My Boss, My (Ex) Boyfriend

My Boss, My (Ex) Boyfriend
12. (12)



Setelah makan malam Anggi dan keluarganya mengobrol sebentar di ruang tamu sebelum dia kembali ke mansion Demian. Namun di tengah-tengah obrolan, suara ketukan pintu menarik perhatian mereka.


"Ibu, ada yang datang bertamu. Aku akan pergi membuka pintu untuk tamu." Kata Anggi segera berdiri dari duduknya.


Dia tidak tahu siapa yang datang bertamu. Mungkin teman atau kerabat orang tuanya. Jadi tanpa perlu bertanya dia langsung ke depan untuk membuka pintu.


...🌪️🌪️🌪️...


Sebuah keluarga kecil turun dari mobil lama yang telah kehilangan trendnya. Berdiri di depan sebuah rumah yang cukup mewah untuk sekelas keluarga ini, bola-bola mata mereka segera bersinar aneh saat menatap bangunan rumah ini. Mereka dengan penasaran dan rakus melihat halaman rumah yang cukup luas, tanaman-tanaman yang terawat indah, dan yang paling penting bangunan rumah yang mumpuni.


Untuk sekelas mereka, rumah ini berkali-kali lipat jauh lebih baik daripada rumah mereka yang agaknya terlihat sederhana dibandingkan dengan rumah ini. Bertanya-tanya dengan serakah akan sebagus apa isi dalam rumah ini bila luarnya saja sudah memiliki isyarat godaan yang besar.


"Tina, ingat baik-baik yang ibu ajarkan sebelumnya kepadamu. Kamu harus mengatakannya dengan baik dan terlihat tulus." Peringat ibu serakah.


Hatinya berdebar keras ingin memiliki tempat ini. Dan dia pikir keputusannya untuk datang malam ini sangat tepat karena takutnya akan sulit bertemu dengan Anggi diwaktu-waktu selanjutnya.


"Ibu, aku mengerti." Tina memaksakan senyum di wajahnya.


Tapi demi masa depan, dia rela melakukan semua ini.


"Baiklah, bersikap hati-hati di depan mereka dan jaga sopan santun kalian agar tidak menyinggung Anggi. Karena mulai dari sekarang Anggi adalah sumber keuangan keluarga kita." Kata ibu gigih dengan semangat berapi-api.


Semua orang diam-diam menekan rasa euforia di hati masing-masing. Mengikuti arahan ibu, mereka berjalan melewati halaman rumah. Setelah berdiri di depan pintu, ayah mengambil inisiatif untuk mengetuk pintu rumah.


Tok


Tok


Tok


Ayah mengetuk pintu. Mereka semua sontak menahan nafas karena perasaan gugup.


Tapi tidak ada yang datang untuk membuka pintu rumah. Mereka tidak berkecil hati dan berpikir positif jika tidak ada orang yang mendengar suara ketukan pintu ayah.


Lalu ayah mengulanginya sekali lagi, dan tidak berselang lama seseorang membukakan mereka pintu.


Cklack


"Selamat malam-" Sapaan ramah Anggi segera tertahan saat melihat wajah-wajah memuakkan di depannya.


Anggi tidak pernah tahu bila para penjilat ini akan datang menemuinya ke rumah setelah ditolak dengan tegas olehnya. Dia pikir mereka masih memiliki rasa malu karena bagaimanapun mereka juga memiliki otak untuk berpikir. Tapi ternyata otak itu hanya pajangan saja karena rasa malu mereka entah dibuang kemana.


"Selamat malam, Anggi. Apa kami mengganggu waktumu?" Ibu mengambil inisiatif untuk menyapa Anggi.


Apalagi matanya berkilat serakah saat melihat untaian kalung berlian di leher jenjang Anggi. Sebagai seorang wanita yang sangat menyukai perhiasan, barang semewah ini mana mungkin tidak masuk ke dalam matanya?


"Kalian sangat menggangguku. Bisakah kalian segera pergi?" Jawab Anggi tanpa ampun.


Ibu dan yang lainnya jelas tercengang dengan jawaban blak-blakan Anggi. Mereka malu tapi pada saat yang sama juga marah karena mendapatkan penolakan kasar Anggi.


"Jangan seperti ini Anggi. Bibi dan paman sudah lama merindukan kamu. Kami ingin bertemu dengan mu tapi tidak memiliki cukup waktu-"


"Oh, kalian merindukan ku? Apa tidak salah?" Potong Anggi mengejek.


Mata besarnya secara terang-terangan menatap mereka semua dengan pandangan menilai.


"Daripada merindukanku, aku lebih percaya jika kalian semua datang karena merindukan uangku. Hah, aku tidak sebodoh yang kalian pikirkan." Lanjut Anggi langsung menohok hati mereka.


Ibu dan ayah sangat marah. Sebagai seorang tetua, jelas mereka tidak mau diremehkan oleh anak yang masih belum mengenal cara dunia bekerja dengan baik.


"Kurang ajar! Apakah begini sikapmu saat berbicara dengan paman dan bibi mu?!" Gertak Paman marah.


Anggi tersenyum lebar,"Tentu, seperti yang kalian lakukan kepada ayah dan ibuku, maka beginilah caraku membalas kalian. Apa? Kalian aku tidak tahu apa yang kalian inginkan dariku? Apa kalian pikir aku mau memberikan kalian uang?! Jangan terlalu banyak bermimpi. Aku mana mungkin lupa bagaimana perlakuan buruk kalian kepada orangtuaku saat kami masih tidak punya apa-apa. Karena kami miskin kalian tidak mau mengakui kami dan bahkan bersembunyi dari kami saat sedang membutuhkan bantuan. Dan sekarang setelah kami memiliki kehidupan yang baik kalian tiba-tiba datang mengakui kami sebagai keluarga, menurut kalian apa aku akan sangat bodoh tidak bisa melihat niat serakah kalian? Bermimpi lah! Uangku sepeser pun tidak akan jatuh kepada kalian. Daripada memberikan kalian yang serakah aku lebih baik memberikannya kepada pengemis di jalanan karena mereka lebih pantas mendapatkan!"


Dia tidak dendam, sungguh. Tapi dia hanya kecewa dan membalas balik perlakuan buruk mereka kepada keluarganya dulu. Ini tidak jahat karena apa yang mereka lakukan pada saat itu juga seperti ini jadi menurut Anggi semuanya jelas memiliki nilai yang setara.


"Kamu...!" Paman sangat marah dengan ucapan blak-blakan Anggi.


Sungguh hina, dia adalah orang tua dan diperlakukan seburuk ini oleh anak kecil?! Harga dirinya dipertanyakan!


"Anggi, siapa yang datang, nak?" Suara lembut ibu datang dari dalam.


Ibu dan ayah keluar menghampiri Anggi karena belum masuk-masuk setelah menerima tamu di depan.


"Kakak, ini kami!" Kata bibi buru-buru bagaikan melihat sedotan penyelamat.


Anggi mendengus, matanya secara terang-terangan menghina mood penjilat mereka.


"Kalian.." Ayah terkejut melihat tamu tak diundang ini.


Ini adalah keluarga adiknya yang telah lama tidak bertemu karena suatu alasan yang tidak perlu dibicarakan.


"Kakak, lihat bagaimana kalian membesarkan Anggi! Dia sangat kasar kepada kami dan menolak mengizinkan kami masuk ke dalam rumah-"


Kemarahannya tidak ditutup-tutupi dan ayah maupun ibunya juga mengerti mengapa putri mereka begitu marah kepada keluarga ini.


"Kakak lihat apa yang dikatakan putrimu!" Bibi mendesak lagi agar mendapatkan simpati dari kedua orang tua Anggi.


Ibu maupun ayah juga tidak nyaman dengan keluarga ini. Mereka ingin menolak tapi mereka adalah keluarga meskipun tidak dekat. Tapi mereka juga tidak mau mengizinkan mereka masuk karena sikap dan sifat mereka yang buruk.


Tepat saat kedua orang tua Anggi tidak bisa berbuat apa-apa, sebuah mobil sport mewah masuk ke dalam halaman rumah dan menarik perhatian semua orang termasuk Anggi sendiri yang sangat terkejut!


"Kenapa dia datang ke sini?" Gumam Anggi sangat gugup.


Pasalnya keluarganya sedang bersitegang dan orang ini datang diwaktu yang sangat tidak tepat.


"Woah sangat tampan!" Seru Tina dan Widia kompak ketika melihat seorang laki-laki tampan nan tinggi yang keluar dari mobil.


Laki-laki itu tidak memiliki ekspresi diwajahnya tapi ketampanannya sungguh tidak bisa ditampik hanya karena berwajah datar.


Turun dari mobil, Adit berjalan mulus dengan beberapa paper bag dan parsel buah segar ditangannya. Langkah kaki jenjangnya yang lurus dan tanpa ragu memberikan ilusi jika Adit datang untuk menemui kekasihnya.


"Mas..mas Adit?" Sapa Anggi gugup.


Adit tersenyum lembut kepada Anggi yang sangat tidak terduga. Membeku, Anggi terbengong tidak percaya melihat Adit memiliki senyuman lembut di wajahnya.


"Maaf datang tiba-tiba. Tapi aku khawatir terjadi sesuatu kepadamu setelah mendapatkan laporan dari bawahan ku." Kata Adit dengan rasa rendah diri yang langka.


Dia lalu menoleh kepada ibu dan ayah, mengangguk hangat, tangan kanannya yang memegang paper bag secara alami diserahkan kepada Anggi.


"Ini ada sedikit hadiah untuk anak-anak, ibu dan ayah, aku harap kalian menyukainya." Katanya masih tersenyum hangat.


Kemudian dia beralih pada parsel buah di tangan kirinya.


"Dan aku dengar dari Anggi jika anak-anak dan kalian suka makan buah-buahan segar jadi aku memesannya langsung dari pusat perbelanjaan di pusat kota saat buahnya baru saja sampai."


Buah-buahan yang dibawa Adit memang masih segar seperti baru saja dipetik. Ditambah lagi buah-buahan itu besar dan langka, bisa dibayangkan betapa mahal harga parsel buah ini.


Ibu dan ayah memiliki kesan yang sangat bagus untuk Adit. Mereka sudah sering bertemu dan setiap kali bertemu Adit selalu memberikan hal-hal yang baik untuk mereka. Dengan sikap perhatian ini bagaimana mungkin ayah dan ibu tidak menyadari maksud tujuan Adit mendekati mereka? Tentu saja itu untuk putri mereka, siapa lagi kalau bukan Anggi.


"Terima kasih, Adit. Tapi lain kali jangan bawa apa-apa lagi karena kami tidak mau membuat kamu repot." Ujar ibu sambil tersenyum hangat dengan nada keibuan.


Adit membalas hangat,"Ini bukan masalah besar karena aku pun senang melakukannya."


Melihat mereka berbicara hangat, paman dan bibi sedikit cemburu karena selain kaya, Anggi juga mendapatkan pacar yang sangat kaya. Lihat saja mobil sport mewah dan penampilannya yang berkelas, orang manapun tahu jika Adit adalah orang yang berasal dari keluarga terpandang.


Jadi mereka tidak tahan untuk tidak berbicara.


"Kakak, siapa ini?" Tanya ibu dengan suara lemah lembut yang dibuat-buat guna memberikan kesan yang baik.


Adit melirik mereka datar, ekspresi hangat diwajahnya segera tersapu saat berhadapan dengan orang-orang serakah ini.


"Aku bilang jika kamu diganggu segera minta pengawal untuk membersihkan mereka agar tidak membuat masalah dikemudian hari." Beralih menatap wajah malu Anggi, dia lanjut berkata,"Untuk masalah sekecil ini aku bahkan harus turun tangan sendiri."


Anggi langsung merasakan punggungnya menjadi dingin. Ini jelas sebuah ancaman tersirat dari Adit untuknya. Oh, betapa bodohnya dia sempat berpikir bila Anggi benar-benar datang ke sini untuk mencarinya dengan maksud ambigu. Padahal faktanya dia datang ke sini untuk membereskan kekacauan!


Anggi, kamu adalah kepala pelayan mansion Demian sekarang! Nama baikmu adalah nama baik nyonya Rein! Dan nama baik nyonya Rein adalah kehormatan besar untuk mansion Demian! Kamu tidak boleh membiarkan masalah ini merusak nama baik keluarga Demian! Batin Anggi bergemuruh!


"Mas Adit..." Panggil Widia lembut.


Dia tadi mendengar ibu memanggil namanya jadi dia segera memanfaatkan situasi untuk mendapatkan perhatian Adit.


"Mas Adit mungkin salah paham. Kami adalah keluarga kak Anggi-"


"Oh," Potong Adit tanpa meliriknya.


Dia mengambil sebuah benda kecil dari sakunya dan menekan benda itu ke telinganya.


"Ya, singkirkan orang-orang ini. Penampilan mereka sangat norak dan kolot, sangat menggangu. Hem, terutama seorang wanita kerempeng berwajah minyak dan berkulit gelap serta wanita gendut dengan segumpal lemak ada dimana-mana, aku tidak tahan melihatnya. Baik, secepatnya." Setelah itu Adit menaruh kembali benda kecil itu ke dalam saku jasnya.


Sunyi, tidak ada yang berbicara. Mereka semua masih belum melepaskan diri dari kata-kata bernada rendah namun jelas Adit sebelumnya. Terutama untuk keluarga paman dan bibi, ini adalah tamparan yang sangat keras untuk mereka.


Mereka dihina, dan anak-anak mereka direndahkan di depan mata kepala mereka sendiri. Ini adalah penghinaan yang tidak bisa dimaafkan!


Pukulan ini sangat besar. Tina maupun Widia langsung kehilangan rasa percaya diri mereka sebab apa yang Adit katakan memang ada benarnya. Hanya saja Adit adalah orang pertama yang mengingatkan mereka untuk semua kekurangan ini. Anggi adalah orang pertama yang mengingatkan mereka jika penampilan mereka sangat buruk dan terkadang membuat orang enggan memandang.


"Mas Adit.." Panggil Anggi shock.


Adit meliriknya sekilas,"Beginilah cara menyelesaikan masalah yang benar dan efisien." Kata Adit datar, tanpa emosi sebelum berbalik menatap ibu dan ayah dengan senyuman hangat di wajahnya.


Ibu dan ayah untuk sesaat tidak bisa berkata-kata karena kata-kata Adit terdengar sangat kejam, tapi di satu sisi mereka bersyukur karena Adit datang membantu mereka memecahkan masalah ini. Bukannya mereka jahat tapi mereka hanya ingin mengantisipasi niat jahat orang-orang ini saja karena mereka tahu ada keserakahan dibalik kedatangan orang-orang ini.


"Nak, apa Anggi mengatakan sesuatu yang jahat tentang kami kepadamu?" Bibi yakin Adit telah di pengaruhi oleh Anggi.


Jika tidak, bagaimana mungkin Adit, orang yang tidak mengenal mereka tiba-tiba menganggap mereka adalah sebuah masalah? Tentu saja biangnya adalah Anggi!