My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
86. Wacana Liburan



Davin untuk yang pertama kalinya setelah bertemu Rein menghela nafas panjang sarat akan ketidakberdayaan. 


Dia lalu melirik para karyawannya yang sedang menatapnya penuh kekaguman dan rasa penasaran. Begitu Davin mengangkat kepalanya, mereka buru-buru memberikan salam dan anggukkan sopan sebagai sapaan yang langsung diabaikan oleh Davin.


Davin kembali bersikap angkuh, menarik tangan Rein ikut bersamanya masuk ke dalam lift presiden di bawah pengawasan banyak orang tanpa memikirkan betapa buruk ekspresi Rein saat ini.


"Lepas!" Rein menarik tangannya dari Davin.


"Ya Tuhan, matilah aku sekarang! Orang-orang itu pasti diam-diam mulai mengutukku karena mu." Gumam Rein panik.


Davin di samping memutar bola matanya malas.


"Mereka bukan siapa-siapa jadi kenapa harus takut." Ucap Davin santai tapi tidak digubris oleh Rein.


Bagi Rein, percuma saja berdebat dengan laki-laki sombong nan angkuh ini karena urat malunya telah lama terputus. Dia berpikir daripada terus-menerus membuang waktu dan air ludahnya berbicara dengan Davin, ada baiknya ia meluangkan waktunya untuk mencari solusi dari masalah ini.


Ah ayolah, dia tidak ingin seperti sinetron-sinetron kapal terbang yang hidupnya langsung diacungi pisau oleh para wanita pengejar Davin- okay, dia mengakui bahwa yah, jalan hidupnya sudah tidak ada bedanya dengan sinetron kapal terbang.


Ting~


Pintu lift terbuka, sebelum keluar Davin mengambil alih Tio dari pelukan Rein. Mengabaikan ekspresi jengkel Rein dan membawanya keluar.


Di luar, Lisa buru-buru keluar dari meja kerjanya. Kaki rampingnya berjalan cepat ingin menyambut kedatangan Davin. Wajah cantiknya membentuk sebuah garis senyuman yang manis, tapi senyumannya langsung meredup ketika melihat Davin keluar bersama Rein di belakangnya. Tidak lupa juga ada Tio yang kini sedang memeluk mesra leher panjang Davin sambil berceloteh ringan.


"Selamat siang, Pak." Sambut Lisa ramah, mengembalikan lagi senyum manisnya.


Bersikap seolah-olah tidak ada orang selain mereka berdua- ah, tentu saja anak kecil itu perlu diperhatikan karena Davin tampak sangat dekat dengan anak kecil itu.


Em, mungkinkah anak kecil itu adalah keponakan Davin?


Bisa jadi karena Davin masih belum menikah.


"Siang." Balas Davin seperti biasa, acuh tanpa niat menatap Lisa sejenak saja.


Lisa ingin mengatakan sesuatu tapi ia mengurungkan niatnya karena Davin terlihat tidak ingin diganggu- hah, mungkin lebih tepatnya Davin selalu saja seperti ini.


"Lisa," Davin tiba-tiba memanggilnya.


Lisa sangat senang, ia tidak bisa menahan senyuman kemenangannya di depan Rein atau mungkin, ia memang sengaja memamerkannya di depan Rein. Membuat Rein menatap dirinya aneh selayaknya orang 'idiot'.


"Cih, bila dia tahu hati laki-laki ini penuh tipu muslihat, aku tidak yakin dia akan terus mengejarnya." Cemooh Rein di belakang.


"Iya, Pak?" Lisa menjawab dengan antusias.


"Buat pengumuman untuk seluruh departemen bila minggu depan perusahaan kita akan mengadakan acara liburan bersama di kota A selama 3 hari. Perusahaan tidak akan memaksa semua orang pergi karena ini adalah sebuah acara liburan bukan proyek kerja. Jadi, bagi yang mau pergi silakan mendaftar kepada tim acara yang telah direkrut dari bagian personalia dan bagi yang tidak ingin ikut, maka mereka bisa memanfaatkan waktu liburan mereka untuk bersantai di rumah. Tambahkan juga untuk seluruh biaya akomodasi acara ini di tanggung langsung oleh perusahaan dan perusahaan tidak memungut biaya sepeserpun dari karyawan untuk acara liburan ini."


Ini adalah sebuah pengumuman besar, atau lebih tepatnya bisa dipanggil sebuah keajaiban. Lisa, sekretaris yang telah hilir mudik dari perusahaan satu sampai ke perusahaan lainnya baru pertama kali mendengar jika ada sebuah perusahaan yang bermurah hati membawa karyawannya pergi liburan!


Oh, dan yang paling penting adalah karyawan tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun dari acara liburan ini jadi bagaimana mungkin tidak ada yang mau berpartisipasi!


Ini mustahil!


"Pak...kita benar-benar akan pergi liburan?" Lisa bertanya hati-hati dengan euforia tertahan.


Davin tidak suka mengulangi kata-katanya,"Apa telingamu bermasalah?"


Lisa menggelengkan kepalanya panik.


"Tidak, Pak. Aku telah mendengar semuanya dan akan segera memerintahkan bagian personalia untuk membentuk tim acara. Kemudian pengumuman ini akan saya kirim ke seluruh alamat email para karyawan perusahaan dan juga bisa diakses dengan bebas di situs perusahaan. Apa Anda ingin menambahkan lagi, Pak?" Lisa segera bekerja cepat, mengembalikan mode profesionalnya ketika sedang berhadapan dengan pekerjaan.


Davin melambaikan tangannya,"Cukup, setelah ini jangan ganggu aku lagi. Jika ada hal penting lainnya, hubungi saja sekretaris pribadi ku."


Lisa, yang kini menjabat sebagai sekretaris pribadi Davin,"...." Bukankah aku adalah sektretaris pribadi mu, Pak?


"Ayo, Rein." Davin kemudian masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Lisa yang terlihat sangat kebingungan.


Rein di samping gatal ingin tertawa. Ia menebak jika kata-kata Davin tadi membuat Lisa kebingungan. Pasalnya Lisa adalah sekretaris pribadi Davin di sini tapi tidak dengan diluar.


"Hubungi Adit, kamu harusnya tahu laki-laki berwajah datar yang suka mengikuti Davin kemana-mana." Beritahu Rein bermurah hati sebelum masuk menyusul Davin ke dalam.


"Oh, laki-laki itu- tapi...apa yang baru saja dia katakan? Dia...dia memanggil Pak Davin dengan namanya langsung!" Mulutnya gatal ingin berteriak.


Bersambung..


Inshaa Allah mulai besok akan update normal 🍃