
Anggi ke dapur bersama Adit. Mulanya Anggi ingin Adit menunggu di meja makan saja tapi Adit menolak dan ingin makan di dalam dapur saja. Kebetulan di dapur ada kursi yang biasanya digunakan untuk Ayah dan Ibu ketika mereka memasak bersama.
Anggi meminta Adit duduk sementara dia menyiapkan makanan. Kebetulan masakan Ibu masih ada dan belum tersentuh jadi Anggi tidak sungkan menyajikannya kepada Adit. Sepanjang menyajikan makanan, rambut-rambut kecil Anggi dan tengkuknya tiba-tiba merinding karena alasan yang tidak bisa Anggi jelaskan. Entah kenapa Anggi merasa ada mahluk gaib yang sedang memperhatikannya. Kalau tidak, kenapa coba badannya bisa merinding tanpa sebab?
Menoleh ke Adit, Anggi langsung menggelengkan kepalanya geli. Pasalnya Adit duduk nyaman di kursi sambil menatap serius layar ponselnya. Seperti biasa Adit akan langsung bekerja jika ada waktu santai jadi bagaimana mungkin Anggi sampai berpikir bahwa Adit sedang memperhatikannya?
"Dasar bodoh, apa sih yang kamu pikirkan! Kok bisa-bisanya nyamain mas Adit sama mahluk gaib?!" Anggi menepuk kepalanya geli.
Untung saja tidak ada yang melihat sikap konyolnya.
Tapi aneh, kok perasaan itu enggak hilang-hilang yah? Apa karena mahluk gaib di rumah ini adalah penghuni aslinya?
Mengusap tengkuknya yang merinding, Anggi bergumam rendah,"Aku akan meminta Ayah dan Ibu memanggil ustad ke rumah ini. Kalau bisa rumah ini harus sering-sering didatangi pengajian."
Kebetulan Ibu maupun Ayah sering datang ke acara pengajian-pengajian jadi rumah ini bisa sering-sering dapat giliran di masa depan.
"Mas Adit makanannya sudah siap." Kata Anggi mengingatkan laki-laki berwajah serius itu.
Ugh, apa yang orang-orang katakan tentang laki-laki yang sedang bekerja serius itu mempesona memang benar. Buktinya mas Adit berkali-kali mempesona saat sedang serius bekerja seperti ini.
"Oh," Adit meletakkan ponselnya di atas meja.
Dia melihat semua makanan lezat rumahan yang tersaji di atas meja sebelum beralih menatap Anggi yang masih berdiri di samping meja.
Anggi bingung dan mengira jika Adit salah paham.
"Bukan aku yang memasak semua ini." Ujar Anggi mengklarifikasi.
Adit mengangguk rendah.
"Aku tahu ini bukan masakan kamu. Ibumu?" Tebak Adit.
Sebab masakan Anggi memiliki ciri khas tersendiri. Contohnya potongan sayur timun di potong miring sedangkan sayur terong dipotong pipi. Selain itu Anggi adalah orang yang tidak suka menggunakan banyak minyak saat memasak sedangkan makanan yang tersaji di atas meja rata-rata memiliki minyak yang melimpah.
Di samping itu Anggi akan menggunakan jeruk nipis dan daun kemangi saat memasak masakan berkuah, tapi yang tersaji di atas meja tidak memiliki wangi sentuhan dari dua jenis pewangi makanan itu.
Anggi melihat tatapan penilaian Adit karena dia sendiri berpikir bila masakan Ibunya sangat spesial dan lezat jadi dia pikir Adit menebak karena wangi lezat yang menguar dari setiap piring saji.
"Benar, mas. Semua ini adalah masakan Ibu dan Ayah. Mereka sengaja memasak banyak karena aku jarang pulang ke rumah." Ujar Anggi mengakui.
Adit mengangkat alisnya berpikir.
"Apa kamu ingin sering kembali ke rumah?"
Anggi tertegun, beberapa waktu kemudian dia tersenyum malu.
"Akan terdengar munafik jika aku tidak ingin sering pulang ke rumah. Di sini ada kedua orang tuaku yang lengkap dan anak-anak ku jadi bagaimana mungkin aku tidak ingin pulang ke rumah? Namun meskipun merindukan mereka tapi aku juga senang bekerja di mansion Demian. Semua orang sangat baik dan gaji ku pun sama baiknya, jadi aku merasa tidak menyesal bekerja di sana dan jarang pulang ke rumah."
Dia harus menafkahi keluarganya, menyiapkan dana yang cukup untuk masa depan anak-anaknya, dan yang sama pentingnya adalah dia punya banyak teman di tempat kerja. Terutama bisa bertemu dengan Adit merupakan momen yang paling Anggi tunggu-tunggu setiap hari. Maka dari itu dia tidak rela melepaskan pekerjaan ini.
"Kamu adalah orang yang cerdas. Duduklah." Adit mempersilakan.
Anggi langsung menjadi bodoh di tempat. Kedua matanya melebar kaget dan ragu-ragu, ah dia meragukan kinerja indera pendengarannya sendiri.
"Apa yang kamu tunggu? Duduk dan temani aku makan." Kata Adit santai, seolah tak menyadari perubahan warna wajah Anggi.
Anggi malu. Mukanya terasa panas. Dia yakin mukanya sudah seperti kepiting rebus saking marahnya.
Tersipu malu, dia menarik kursi di samping Adit dan duduk dengan gugup. Bola mata coklatnya bergerak liar menatap gerakan tangan Adit mengambil nasi dan makanan ke atas piring.
"Hem, ini enak.." Puji Adit setelah membawa sesendok makanan masuk ke dalam mulutnya.
Anggi sangat senang mendengar pujiannya. Pujian ini menandakan bila Adit mengapresiasi masakan yang orang tuanya buat.
Sambil menonton Adit makan, kedua tangan Adit di bawah meja saling meremat karena gugup. Dia berusaha menekan suasana baik di dalam hatinya yang bergelora.
"Nak, Adit? Bagaimana masakan Ibu?" Ibu tiba-tiba masuk ke dapur.
Dia melihat Adit makan dengan lahap dengan porsi makan yang tidak tanggung-tanggung. Artinya dia tidak sungkan makan di rumah ini walaupun rumah ini adalah rumah asing yang baru beberapa kali dia datangi.
Adit mengambil air minum putih yang Anggi siapkan dan menyesapnya ringan sebelum menjawab sopan.
"Masakan Ibu sangat lezat. Aku tidak pernah makan makanan selezat ini di tempat manapun." Puji Adit berlebihan.
Ibu sontak tertawa heboh. Dia menepuk pundak Adit akrab. Rasa-rasanya kesukaan Ibu kepada Adit semakin tinggi. Ibu suka dengan sopan santun Adit dan perilaku jujurnya yang imut. Padahal Anggi bilang laki-laki ini adalah manusia batu yang tidak suka banyak bicara apalagi berekspresi, tapi mengapa Ibu merasa Adit bukanlah orang yang seperti itu.
Dia mudah diajak bicara, hangat, dan juga sangat sopan kepada mereka berdua sebagai orang tua.
Anak ini jauh lebih baik daripada mantan suami Anggi dulu. Batin Ibu membuat penilaian.
"Aku tidak berbohong, Bu. Masakan Ibu sangat lezat. Sejak pertama kali aku melihatnya aku langsung menebak jika masakan ini di masak oleh Ibu." Kata Adit sekali lagi menyenangkan hati Ibu.
Tawa Ibu sangat tulus dan bebas, Anggi tahu Ibunya pasti sangat senang mendapatkan pujian dari Adit. Sebagai seorang anak tentu dia sangat senang dengan interaksi mereka berdua, berharap Ibu dan Adit akan terus akrab sampai kapanpun.
"Baiklah... baiklah, Ibu tahu itu. Nak, apakah kamu tahu sebagian masakan ini adalah makanan kesukaan Anggi dan sebagiannya adalah kesukaan anak-anak." Ibu tiba-tiba menjelaskan ini dengan implikasi tertentu.
Adit otomatis melihat Anggi yang terlihat sangat gugup di sampingnya.
"Astaga, sekarang semuanya sudah jelas. Aku pikir selera orang-orang di sini agak ringan karena ada beberapa makanan yang tidak asin juga tidak pedas dan terkesan manis." Ujar Adit tidak berbohong.
Awalnya dia pikir keluarga ini menyukai makanan manis karena di beberapa piring saji di atas meja yang Adit ambil, makanannya terasa manis, em, terlalu manis untuknya meskipun rasanya lezat.
Mata Ayah sampai silau ketika melihat sumringah Ibu. Tanpa bertanya pun Ibu pasti akan menceritakan apa yang membuatnya sangat senang, jadi dia tidak perlu bertanya.
Selepas Ibu pergi, suasana kembali canggung di antara mereka berdua. Tepatnya hanya Anggi yang merasa seperti itu karena Adit di samping biasa-biasa saja.
"Kamu suka makan makanan yang berminyak dan pedas, tapi kenapa di sana kamu memasak dengan sedikit minyak?" Adit bertanya sebelum menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Anggi jujur agak terkejut. Dia pikir Adit tidak memperhatikan masakannya tapi sepertinya dia terlalu rendah diri karena buktinya Adit juga memperhatikan takaran minyak di dalam masakannya.
"Itu...aku tidak bisa menggunakan banyak minyak karena anak-anak pasti akan makan makanan yang aku buat. Dan nyonya Rein juga sepertinya tidak terlalu menyukai makanan berminyak jadi aku berusaha mengontrol takaran minyak yang aku gunakan saat memasak." Ulas Anggi singkat.
Setiap kali dia memasak, anak-anak pasti akan bergabung makan, tidak hanya anak-anak tapi Adit dan Rein juga suka ikut bergabung. Jadi dia berusaha mengontrol takaran minyak sebaik mungkin untuk mereka.
Sebenarnya Rein juga suka memasak di rumah untuk Davin dan anak-anak, Davin sendiri juga tidak suka makan masakan orang lain dan harus makan masakan Rein, jadi karena itulah Rein masih masuk ke dalam dapur padahal dia adalah nyonya besar di dalam keluarga Demian.
"Hem, sebenarnya alasan kamu bagus dan masakan yang kamu buat juga lezat, tapi jika ditambah sedikit minyak lagi rasanya pasti akan sangat lezat." Kata Adit datar.
Anggi hampir tersedak air liurnya sendiri mendengar pujian serta masukan Adit di saat yang bersamaan dia mengatakannya dengan ekspresi datar di wajahnya. Benar-benar manusia batu!
"Ah..aku mengerti." Kata Anggi menekan gelora asmara di dalam hatinya.
15 menit kemudian Adit menyelesaikan acara makan malamnya dan keluar dari dapur untuk bergabung dengan kedua orang tua Anggi yang sedang bersantai di depan televisi. Awalnya tadi dia ingin membantu Anggi membersihkan meja tapi segera dilarang keras oleh Anggi karena itu adalah pekerjaan wanita. Selain itu Adit tidak memiliki pengalaman dalam urusan dapur, okay!
Lihat saja tangannya! Tangan Adit jauh lebih lembut dan terawat daripada tangan Anggi sendiri yang notabene sebagai perempuan!
Ugh, ini sangat memalukan.
Setelah membersihkan meja dan mencuci piring, Anggi menemui anak-anaknya untuk perpisahan. Dia memberikan anak-anaknya uang belanja yang tidak seberapa untuk menyenangkan mereka dan berjanji akan membawa banyak hadiah saat dia pulang nanti.
Selesai dengan urusan anak-anak, Anggi pergi menemui kedua orang tuanya untuk pamit. Dia menitipkan uang belanja anak-anak dan menstrasfer uang lainnya ke rekening Ayah untuk memenuhi segala kebutuhan mereka selama Anggi bekerja.
"Kalian harus berhati-hati di jalan karena ini sudah malam dan ada gerimis di luar." Pesan Ibu serius.
Anggi tersenyum, dia mengangguk patuh dan mencium tangan serta wajah Ibunya sebelum beralih memeluk Ayah.
"Kalian bisa tenang, dia pulang bersamaku." Kata Adit saat bersalaman dengan Ibu dan Ayah.
Ibu dan Ayah akhirnya merasa lega melihat putri mereka masuk ke dalam mobil sport mewah Adit. Dengan begitu mereka bisa yakin bila putri mereka berada di tangan orang yang aman dan bisa dipercaya.
"Adit adalah anak yang baik. Dia juga sopan kepada kita dan hangat kepada anak-anak. Aku pikir Anggi pasti bahagia hidup bersama Adit bila mereka akhirnya bersama." Kata Ayah memiliki harapan yang tinggi kepada Adit.
Dia berharap putrinya bisa hidup dengan baik karena kegagalan pernikahan pertama pasti meninggalkan trauma di dalam hati putrinya terhadap laki-laki.
"Benar, Ayah. Ibu juga harap Anggi bisa bersama dengan Adit dan Ibu juga harap Adit dapat mengobati luka di hati Anggi karena kegagalan pernikahan bersama mantan suaminya."
Ayah menggelengkan kepalanya,"Dia diselingkuhi oleh mantan suaminya, hati Anggi pasti sakit."
Ibu dan Ayah masih belum mengetahui penyebab pasti kenapa Anggi memutuskan untuk menggugat cerai mantan suaminya saat itu. Masalah suram ini mana mungkin Anggi ceritakan kepada kedua orang tuanya. Dia tidak rela melihat kedua orang tuanya bersedih karena masalah pribadinya, yah masalah suram yang mempertemukannya dengan orang-orang baik. Dia bertemu dengan Rein dan Davin, kemudian jatuh cinta kepada Adit si manusia batu yang hampir tidak memiliki emosi di wajahnya.
Anggi mensyukurinya dengan tulus.
"Doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua. Bila Tuhan sudah mentakdirkan mereka bersama, maka akan ada hari dimana mereka berdua bersatu."
Ibu mengangguk dengan senyuman tulus di wajahnya. Lega, mereka lalu masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan beristirahat di kamar setelah mengawasi anak-anak masuk ke dalam kamar mereka.
"Besok kita ada tugas dari tuan Davin dan nyonya Rein." Kata Adit di dalam mobil.
Anggi tidak mendapatkan kabar apapun dari sahabatnya. Jadi dia bertanya.
"Tugas apa?"
"Pergi ke kota D untuk mengurus bisnis. Kamu diminta untuk menemaniku selama bertugas di sana." Kata Adit masih dengan ekspresi datar di wajahnya.
Anggi sontak mengepalkan kedua tangannya senang. Rona merah perlahan mengambang di kedua pipinya. Pergi ke luar kota untuk menemani Adit bekerja sama saja pergi berkencan untuk Anggi pribadi.
Ugh, mengapa hatinya sangat senang?!
"Kalau begitu aku akan langsung menyiapkan semua keperluanku malam ini. Berapa hari kita di sana?"
"3 hari paling lambat." Jawab Adit.
3 hari bersama Adit terus menerus?!
Hah, ini adalah hadiah terbaik Anggi tahun ini jadi bagaimana mungkin dia tidak bahagia!
"Baiklah."
Adit mengantarkan Anggi langsung ke mansion Demian sementara dia harus kembali ke apartemennya.
"Terima kasih." Ucap Anggi tulus setelah turun dari mobil.
Adit mengangguk,"Hari ini kamu bekerja dengan baik, pertahankan, kamu telah meningkat pesat."
"Ah..." Anggi terkejut karena mendapatkan pujian tiba-tiba dari Adit.
Adit tidak mengulangi pujiannya. Mengucapkan selamat malam, dia lalu membawa mobilnya pergi.
Sementara itu Anggi yang baru saja dipuji oleh Adit akhirnya kembali tersadar dari lamunannya,"Dia...baru saja memujiku?" Gumamnya tidak percaya.
Sungguh sulit dipercaya, dalam satu hari Adit telah memujinya berkali-kali!