My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
132. Kejahatan Dibalas Kebaikan (?)



Dia masih bisa bercanda di saat situasi seperti ini?


Sebenarnya tidak apa-apa asalkan jangan menyangkut masalah yang memiliki nilai ambiguitas. Karena biar bagaimanapun situasi ini kurang cocok untuk membicarakannya.


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" Aku buru-buru kembali membawa Davin membicarakan topik yang sama.


Dia tertawa renyah dan sangat shock ketika merasakan ujung lidahnya menjilati telapak tanganku. Sontak saja aku menarik kedua tanganku dari mulut Davin dan menyembunyikannya dari jangkauan Davin. Aku sangat terkejut sampai-sampai kesulitan mengeluarkan suara.


"Setelah itu, seperti yang aku bilang tadi aku mengetahui kebenaran mengenai kecelakaan kedua orang tua dokter Adit setelah dua tahun kejadian, tepatnya 1 bulan sebelum Mama dan Papa mengalami kecelakaan. Saat itu aku sempat memohon kepada Kakek untuk mundur dari hak waris sama seperti yang dilakukan oleh dokter Adit, tapi Kakek tidak mengizinkan aku melakukannya. Lalu aku menyerah dan memilih untuk menerima takdirku. Di samping itu, hubungan ku denganmu baik-baik saja dan berita gembiranya Mama melahirkan Aska dengan selamat. Aku pikir semuanya baik-baik saja dan aku sudah cukup memiliki kalian semua sehingga tidak terlalu bersikeras ingin mundur dari hak waris. Haah.." Davin menghela nafas panjang, aku bisa merasakan suasana hatinya mulai menurun.


Dia pasti sangat sedih mengingat momen menyedihkan kepergian kedua orang tuanya.


"Tapi nyatanya aku terlalu naif, sayang. Kedamaian yang aku lihat faktanya tidak bertahan lama karena para rubah tua itu mulai melancarkan aksi mereka lagi. Mereka membuat orang tuaku kecelakaan mobil sama seperti yang didapatkan kedua orang tua dokter Adit. Mama dan Papa meninggal di tempat tapi untungnya Aska tidak kenapa-kenapa. Dia selamat dan tinggal bersamaku. Setelah kedua orang tuaku pergi cobaan datang lagi menerpa diriku. Tuhan telah mengambil Mama dan Papa, lalu Kakek ingin memisahkan aku darimu dan dari Aska. Aku dihadapkan pada pilihan yang sulit dan tidak mundur. Saat itu, aku mulai membangun ambisi untuk menghajar para rubah tua itu. Hingga sekarang setiap jalanku selalu menemui hambatan karena ulah mereka dan aku masih bisa menoleransinya tingkah mereka. Tapi aku pikir sudah tidak lagi sekarang. Aku tidak menyangka tindakan mereka akan sebejad itu melibatkan Aska dalam rencana mereka. Mereka ingin membunuh Aska untuk mengenyahkan ahli waris ku di masa depan nanti dan selanjutnya menargetkan Tio, cih!" Davin berkata dengan emosi yang menyala di dalam nada suaranya.


Aku pikir dia sedang tidak mood untuk mendengarkan penghiburan sehingga aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa tapi kedua tanganku sudah bergerak ringan menepuk pundaknya agar lebih tenang.


Sama seperti Davin, aku juga sangat takut dengan kemungkinan ini. Setelah menargetkan Aska, aku takut mereka akan memangsa Tio selanjutnya.


Ya Tuhan, anak-anak ku masih kecil dan belum mengenal dunia tapi kenapa mereka masih saja menjadikannya sebagai sasaran sebuah kejahatan?


Dimana hati nurani mereka sebagai manusia dan orang tua?


"Aku tidak akan pernah membiarkan rencana mereka berhasil! Mereka masih berpikir jika aku adalah Davin dan bodohnya, mereka lupa jika aku adalah Davin Demian, sang pewaris Demian. Untuk semua harga kejahatan yang telah mereka lakukan, sekarang aku tidak akan ragu membalasnya." Davin terdengar sangat dingin dan menakutkan.


Dia serius dengan kata-katanya dan aku khawatir dia akan melakukan hal-hal aneh lagi seperti yang ia lakukan kepada Yuni. Marah memang tidak salah tapi melampiaskannya dengan cara gelap adalah jalan yang salah. Aku tidak ingin Davin menjerumuskan diri ke jalan itu lagi dan aku tidak ingin melihat Davin kehilangan hati nuraninya.


"Aku mohon jangan kotori tanganmu dengan darah ataupun hal-hal yang berbau kejahatan karena Tuhan tidak akan suka itu, Dav." Kataku memohon.


Dia lagi-lagi tertawa. Tangan besarnya menjangkau wajah ku dan mengelusnya dengan lembut.


"Apa yang kamu pikirkan, sayang? Bagaimana mungkin aku melawan tindakan jahat mereka dengan sebuah tindakan jahat pula. Tidak, aku tidak mau Tuhan marah kepadaku. Kejahatan yang mereka lakukan akan aku balas dengan sebuah kebaikan, mereka pasti akan berterima kasih kepada ku nanti." Katanya dengan garis senyuman aneh di wajahnya.


"Kebaikan... kebaikan apa yang ingin kamu berikan kepadanya?" Bodohnya aku masih saja bertanya.


Dia tersenyum lebar, kesan dingin dan aneh seketika menghilang dari pandanganku. Dia terlihat normal dan mudah didekati.


"Ini adalah kejutan. Kamu akan tahu pada akhirnya, tapi sampai hari itu tiba aku harap kamu setia menunggu." Katanya sambil menekan kepalaku ke dadanya.


Aku tidak percaya ia masih menyembunyikan kebenaran ini dariku. Tapi aku juga tidak bisa memaksanya untuk bicara karena aku pikir mungkin masalah ini membutuhkan kerahasiaan. Hem, apapun itu aku kira Davin sudah memikirkannya dengan matang sehingga aku seharusnya tidak perlu ikut campur agar tidak menghambat rencana Davin.


"Baiklah, selama tidak ada pertumpahan darah atau menggunakan tindakan jahat aku tidak akan mengganggu rencana mu. Lalu kita sudahi topik pembicaraan ini karena aku ingin mendengar bagaimana kehidupan mu selama tinggal di negara A." Kataku mengalihkan topik pembicaraan.


Aku ingin membicarakan topik ringan dengan Davin untuk merilekskan pikiran kami.


Tapi kenapa dia tidak menjawab ku?


"Dav?" Aku mengangkat kepalaku mengintip wajahnya dan mendapati jika dia sudah tidur.


"Kamu sudah tidur rupanya." Aku lalu menurunkan kakiku ingin menyingkir dari atas tubuhnya tapi Davin malah mengeratkan pelukannya sehingga aku tidak bisa kemana-mana.


"Dasar keras kepala!" Kataku tidak habis pikir.


Aku tersenyum, tangan kananku mengusap wajah tampannya sebelum memberikan kecupan ringan di atas kening Davin.


"Mimpi indah, Dav." Bisik ku seraya menidurkan kepalaku di atas dada bidangnya.


Davin tidak memberikan jawaban namun tangan besarnya bergerak mengusap puncak kepalaku sebagai balasan.


Ugh, dia pasti sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh!


Aku tidak ingin mengganggunya lagi jadi aku memutuskan untuk tidur kembali, menyusulnya ke dunia mimpi.