
"Menimbang apa yang telah kamu katakan tadi, Ayah pikir kita sebaiknya pergi memenuhi undangan dari mereka. Undangan ini adalah penentu bagaimana hubungan kita di masa depan. Jika mereka mau menerima kita maka Ayah bersyukur karena kita tidak lagi canggung dengan mereka. Namun bila undangan ini hanyalah kartu yang digunakan untuk mengolok-olok ketidakberdayaan kita, maka Ayah akan memutuskan bahwa di masa depan nanti kita tidak akan saling menghubungi terlepas hubungan kekerabatan di antara kita." Tukas Ayah telah membuat keputusan setelah merenunginya.
Baik dan buruk mereka tidak akan tahu sebelum melihatnya sendiri.
"Ibu akan mendengarkan apa yang Ayah katakan." Ujar Ibu tidak menunjukkan ekspresi yang terlalu lebay seperti waktu-waktu sebelumnya.
Ayah mengangguk,"Bu, besok Ibu harus lebih bisa menahan diri agar tidak mempermalukan keluarga kita lagi. Ayah tidak ingin mereka mengkritik sikap keluarga kita yang mereka anggap tidak benar." Kata Ayah memperingati sang istri dengan serius.
Setiap kali bertemu dengan keluarga Anggi sang istri seringkali membuat masalah tanpa menahan diri. Ayah sebenarnya tidak senang namun dia tidak bisa menegur istrinya di depan keluarga Anggi. Ayah tidak mau mempermalukan kelurga kecilnya tanpa menyadari bila sikap ragu-ragu nya ini telah menciptakan kesan buruk di dalam mata Anggi.
Ibu mengepalkan kedua tangannya malu.
"Ibu mengerti, Yah." Kata Ibu tidak memberontak.
Dia sudah belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya dan dia juga menyadari betul bila besok tamu-tamu yang akan berdatangan pasti berasal dari kalangan yang tidak biasa sehingga dia tidak berani membuat masalah. Jika dia membuat masalah untuk mempermalukan Anggi, tidak hanya dia akan di usir tapi mereka pasti akan menyimpan dendam terhadapnya. Di bawah kekuasaan yang kuat, Ibu maupun Ayah telah kalah telak. Mereka tidak akan mempu melawan sekalipun ingin.
"Lalu bagaimana dengan kami?" Tanya Tina menyela diskusi kedua orang tuanya.
Dia juga ingin ikut. Ini adalah kesempatan emas yang sangat berharga karena acara pernikahan Anggi pasti memiliki banyak tamu dari kalangan yang luar biasa. Dia mana mungkin melewatkan kesempatan berharga ini.
"Diam di rumah." Kata Ayah seraya bangkit dari tempat duduknya.
Tina mengepalkan tangannya erat.
Ayah berjalan masuk ke dalam kamar dan mengabaikannya. Kata-kata Ayah sudah final bila hanya mereka berdua saja yang pergi sebab mereka berdua lah yang diundang oleh Anggi. Sebagai seorang Ayah dan kepala keluarga, Ayah tentu ingin membawa kedua putrinya ke sana, tapi apalah daya, mereka tak mampu dan tidak ada jalan keluar yang ditawarkan.
"Tina sama Widia jaga rumah baik-baik. Jangan lupa bersihkan rumah seperti yang Ibu lakukan. Halaman harus disapu pada pagi dan sore hari, tanaman di pot jangan lupa disiram air, baju-baju kalian juga harus segera dicuci sebelum bau karena terlalu lama direndam. Masalah makanan kalian tidak usah khawatir karena Ibu akan memasak sebelum berangkat nanti sore. Ibu juga akan meninggalkan uang belanja untuk kalian berdua." Ujar Ibu memberikan arahan kepada mereka berdua.
Widia tidak pernah mengatakan komentar apapun dan diam-diam menyetujui apa yang Ibu katakan. Tapi berbeda untuk Tina adiknya. Dia masih kukuh ingin ikut sambil merengek dengan suaranya yang menyebalkan.
"Kamu tidak bisa pergi Tina. Kamu tidak diundang." Tolak Ibu tegas.
Tina menggigit bibirnya memikirkan solusi,"Kalau begitu telpon saja kak Anggi. Minta dia mengirimi kita undangan yang lain."
Ibu sangat marah mendengar perkataan Tina. Bagaimana mungkin mereka bisa meminta Anggi untuk mengeluarkan undangan yang lain?
"Jangan membuat masalah. Apa kamu pikir Anggi mau mengundang kamu ke acara pernikahannya? Tina, maaf Ibu mengatakan ini tapi Ibu harus mengingatkan kamu satu fakta penting bila Anggi masih belum melupakan kesalahan yang kamu lakukan kepadanya. Ibu tidak berdaya dan Ibu juga tidak bisa membela kamu. Lagipula situasi Ibu dan Ayah juga tidak terlalu bagus sehingga kamu harus menanggungnya. Nah, baik-baiklah di rumah bersama kakakmu. Dengarkan apa yang Ibu instruksikan tadi." Ucap Ibu seraya bangkit dari duduknya. Dia akan menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa nanti sore ke acara pernikahan Anggi.
"Aku...tapi aku kan sudah menyesal." Kata Tina resah.
Widia mencibir,"Menyesal tidak ada artinya. Sudah nikmati saja hari ini. Toh Kak Anggi masih baik tidak mengirim kamu ke penjara."
Tina sangat malu mendengarnya. Dia ingin membantah tapi Widia sudah pergi meninggalkannya masuk ke dalam kamar.
Kesal karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, menghentakkan kakinya marah, Tina lalu masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan marah. Semua orang yang ada di rumah jelas terkejut, tapi tidak ada yang membuat komentar apa-apa sebab mereka sudah biasa dengan pola kemarahan Tina yang kekanak-kanakan. Maklum, dia adalah anak terakhir di rumah ini jadi dia sedikit dimanjakan.