My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
180



"Aku pikir semuanya mimpi." Kata Rein malu.


Dia pikir ingatan tentang semalam adalah mimpi karena terlalu merindukan Davin.


"Bukan mimpi, kamu memang sudah ada di sini bersamaku." Sangkal Davin merasa jauh lebih manis.


Melihat tingkah menggemaskan Rein, hatinya gatal ingin menyentuhnya. Tapi karena kondisinya yang tidak memungkinkan, Davin dengan bijak menabungnya sampai dia benar-benar lebih baik.


"Hem, aku senang mendengarnya. Dav, selamat pagi. Bagaimana perasaan mu pagi ini?" Rein tidak menyadari waktu sudah sore.


"Pagi, sayang. Tapi kamu harus tahu jika sekarang sudah sore dan bukan pagi lagi." Davin mengingatkan dengan murah hati.


"Eh, serius?" Rein buru-buru mengambil ponselnya dan melihat waktu sudah tidak pagi lagi.


Tapi rasanya aneh. Di sini kan agak dingin mirip suasana pagi jadi wajar saja dia salah paham.


"Aku tidur selama itu?" Dia adalah seorang wanita dan tidak etis rasanya tidur terlalu lama, bahkan di depan kekasihnya sendiri!


"Kamu mengalami jet lag jadi ini wajar saja." Jawab Davin santai.


"Bahkan walaupun aku jet lag itu bukan berarti aku harus tidur lama. Dan kamu harusnya membangunkan aku tadi pagi."


Meskipun begitu Rein masih saja malu jadi dia segera mengambil peralatan mandinya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sementara Davin yang ditinggal sendiri diam-diam tertawa rendah, menertawakan ekspresi muram kekasihnya barusan yang tampak seolah telah dianiaya.


Terd


Terd


Terd


Ponsel Davin berbunyi di atas nakas. Merasa jengkel, Davin enggan menjawab. Akan tetapi suara nada dering ponselnya sangat mengganggu hingga memaksa Davin mau tidak mau untuk menjawab atau mematikannya.


"Jika ini tidak penting, siapapun penelpon nya akan mendapatkan masalah." Rutuk Davin tidak mau diganggu.


Tangannya masih sakit digerakkan jadi saat mengambil ponsel mulutnya tidak bisa berhenti meringis beberapa kali. Begitu melihat id penelpon, Davin langsung mengurangi poin kebaikan sang penelpon dan berjanji di dalam hatinya akan mengurangi gaji Adit bulan ini.


Nah, orang yang menelpon tiada lain dan tiada bukan adalah Adit, asisten pribadi Davin.


"Bukannya aku sudah bilang kamu tidak boleh menggangguku hari ini?" Ucap Davin pedas begitu menjawab telpon.


"Maaf Tuan, tapi ini darurat." Katanya di seberang sana.


"Masalah apalagi di perusahaan?" Davin menurunkan nada suaranya.


Adit membantah," Bukan masalah perusahaan, Tuan. Perusahaan baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan pengaturan, Tuan."


"Lalu apa?" Davin tidak sabar.


"Ini Dimas, Tuan. Semalam Anggi melihat Dimas keluar dari kamar hotel di sebelahnya." Kata Adit buru-buru.


Davin terkejut. Dia pikir ada yang salah dengan pendengarannya.


"Coba ulangi."


"Tuan, Anggi melihat Dimas di hotel semalam. Dia menginap di kamar presiden, tepat bersebelahan dengan kamar Anggi dan anak-anak. Lalu aku menyelidikinya dan menemukan jika Dimas sudah ada di sini sejak 3 minggu yang lalu. Dia menginap di kamar presiden dengan akses kartu spesial yang sangat mencurigakan. Tuan harusnya tahu jika kartu spesial tidak dimiliki oleh sembarang orang. Dan menurut penilaian ku, Dimas tidak bisa mendapatkannya karena kekayaannya masih jauh dari layak untuk mendapatkan kartu spesial hotel x. Jadi, bisa disimpulkan jika kedatangannya ke sini dibawah perlindungan seseorang dan takutnya memiliki tujuan tertentu." Jelas Adit menjabarkan apa yang dia dapatkan semalam sambil menganalisis mengapa Dimas ada di sini.


Ini sangat janggal, Davin sendiri berpikir jika tujuan Dimas harusnya mengarah kepada dirinya- mungkin saja. Jika tidak, mengapa dia tiba-tiba di sini dengan kartu pelayanan mewah?


Juga, dia telah menghilang sejak kejadian itu dan Davin pikir dia sudah menyerah mengejar Rein, pulang ke kampung halamannya yang sesuai dengan permintaan Davin sebelum mereka tidak bertemu lagi.


"Apakah kamu sudah memeriksa dalam agenda apa di datang ke sini? Atau apakah dia bekerja di sebuah instansi atau perusahaan di sini?" Mungkin, mungkin saja dia di sini hanya untuk bekerja- walaupun kemungkinannya sangat kecil karena bagaimana mungkin dia datang ke sini dengan kartu pelayanan mewah di tangan?


"Sudah, tuan. Dia di sini dalam rangka liburan. Tapi anehnya setelah ku periksa tadi pagi, selama tinggal di sini dia tidak pernah mengunjungi tempat-tempat yang harusnya dikunjungi wisatawan." Jawab Adit agak rumit.


Cklack


Pintu kamar mandi terbuka yang disusul oleh semburan uap hangat dari dalam. Rein keluar dengan tubuh yang lebih nyaman dan menyegarkan.


"Dav, kamu kenapa?" Tidak seperti biasanya Davin tidak memperhatikannya.


"Oh, aku bukan apa-apa." Jawab Davin seraya menutup telpon.


"Jangan lengah, awasi dia untukku." Perintah Davin sebelum menutup telpon.


Davin tersenyum lebar, menyelipkan ponselnya ke dalam selimut sambil berpura-pura santai.


"Siapa yang nelpon? Adit?"


Davin tidak menyembunyikannya,"Ini Adit."


"Soal apa? Perusahaan bermasalah lagi?" Tanya Rein cemas.


"Perusahaan sudah berjalan di jalur yang aman. Dia menelpon ku untuk melaporkan keadaan anak-anak sekarang. Karena keamanan, semalam aku memintanya memindahkan anak-anak ke vila." Bohong Davin tanpa mengubah ekspresinya di depan Rein.


Dia tidak mungkin memberitahu Rein mengenai keberadaan Dimas di sini karena Dimas adalah sahabat sekaligus orang yang telah menghancurkan hubungan mereka berdua. Rein pasti tertekan dan Davin tidak menginginkan itu terjadi. Davin juga memiliki kekhawatiran tersendiri jika Dimas mengetahui keberadaan Rein di sini. Dia takut Rein akan diambil untuk yang kedua kalinya oleh Dimas. Itu adalah mimpi buruk yang Davin tidak inginkan.


"Dav, Davin?!" Panggil Rein heran.


"Hem?"


"Kamu kenapa, sih? Dari tadi kok ngelamun terus. Lagu mikirin apa sih?" Daripada heran dia lebih khawatir sebenarnya.


"Aku...aku lagi mikirin anak-anak. Cuma sayang aja anak-anak gak bisa datang ke sini karena dokter belum mengizinkan." Bohong Davin untuk yang kedua kalinya.


Rein percaya karena hubungan Davin dan anak-anak sangat dekat. Dan dia juga mengerti bila anak-anak tidak bisa menjenguk Davin karena situasi Davin masih terbilang buruk. Dia membutuhkan beberapa perawatan lagi agar bisa bertemu dengan anak-anaknya.


"Jangan sedih, Dav. Kamu pasti bisa bertemu dengan anak-anak. Tapi mungkin tidak sekarang karena kamu harus lebih baik lagi agar mereka diizinkan datang." Hibur Rein sambil merekat kuat tangan kekasihnya.


Davin tersenyum, sangat nyaman dengan perhatian hangat yang Rein berikan. Di dalam hatinya dia berdoa agar Rein dan dirinya akan tetap bersama sampai di kehidupan selanjutnya yang abadi.


6 bulan kemudian Davin sudah mulai belajar berjalan di dampingi oleh Rein dan anak-anak. Selama waktu itu pula berbagai macam suka dan duka mereka lewati. Davin pernah sangat terpuruk ketika mengalami kesulitan saat belajar berjalan. Dia sakit hati dan hampir saja menyerah jika Rein maupun anak-anak tidak menyemangati nya. Tapi beruntung mereka ada di sana sehingga Davin mampu menghadapi keterpurukan itu.


Sekarang sudah 6 bulan terlewati. Sedikit demi sedikit Davin bisa berjalan. Dengan tekatnya yang kuat tingkat penyembuhannya lebih cepat dari pasien lainnya. Bahkan dokter yang menanganinya pun heran ketika melihat hasil laporan kesehatan Davin yang menunjukkan peningkatan luar biasa.


"Sedikit lagi. Dav, sedikit lagi." Bisik Rein bahagia seraya memeluk erat kekasihnya.


Davin tersenyum lebar, mengabaikan peluh di wajahnya, dia mengusap-usap leher Rein dengan puncak hidungnya yang berkeringat. Rein geli, tapi dia tidak mengatakan apa-apa karena diapun menyukainya.


"Hem, sedikit lagi. Aku janji setelah ini kamu dan anak-anak akan hidup bahagia tanpa dibayang-bayangi rasa takut." Bisik Davin berjanji kepada Rein dan dirinya sendiri.


Dia harus lebih kuat jika ingin melindungi keluarga kecilnya dari para rubah sialan itu.


Satu setengah tahun kemudian Davin dan keluarga kecilnya kembali ke Indonesia bersama-sama. Mereka telah banyak menarik perhatian publik semenjak Davin dikabarkan mengalami kecelakaan mobil di negara A. Entah siapa yang menyebarkannya tapi yang pasti, beberapa orang merasa sedih mendengarnya, beberapa orang merasa biasa saja mendengarnya, dan beberapa nya lagi merasa sangat senang karena Davin akhirnya bisa ditumbangkan.


Davin tidak terkejut dan mungkin sudah menduganya jika masalah ini cepat atau lambat akan didengar oleh publik. Walaupun agak kesal dia sama sekali tidak takut dan hanya diam sana melihat reaksi publik.


"Dimana Dimas?" Sudah lama sekali Davin tidak mendengar kabarnya.


"Dia sudah kembali ke kampung halamannya." Kata Adit dengan ekspresi rumit diwajahnya.


"Hem, tanpa pergerakan lain?" Tanya Davin tidak percaya.


Adit dengan sigap menjawab,"Dia memang tidak membuat gerakan yang mencurigakan dan langsung kembali ke kampung halamannya. Tapi, sebelum pergi dia tiba-tiba mengirimi ku sebuah flashdisk. Isinya...tuan Davin bisa melihatnya sendiri." Katanya sambil mengulurkan tangannya kepada Davin, memperlihatkan sebuah benda panjang yang sangat mirip dengan alat tulis.


Davin mengernyit,"Apakah ini sangat menarik?"