami? Kamu sangat murah hati." Ejek Adit agak masam mendengar Anggi masih memanggil laki-laki itu sebagai suaminya.
Padahal dia sudah nyata-nyata dijual dan dikhianati oleh suaminya, tapi mengapa masih dengan keras kepala memanggilnya suami?
Adit tidak tahu apakah harus menganggap Anggi wanita idiot atau terlalu polos.
"Dia menolak menceraikan aku." Kata Anggi jujur.
"Jadi apa? Bahkan jika dia menolak maka kamu akan diam saja melihatnya berbuat curang? Lalu aku ingin bertanya kepadamu, apakah kamu tahu kejahatan apa saja yang laki-laki brengsek itu lakukan kepadamu?" Tanya Adit geram.
Dia harus memberikan penjelasan yang baik untuk wanita idiot ini pikirnya.
Adit tersenyum masam,"Hanya itu saja?"
Anggi tidak menjawab. Namun tanpa mengatakannya pun Adit tahu jika Anggi hanya tahu bagian ini saja, sungguh naif.
"Dia menjual kamu kepada Revan - atau dengan kata lain Revan lah yang membeli kamu dari suamimu." Kata Adit langsung membingungkan Anggi.
"Suamiku berhutang-"
"Kami punya rekaman pembicaraan mereka." Potong Adit acuh tak acuh langsung membungkam mulut Anggi.
Anggi menundukkan kepalanya sulit mempercayainya. Kedua matanya memerah menahan isak tangis yang ingin segera diluapkan. Apa kesalahannya? Mengapa suaminya tega melakukan ini kepadanya?
Bahkan walaupun perasaan mereka sudah memudar tidak wajar rasanya memperjualbelikan tubuhnya. Ini tidak adil, sungguh tidak adil. Anggi tiba-tiba merasa mual dan ingin memuntahkan semua isi perutnya.
"Jika kamu mau mendengarnya-"
"Tidak perlu, tolong tidak perlu." Potong Anggi memohon.
Nafasnya memburu karena luapan marah. Tapi sebisa mungkin dia mengontrol dirinya di depan Adit.
"Aku tidak perlu mendengarnya, aku percaya apa yang Mas Adit katakan. Pernikahan ini memang tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku ingin bercerai tapi apa yang harus aku lakukan disaat dia menghilang ke tempat entah berantah?" Anggi benar-benar tidak tahan dengan laki-laki itu.
Jika dia bisa menjualnya sekali maka tidak menutup kemungkinan dia akan menjualnya dua kali atau bahkan berkali-kali. Bagi Anggi, sekali saja sudah cukup dan telah menodai hidup miliknya selama seumur hidup apalagi jika dilakukan berkali-kali?
Anggi kesakitan dan menderita sendirian sedangkan laki-laki itu nyaman di luar sana dengan selingkuhannya?!
Anggi gila jika dia masih bertahan.
"Kamu ingin menceraikannya? Maka kamu bisa tanpa perlu bersusah payah mencari keberadaannya." Kata Adit memecah lamunan Anggi.
Anggi mengangkat kepalanya terkejut,"Bisakah kami bercerai?"
Adit mengangguk pasti tampak positif.
"Rekaman suara pembicaraan mereka adalah bukti yang sangat berguna untuk mengirim suamimu ke penjara dan dengan mengirim laki-laki brengsek itu ke penjara, kamu juga bisa menuntutnya untuk bercerai. Tapi proses ini akan sedikit lama karena tuan Davin harus menjalani perawatan di sini. Untuk sementara, kasus ini akan ditahan dulu sampai tuan Davin sembuh. Dan untuk menyelesaikan kasus ini aku ingin kamu bisa bekerja sama dengan baik. Kita akan sering bolak balik terbang ke Indonesia untuk menanganinya secara diam-diam. Namun, ini adalah rahasia diantara kamu dan aku tidak ada yang tahu kecuali kita berdua, akan tetapi semuanya tidak akan ada artinya bila kamu masih mencintai laki-laki brengsek itu dan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki diri karena aku yakin kasus ini akan terulang kembali tidak hanya untuk kamu, tapi juga untuk wanita-wanita lainnya yang tidak bersalah." Jelas Adit tanpa merubah wajah datarnya yang tampan.
Beberapa wanita terkadang berhati lembut- oh, sebut saja memiliki sirkuit otak yang tidak bisa dipahami dengan mudah. Berkali-kali disakiti tapi masih saja mengharapkan laki-laki yang sama, hah.. seolah-olah di dunia ini tidak ada laki-laki lain saja.
Sangat menyebalkan.
Disinggung tentang perasaan, Anggi dengan tegas membantah hal tersebut karena hatinya mungkin sudah mati rasa untuk laki-laki brengsek itu.
Dia sudah melupakannya- atau mungkin sudah terlalu kecewa sehingga perasaan dihatinya perlahan digantikan dengan hilangnya harapan untuk melanjutkan hubungan ini lagi.
Jadi yah, maju saja. Kirim laki-laki brengsek itu ke penjara untuk harga dari menjualnya ke Revan.
"Aku sudah melupakan laki-laki itu semenjak dia ketahuan sedang berselingkuh di dalam rumah kami. Aku bersedia melaporkannya ke kantor polisi sekalipun semua ini membuat kebahagiaan anak-anak ku hancur. Kelak ketika mereka dewasa nanti mereka akan mengerti mengapa aku melakukan ini sehingga mereka tidak perlu menyalahkan aku."