
Malam harinya Tio langsung masuk ke dalam kamar tanpa perlu diminta dulu oleh Rein. Dia dengan patuh merebahkan dirinya di atas ranjang, menarik selimut sedada dan kemudian menatap kemanapun Rein pergi dengan kedua bola mata besarnya.
Rein merasa ada yang aneh tapi pada saat yang bersamaan juga merasa ini adalah hal yang biasa. Karena buktinya Tio tidak melakukan sesi yang mencurigakan dan tidur dengan patuh di kasur.
"Tio mau bobok?" Tanya Rein sambil mendudukkan dirinya di atas kasur ingin ikut rebahan bersama putranya.
Tio mengangguk imut. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat lagi dengan Rein. Memeluk Rein sayang sama seperti malam-malam biasanya.
"Mom, aku ingin bobok dengan Daddy." Kata Tio tiba-tiba.
Tertegun, Rein mengurungkan niatnya berbaring. Dia terduduk lurus di kasur dengan kedua mata yang tidak pernah lepas dari wajah tampan kekanak-kanakan putranya.
"Yeah." Agak enggan berpisah dari putranya,"Tapi Tio emang beneran mau bobok sama Daddy?"
Takutnya Tio nanti menyusahkan Davin. Sebab Davin adalah orang yang gila kerja dan selalu lupa waktu bila sudah berhubungan dengan dokumen.
"Iya Mom. Tio mau bobok sama Mommy dan Daddy."
"Apa?" Rein meragukan pendengarannya.
Dia bahkan sampai menggeser duduknya lebih jauh dari Tio, menatap tidak percaya sang putra yang kini tiba-tiba meminta sesuatu yang sangat mustahil untuk ia lakukan.
"Tio mau bobok sama Mommy dan Daddy." Tio mengulangi lagi dengan suara kekanak-kanakan dan ekspresi wajah yang polos.
"Sayang," Rein bingung bagaimana cara mengatakannya.
Dia turun dari kasur dan bergerak mondar-mandir di dalam kamar. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada Tio bahwa ia dan Davin tidak bisa tidur di tempat yang sama karena yah... mereka tidak memiliki hubungan apapun. Dan Rein juga tidak bisa bersikap sok akrab dengan Davin seperti biasanya mengingat penolakannya tadi pagi. Dia sudah jelas-jelas menolak Davin tapi tiba-tiba mendapatkan situasi dimana ia dan Davin harus tinggal di ranjang yang bersama.
Oh ya Tuhan, Rein bahkan tidak tahu harus menaruh wajahnya dimana!
"Tio mau bobok sama Daddy, Mom." Tio mendesak.
Ia ingin seperti anak-anak yang lainnya, tidur di kasur yang sama dengan kedua orang tuanya. Di sekolah, teman-teman kelasnya selalu berbicara betapa besar suara dengkuran Ayah mereka atau betapa kacau cara tidur Ibu mereka. Tio juga ingin tidur dengan kedua orang tuanya, berbicara dengan bangga kepada teman-teman kelasnya jika tidur Mommy sangat baik dan Daddy tidak tidur mendengkur.
"Okay," Rein berkacak pinggang di depan putranya.
"Kamu bisa bobok di kamar Daddy tapi tanpa Mommy, okay?" Rein ingin bernegosiasi dengan putranya.
Tio menolak, ia merengek-rengek ingin tidur dengan mereka berdua.
Rein mengusap keningnya pusing. Dia tidak mungkin menjelaskan mengenai situasinya dengan Davin kepada Tio karena percuma saja, Tio tidak akan mengerti.
"Okay, fine." Rein mengalah.
Di dalam hatinya ia berdoa jika Davin tidak keberatan dan lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer.
"Kita akan tidur bersama Daddy!"
"Yey! Tio tidul sama Daddy dan Mommy!" Tio langsung turun dari ranjang, memeluk paha Rein dengan semangat tinggi.
Mendesah panjang, Rein terpaksa mengikuti kemauan putranya.
Mereka lalu keluar dari kamar dan kebetulan menemukan Davin di luar sedang bersantai membaca koran?
Malam-malam begini membaca koran?
"Davin," Panggil Rein canggung.
Davin bertindak cool di sofa,"Hem?"
Padahal saat ini mulutnya tertutup rapat karena tidak tahan ingin menyunggingkan senyum.
Rein menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Itu... Tio ingin tidur bersama dengan kita." Kata Rein sambil mewanti-wanti reaksi wajah Davin.
Davin mengepalkan tangannya menjadi tinju, berdehem ringan,"Ekhem."
Dia melipat asal-asalan koran itu dan menaruhnya di atas meja.
"Bukankah sebelumnya kamu menolak ku?" Tanya Davin tidak mengerti.
Rein menggaruk pipinya lagi,"Ini adalah permintaan Tio sendiri. Jika dia tidak memintanya maka aku tidak akan-"
"Baiklah, ikut aku ke kamar." Potong Davin tidak mau mendengar kata-kata Rein selanjutnya.
Dia buru-buru mengambil Tio, membawanya ke dalam pelukan lalu mencium wajahnya dengan semangat tinggi. Besok ia berjanji akan membelikan Tio apapun yang diinginkan karena telah menjadi jembatan penghubung antara ia dan Rein.