
Rein pikir dia tidak akan tidur lagi karena baru saja bangun dari komanya. Tapi rasa kantuknya tiba-tiba menyerang saat dia memperhatikan tidur lelap suaminya. Melihat Davin tidur Rein juga ikut terinfeksi rasa kantuknya. Kelopak matanya terasa berat dan dia kembali memasuki dunia mimpi yang tidak pernah ada ujungnya.
Pagi harinya Davin tiba-tiba bangun dari tidurnya yang damai. Dia duduk di atas ranjang dengan nafas gelisah, melihat ke tempat tidur samping dengan tatapan antisipasi. Davin takut bila semalam hanya imajinasi nya saja karena terlalu memikirkan Rein. Dan setelah melihat tidur damai Rein seperti malam-malam sebelumnya, Davin tiba-tiba menjadi sangat sedih dan kecewa karena semalam rupanya hanya mimpi.
Mungkin dia terlalu lelah dan sangat merindukan Rein sehingga otaknya menjadi tidak benar, sering melamun tanpa alasan di waktu-waktu kosongnya-
"Mas Davin..." Suara lembut menarik Davin dari pikirannya.
Kaget, dia spontan menoleh ke samping dan melihat Rein baru saja bangun dari tidurnya. Davin shock, matanya menatap kosong wajah lembut nan cantik itu yang masih terjerat rasa kantuk.
"Jadi semalam aku tidak berhalusinasi?" Gumam Davin masih shock.
"Pagi, Mas? Sekarang udah jam berapa?" Rein tidak menyadari kekakuan suaminya.
Tidak mendapatkan jawaban suaminya, Rein merasa aneh dan baru menyadari bila suaminya saat ini sedang fokus menatapnya.
"Mas? Mas Davin?!" Panggil Rein mengencangkan suaranya.
Davin kembali tersadar. Gelagapan,"Iya, sayang, kamu tadi ngomong apa?"
Senyuman konyol tanpa sadar terbentuk di wajah tampannya. Rein sampai menahan nafas melihat betapa tampan suaminya bahkan disaat baru bangun tidur.
"Mas Davin ngelamun, yah? Mikirin apa sih?" Rein jadi kepo.
Davin menggelengkan kepalanya masih dengan senyuman konyol di wajahnya. Tangan besarnya terangkat menyentuh puncak kepala istrinya dengan gerakan hati-hati, meninggalkan rasa lembut yang candu di atas puncak kepala Rein.
"Aku senang banget begitu bangun tidur bisa ngeliat kamu lagi. Aku pikir tadi malam hanya imajinasi ku saja." Jujur Davin tidak malu mengakui isi pikirannya.
Davin tidak malu, tapi Rein sangat malu mendengarkan pengakuannya. Wajahnya terasa panas dan dia sengaja memalingkan wajahnya dari Davin karena dia tidak berani menatap mata terbakar sang suami. Dan di bawah pengawasan langsung bola mata Davin, dia melihat kedua pipi gembil istrinya mengembangkan rona merah menyala yang membuat hati meleleh.
Davin terpesona melihatnya, kedua matanya terbakar keinginan- tapi tunggu, dia tidak akan segila itu langsung menyiksa istrinya. Dia tidak akan tega menyakiti istrinya jadi keinginan itu kembali dia tekan dan memutuskan untuk sedikit bersabar sampai Rein akhirnya sembuh kembali.
"Jam berapa sekarang, Mas? Aku ingin bertemu dengan anak-anak." Rein mengalihkan topik pembicaraan.
Masih tidak berani menatap mata suaminya.
Davin berdehem ringan, menyingkirkan tangannya dari pipi lembut nan mulus Rein.
"Sekarang jam..." Davin melihat waktu di jam dinding, agak terkejut sejujurnya melihat waktu yang sudah tidak pagi lagi.
"...sudah jam 10 siang. Kita bangun kesiangan." Kata Davin tidak merasa malu meskipun merasa heran kenapa tidak ada orang yang datang membangunkannya.
Sebenarnya Adit sempat masuk ke ruangan ini mencari Davin. Dia pikir Davin masih terjaga seperti malam-malam sebelumnya. Tapi begitu masuk ke dalam kamar ini, alangkah terkejutnya dia melihat Davin tidur dengan damai tepat di samping Rein. Jujur, dia lega melihat sahabatnya bisa beristirahat dengan tenang, tapi juga agak sedih karena beberapa waktu ini sahabatnya sangat tertekan memikirkan Rein yang belum kunjung bangun.