My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
217



Lakukanlah, suamiku, dan jangan menahan diri. Sebab mulai malam ini dan malam seterusnya, aku adalah milikmu, Davin Demian." Rein sangat berani malam ini, kesan pemalu nya yang menggoda segera menguap.


Davin tercengang, dia tidak pernah melihat Rein seagresif ini dalam hidupnya. Karena biasanya selama ini Davin lah yang selalu mengambil inisiatif kepada Rein. Entah setelah menikah atau belum, Davin adalah orang yang mengambil inisiatif.


Namun beberapa detik kemudian Davin akhirnya tersadar dari lamunannya. Dia menatap hidangan yang telah tersaji di atas mejanya, menatapnya dengan tatapan membara tanpa menyembunyikan kerakusannya.


Segera Davin memegang erat pinggang tipis Rein, menariknya lebih dekat lagi dengannya hingga tidak meninggalkan jarak sedikitpun di antara mereka.


Nafas Davin memburu tidak sabar, tepat menerpa kulit wajah halus Rein yang memerah karena merona.


Rein memang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Davin, sang suami. Bohong bila dia mengatakan tidak gugup ataupun tidak takut karena faktanya hati Rein bergetar karena ketakutan yang muncul tiba-tiba setelah melihat keganasan suaminya.


"Rein...apa kamu takut?" Tanya Davin melembutkan suaranya, berusaha mengontrol dirinya sejernih mungkin agar jangan sampai menyakiti kekasihnya.


Rein tercengang, beberapa detik kemudian dia menggelengkan kepalanya dengan tegas. Dengan senyuman cerah di bibir ranumnya yang menggoda, Rein perlahan memiringkan kepalanya sembari mendekati wajah tampan suaminya. Mengecup hati-hati puncak hidung kekasihnya pelan sebelum beralih mengecup bibir tebal sang suami yang fleksibel.


Davin tidak tinggal diam. Tangannya terangkat memegang tengkuk Rein, menekan tengkuk Rein agar kepalanya tidak bisa bergerak menjauh. Setelah itu suara manis pertukaran air saliva mereka berdengung nyaring di dalam kamar pengantin mereka.


Davin sangat agresif. Memakan belahan bibir atas dan bibir bawah Rein secara bergantian sebelum membawa lidahnya menerobos masuk ke dalam tempat hangat nan manis itu. Lidah Davin bergerak sangat dominan, mendorong benda mungil nan licin Rein sampai batas dia tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan milik Davin dengan lincah mengeksplorasi tempat hangatnya.


"Hemph..." Rein melenguh nikmat tidak tahan dengan agresi kuat suaminya.


Lemas, Rein memeluk erat leher suaminya. Menyerahkan diri sepenuhnya kepada sang suami agar disentuh sesuka hati.


Davin sejujurnya masih sanggup mengeksplorasi tempat hangat Rein. Tapi istrinya sudah lemas dan tidak bisa bernafas jadi dia dengan enggan melepaskannya.


"Jangan tinggalkan bekas di sana..Dav..hah..." Mohon Rein kini mulai kehilangan pikirannya.


Sentuhan Davin terlalu candu. Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia menginginkan sesuatu yang lebih.


"Kamu milikku dan kamu tidak diizinkan berbicara...hanya nikmati semuanya... karena aku tahu kamu juga menginginkannya." Ucap Davin disela-sela kegiatannya mengendus kulit leher Rein yang sangat lembut dan memiliki wangi yang khas...wangi yang selalu Davin pikirkan dalam hidupnya. Dan karena wangi inilah Davin bisa tidur dengan nyaman tanpa mimpi buruk lagi- yah, Rein adalah obat dalam hidupnya.


"Ugh.." Tubuh Rein bergetar nyaman saat gigi tajam Davin menancap di atas kulitnya, meninggalkan tanda merah yang sangat mencolok.


Davin melihat tanda itu dengan bangga sebelum mulai menjilatinya penuh kasih. Gerakan lidah Davin yang fleksibel semakin menjadi-jadi tatkala Davin merasakan getaran di tubuh Rein semakin kuat.


Istrinya benar-benar sangat sensitif. Davin menyukainya dan semakin kecanduan untuk membuat tanda yang lainnya lagi. Seolah-olah dengan tanda itu Davin ingin mengklaim jika Rein adalah miliknya dan hanya akan menjadi miliknya.


"Dav...aku mohon...aku sudah tidak tahan lagi.." Mohon Rein tidak tahan sentuhan candu suaminya.


Davin terkekeh, menggigit daun telinga istrinya dan berbisik dengan suara serak,"Hem, kamu mau mohon apa?"


Rein menggigit bibirnya sekuat mungkin untuk menahan suara desahannya bocor. Tapi Davin tidak mengerti atau lebih tepatnya berpura-pura tidak mengerti. Melihat Rein seperti ini Davin semakin berulah dan membuat tubuh Rein bergetar terus menerus diterpa rangsangan manis.


"Aku... mohon... hah... lakukan saja sekarang..." Mohon nya sangat malu!