My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
112. Aska



"Mommy! Aska kangen banget sama Mommy!" Dia berteriak lebih nyaring lagi, melemparkan dirinya ke dalam pelukan Rein yang masih bingung dengan kedatangan anak laki-laki ini- namanya, Aska.


Rein tidak tahu siapa anak ini dan dia juga yakin tidak pernah bertemu dengan anak ini. Rein juga sangat yakin bila saat mengandung dokter mengatakan dia hanya memiliki satu bayi, dan setelah melahirkan hanya Tio seorang yang bersemayam di dalam pelukannya.


Tidak ada anak kedua ataupun ketiga, Rein tidak mengenal anak ini. Dia tidak mengenal anak yang tiba-tiba datang memanggilnya Mommy dan menyatakan rindu kepadanya.


"Hei, are you okay?" Rein melepaskan pelukan Aska dan merendahkan tubuhnya hingga duduk berjongkok di depan Aska.


Aska terlihat sangat menyedihkan, wajah kekanak-kanakan Aska memerah disertai dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari sudut matanya.


Terenyuh, Rein seolah sedang berhadapan dengan Davin kecil karena wajah mereka memiliki sedikit kemiripan- tunggu,


Gerakan tangan Rein membeku. Ia memperhatikan baik-baik wajah Aska, tidak perduli berapa kali ia melihat wajah Aska dan Davin memiliki sebuah kemiripan yang tidak bisa dipungkiri.


"Apa Daddy yang kamu maksud adalah Davin?" Jantung Rein berdegup kencang memikirkan segala kemungkinan.


Ya Tuhan, bagaimana mungkin ia tidak memikirkan hal yang tidak-tidak karena Aska dan Tio terlihat berada di usia yang sama. Usia yang sama, ketika memikirkan kata-kata ini Rein tiba-tiba teringat dengan model cantik yang orang katakan sebagai tunangan Davin.


5 tahun berpisah tidak menutup kemungkinan Davin telah berhubungan intim dengan model cantik itu. Yah.. siapa yang akan tahu?


"Nama Daddy adalah Davin Demian, dan Daddy bilang nama Mommy adalah Rein Xia. Kenapa, Mom? Mommy gak kangen sama Aska, yah? Mommy gak mau..hiks..." Dia mulai menangis lagi di depan Rein.


Padahal dia sudah sangat merindukan Rein, dia ingin sekali bertemu dengan Rein. Tapi Daddy selalu bilang kalau Rein sedang melakukan misi rahasia di suatu tempat, mereka tidak akan bisa bertemu sampai misi rahasia Rein selesai.


Sekarang mereka sudah bertemu tapi kenapa Rein melemparkannya reaksi ini?


Seolah-olah Rein tidak menginginkan pertemuan ini dan tidak mengenalnya?


"Hus..." Rein menarik Aska ke dalam pelukannya, menepuk ringan punggung Aska untuk menenangkannya.


Di dalam hatinya Rein bertanya-tanya apa maksud Davin mengatakan itu semua kepada Davin bila wanita model itu ada Ibu dari Aska- kecuali, bila anak ini tidak ada hubungannya dengan wanita.


Lalu, siapa Aska sebenarnya?


"Mommy gak kangen sama Aska?" Aska masih menanyakan hal yang sama dengan kedua tangan memeluk erat tubuh Rein.


Rein mengecup keningnya lembut,"Siapa bilang? Mommy kangen kok sama kamu, Mommy cuma kaget aja ketemu sama kamu hari ini dan gak nyangka kita akhirnya bisa bertemu."


Rein berbicara lembut, memperlakukan Aska selayaknya Tio, putranya.


"Sungguh, Mom?" Aska bertanya dengan ekspresi serius- dia masih anak kecil tapi sudah memiliki ekspresi selayaknya orang dewasa.


Haah, lagi-lagi Rein berpikir bahwa Aska sedikit mirip dengan Davin.


"Mommy serius. Ya udah, sekarang kita masuk yah. Mommy di dalam udah masak masakan lezat buat kamu."


Dengan begitu Rein membawa Aska masuk ke dalam rumah. Ia menyiapkan Aska makanan yang juga dimakan oleh Tio, menyajikannya di atas meja bersama segelas susu hangat. Setelah mengawasi Aska sebentar, Rein lalu masuk ke dalam kamar Davin yang kosong karena kamarnya sedang ditempati oleh Tio.


Menghela nafas panjang, Rein kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Davin. Panggilan pertama, Davin masih belum mengangkat telpon darinya hingga pada panggilan ketiga suara husky Davin akhirnya masuk ke dalam pendengarannya.


"Hallo, Rein. Maaf aku baru mengangkatnya sekarang." Nada suara Davin lebih berat dari biasanya.


"Apa aku mengganggumu?" Rein menyampingkan masalah Aska terlebih dahulu.


"Tidak Rein, aku sangat senang kamu menghubungiku." Rein bisa merasakan Davin sedang tersenyum di seberang sana.


Hati Rein menghangat, ia meremat kuat ponsel yang ada di samping telinganya. Wajah kecilnya merona terang menyembunyikan kerinduan yang mendamba.


"Davin, jangan terlalu lelah dan luangkan waktumu untuk beristirahat, okay?" Rein berbicara dengan nada yang lembut, membuat suasana hati Davin kembali membaik.


Jujur, dia sangat merindukan pemilik suara lembut ini. Dua hari tidak bertemu membuat Davin sangat tersiksa. Jika bisa, ia ingin sekali pulang ke rumah dan bergegas memeluk Rein, tapi ia sungguh tidak bisa karena pekerjaannya di sini tidak mengizinkannya.


"Hem, aku tahu. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku." Lalu ada suara gemerisik di ujung sana, sepertinya Davin sedang merapikan berkas-berkas di atas meja kerjanya.


"Davin, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Rein setelah sekian lama diam.


"Katakanlah, aku akan mendengarkan." Kata Davin masih terdengar suara gemerisik di ujung sana.


Rein tidak langsung berbicara, kedua matanya yang berbentuk buah persik manis mengerjap ringan mengintip dari sela-sela pintu. Melihat Aska yang berperilaku patuh di atas meja memakan makanannya.


"Aska," Kata Rein menyebutkan nama Aska.


Suara gemerisik di ujung sana tiba-tiba berhenti tapi Rein tidak berniat untuk berhenti berbicara.


"Ada seorang anak yang bernama Aska tadi siang mengetuk pintu. Dia bilang aku adalah Mommy nya dan kamu adalah Daddy nya, Dav...aku pikir tidak ada lagi rahasia di antara kita jadi maukah kamu memberitahuku siapa anak itu dan apa hubungannya dengan mu?"


"Dimana Aska sekarang?" Davin tidak langsung menjawab tapi malah melemparkan pertanyaan kepadanya.


"Dia ada di rumah dan kini sedang makan di meja makan." Jawab Rein tidak menutup-nutupi keberadaan Aska.


Davin menghela nafas panjang di ujung sana.


"Syukurlah kamu tidak membiarkannya pergi." Davin menghela nafas panjang, lalu melanjutkan ucapannya.


"Rein, benar-benar tidak ada rahasia di antara kita. Menyangkut Aska, aku akan menjelaskannya kepadamu setelah aku pulang nanti. Ini tidak akan lama, satu atau dua hari lagi aku sudah ada di rumah. Jadi untuk hari itu aku mohon kamu bersabarlah dan jangan biarkan Aska pergi kemanapun."


Rein tersenyum tipis, ia harap apa yang ia pikirkan tidak terjadi.


"Hem, aku akan menjaganya tetap di sini."


Davin sekali lagi menghela nafas panjang,"Terima kasih." Ucapnya tulus.


Rein merendahkan kepalanya menahan gelisah,"Davin, aku percaya kepadamu jadi aku mohon, jangan kecewakan aku lagi." Mohon Rein dengan suara yang sangat tenang.


"Kamu benar-benar bisa mempercayai ku, Rein, karena hatiku tidak pernah berpaling dari dirimu."


Bersambung...


Ampas banget, huhu