
"Apa aku sangat kotor?" Bisiknya tertahan menahan sakit.
Dia dijebak dan tidak bisa membebaskan diri tapi mengapa orang-orang menilainya sebagai manusia rendahan yang tidak bisa hidup bahagia?
Dia sedih. Namun kesedihannya hanya bisa ditekan jauh di dalam hatinya karena bagaimanapun apa yang para pelayan itu katakan tentang dirinya memang benar apa adanya.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamarnya diketuk.
"Siapa?" Anggi tidak berniat bangun dari duduknya di lantai.
"Ini aku, Adit." Suara rendah di luar sana.
Mas Adit?! Batin Anggi meraung.
Dia mengangkat kedua tangannya untuk menghapus wajah basahnya dengan tergesa-gesa dan bangun dari duduknya. Setelah wajahnya kering, di memperbaiki gaunnya yang sempat kusut karena sempat diduduki di lantai.
"Tunggu sebentar, Mas." Mengambil nafas panjang, dengan gugup dia menarik gagang pintu.
"Mas Adit?" Anggi menyapa sopan, mencoba menyamarkan rasa gugup di dalam hatinya.
Tuhan tahu betapa senang dan gugup hatinya saat ini karena orang yang berdiri di depannya saat ini adalah laki-laki yang baru-baru ini mengisi hatinya. Karena laki-laki ini dia kembali merasakan bagaimana manisnya cinta dan bagaimana caranya melambungkan sebuah harapan- tapi seringkali dia tarik ukur selayaknya layangan di atas langit.
Anggi tercengang melihat Adit tiba-tiba berjalan masuk ke dalam kamarnya. Dan dia lebih tercengang lagi mendengar perintah Adit. Hal ini sangat tidak terduga dan memicu perasaan gugup yang sudah dia tekan kembali hidup di dalam hatinya.
Cklack
Anggi menutup pintu kamar dan menatap ragu punggung Adit. Adit tidak melihat keraguan Anggi karena dia sudah berjalan ke arah balkon. Berdiri di ketinggian tertentu, mata datarnya menatap hamparan langit berawan yang memanjakan mata. Di tambah lagi ada deburan ombak di pantai yang diiringi suara angin malam, menyejukkan dan membawa bau laut yang menenangkan saraf.
"Jika kamu tidak suka dengan apa yang mereka katakan, lalu pecat saja mereka. Kenapa harus memilih menahan sakit daripada membuang ajar yang membuat mu sakit? Kamu adalah ketua pelayan di rumah dan kamu adalah perwujudan mulia Nyonya Rein. Bila kamu sebagai perwujudan mulia Nyonya Rein mudah ditindas, maka bagaimana dengan Nyonya Rein sendiri? Siapa yang akan membelanya ketika ditindas jika kamu saja tidak bisa membela diri sendiri."
Tubuh Anggi seketika membeku. Kelopak matanya terbuka lebar menatap percaya pemilik punggung tegap nan dingin itu. Di dalam hatinya muncul sebuah pertanyaan, darimana orang ini tahu pembicaraan para pelayan tadi?
Tidak, pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah orang ini tahu tentang gosip para pelayan tadi?
Namun apa yang dikatakan orang ini sangat benar. Bila dia tidak bisa melawan saat ditindas maka apa yang harus dia lakukan saat Rein ditindas nantinya?
Membela diri saja dia tidak bisa apalagi membela Rein suatu hari nanti.
"Orang yang menindas mu adalah seorang pelayan, sungguh rendah. Lalu bagaimana jika kamu bertemu dengan orang yang lebih tinggi nilainya? Apakah kamu masih diam?" Adit berbalik menatap Anggi yang sedang linglung.
Tubuh tingginya yang membelakangi bibir pantai di bawah cahaya redup rembulan terlihat agak... menawan.
"Untuk Nyonya Rein, apapun akan aku lakukan karena dia adalah majikan ku sekaligus sahabat yang ku sayangi. Tapi untuk diriku, sekalipun mereka hanya seorang pelayan tapi apa yang mereka katakan mengenai diriku memang benar adanya-"
"Jadi apa yang mereka katakan memang benar, ya?" Potong Adit dengan nada malasnya.