My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
204



Kakek Demian menyatakan keputusan terakhirnya, menyerahkan semua urusan keluarga maupun perusahaan kepada Davin dan Rein, pasangan kekasih yang kini telah resmi menjadi kepala keluarga dan Nyonya besar keluarga Demian.


Setelah hari ini keputusan apapun akan berada di tangan Davin dan Rein. Tidak ada seorangpun yang bisa menentangnya selama keputusan itu berada di dalam ruang lingkup keluarga.


Bahkan para Paman ataupun Bibi, mereka juga tidak bisa mengatakan apa-apa selain beberapa patah kata nasihat saat akan menyelesaikan masalah.


"Sayang, kamu tidak bisa melakukan ini karena Revan adalah putramu! Dia adalah darah daging mu! Jadi tolong berikan dia kesempatan sekali saja untuk memperbaiki semuanya-"


"Diam!" Bentak Kakek Demian marah.


Dia menatap Nenek tajam tanpa kepedulian sedikitpun dimatanya.


"Aku sudah cukup memelihara mu di rumah ini. Aku pikir kamu akan semakin jinak jika ku bawa ke rumah ini. Tapi siapa sangka, bukannya jinak kamu malah semakin liar di rumah ini, kamu mengacaukan anak-anak ku dan mengadu domba mereka agar saling menyakiti. Kamu tidak bisa dimaafkan. Sama seperti putramu yang payah, kamu juga akan keluar dari rumah ini dan tidak diizinkan menginjakkan kaki lagi di rumah ini!" Ucap Kakek Demian dingin tanpa ragu sedikitpun.


Setelah mengucapkan semua keputusannya, dia langsung pergi dari ruang pertemuan dengan kepala pelayan di sampingnya. Usia Kakek Demian sudah sangat tua dan membutuhkan waktu yang baik untuk beristirahat. Dengan usianya ini Kakek Demian tidak baik distimulasi oleh berbagai macam masalah yang memberatkan pikiran. Jadi, demi kenyamanan Kakek Demian, kepala pelayan memutuskan langsung membawa Kakek Demian terbang ke pulau pribadi keluarga Demian untuk menenangkan pikirannya.


"Sayang! Tidak sayang! Kamu tidak diizinkan melakukan ini kepada kami! Revan adalah putramu dan aku adalah istrimu! Aku tidak mau pergi dari rumah ini! Aku tidak mau pergi!" Nenek berteriak nyaring dengan isak tangisnya yang menyedihkan sedangkan Revan masih melamun di tempat.


Otaknya masih mencerna kata demi kata yang Kakek Demian ucapkan tadi. Informasi ini terlalu besar dan agak sulit dicerna kepalanya.


"Teruslah menangis. Bahkan walaupun kamu menangis darah hari ini Kakek tidak akan pernah mencabut keputusannya." Suara lembut Rein mengejek kesedihan Nenek.


Hah, rasanya sangat lucu dan menyegarkan melihat mereka akhirnya dihancurkan di depan matanya sendiri. Jujur, Rein bukanlah orang yang pendendam sejahat apapun mereka menyakitinya. Paling-paling Rein hanya menyalahkan kekurangannya sendiri bila ada orang yang menyakitinya. Tapi untuk Davin, dia tidak memiliki pikiran yang sama.


Davin-nya hampir saja pergi dari dunia ini jika Tuhan tidak berbelas kasih. Dia mungkin akan sendirian lagi di dunia ini jika Tuhan tidak memberikan pertolongan kepada Davin. Jika itu terjadi... jika itu terjadi, Rein mungkin akan sangat hancur!


Dia mungkin akan sangat hancur!


"Kamu! Beraninya kamu berbicara seperti ini kepadaku! Apakah kamu tidak tahu jika aku adalah Nyonya besar di rumah ini--"


"Aku." Potong Rein masih dengan sikap acuh tak acuhnya.


Huh, sekarang dia tahu darimana sikap angkuh dan arogan Nenek selama ini. Dia datang dari latarbelakang keluarga yang tidak diketahui tapi hidungnya sangat tinggi saat bertemu dengan orang-orang yang memiliki latarbelakang kaya. Dengan posisinya kemarin Nenek merasa seolah-olah dunia selalu berputar di sisinya, ini sangat menyedihkan tapi anehnya lucu.


"Beraninya kamu-"


"Aku sudah selesai. Pak polisi, tolong bawa orang-orang ini pergi. Mereka harus diberikan hukuman yang setimpal dengan tindak kejahatan yang mereka lakukan." Begitu kata-kata Davin jatuh, para polisi berseragam yang sedari tadi menunggu perintah akhirnya melangkah maju dari barisan belakang dan mengejutkan semua orang.


Karena terlalu asik menonton perdebatan, mereka benar-benar tidak menyadari keberadaan para polisi ini kecuali untuk beberapa orang yang sebelumnya berniat melarikan diri.


"Eh, kenapa para polisi ada di sini?" Anggota keluarga yang lain mulai berbisik-bisik.


"Sepertinya mereka sudah ada di belakang kita. Aneh, kenapa aku tidak menyadari jika mereka ada di sini sebelumnya?"


Yang lain menyahut,"Aku pikir ini bagian dari rencana Kak Davin untuk menangkap orang-orang jahat ini." Kata-katanya masuk akal dan mereka secara alami setuju.


"Hah syukurlah. Untung saja aku dan kedua orang tuaku tidak ikut terlibat dalam kejahatan ini. Jika tidak, aku tidak tahu bagaimana nasib kami saat ini." Ujar yang lain merasa sangat lega.


Beberapa orang yang mendengarnya juga diam-diam menyetujui kata-katanya. Sebab sebelumnya mereka sering di panas-panasi oleh anggota keluarga yang lain untuk bekerja sama menyingkirkan Davin. Untungnya mereka tidak bodoh dan menolak provokasi mereka, kalau tidak nasib mereka pasti akan sama dengan orang-orang yang sedang ditangani oleh para polisi saat ini.


"Tidak, tidak! Kamu tidak bisa melakukan ini Davin! Aku adalah Nenek mu!" Nenek langsung bergerak mundur ketika melihat beberapa polisi wanita berseragam rapi datang menghampirinya dengan borgol yang sangat mencolok ditangan.


"Kamu bukan Nenek ku dan kamu juga tidak pantas mu panggil Nenek sekalipun kamu pernah menikahi Kakek. Bagiku, kamu adalah wanita peliharaan Kakek sekaligus pembunuh kedua orang tuaku jadi bagaimana mungkin aku mengganggap seorang pembunuh adalah keluargaku? Oh, sekedar info saja. Kamu mungkin akan terancam hukuman mati karena melakukan pembunuhan berencana. Satu lagi, tidak hanya melakukan pembunuhan berencana tapi kamu juga berhasil menghilangkan bukti dengan menyuap polisi yang bertugas sehingga hukuman mati kemungkinan besar akan pasti kamu terima. Yah, kamu tidak boleh mengeluh ini adalah perbuatan mu sendiri dan tidak akan ada yang bisa membantumu untuk lolos dari masa hukuman. Jadi, nikmati saja." Ucap Davin acuh tak acuh tapi sorot matanya menunjukkan sebuah kepuasan yang tidak ternilai.


Akhirnya, akhirnya dia berhasil menghancurkan orang yang telah membunuh kedua orang tuanya. Ini sangat menyenangkan, melihatnya hancur dan putus asa, Davin tidak berbohong dan mengakui secara jujur, dia sangat menyukai adegan ini.


Memuaskan rasanya.


"Itu semua bohong! Aku tidak pernah membunuh kedua orang tuamu! Ah...ah lepas! Lepaskan aku! Revan! Nak, tolong Mama, Nak! Mama tidak mau masuk penjara!" Tidak bisa mendapatkan pertolongan Davin, Nenek kini beralih meminta pertolongan pada putranya yang juga sedang dikelilingi oleh polisi.