My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
33. (33)



Aku awalnya ingin meminta izin keluar hari ini kepada nyonya Rein tapi mas Adit rupanya sudah menghubungi tuan Davin pagi ini. Nyonya Rein malah memerintahkan ku untuk memasakkan mas Adit sarapan serta makan siang dan menyuruhku mengirimnya ke kantor mas Adit. Aku diam-diam tersenyum senang karena dengan cara begini nyonya Rein tidak tahu bila aku memang ingin bertemu dengan mas Adit.


Setelah selesai memasak sarapan dan makan siang untuk mas Adit, aku lalu berangkat ke kantor mas Adit. Seperti yang mas Adit katakan semalam, dia meminta supir pribadinya datang menjemput ku sehingga keamanan bisa terjamin.


Di jalan, kedua tanganku saling meremat karena gugup. Aku merindukannya setelah sekian lama tidak bertemu dan aku panik juga tidak cemas memikirkan kata-kata apa yang akan aku ucapkan saat bertemu dengannya nanti atau bagaimana seharusnya sikapku ketika menyapanya nanti.


Semua pikiran ini berkelebat panik di dalam kepalaku hingga aku tak menyadari bila kami telah sampai di depan gedung group Demian. Aku langsung turun setelah mengucapkan terima kasih kepadanya. Menarik nafas panjang, dengan tekat, ku langkahkan kakiku masuk ke dalam gedung.


Di dalam perusahaan aku segera menghampiri resepsionis karena aku lupa menanyakan dimana kantor mas Adit berada. Ingin bertanya sekarang pun aku tak berani karena takut mengganggu mas Adit.


Ah, betapa pengecutnya diriku ini.


"Permisi, mbak. Ruangan mas Adit di lantai berapa, yah?" Tanyaku sesopan mungkin kepada salah satu resepsionis.


Ketika mendengar pertanyaan ku, kedua wanita yang bertugas menjaga resepsionis segera melihatku dengan mata penilaian meskipun mereka menutupinya dengan sopan.


"Maaf, apa mbak punya janji sebelumnya dengan pak Adit?" Wanita yang kutanya balik bertanya kepadaku.


Aku sudah membuat janji semalam jadi ini masih bisa disebut janji, kan?


"Aku sudah membuat janji dengannya." Kataku kepadanya.


Kelopak mata mereka berkibar aneh menatapku. Apa yang salah?


Apakah penampilan ku agak aneh atau dress selutut yang ku gunakan tidak terlalu bagus?


"Baiklah, tunggu sebentar." Wanita itu mengambil gagang telepon dan menekan beberapa nomor.


Lalu tak lama kemudian panggilan pun terhubung. Apa dia menghubungi mas Adit?


"Atas nama siapa, mbak?"


Aku langsung menjawab,"Anggi."


Beberapa menit kemudian dia meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya semula sembari meminta maaf kepadaku.


"Maaf, mbak. Tidak ada nama mbak Anggi di dalam jadwal pak Adit hari ini. Mbak mungkin belum membuat janji dengan pak Adit." Kata-katanya memang sopan tapi sinar matanya jelas tidak setulus itu.


Aku tahu bila kedua wanita ini sedang mengejekku karena aku sudah lama terbiasa dengan tatapan itu.


"Tidak ada? Aku jelas-jelas membuat janji dengan mas Adit semalam." Kataku membantah mereka.


Itu bukan mimpi karena nyonya Rein sendiri yang meminta ku membuat dan mengantarkan masakan kepada mas Adit.


Wanita yang tidak pernah berbicara tiba-tiba berbicara kepadaku. Dengan senyuman mengejek dibibir nya,"Mbak, mimpi itu boleh tapi ada batasnya."


Aku tidak percaya dengan apa yang wanita ini katakan.


"Maksud kamu apa ngomong begitu?"