
Mulut Davin bergerak tertahan menahan senyum.
"Katakan, jangan membuang banyak waktuku." Katanya sambil melihat waktu di jam tangannya.
Rein berpikir cepat,"Aku akan ikut kalian tapi aku tidak akan tinggal secara gratis di sana. Aku akan membayar uang sewa selama tinggal di sana."
Davin tidak perduli, tapi masih menguji kesabaran Rein,"Apa kamu sanggup? Uang sewa bulanan di rumahku jauh lebih mahal daripada biaya hidup di hotel bintang lima."
Artinya sudah jelas, dari gaji maupun simpanannya, Rein tidak akan mampu membayar.
Rein memejamkan matanya.
"Aku akan bekerja di luar-"
"Aku juga sibuk bekerja di kantor, aku tidak bisa menemani Tio seharian." Davin mengindikasikan Rein tidak bisa bekerja diluar sana.
Rein memejamkan matanya kesal.
"Baiklah, sebagai ganti sewa aku bisa bekerja di rumah mu sebagai pembantu dan aku berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Bagaimana?" Ini adalah jalan terakhir yang Rein punya.
Davin masih diam menatap ekspresi gugup di wajah cantik Rein. Entah apa yang ia pikirkan sekarang tapi kedua mata almond nya tidak pernah lepas dari Rein dan Tio.
"Terserah." Pada akhirnya dia hanya bisa mengatakan ini.
Rein lega, ia pikir Davin akan menolak tapi nyatanya itu terjadi.
"Aku akan mengemasi barang-barang ku setelah Dimas pulang-"
"Sekarang, ini yang terakhir kalinya aku mendengar kamu menyebut nama laki-laki itu." Peringat Davin dingin.
"Baiklah," Rein mendesah ringan cukup tidak berdaya.
"Aku akan mengirimkannya pesan jika hari ini aku dan Tio akan tinggal... di rumah mu." Katanya enggan.
Sebenarnya setelah pengumuman pemilik gedung keluar, Dimas sempat mengatakan akan mencari tempat tinggal baru yang lebih nyaman untuk Rein dan Tio. Jika bisa tempat itu harusnya ebih jauh dan tertutup dari lingkungan kota. Dengan maksud lain, Dimas ingin menjauhkan Rein dan Tio dari Davin.
Davin tidak mengatakan apa-apa. Dia lalu mengambil Tio dari pelukan Rein, memeluknya hangat dan sesekali meladeni celotehan kekanak-kanakan Tio. Sekilas, pemandangan ini terlihat sangat menyentuh hati.
Tawa ceria anaknya ketika bercanda dengan sosok figur Ayah yang sudah lama dirindukan, Rein merasa cukup lega. Yah, lega rasanya melihat Tio bisa seperti anak-anak yang lain.
Rein tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengambil tas Tio, memasukkan semua pakaian Tio ke dalamnya. Lalu, ia juga membereskan pakaiannya yang tidak terlalu banyak ke dalam tas ransel pemberian Dimas 4 tahun yang lalu untuk mengganti tas punggungnya yang sudah rusak parah tidak bisa digunakan lagi.
Rein menghela nafas panjang mengingat tahun-tahun menyakitkan itu, rasanya dia ingin menangis ketika menyadari bahwa putaran takdir kembali membawanya terjebak dengan laki-laki yang telah melukai hatinya tahun itu.
"Aku harap hatiku akan baik-baik saja setelah ini dan aku harap Dimas mau memaafkan ku karena memilih mengalah, aku harap Dimas mau memaafkan ku karena telah memutuskan untuk tinggal bersama Davin...lagi. Aku sungguh minta maaf, Dimas." Bisiknya merasa sangat bersalah.
Tanpa Dimas mungkin dia tidak bisa menikmati hidup yang nyaman dengan Tio, dan tanpa Dimas mungkin Rein hari ini ada di jalanan bersama Tio.
Semuanya karena Dimas, ia bisa di sini karena kebaikan sahabatnya.
"Aku...akan menemuinya setelah hatinya tidak marah lagi." Bisiknya membuat keputusan.
Bersambung...
Mashaa Allah, udah mirip ikan terbang aja wkwkwkw...