My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
9. Dimana?



Dia melirik Rein, merasa tenang karena dia akhirnya bisa tersenyum lagi. Dimas tidak tega setiap kali melihat wajah murung Rein ketika terjebak memikirkan laki-laki brengs*k itu. Sudah 5 tahun berlalu namun sahabatnya ini masih belum bisa melupakan laki-laki berhati sampah itu.


"Lo hari ini mau kemana aja habis pulang dari sekolah Tio?" Dimas berganti topik setelah melihat suasana hati Rein membaik.


Rein menggelengkan kepalanya,"Kayaknya gue sama Tio langsung pulang ke apartemen aja karena kebetulan shift gue hari ini gak ada."


Dimas hanya ber'oh ria. Toh kegiatan Rein memang seperti ini adanya. Jika tidak menemani Tio ke sekolah dan pergi kerja, dia akan menghabiskan waktu membersihkan apartemen dan memasak.


Hem, sudah seperti istri saja.


Topik ini tampaknya tidak bertahan lama.


"Nanti malam gue ada mau ngomong sesuatu sama lo." Katanya serius.


Dimas tiba-tiba teringat dengan telepon emaknya kemarin malam. Dia harus memberi tahu Rein sebelum mengambil keputusan.


"Kalau ini tentang lo mau jadi Ayah si Tio, gue menolak." Ucap Rein tanpa ampun.


"Bukan masalah itu anjir!"


"Oh kalau ini tentang perasaan lo ke gue, gak perlu nunggu nanti malam karena dari detik ini gue tegaskan gak punya perasaan cinta ke lo. Dimas, kita gak bisa punya hubungan lebih dari saudara." Rein makin gak jelas dan membuat Dimas berkedut kesal.


"Gue serius Rein, ada sesuatu yang ingin gue omongin sama lo." Dimas lebih serius lagi.


"Okay, pulang kerja nanti lo pulang jangan lupa bawa makanan buat gue sama Tio. Soalnya di dapur udah gak ada apa-apa." 


Dimas menoleh ke arah dapur yang tampak tidak berwarna lantaran cat temboknya sudah mulai mengabur ditambah lagi tidak ada bahan makanan apapun di sana kecuali alat masak yang sudah agak penyok karena perbuatannya dan Tio. Ketika sedang merasa bosan tanpa Rein di apartemen, Dimas dan Tio akan memanfaatkan waktu bermain perang-perangan menggunakan alat masak di dapur.


Jangan ditanya, setelah Rein pulang dan melihatnya, mereka berdua langsung dimarahi habis-habisan!


Setelah itu tidak ada lagi yang berbicara karena mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, kecuali yah.. Tio.


10 menit kemudian mereka bertiga menyelesaikan sarapan meskipun Tio harus dipaksa beberapa kali untuk menghabiskan sarapannya. Sementara Dimas membuka pakaian Tio untuk mandi, Rein di dapur mencuci piring bekas sarapan mereka. 5 menit saja dia sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.


"Tio mandi sama Mommy, ya?" Rein mengangkat Tio yang sudah telanjang ke dalam pelukannya.


"Okay, Mommy!"


Rein dan Tio masuk ke dalam kamar mandi. Dia memasukkan Tio ke dalam bathub setelah mengecek suhu air yang ada di dalamnya. Rein juga sengaja memasukkan air hanya setengah di dalam bathub karena anaknya masih kecil jadi dia harus was-was.


"Mommy?" Tio memanggil di sela-sela Rein menggosok badannya yang gembul.


"Iya, sayang?"


"Ayah Tio dimana Mommy?" Gerakan tangan Rein melambat.


Rein sangat bersyukur karena Tio dapat terlahir normal dan sempurna tidak seperti dirinya yang tidak berguna. Rein sangat mensyukuri kebaikan Tuhan kepada anaknya, tapi Rein terkadang tidak bisa menerima anaknya yang cerdas. Menuruni kecerdasan laki-laki yang sudah menghancurkan hatinya. Kadang pula Rein memperhatikan Tio sering melakukan sesuatu yang sering dilakukan laki-laki itu dulu, misalnya seperti menyentuh kepala Rein sebelum tidur. 


Tio meskipun masih kecil sudah sangat menyukai bagaimana merasakan rambut lembut Rein yang pendek, ketika tidur dia pasti menyempatkan diri untuk mengelusnya.


Rein malah bertanya,"Kenapa Tio tiba-tiba cariin dia?"


"Teman-teman Tio di sekolah banyak yang diantelin sama Ayah meleka, Mommy. Tio juga mau diantelin sama Ayah tapi..tapi Tio gak pelnah lihat Ayah di lumah kita." Ceritanya kepada Rein.


Ah, sudah bertahun-tahun Rein merawatnya. Dia pikir kehadiran dirinya saja sudah cukup sehingga Tio tidak perlu membutuhkan sosok Ayah di dalam hidupnya. Namun itu tidak benar, Tio hanya menganggap peran Rein sebagaimana seorang Ibu saja dan dia tidak cukup bisa menggantikan sosok peran Ayah di sini. Berkali-kali pun Rein menyangkal dia masih tidak bisa membuat anaknya merasa puas dengan hanya kehadiran dirinya sendiri.


"Tapi Tio udah punya uncle Dimas, kan?" Dia mencoba bernegosiasi.