My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
19. (19)



"Ini adalah bagian dari takdir, mas. Aku tidak bisa menyalahkannya. Karena takdir ini pula aku bisa memiliki anak-anak di samping ku." Bisik Anggi merenung.


Hatinya sangat gelisah sekarang melihat reaksi datar Adit. Sepanjang jalan mereka tidak mengatakan sepatah katapun yang sangat menyiksa batin Anggi. Dia telah berusaha mengajak Adit mengobrol ringan seperti sebelumnya tapi Adit merespon dengan datar terlihat tidak berminat. Anggi sangat malu karena diabaikan oleh Adit tapi dia juga tidak bisa melakukan apa-apa karena Adit sendiri sangat sulit untuk dihadapi.


Alhasil belanja tidak seseru yang Anggi bayangkan. Traktiran Adit sangat membuatnya bahagia tapi melihat respon datar Adit, dia tiba-tiba tidak terlalu semangat untuk membeli oleh-oleh. Tidak ada yang menarik pikirnya selama Adit masih menunjukkan sikap ini. Hem, jatuh cinta itu tidak selamanya manis karena ada kalanya jatuh cinta itu menyusahkan.


Anggi tidak berdaya.


Pukul setengah enam sore mereka kembali ke hotel untuk beristirahat. Rencananya malam ini mereka akan kembali ke mansion setelah menyelesaikan makan malam di hotel.


Di dalam kamar hotel Anggi tidak punya waktu untuk beristirahat. Dia langsung membereskan barang-barangnya ke dalam koper dan langsung mandi setelah barang-barangnya diamankan.


Khusus malam ini, malam terakhir mereka di kota ini dan mungkin setelah malam ini akan sulit untuk bertemu Adit lagi, maka Anggi memberanikan diri untuk menggunakan gaun malam abu-abu selutut yang sengaja dia siapkan sejak malam Adit memberitahunya akan pergi ke kota D. Anggi akhirnya bisa menggunakan gaun ini dan berharap penampilannya malam ini dapat menarik perhatian Adit.


Tepat pukul 8 malam Anggi turun dari kamarnya dan segera restoran hotel. Langkahnya tampak agak hati-hati karena matanya begitu dimanjakan oleh banyak orang dari kalangan yang tidak diketahui. Restoran hotel sangat ramai seperti malam-malam sebelumnya tapi malam ini agak berbeda karena ada beberapa kelompok yang sedang berpesta. Mereka sangat riuh dan ramai.


Anggi berhenti di sebuah meja yang Adit telah reservasi sebelumnya. Berdiri linglung, dia pikir Adit telah ada di sini tapi ternyata dugaannya salah. Dia masih belum turun, mungkin.


Malu berdiri sendirian, dengan hati-hati dia melihat ke sekeliling restoran untuk mengamati suasana restoran yang ramai sampai akhirnya pandangannya menangkap keberadaan sosok pemilik punggung tinggi nan wajah dingin itu. Di sana, tidak jauh dari meja tempatnya berdiri terlihat Adit sedang mengobrol dengan seorang gadis cantik, siapa lagi kalau bukan Sera.


Melihat kedekatan mereka berdua binar mata Anggi diam-diam menjadi redup. Dia merendahkan kelopak matanya, tampak sangat kecewa dan mencela diri sendiri karena begitu banyak bermimpi ingin menarik perhatian Adit.


Bahkan gaun malamnya...


Anggi menyentuh gaun malam yang telah dia persiapkan dengan hati-hati, menatapnya ironis karena gaun yang dia pakai tidak sebanding dengan milik Sera.


Gaun Sera terlalu bagus.


"Anggi?" Seseorang memanggil Anggi.


Anggi menoleh ke samping.


"Eh, benar-benar Anggi ternyata!"


Anggi menyipitkan matanya menatap aneh laki-laki bertubuh tinggi itu. Dia sepertinya bekerja di sini sebagai pelayan karena seragam yang dia gunakan sama dengan para pelayan di restoran ini.


"Kamu?" Anggi tidak ingat siapa dia.


Laki-laki bertubuh tinggi itu segera menghampiri Anggi. Dia menatap Anggi hati-hati dengan ekspresi kagum di wajahnya.


"Aku Rio, Anggi. Tetangga kamu waktu di komplek." Kata Rion mengingatkan Anggi.


Rio?


Sekilas Anggi merasa tidak asing dengan wajah Rio sampai akhirnya ingatan beberapa tahu lalu membanjiri kepalanya. Rio adalah anak tetangganya di rumah dulu. Dia saat itu berada di sekolah yang sama tapi beda kelas. Setelah lulus SMA Rio tidak melanjutkan kuliah tapi lebih memilih mengikuti les privat bahasa Inggris selama 6 bulan sebelum berangkat ke kota besar untuk mencari pekerjaannya. Dan setelah itu Anggi tidak pernah lagi bertemu dengannya.


"Rio anaknya Bu Dewi, yah?"


"Iya, ini aku. Aku sekarang kerja di sini, ibu dan bapak juga sekarang ikut aku tinggal di sini karena pekerjaan aku di sini tidak bisa ditinggali. Kalau kamu ngapain di sini?"


Anggi tersenyum hangat. Jarang sekali bertemu kenalan di luar kota.


"Aku di sini ada kerjaan juga tapi malam ini udah balik ke kota A." Kata Anggi.


Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum konyol.


"Wah, sayang sekali. Padahal kita baru bertemu." Kata Rio menyesalinya.


Bila saja dia bertemu dengan Anggi dari awal mungkin dia masih memiliki kesempatan untuk dekat dengan Anggi lagi. Bukan tidak mungkin itu terjadi karena Anggi sudah menjanda sekarang. Dia sudah sendiri dan tidak terikat dengan siapapun lagi.


Sejujurnya Rio sempat memendam rasa kepada Anggi tapi dia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapnya. Rio ingin serius dengan Anggi karena itulah dia memendam perasaannya dan memutuskan untuk pergi merantau ke luar kota untuk mencari pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan yang baik di kota Rio akhirnya memiliki kepercayaan diri untuk mendekati Anggi. Tapi naas, Anggi saat itu sudah menikah dengan Doni. Dia patah hati dan memutuskan untuk melupakannya. Tinggal di kota selama bertahun-tahun lamanya hingga dia mendengar tentang perceraian Anggi satu tahun yang lalu dengan Doni.


Rio mau tidak mau memiliki harapan karena jujur perasaannya belum padam. Namun sayang sekali dia tidak bisa menghubungi Anggi karena Anggi telah lama mengganti nomor ponselnya.


Sekarang Anggi berdiri di depannya dengan penampilan yang luar biasa cantik. Jika dia tidak memperhatikannya dengan baik, mungkin dia tidak akan mengenali siapa wanita cantik ini sebab perubahannya sangat besar.


Anggi tersenyum,"Mas Rio sudah lama kerja di sini?"


Rio mengangguk,"Sudah dari dua tahun yang lalu. Kerja di sini nyaman jadi aku cukup betah." Diam-diam hatinya senang karena Anggi memanggilnya 'mas'.


Anggi bisa melihatnya dan dia tidak heran.


"Anggi."


"Ya, mas?"


"Apa aku boleh minta nomor kontak mu?" Rio bertanya dengan gugup.


Tuhan telah memberikannya kesempatan jadi Rio tidak mau melewatinya.


Anggi tidak melihat ada yang aneh dengan Rio. Rio juga orangnya baik dan sopan jadi Anggi secara alami nyaman di dekatnya. Beberapa tahun yang lalu Rio terbilang laki-laki yang cukup diincar para gadis di kampung halamannya dan mungkin ini masih berlaku hingga hari ini melihat perubahan besar Rio. Dia menjadi laki-laki dewasa yang cukup tampan dan gagah dengan setelan seragam hotel ini.


"Boleh. Kebetulan aku juga ingin meminta nomor kontak mas Rio." Kata Anggi ringan tanpa maksud tertentu.


Rio langsung mengepalkan tangannya senang. Dia buru-buru mengambil ponselnya dan mengambil nomor Anggi. Lalu membuat panggilan ke ponsel Anggi agar nomornya bisa disimpan.


Sibuk dengan acara reuni mereka berdua tidak sadar bila Adit diam-diam telah berdiri beberapa meter dari mereka berdua. Dengan wajah dingin dia membawa langkah kakinya mendekati Anggi, suara sepatunya bergema berat menarik perhatian Anggi dan Rio.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Adit kepada Anggi setelah melirik sekilas Rio.


Rio tercengang dengan kedatangan Adit, tamu kehormatan hotel, dan dia lebih tercengang lagi melihat Adit mengenal Anggi, berdiri tepat di samping Anggi seolah-olah sedang mengklaim wilayahnya.


"Oh, mas Adit." Anggi sangat gugup. Wajah murungnya segera mengembangkan senyuman manis yang sarat akan rasa malu.


"Aku berbagi nomor telepon dengan mas Rio, mas." Lapor Anggi jujur.


Ugh, dibawah mata pengawasan Adit, jujur dia kesulitan menciptakan sebuah kebohongan.


Adit melirik,"Rio?"


Anggi mengangguk,"Iya, mas. Mas Rio adalah tetangga ku dulu. Kami sudah lama tidak bertemu karena dia menetap di kota lain."


Adit menganggukkan kepalanya mengerti, menatap Rio dengan ekspresi dingin di wajahnya, Adit lalu mengulurkan tangannya kepada Rio sebagai bentuk sikap ramah- yang sejujurnya berbanding terbalik dengan ekspresi datar di wajahnya.


"Adit." Kata Adit malas.


Rio buru-buru menjabat tangan bos besar sopan,"Saya Rio, tuan. Salah satu pelayan di hotel ini."


Adit menarik tangannya dari Rio dan beralih melingkari pinggang Anggi, menariknya agar dekat dengannya. Tindakan Adit begitu tiba-tiba, sebagai hasilnya telah mengejutkan Anggi, Rio, dan Sera. Anggi sangat gugup berada sedekat ini dengan Adit tapi hatinya tidak bisa menampik betapa bahagianya dia saat ini. Dan mungkin karena tindakan intim ini segala keluhan di hatinya tersapu bersih seolah tak pernah terjadi.


Sedangkan Sera yang tiba-tiba diabaikan oleh Adit segera mengepalkan kedua tangannya menahan kecewa juga cemburu. Tadi saat mereka berbicara Adit tidak memperlakukannya sedekat ini tapi dengan Anggi, dia tiba-tiba bertindak intim seolah-olah mereka berdua dalam sebuah hubungan kekasih.


Sera jelas tidak bisa menerimanya tapi dia juga tidak bisa mengeluh karena Adit mungkin tidak senang jika dia bertanya langsung saat ini.


Sementara Sera terbakar cemburu, kondisi Rio juga tidak kalah buruknya. Dia baru saja melambungkan sebuah harapan namun seketika pupus ketika mengetahui bila Anggi telah memiliki laki-laki lain. Pantas saja Anggi memiliki perubahan yang sangat besar karena pacarnya ternyata seorang bos besar yang sulit untuk dicapai.


Rio menatap masam dan hanya bisa menahan kecemburuannya.


"Apa kamu ingin bergabung bersama kami?" Tanya Adit santai.


"Terima kasih, tuan. Tapi aku tidak bisa mengganggu waktu kalian berdua dan selain itu aku juga masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan." Kata Rio menolak dengan sopan.


Adit mengangguk puas.


"Kalau begitu aku tidak akan menggangu waktumu."


Rio mengangguk sopan. Mengucapakan pamit kepada Adit dan Anggi, dia lalu pergi tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Adit menyipit matanya melihat punggung lebar itu perlahan menghilang dari pandangan Adit.


"Dia bukan tipe laki-laki yang menyukai anak-anak." Kata Adit dengan suara rendahnya.


Anggi bingung, kenapa topik tiba-tiba beralih ke anak-anak. Tapi dia masih bertanya,"Kenapa mas Adit bisa mengatakan itu?"


Adit menggelengkan kepalanya santai,"Hanya naluri seorang laki-laki saja."


Anggi,"...." Dia belum pernah mendengar ini sebelumnya karena biasanya yang mengandalkan naluri pasti perempuan.


Tapi ya sudahlah, mungkin ini benar adanya.


"Ayo makan, malam ini kita harus pulang ke kota A." Kata Adit.


Dia menarik kursi dengan tangan kirinya dan mendorong Anggi dengan tangan kanannya agar segera duduk di kursi itu. Anggi lagi-lagi dibuat salah tingkah oleh perlakuan intim Adit kepadanya. Bila orang lain melihatnya, mereka mungkin berpikir bila mereka berdua saat ini sedang berkencan.


"Terima kasih, mas." Ucap Anggi malu.


"Hem." Gumam Adit.


Dia lalu berjalan ke kursi yang satunya lagi dan duduk dengan gaya aristokrat yang terlatih.


Melihat mereka berdua duduk di kursi masing-masing tanpa memperhatikan keberadaannya membuat Sera semakin murka. Dia tidak tahan dan menatap Anggi yang sedang berpuasa diri dengan tatapan kebencian.


"Lalu dimana aku duduk?" Setelah Sera bersuara barulah Anggi dan Adit menyadari keberadaannya.


"Lho, kamu kok di sini?" Heran Adit.


Sera memaksakan senyum di wajahnya,"Aku sudah di sini sedari tadi, apakah kak Adit tidak menyadarinya?" Tanya Sera masam.


Akan sangat aneh bila Adit tidak menyadarinya!


Tapi rupanya Adit benar-benar tidak menyadari keberadaannya di sini. Dia pikir Anggi sudah kembali bergabung dengan teman-teman sesama medis nya di hotel ini.


"Tidak, aku pikir kamu sudah kembali ke teman-teman mu." Kata Adit datar.


Tidak ada rasa bersalah di dalam bola matanya dan Sera sangat kecewa setelah melihatnya.


"Tidak, aku sudah ada di samping Kakak sejak tadi. Sekarang dimana aku duduk?" Dia masih menanyakan pertanyaan yang sama.


Adit mengangkat bahunya,"Kamu sendiri melihatnya jika di sini adalah area meja dua kursi. Apa kamu tidak kembali ke teman-teman mu?"


"Tidak, aku ingin di sini bersama Kak Adit. Kita sudah tidak bertemu beberapa hari ini makanya aku ingin makan sama kak Adit. Tidak bisakah aku mengambil kursi tambahan di sini?" Tanya Sera hati-hati.


Namun saat dia mengatakan ini beberapa orang yang kebetulan mendengar ucapannya sontak menoleh ke arahnya. Mereka menatap Sera dengan mata penilaian. Bahkan ada beberapa orang secara terang-terangan menggosipkan sikap keterlaluan Sera.


"Apa-apaan, dia tidak malu mengganggu kencan orang lain."


"Dia cantik tapi kok suka ganggu pasangan orang, lihat saja wanita yang duduk di depan laki-laki itu sampai malu dibuatnya. Jelas dia merasa tidak enak."


Bisikan-bisikan ini samar terdengar di dalam pendengarannya. Kuping Anggi langsung menjadi panas. Menggigit bibirnya malu, dia merasa bila orang-orang sekarang sedang memandang rendah harga dirinya.


Sera benar-benar sedih sekarang. Kedua matanya memerah bersiap akan menangis.


Tersenyum miris,"Aku akan kembali sekarang. Mas Adit harus makan dengan baik." Setelah mengatakan itu dia membawa langkahnya pergi ke tempat teman-temannya berkumpul sembari menekan perasaan sakit dan tidak nyaman di dalam hatinya. Melangkah seanggun mungkin sambil mencoba mengabaikan tatapan mata ingin tahu orang-orang itu.


Ah, ternyata begini rasanya dipermalukan.


"Kak Adit sangat tidak peka kepada wanita dan karena kurangnya kepekaan ini membuat mbak Anggi memanfaatkannya. Hah... harusnya yang duduk di sana bersama kak Adit adalah aku, dan bukan wanita itu." Bisik Sera ironis.


Sementara Sera pergi dalam penyesalan yang terpendam, Anggi dan Adit justru terjebak dalam suasana ambigu. Mereka makan malam dalam diam tanpa banyak bicara. Anehnya malam ini mereka berdua sama-sama menggunakan busana megah yang biasanya digunakan saat menghadiri pesta. Padahal tidak satupun yang mengingatkan untuk menggunakan baju apa saat datang restoran.


"Mas, aku pikir Sera agak sedih, deh." Kata Anggi tidak enak.


Adit meletakkan sendok dan garpu nya di atas piring. Mengambil air putih dan menyesapnya ringan sebelum berbicara.


"Apapun emosi yang dia rasakan itu tidak ada hubungannya dengan kita karena pada dasarnya kita tidak membuat rencana apapun bersamanya. Lagipula dia datang ke sini bersama teman-temannya dan kurang etis rasanya dia meninggalkan teman-temannya untuk bergabung dengan kita." Adit menjawab dalam nada malasnya namun tatapan matanya yang gelap dan jernih menatap lurus tepat ke Anggi.


Anggi tersipu malu. Iris coklatnya yang indah bergetar gugup karena ditatap sedemikian dalam oleh Adit. Jika dia tidak memiliki ketahanan yang tinggi, mungkin dia sudah lama memalingkan wajahnya menghindari tatapan Adit.


"Aku...aku merasa tidak enak untuknya." Kata Anggi salah tingkah.


Sera adalah sepupu Davin dan sejauh yang dia tahu hubungan mereka cukup dekat dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain. Karena hubungan mereka ini Anggi takut kejadian malam ini mempengaruhi penilaian Davin dan Rein kepadanya.


Seolah melihat ketakutan Anggi, dia lantas berkata."Tuan Davin dan nyonya Rein bukanlah orang yang mudah termakan omongan orang lain. Sejauh yang aku tahu mereka adalah orang yang kritis dan berhati hangat jadi kamu tidak perlu khawatir bila masalah Sera sampai ke telinga mereka. Di tambah lagi masih ada aku di sini. Percayalah, tuan Davin dan nyonya Rein lebih mempercayai apa yang aku katakan daripada yang orang lain katakan. Masalah ini, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya."


Kata-kata Adit sangat lugas dan bernada datar, tapi untuk beberapa alasan Anggi merasa hangat di dalam hatinya. Adit seakan menegaskan bila dia akan melindunginya dan menjadi benteng terdepan untuknya di masa depan. Jujur, Anggi belum pernah mendapat rasa kepercayaan diri setinggi ini karena ada bahu yang siap menjadi tempat untuknya bersandar.


"Terima kasih, mas." Anggi menundukkan kepalanya malu-malu.


Adit tersenyum simpul,"Tidak, ini memang seharusnya. Ngomong-ngomong malam ini kamu sangat cantik."


Deg


Anggi sontak mengangkat kepalanya kaget, bertemu langsung dengan pemilik iris gelap nan jernih yang telah lama menguasai hatinya.


"Ah.." Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Malam ini kamu sangat cantik dengan gaun malam itu." Kata Adit lagi menegaskan kebingungan Anggi.


Anggi tersipu, wajahnya kembali menjadi panas.


"Te.. terima kasih, mas." Anggi sangat malu!


Tapi dia sangat senang mendapatkan pujian langsung dari Adit. Pujian Adit sangat langka dan di samping itu Adit jiga adalah orang yang dia sukai sehingga tidak berlebihan rasanya jika dia dibuat melayang oleh pujian singkat Adit.


"Mas Adit... juga sangat tampan malam ini." Bisik Anggi gugup.


Makanan lezat di atas mejanya tiba-tiba menjadi sangat manis di dalam mulutnya. Padahal hidangan ini adalah hidangan asin dan pedas!


"Benarkah, aku senang mendengarkan pujian mu."


Anggi menggigit bibirnya malu,"Setiap wanita mungkin akan memiliki pendapat yang sama."


Adit tersenyum simpul,"Tapi suara mereka tidak terlalu penting." Katanya samar.


Anggi tidak bisa mendengarnya dengan jelas jadi dia bertanya dengan ragu-ragu.


"Apa mas Adit mengatakan sesuatu?"


"Hem," Mengangkat satu alisnya, dia lalu berkata,"Tolong bantu aku merapikan barang-barang ku yang ada di kamar."