My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
237. 9



"Oh ya, dan kamu juga tidak boleh lupa. Tanpa bantuan bukti dariku, kamu tidak akan pernah bisa mengirim mereka semua ke penjara dan mungkin sampai saat ini hidupmu masih dibayang-bayangi oleh mereka!"


Dimas juga bisa bersikap congkak di depan Davin. Toh, apa yang bisa Davin lakukan kepadanya?


Hanya saja Dimas terkejut Rein ingin bertemu lagi dengannya. Pasalnya beberapa tahun yang lalu Rein tidak mau bertemu apalagi berbicara dengannya. Hubungan mereka semakin meregang ketika Rein mengetahui Davin mengalami kecelakaan mobil di negara A saat itu adalah karena ulah Dimas sendiri. Rein pasti sangat membencinya saat itu dan Dimas juga mengerti perasaannya. Toh, tidak ada orang di dunia ini yang rela melihat kekasihnya disakiti sedemikian rupa hingga mengancam jiwa. Dan Rein adalah orang yang seperti itu.


Beberapa tahun tidak bertemu, Dimas mengira bila dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Rein dalam hidup ini dan mulai perlahan menghapus jejak Rein di dalam hatinya.


Sekarang setelah sekian lama ketika nama Rein disebutkan kembali dia tidak memiliki reaksi sebesar dulu saat dia masih menyukai Rein. Reaksinya sekarang lebih seperti seorang sahabat yang telah lama tidak bertemu dengan sahabat baiknya.


"Kamu hampir saja membunuhku saat itu." Kata Davin dingin mengingatkan dengan murah hati.


Dimas balas tersenyum lebar,"Kamu nya saja yang terlalu lemah. Itu hanya kecelakaan kecil tapi reaksi mu terlalu dibesar-besarkan. Lagipula aku melakukan itu untuk kebaikan mu sendiri dan kamu harusnya berterima kasih kepada ku." Terang Dimas sama sekali tidak gentar dengan laki-laki yang ada di depannya ini.


Davin sekarang telah resmi menduduki kepala keluarga Demian yang sebelumnya diincar anggota keluarga yang lain. Dia memiliki kekuasaan yang sangat besar ditangannya, tapi meskipun begitu lalu apa?


Seolah-olah Davin bisa menyakitinya saja hanya karena masalah sepele.


Mereka berdebat dan mengabaikan keberadaan Adit. Adit, yang keberadaannya diabaikan diam-diam mengambil video mereka dan mengirimkannya ke Nyonya besar. Seperti yang diharapkan, beberapa menit kemudian dia mendapatkan notifikasi dari Bank. Rein memang murah hati dan jauh lebih mudah diajak bicara soal dompet daripada Davin.


"Bos, Nyonya besar bilang malam ini bos tidur di kantor saja jika tidak berhasil membawa Dimas ke rumah." Adit menyela pembicaraan mereka di sela-sela waktunya makan kue-kue itu.


Suasana hatinya yang baik tidak terpengaruh sama sekali dengan pertikaian keduanya orang ini.


Bahkan walaupun hujan badai melanda dia masih tetap bisa tersenyum selama dompetnya aman dan tidak basah.


Davin mendengus,"Kamu pasti mengadu kepadanya. Jadi sebenarnya siapa majikan kamu sebenarnya, aku atau istriku?" Tanya Davin sarkas.


Adit menghentikan tangannya mengambil makanan dengan malu karena dilempari sebuah tatapan laser oleh Davin. Jika ditanya siapa majikannya, jawabannya pasti Davin dan Rein adalah kerjaan sampingannya saja.


"Bos dan nyonya besar adalah pasangan suami-istri yang sempurna. Bagiku kalian berdua adalah majikan ku dan orang-orang yang ku hormati." Biasanya Davin langsung senang mendengar jawaban ini.


Tapi siapa yang mengira jika Davin tidak hanya tidak senang tapi dia juga membuat kata-kata tajam yang hampir saja membuatnya tersedak kue di mulutnya.


"Cih, aku hanya butuh satu asisten yang setia. Jika kamu ingin bekerja kepada istriku maka katakan saja biar aku menyiapkan seseorang untuk mengganti tempat mu." Ucap Davin santai tapi sarat akan ancaman.


Adit menelan paksa kue yang masih belum selesai dia kunyah di mulutnya dengan susah payah. Lalu dia memperbaiki cara duduknya dengan sorot teguh seolah-olah dia mengatakan bahwa dia tidak ingin dikeluarkan dari 'rumah'.


"Bos, aku adalah asisten mu dan aku tetap akan setia kepadamu." Kata Adit dengan nada menjilat.


Davin berdecih, melirik Dimas yang masih anteng duduk di tempatnya. Dia juga ingin segera membawa Dimas pulang ke rumah tapi orang ini sangat sulit untuk diajak bernegosiasi. Oh, jangan salahkan dirinya yang main langsung menyerang karena faktanya luka masa lalu membuat Dimas menjadi orang yang tidak enak dipandang di dalam mata Davin.


Diam, Davin dan Dimas saling menatap dengan emosi intens di dalam hati masing-masing. Jelas mereka berdua sama-sama enggan dan tidak mau mengalah karena mereka berdua masih diliputi oleh rasa egois.


Melihat suasana stagnan di antara Dimas dan Davin yang berada di jalan buntu, Adit memutuskan untuk berbicara sendiri karena percuma saja mengandalkan Davin yang memiliki rasa ego yang sangat tinggi.


"Nyonya besar ingin bertemu dengan kamu, Dimas. Tidak hanya Nyonya besar saja tapi juga Tio ingin sekali bertemu dengan kamu. Dia masih mengingat kamu dengan baik sebagai Pamannya dan tidak pernah melupakan tentang kamu." Kata Adit mencoba menarik simpati Dimas.


Biasanya seseorang akan luluh jika berbicara mengenai anak-anak yang pernah dekat dengannya.


Sementara itu Dimas tertegun, Tio?


Ah, anak itu, sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Dimas tidak berharap banyak anak itu masih mengingatnya karena mereka sudah tidak bertemu sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan pada saat itu umur Tio masih 3 atau 4 tahun yang masih sangat kecil untuk mempertahankan memorinya.


"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian ke kota karena aku juga membutuhkan sesuatu di kota." Kata Dimas kembali dalam suasana hati yang suram.


Adit dan Davin saling pandang, di dalam hati mereka menebak-nebak apa yang telah membuat emosi Dimas menjadi down, ragu, apakah ini memiliki hubungan dengan Rein?


Bertanya-tanya apakah Dimas masih belum melepaskan Rein dari dalam hatinya?


Sudah lama sekali, tidakkah Dimas beralih memikirkan wanita lain?


Suhu di sekeliling Davin menjadi turun drastis. Dia secara terang-terangan tidak menutupi tatapan menyelidikinya kepada Dimas tapi yang diselidiki meresponnya dengan sikap acuh tak acuh.


"Dasar kekanakan." Ejek Dimas seraya bangun dari duduknya dan masuk ke dalam untuk memanggil Ail.


Ketika dia mencari Ail di kamarnya, Ail sudah lama pergi melihat jejak kaki basah di lantai. Ail sudah lama masuk ke dalam kamarnya untuk bersembunyi dari Dimas, tapi Dimas tidak mengetahui pemikiran kecil ini.


Berdiri di depan pintu kamar Ail, dia tidak masuk ke dalam dan hanya mengatakannya dari luar jika malam ini dia akan pergi menemui seorang teman di kota.


Ail di dalam hanya menjawab semua suara kecil.


***


Setelah itu Adit dan Davin keluar dari rumah dengan Dimas di belakang mereka. Ketika keluar mereka bertemu dengan keramaian yang masih belum surut menonton mobil mewah Davin.


Mulut Davin berkedut tidak tahu harus berkata apa untuk mengapresiasi orang-orang ini. Mereka sangat berkomitmen menunggu di sini, tampak teguh tapi juga cukup norak sejujurnya.


"Mas Dimas... mas Dimas. Siapa orang-orang ini?" Tina buru-buru datang menghampiri Dimas yang baru saja akan masuk ke dalam mobil.


Dimas mengernyit, melihat sikap centil Tina yang diam-diam mencuri pandang ke arah Davin dan Adit.


Dia baru saja akan membuka mulutnya untuk menjawab tapi didahulukan oleh suara datar Davin yang kini tengah berdiri di sisi mobil.


"Aku sudah memiliki istri dan anak-anak jadi kamu jangan terlalu bermimpi untuk mendekatiku. Istriku bahkan berkali-kali lipat jauh lebih cantik daripada kamu. Lagipula, level ku terlalu tinggi untuk kamu jangkau yang miskin dan kampungan." Ucap Davin bagaikan suara petir di siang bolong untuk Tina.


Wajah Tina langsung memerah karena malu. Kedua lututnya lemas dan gemetaran hebat. Dia sangat marah karena diremehkan, tapi juga sangat malu. Belum pernah dalam hidup ini dia dipermalukan dan diperlakukan serendah ini oleh seseorang.


"Tina sangat tidak tahu malu..." Orang-orang di desa mulai berbisik-bisik.


"Apa yang orang tampan itu bilang juga benar. Mana bisa wanita kota disandingkan dengan wanita miskin dari desa yang memiliki penampilan rata-rata?" Mereka juga merendahkan Tina yang terlalu percaya diri mendekati orang kaya yang tidak seharusnya dijangkau.


"Dia tidak menyadari kekurangannya sendiri dan berpikir sok percaya diri jika orang kaya itu mau menatapnya."


Kuping Tina sangat panas mendengarnya. Ingin sekali dia menggali lubang di tanah untuk bersembunyi di tanah saking malu. Dan mirisnya lagi. Tidak ada satupun orang desa yang mendukung ataupun membelainya. Tina sama sekali tidak mendengar suara-suara yang berada di sisinya. Mereka berbicara untuk menjatuhkannya saja dan Tina sudah tidak kuasa menahannya jadi tanpa mengatakan apa-apa lagi dia langsung melarikan diri pulang ke rumahnya untuk bersembunyi dari orang-orang desa.


Habislah sudah. Setelah hari ini orang-orang desa pasti akan menjadikannya sebagai bahan pembicaraan yang tiada habisnya.


Dia sudah tamat.


Davin sama sekali tidak tersentuh dengan kepergian Tina dan dari awal hingga akhir, kedua matanya tidak pernah melirik Tina sama sekali. Apa-apaan, Rein jauh lebih cantik dan mempesona dari wanita desa ini jadi bagaimana mungkin Davin suka melihatnya?


Oh, jangan bermimpi. Bahkan di kota saja yang tidak kekurangan wanita cantik tidak pernah bisa masuk ke dalam mata Davin karena dunianya sudah lama berpusat kepada Rein, apalagi wanita desa udik dan sok centil ini?