My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
116. Aku Mencintaimu



Davin dengan tegas menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Rein. Akan tetapi beberapa detik kemudian ia segera menggelengkan kepalanya yang membuat Rein bingung.


Rein merasa bahwa Davin sepertinya benar-benar membutuhkan air hangat jadi dia berdiri sekali lagi ingin pergi ke dapur. Namun belum dua langkah ia berjalan, sebuah tangan kuat menariknya ke samping hingga ia benar-benar duduk di samping Davin- lebih tepatnya ia kini ada di dalam pelukan Davin.


"Memelukmu jauh lebih berguna daripada meminum air hangat. Jadi patuh lah di sini dan hangatkan aku." Bisik Davin tepat di depan telinga Rein.


Wajah Rein sontak menjadi panas. Bahkan, cuping telinganya pun ikut memerah di bawah pengawasan mata Davin. Warnanya sangat cantik dan memiliki tampilan menggoda, menggoda Davin untuk segera menggigit cuping telinga Rein tapi ia tidak melakukannya. Ia berusaha mengendalikan naluri buasnya yang sangat ingin melahap Rein.


"Jangan aneh-aneh, Dav." Rein memperingatkan tapi dia sendiri tidak bergerak menjauh dari Davin.


Davin terkekeh geli, ia semakin mengeratkan pelukannya kepada Rein, menyesap ringan wangi Rein untuk menenangkan sarafnya yang sudah tegang beberapa hari ini.


"Namanya Aska Demian, satu-satunya adikku di dunia ini." Ucap Davin tiba-tiba mengungkit masalah Aska lagi.


Rein tidak mengatakan apa-apa, ia juga sudah menebak sebelumnya siapa Aska dan apa hubungannya dengan Davin.


Jujur, sebelumnya sempat terlintas pikiran bila Aska adalah putra Davin dengan model terkenal itu. Pikiran ini menghantuinya selama pagi dan malam, membuat Rein gelisah dan ketakutan.


Namun, ia tiba-tiba memperhatikan bila wajah Aska nyatanya lebih mirip dengan mendiang Mama Davin daripada Davin sendiri, seolah-olah Aska adalah adik Davin yang mana ini terdengar tidak masuk akal untuk Rein pada saat itu.


"1 bulan setelah melahirkan Aska, kedua orang tuaku mengalami sebuah kecelakaan di kota D yang menyebabkan nyawa mereka meregang. Setelah itu aku tidak punya siapa-siapa selain kamu dan Aska, hanya kalian berdua. Setelah Mama dan Papa pergi aku berencana membawa Aska pulang ke rumah agar kita bisa membesarkannya bersama-sama, tapi sebelum aku bisa melakukan itu Kakek tiba-tiba memintaku untuk putus dengan mu." Davin menceritakannya dengan suara yang sangat ringan, seakan-akan apa yang sedang ia ceritakan ini tidak ada bedanya dengan dongeng pengantar tidur.


Padahal Rein tahu rasanya begitu sakit, Davin kesakitan menceritakan sumber lukanya yang sama saja mengulangi kejadian tersebut.


Davin seharusnya sangat membencinya, tapi dia tidak menunjukkan di depan Rein.


"Bila aku tidak putus dengan mu, Kakek mengancam akan mengirim Aska ke negara A. Kau tahu, Rein? Hatiku langsung hancur saat mendengar ancaman Kakek. Bayangkan, saat itu Aska masih berusia 1 bulan, dia masih sangat kecil tapi sudah dihadapkan pada dunia yang kejam. Aku sangat marah tapi sayangnya tidak bisa berbuat apa-apa, untuk menyelamatkan Aska dan mempertahankan kamu, aku bahkan rela melepaskan semua kekuasaan yang aku dapatkan kelak, aku rela mundur dari hak waris-"


"Davin," Panggil Rein ikut merasakan sakit.


Ia mengusap sudut basah mata Davin yang sedari tadi ingin keluar tapi dengan keras kepala Davin tidak izinkan. Dia adalah seorang laki-laki dan memiliki harga diri, dia tidak mungkin menangis di depan kekasihnya tercinta.


"Aku rela mundur, Rein, tapi Kakek tidak mengizinkan aku pergi. Dia bersikeras akan mengirim Aska ke luar negeri jika aku sampai melakukan itu." Perlahan mata almond nya yang memerah menatap wajah cantik Rein yang berubah menjadi sendu.


Ia menyentuh wajah cantik Rein, mengusapnya lembut dan dengan gerakan yang sangat hati-hati seolah-olah tangan besarnya bisa saja melukai kulit lembut Rein.


"Apa yang harus aku lakukan, Rein? Aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Aska dan mempertahankan kamu secara bersamaan, Kakek tidak mengizinkan ku memiliki kalian berdua."


Tik


Air mata Davin tanpa bisa ditahan meluap dari sudut mata almond nya. Bergerak lurus hingga jatuh mengenai punggung tangan Rein.


"Waktu itu.." Rein berusaha menahan isak tangisnya di depan Davin.


Tangan rampingnya terangkat menyentuh wajah Davin, mengusap jejak air mata yang telah Davin tahan sekuat tenaga.


"Kenapa kamu tidak membicarakannya denganku? Bila kamu mengatakannya kepadaku kita bisa berpisah baik-baik tanpa perlu saling menyakiti, Davin. Jika kamu mengatakannya maka aku tidak akan membencimu apalagi sampai menyembunyikan keberadaan Tio darimu. Jika kamu mengatakannya...hiks.." Rein menggigit bibirnya menahan sesak.


Sakit rasanya, Tuhan.


Sungguh sakit rasanya.


"....kita berdua tidak akan pernah melalui tahun-tahun sulit itu, Davin."


Bila Davin mempercayainya maka tahun-tahun sulit itu tidak akan pernah terjadi. Mereka tidak akan berpisah dengan cara yang sangat kejam, saling menyakiti atau bahkan membenci, setidaknya Rein tidak akan terlalu putus asa sampai-sampai ingin mengakhiri hidup.


"Maafkan aku, Rein." Mohon Davin menyesal.


"Aku tidak memberitahumu karena takut kamu tidak setuju untuk berpisah. Aku takut kamu bertindak keras kepala tetap ingin bersamaku karena jika kamu melakukannya maka aku...aku mungkin tidak akan pernah membiarkan kamu pergi. Dan jika kamu tidak pergi aku takut Kakek akan menggunakan cara kejam untuk menyakitimu. Sungguh Rein, aku tidak ingin mengambil resiko sebesar itu. Karena itulah aku terpaksa mengikuti rencana mereka, berpura-pura menjalin hubungan dengan seorang model cucu dari kerabat Kakek untuk memuaskan keinginan keluargaku. Aku...tidak benar-benar bertunangan dengan wanita itu, Rein. Aku menolak bertunangan dengannya, dengan siapapun yang Kakek tawarkan setelah kamu pergi. Kamu harus tahu bahwa aku masih sangat mencintaimu-"


"Aku tahu!" Rein tidak tahan lagi mendengarnya.


Ia memeluk Davin dengan sangat erat untuk melampiaskan betapa tidak menentu perasaannya saat ini. Ia merasa bahagia karena di hati Davin hanya ia lah satu-satunya orang yang bisa menempatinya tapi ia juga sedih, sedih karena Davin terpaksa harus melalui semua itu.


Dulu, Rein pikir Davin sudah hidup bahagia bersama wanita itu dan telah lama melupakan tentangnya, tapi setelah mengetahuinya sekarang.. setelah mengetahui semua rasa sakit yang Davin alami, Rein tiba-tiba merasa tidak adil kepada Davin.


Dia merasa telah membuat Davin terluka untuk alasan yang tidak diketahui- ah, sebenarnya hati Rein mengetahui dengan baik alasan ini.


"Dengarkan aku dulu, Rein." Bisik Davin sembari mengusap puncak kepala kekasihnya. "Aku masih sangat mencintaimu atau mungkin, sebut saja aku tergila-gila kepadamu. 3 hari setelah kita berpisah aku datang kembali ke rumah kita untuk melihat bagaimana keadaan mu saat itu. Tapi...aku terkejut tidak menemukan dirimu di rumah itu dan aku lebih terkejut saat melihat cek yang aku tinggalkan untukmu masih ada di atas meja bersama makanan buatan mu yang telah kama menjadi basi. Kau tahu...aku tidak bisa mengenaliku diriku saat itu ketika mengetahui kamu telah pergi meninggalkan ku entah bersembunyi dimana. Aku sangat marah, melakukan banyak hal agar bisa menemukan lagi tapi...tapi...kamu tidak bisa ditemukan, Rein. Kamu tidak ada dimana-mana sekuat apapun aku mencari. Aku sangat sedih saat itu...aku tidak mau kehilangan kamu-"


"Davin, cukup." Potong Rein seraya melepaskan pelukan mereka.


Tapi Davin tidak mendengarkan, ia ingin mengatakan banyak hal kepada Rein agar Rein tidak meragukan betapa besar cintanya.


"Dengarkan, aku-"


Cup


Davin tidak bisa mengatakan kata-kata selanjutnya ketika merasakan sebuah sentuhan hangat nan lembut di bibirnya. Rein menciumnya dengan lembut dan gerakan kaku, seolah-olah ini adalah ciuman pertama mereka.


"Aku telah mendengar semuanya Davin dan aku percaya bahwa hatimu masih hanya untukku." Ucap Rein lembut dengan semburat merah di kedua pipinya yang terlihat sangat cantik.


Sementara itu Davin masih belum menunjukkan reaksi apa-apa. Dia menatap Rein tanpa berkedip sekalipun, membuat Rein bertanya-tanya apakah Davin tidak suka dengan ciumannya tadi.


Rein panik, ia ingin mengatakan sesuatu untuk menjelaskan tindakan impulsif nya.


Namun, sebelum ia bisa membuka bibirnya untuk membuat penjelasan, Davin sudah lebih dulu menarik Rein ke dalam pelukannya. Ia mencium bibir Rein dengan buas, ********** dengan buru-buru sambil mengangkat tubuh ramping Rein ke atas pangkuannya.


Ciuman Davin membuat Rein kewalahan. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain duduk patuh di atas pangkuan Davin untuk menerima kekejaman Davin.


Terbuai, gerakan buas Davin perlahan-lahan menjadi tenang dan manis, menarik Rein dari kesadarannya untuk menikmati sensasi manis yang sudah lama tidak mengalir di dalam tubuhnya. Kedua tangan rampingnya melingkari leher Davin, memeluknya erat untuk melampiaskan kerinduan hatinya yang telah mendarah daging.


"Rein...hah..." Davin tiba-tiba melepaskan ikatan mereka.


Kedua mata basah Rein menatap linglung Davin, wajah cantiknya yang merona terang tampak sangat menggoda dipadukan dengan mata basah Rein.


"Aku sangat mencintaimu." Ungkapnya lembut sebelum menarik Rein untuk disantap.


Bersambung...


Huhu .. ampas banget 🍃


Tolong maafkan, saya agak kaku kalau nulis adegan yang manis-manis 😬