
Rasa sakitnya sangat menusuk. Dia tidak pernah mengalami rasa sakit setajam ini dalam hidupnya. Tulang-tulangnya seolah dipatahkan oleh benda keras, darahnya seakan tumpah ruah entah kemana hingga membuat tubuhnya jatuh lemas tidak berdaya, tapi pada saat yang sama dia dipaksa untuk berjuang dan tetap terjaga. Dia kesakitan, lelah, ingin berteriak tapi pita suaranya tak mampu, ingin tertidur tapi suara hatinya menolak dengan keras.
Lelah, air mata tak berhenti meluap dari sudut mata dan dia tidak punya waktu untuk memperdulikannya karena semua fokusnya saat ini hanya bertumpu pada sang buah hati yang sedang berjuang keluar menjangkau dunia.
Yah, dia kini tengah berjuang melahirkan buah hati tercintanya dalam kondisi normal. Keinginan hatinya sebagai seorang Ibu untuk melahirkan secara normal ternyata Tuhan kabulkan dan hari ini dia tengah melewatinya. Tapi...tapi dia tidak pernah berpikir bila sakitnya akan setajam dan sejauh ini. Rasanya sangat menyakitkan. Tubuhnya remuk tanpa tulang dan setiap hembusan nafasnya adalah perwujudan dari sebuah harapan bila Tuhan memberikannya kesempatan untuk melahirkan buah hatinya dengan sang suami, melahirkan dan membesarkannya bersama anak-anak yang lain, Rein berharap Tuhan memberikannya kesempatan.
"Jangan kendur. Tarik nafas pelan-pelan dan dorong! Kamu harus mendorongnya setiap kali kontraksi datang." Dokter yang menangani Rein semenjak hamil berusaha menyemangati Rein agar jangan mudah menyerah.
Rein sudah berkeringat dingin dimana-mana. Dia sangat lemah tapi masih berusaha mempertahankan kepalanya agar tetap jernih.
"Ambil nafas..." Dokter mengintruksikan sambil mengawasi gelombang kontraksi Rein dari layar alat medis rumah sakit.
"Nah sekarang dorong!"
Begitu Rein mendengar perintahnya, dia mengerahkan suruh tenaganya untuk mendorong buah hatinya keluar. Lalu, beberapa waktu kemudian terdengarlah suara tangisan bayi di dalam ruangan bersalin.
"Selamat Rein, bayinya laki-laki- ah, ada yang salah!"
"Astaga, ini kembar!" Teriak dokter itu menyeret kesadaran Rein.
Dia tertegun kaget, rasanya sulit mempercayai apa yang dokter katakan barusan. Kembar?
Bagaimana mungkin!
Menurut pemeriksaan rumah sakit dia hamil normal dan tidak kembar, tapi saat berhasil melahirkan bayi, dokter tiba-tiba mengkonfirmasi bila di dalam perutnya masih ada bayi yang akan segera keluar.
Tapi ya sudahlah, ini juga kabar baik untuk keluarga kecilnya karena dengan begini rumah kecilnya dengan Davin akan lebih ramai dan hidup karena bertambahnya dua anggota rumah lagi.
Dia menghela nafas panjang menunggu instruksi dokter selanjutnya.
"Rein, sabarlah. Sedikit lagi kamu dan anak-anak mu bisa bersama."
"Rein, ambil nafas..."
Rein dengan patuh mengambil nafas semampu yang tubuhnya jangkau.
Gelombang sakitnya datang lagi. Rein mengepalkan kedua tangannya menahan gelombang rasa sakit hebat yang melanda tubuhnya. Ini adalah kontraksi yang kesekian kalinya dalam waktu 1 jam ini.
"Dorong, dorong sekuat tenaga yang kamu bisa Rein!"
"Eh..ehhhh..." Rein mendorong sekuat tenaga yang dia bisa, berusaha mengerahkan sisa tenaganya untuk mengirim sang buah hati menyusul saudaranya yang telah menyentuh dunia.
"Hua... hua..." Tangisan nyaring kembali bergema di dalam ruangan bersalin ini.
Bayi kedua akhirnya lahir dengan jenis kelamin perempuan. Dia adalah bayi yang sangat cantik dan bersih, sementara bayi yang pertama adalah bayi yang tampan.
Seharusnya bayi seusia si kembar masih berkerut dan belum memiliki karakteristik di wajahnya. Tapi ajaibnya si kembar telah mewarisi penampilan luar biasa kedua orang tuanya sejak pertama kali memasuki dunia. Mereka tampan dan cantik, membuat dokter dan tim medis yang lain mendecakkan lidah penuh kekaguman. Mereka tidak jenuh-jenuhnya memandangi kedua bayi Rein yang masih sangat kecil nan mungil.
Setelah bayi kedua di konfirmasi lahir, Rein langsung melemaskan tubuhnya karena kehabisan tenaga. Kedua telinganya berdengung nyaring mengacaukan suara-suara di sekitarnya dan kedua matanya pun mulai berkunang-kunang tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas. Kelopak matanya terasa berat dan rasa kantuk yang hebat mulai menyebar masuk ke dalam kepalanya.
Hal terakhir yang paling jelas di mata dan pendengarannya adalah, Davin tiba-tiba sudah ada di sampingnya, menggenggam erat tangannya yang berkeringat dingin seraya membisikkan kata-kata cinta penuh syukur.
Rein mungkin tersenyum saat itu, apalagi ketika melihat wajah tampan nan dingin Davin yang biasanya tampak datar kini tengah menangis di depannya.
Sambil berbisik,"Terima kasih.. terima kasih, sayang. Terima kasih untuk semua perjuangan kamu hari ini dan aku sangat berterima kasih kepada mu karena tidak menyerah untuk tetap bersamaku, bertahan hidup dan melahirkan kedua bagi kita dengan selamat. Terima kasih, sayang."
Nah, Rein akhirnya bisa menutup matanya dengan perasaan lega dan damai. Dia tidak lagi memiliki kekhawatiran karena Tuhan selalu menjaganya dan selalu ada bersama keluarga kecilnya.
Tuhan terima kasih. Batin Rein dipenuhi kebahagiaan sebelum akhirnya benar-benar tertidur.